
Siang yang cerah, matahari yang bersinar di atas sana tidak begitu menunjukkan kegarangannya. Ombak pantai yang bergulung-gulung seakan berlomba-lomba untuk mencapai tepian menambah semaraknya pemandangan tepi pantai itu.
Di atas pasir putih di bawah naungan pohon-pohon yang membuat teduh suasana Cindy memperhatikan kedua anaknya yang begitu asyik bermain air di tepian pantai. Di sebelahnya, Deska pun ikut mengalihkan pandangannya ke arah laut dengan wajah ceria.
"Riang sekali Farel dan Balqis bermain air," komentar Deska kemudian dengan mata tak lepas memandang ke arah dua anak itu.
"Ya," Cindy mengangguk. "Sudah cukup lama mereka tidak merasa suasana seperti ini." Lanjut Cindy menjelaskan.
Cindy menarik napas panjang. Dibiarkannya rambutnya yang terurai panjang meriap-riap di permainkan angin. Sesekali bibirnya yang merah merekah mendesah pelan. Ah, suasana seperti ini memang tak pernah dirasakannya lagi sejak suaminya meninggal hampir setahun lalu.
Walaupun sekarang ia kembali dapat merasakan betapa riangnya anak-anaknya bermain air di pinggir pantai, namun lelaki yang menyertainya bukanlah Mas Rangga lagi.
Memang, Cindy dapat merasakan dan mengakuinya dalam hati betapa Farel dan Balqis sudah semakin dekat dan akrab dengan Deska. Kasih sayang dan perhatian yang diberikan lelaki itu pada kedua anaknya membuat mereka seperti dengan mudahnya melupakan kepergian papanya yang tak akan pernah kembali lagi itu. Memang sih kalau kau baik buat perkembangan jiwa mereka. Mereka tidak perlu merasakan kesedihan yang berkepanjangan serta trauma yang menyakitkan tentang kepergian seseorang yang selama Ini menjadi pelindung mereka, karena sudah ada seorang pelindung lain yang siap menggantikan.
Tapi... ah, Cindy tak tahu apa yang dirasakan dalam hatinya melihat keakraban anak-anaknya dengan Deska. Bahagiakah? Senangkah? Atau malah menyesali mengapa ia membiarkan mereka menjadi dekat hingga tak terpisahkan lagi?
Memang pernah juga ia mendiskusikan tentang perasaannya ini pada Ranti. Namun jawaban apa yang diterimanya dari sahabat baiknya itu?
"Jangan terlalu emosional, Cin. Yakinlah dalam hatimu bahwa Pak Deska memang mengharapkanmu menjadi istri. Kamu sudah merasakan sendiri kan betapa dia amat mengasihi dan menyayangi anak-anakmu?" begitu kata Ranti waktu itu dengan nada separuh mendakwanya.
"Masalahnya bukan itu, Ran. Aku tidak berani berharap jauh. Apalagi Mas Deska itu orang kaya. Jangan-jangan dia malah mengasihaniku dan bukan mencintaiku seperti yang kau duga," desah Cindy dengan nada enggan.
"Pikiranmu selalu saja begitu. Optimis dong. Coba kamu pikir lebih dalam lagi, mana ada pertolongan yang tulus dan tanpa pamrih? Setiap laki-laki mau berkorban, pasti dia mempunyai harapan pada orang itu. Lagi pula, aku yakin kalau Pak Deska naksir kamu. Mungkin saja dia mau memberi waktu padamu untuk berpikir-pikir dulu, hingga ia menahan niatnya untuk mengutarakan perasaannya padamu" kata Ranti lagi menasehatinya. "Tapi bisa jadi juga Pak Deska lebih suka menunjukkan sikapnya dari pada mengucapkan kalimat cinta yang dipikirnya hanya pantas dipakai oleh mereka yang masih muda." Lanjut Ranti menjelaskan.
Cindy termenung, mencoba untuk menelaah lebih dalam lagi ucapan sahabatnya. Kalau mau dilihat usianya, memang usia Deska beberapa tahun di atas Mas Rangga. Mungkin juga. Ranti benar kalau lelaki itu lebih suka menunjukkan sikapnya ketimbang mengucapkan kata-kata yang malah akan membuat kaku bagi orang yang belum siap mendengarnya.
"Melamun, Cin?" teguran lembut Deska menyadarkannya dari lamunannya yang sempat terbang sekilas.
"Ah, nggak," Cindy menggeleng dengan tersipu.
"Sudah lapar? Kita makan dulu yuk," ajak Deska lagi.
Deska menatap arlojinya sekilas. Sudah jam sepuluh lewat dua puluh menit. Yak, sudah lumayan siang juga untuk mengisi perut dengan makanan, walaupun sebelum pergi tadi mereka sempat sarapan nasi uduk.
Perlahan ia pun mengangguk menyetujui ajakan itu.
"Farel, Balqis! Ke sini dulu," panggil Cindy kemudian pada kedua anaknya. Yang dipanggil pun menoleh dan setengah enggan datang menghampiri karena merasa permainan asyiknya jadi terganggu.
"Kita makan dulu ya? Nanti baru main lagi," di gandengnya mereka mengikuti langkah Deska yang berjalan di sisinya.
__ADS_1
Deska pun tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menuntun Farel yang dengan girang segera disambut anak itu. Mereka pun segera menuju rumah makan yang menyer diakan menu lengkap, yang berada tidak jauh dari tempat itu. Tidak lama setelah menulis pesanan di buku yang disodorkan pelayan, makanan pun datang Farel dan Balqis berseru girang saat melihat ikan panggang besar yang diletakkan pelayan di atas meja. Lalu dengan telatennya Deska memilihkan daging ikan itu dan menaruhnya di piring Farel dan Balqis.
Melihat sikap yang ditunjukkan lelaki itu, ada rasa haru yang menyusupi hati Cindy. Deska memang begitu perhatian dan amat menyayangi anak-anaknya. Bukan hanya bila ia datang ke rumah saja selalu tak pernah lupa membawa oleh-oleh, bila sedang keluar pun ia selalu memanjakan anak-anak dengan makanan-makanan mahal yang tak pernah di lakukan Rangga dulu. Memang keadaan Deska cukup memungkinkan hingga ia bisa melakukan apa saja, yang bagi dirinya mungkin cuma hal yang biasa tapi bagi Cindy dan anak-anaknya cukup luar biasa.
Lain dengan Rangga yang dalam hidupnya boleh di kata hanya beberapa kali saja membawa, anak dan istrinya makan-makan di luar. Dan Cindy pun cukup memaklumi itu karena penghasilan suaminya hanya cukup untuk kebutuhan mereka sebulan. Lain hal nya bila Rangga masih mengikuti orangtuanya.
Justru Cindy merasa bersyukur dan terharu sekaligus bangga mempunyai suami macam Rangga yang rela meninggalkan kemewahan keluarganya untuk hidup dengan dirinya walaupun hidupnya serba pas-pasan.
"Ayo makan, Cin," kembali Deska menyendokkan makanan lainnya ke piring Cindy, hingga Cindy jadi merasa tak enak sendiri, karena telah dilayani begitu rupa.
"Biarlah, Mas. Nanti juga aku bisa ambil sendiri," ujar Cindy kemudian.
"Mana? Sejak tadi kelihatannya kamu tidak bernafsu," kilah Deska sambil memandangnya. "Kamu harus banyak makan, Cin. Biar gemuk dan sehat." Lanjut Deska tersenyum.
"Memang segini belum kelihatan gemuk?" Cindy melirik dirinya.
"Belum, sedikit lagi," Deska mengomentari.
"Kalau kamu gemuk, parasmu kan jadi kelihatan
segar berseri-seri." Lanjut Deska.
"Mau gemuk, jangan-jangan malah nanti jadi kegemukan, Mas," seloroh Cindy.
Cindy tersenyum mendengar ucapan itu.
Memang sejak Rangga meninggal, badannya menyusut jauh. Mungkin karena ia banyak pikiran di samping kehilangan nafsu makan tatkala menyadari pendamping hidupnya kini tiada lagi di sisinya.
Namun sejak kehadiran Deska yang selalu rajin membawakan makanan setiap kali datang, sedikit demi sedikit berat tubuhnya pun mulai naik kembali.
Sambil makan sesekali Cindy melirik anak-anaknya yang nampak makan lahap sekali. Ada keceriaan dalam hatinya melihat Farel dan Balqis begitu riang gembira. Dalam hatinya ia juga mengakui, betapa pandainya Deska mengambil hati anak-anaknya.
Sedikit demi sedikit mereka mulai melupakan ketegangan dan kesedihan atas meninggalnya papa mereka, dan itu terbukti dengan berkurangnya pertanyaan dari mulut mereka tentang Mas Rangga.
Selesai menyantap makanan, mereka pun kembali menyusuri tepi pantai yang mulai ramai dengan pengunjung. Begitu Farel dan Balqis melihat mainan ayun-ayunan di kejauhan mata mereka pun berbinar-binar.
"Ma, Farel main di sana boleh nggak?" tanyanya kemudian pada mamanya.
"Iya, Ma, Balqis juga mau main di sana. Boleh kan, Ma?" Balqis ikut merajuk.
__ADS_1
"Baiklah," Cindy akhirnya mengangguk, tak tega melihat tatapan penuh harap anak-anaknya. "Tapi jangan nakal ya." Lanjut Cindy.
"Terima kasih, Ma," angguk mereka berbarengan.
"Sudah ya Ma, Oom Deska, Farel ke sana dulu." Ucap Farel riang.
"Balqis juga, Ma, Oom," sahut Balqis tak mau kalah. Lalu mereka pun segera menghambur menuju tempat mainan itu.
Deska dan Cindy hanya memandang mereka dengan seulas senyum. Sambil melangkah pelan-pelan mereka menikmati betapa nakalnya angin laut mempermainkan rambut mereka.
"Bahagia ya punya anak-anak yang manis macam Farel dan Balqis," gumam Deska kemudian sambil mengarahkan pandangannya lurus ke depan.
"Kedua anak Mas tentunya juga manis-maniskan?" Tanya Cindy tiba-tiba.
"Begitulah," Deska mengangguk. "Melihat Farel dan Balqis aku jadi teringat ketika mereka masih kecil dulu. Begitu patuh dan tidak pernah membantah pada orang tua. Nakal sih tetap nakal, tapi masih dalam batas-batas yang wajar." Lanjut Deska bercerita.
"Kini anak-anakmu berada jauh darimu. Tidakkah Mas merasa rindu?" Cindy menoleh dan memandang lamat-lamat wajah di sampingnya.
"Sebulan sekali aku selalu mengunjungi mereka, Cin. Bahkan kalau rindu tiba-tiba datang, hari itu juga aku suka menyusul mereka." Deska menjelaskan.
"Ya, itu bagus, Mas," Cindy mengangguk. "Siapa yang mengawasi mereka di sana, Mas?" Tanya Cindy.
"Aku menitipkannya pada adik bungsuku yang juga tinggal di sana." Jelas Deska.
"Wah kalau begitu Mas tidak perlu merasa khawatir dong?" Ucap Cindy.
"Begitulah," kembali Deska menganggukkan kepalanya.
Cindy ikut mengangguk-anggukkan kepalanya Pikirannya mulai melayang jauh. Kalau di pikir-pikir enak juga jadi orang kaya. Semuanya, bisa terpenuhi. Bahkan seperti yang Deska katakan tadi, kalau rindu datang dengan tiba-tiba, hari itu juga ia akan terbang ke luar negeri untuk menjumpai anak-anaknya.
Memang uang sering kali membuat segalanya menjadi serba mungkin. Namun yang tak pernah bisa di mengerti sampai kini, mengapa istri Deska tega-teganya meninggalkan lelaki itu begitu saja? Bukankah Deska tidak kurang suatu apa pun? Bukan saja ia memiliki harta yang melimpah, tapi Deska juga punya pengertian yang dalam, perhatian yang besar, selain wajah simpatiknya yang tidak membosankan siapa pun yang memandangnya. Meski ia sudah cukup berumur, namun sisa-sisa ketampanannya semasa muda masih nampak di wajahnya yang maskulin.
"Suatu hari nanti, Cin, akan kuajak kau mengunjungi tempat mereka. Sekalian menikmati betapa syahdunya suasana Italia," ujar Deska kemudian membuat Cindy membelalakkan matanya gembira.
"Sungguhkah itu, Mas?" tanya Cindy hampir tak percaya.
"Rasanya aku tidak pernah berkata bohongkan?" Deska memandangnya dalam. Dan Cindy cepat-cepat membuang pandangannya saat merasakan betapa tajamnya tatapan mata Deska hingga menembus jantungnya.
"Akan kuperkenalkan kau kepada mereka. Tentu mereka akan senang menerimamu," tambah Deska lagi membuat hatinya berbunga-bunga.
__ADS_1
Jalan-jalan ke luar negeri? Ah, sungguh tak pernah terbayangkan olehnya kalau ia akan menikmati perjalanan itu.
"Tahukah kau, Cin? Selama ini aku selalu menceritakan tentang kau pada mereka. Nampaknya mereka senang bila aku secepatnya mendapatkan pengganti mamanya yang telah lama meninggalkan mereka. Memang sih kali pernah juga mantan istriku mengunjungi mereka. Namun entah mengapa kedua anakku sepertinya enggan bertemu ibunya kembali Mungkin mereka, justru prihatin melihat ayahnya yang merana dan tetap menyendiri sejak ditinggal ibunya," tutur Deska lagi panjang lebar.