LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 16 : AYAH KUMAT LAGI


__ADS_3

"Ayah... tahukah bahwa kami hidup demikian


tersiksa?" Ucap Cindy pilu. Wajahnya tengadah memandang ayahnya yang turut menitikkan air mata. Suasana kesedihan begitu mencekam hati mereka semua yang ada di kamar itu. Nenek Minah turut menangis namun disertai perasaan gembira. Sekalipun Hendry belum sepenuhnya pulih seperti sediakala. Yang penting dia sudah mulai dapat mengenali kedua anaknya. Lambat laun jika dia telah menemukan dirinya yang sebenarnya, tak ayal kebahagiaan akan segera datang.


"Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk kalian anakku. Maafkanlah ayahmu." Kata Hendry dengan nafas sesak.


"Ayah tolonglah kami yang dalam kesulitan. Kemelut akan segera merenggut kita semua, Katakanlah apa yang sebenarnya telah terjadi antara ayah dan Romeo." Ucap Cindy.


Lelaki yang masih memeluk kedua anaknya itu tercenung beberapa saat. Agaknya ada kegelisahan yang bersembunyi di dadanya. Sorotan matanya kembali hampa seperti semula. Dengan nafasnya tersendat-sendat bagai berat tertindih batu puluhan kilo beratnya.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi Cindy?" Tanya lelaki itu sembari membelai rambut Cindy penuh kasih sayang.


"Minggu depan Cindy akan menjalani sidang perkara romeo ayah. Aku takut bila ayah ikut terlibat." Jawab Cindy dalam keresahan.


"Kenapa dengan Romeo, Cindy?" Tanya Hendry.


"Dia telah mati akan tetapi meninggalkan


serentetan perkara yang harus kuhadapi. Dan dari


pihak pengadilan telah mengirim surat panggilan


kepadaku ayah. Apa yang harus aku lakukan?" Jelas Cindy kepada Hendry.

__ADS_1


Lelaki itu menggelengkan kepala berat. Perasaan sedih dan terharu terlukis di wajahnya yang nampak semakin tua.


"Romeo telah mati, siapa gerangan yang telah membunuhnya Cindy?" Tanya Hendry.


Cindy dengan terisak-isak menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini. Kematian Romeo yang tertembus oleh enam buah peluru telah menghilangkan nyawanya. Hendry jadi merinding bulu kuduknya mendengar cerita kematian Romeo.


"Kalau saja Romeo tidak mati secara demikian, pasti tidak akan terbongkar kedoknya." Gumam Hendry dengan helaan nafas lega.


"Siapakah pemuda bernama Rangga itu Cindy?" Tanya Hendry.


"Dia mahasiswa fakultas sastra ayah." Jawab Cindy.


"Kau mencintainya?" Tanya Hendry kembali.


"Kenapa hal itu sampai terjadi Cindy?" Lanjut Hendry.


Cindy tertunduk dan bungkam. Apa yang musti dikatakan olehnya. Sedangkan perasaannya tak bisa melukiskan bagaimana besarnya cinta itu. Dan dia pun tak sanggup untuk memberikan alasan kenapa bisa mencintai lelaki bernama Rangga. Hanya yang bisa dirasakan tak lain penyebabnya adalah rasa kesepian dan siksaan dari Romeo, sehingga perjumpaannya dengan Rangga mudah sekali membuahkan putik bunga cinta yang tumbuh dengan subur. Rangga seorang lelaki yang mau mengerti segala penderitaannya. Rangga seorang lelaki yang selalu memberi belaian kasih sayang. Sementara diri Cindy yang senantiasa mendambakan resapan kasih sayang, terkulai layu dalam pelukan dan bisikan cinta Rangga. Maka yang bisa diperbuat oleh Cindy tak lain hanya helaan nafas. Bukan jawaban yang seharusnya diharapkan oleh ayahnya. Cindy merasa takut menatap mata ayahnya kembali. Karena dia merasa telah melanggar ketentuan menjadi isteri Romeo.


"Jawablah dengan jujur Cindy." Desak ayahnya.


"Aku sendiri mulanya tak bisa mengerti ayah. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan Rangga. Pertemuanku yang pertama dengan pemuda itu kuanggap biasa saja. Namun tanpa kuduga kami bertemu lagi. Rupanya pada pertemuan yang kedua ini dia lebih agresif. Dari sorot matanya aku dapat menangkap kejujuran hati yang dimiliki pemuda itu. Pertemuan ketiga yang juga tak diduga telah melibatkan diriku dalam ikatan janji. Dia memang seorang pemuda yang selama ini kudambakan. Tanpa mau perduli dengan kenyataan lagi, cintaku kepadanya mulai tumbuh. Dan penyebabnya tak lain karena aku membutuhkan perlindungan dan tempat untuk melepaskan deritaku. Ternyata Rangga seorang kekasih yang setia. Sampai akhirnya aku tak tahan disiksa Romeo dan melarikan diri dengannya." Keterangan yang cukup panjang itu bisa diterima oleh logika Hendry, meskipun masih berupa angan-angan. Sebab dalam keadaan yang belum sepenuhnya normal itu, bagi Hendry hanyalah jawaban yang suram.


"Kalau hal itu tidak sampai terjadi sudah pasti aku tidak akan terlibat Cindy. Banyak kesalahanku yang melanggar hukum selama membantu Romeo. Dia telah menekanku agar melakukan itu.

__ADS_1


Aku tak bisa berbuat apa-apa, Aku menuruti semua perintahnya demi kelangsungan hidup kita. Tetapi kau telah membongkar kesalahan kami walaupun tanpa kau sengaja." Jelas Hendry.


"Ayah maafkanlah Cindy. Sama sekali Cindy tak tahu bila hal ini harus terjadi. Cindy lebih rela menangung kesalahan ini daripada ayah." Ucap Cindy sambil menangis. Hatinya pedih sekali bila harus melihat keadaan ayahnya menjalani hukuman di penjara.


Mendadak lelaki setengah tua itu tertawa terbahak-bahak. Cindy dan Zahra tersentak. Begitu pula penek Minah Pancaran mata Hendry berubah nanar dan kosong. Maka buru-buru Zahra menarik tangan Cindy untuk mundur. Zahra tahu bila ayahnya kumat lagi.


"Aku harus berontak! aku harus menang dari tindakan Romeo. Akan kubunuh semua orang yang telah membuat diriku menderita. Mendekatlah kemari hai Romeo! akan kucekek lehermu bangsat." Suara Hendry bagaikan geledek. Sepasang matanya bagaikan api yang menyala. Giginya gemelutuk menahan kegeraman. Air liurnya menetes dari mulutnya. Sungguh amat mengerikan.


Dia bangkit dari pembaringan laksana raksasa yang akan mengamuk. Zahra dan Cindy cepat-cepat menarik tangan nenek Minah untuk bergegas pergi. Serentak ketiga orang itu lari keluar dari kamar ketika Hendry mengangkat kursi yang siap dilemparkan kearah mereka. Sesampainya di luar, Lisa langsung mengunci pintu dari luar. Tetapi kerapkah dilakukan oleh Zahra setiap ayahnya kumat penyakit jiwanya. Dan hanya terdengar dari luar amukan Hendry yang membanting semua barang- barang. Bagi tetangga yang bernekatan tempat tinggalnya dengan rumah Hendry sudah tidak merasa heran lagi. Justru mereka lebih heran jika melihat Cindy. Seorang anak tega membuat ayahnya seperti itu. Semua sangkaan buruk terarah pada diri Cindy yang sebenarnya bukan pada tempatnya.


"Beginilah jika ayah kumat lagi kak." ucap Zahra


dalam kecewa.


"Alangkah kejamnya kenyataan ini." Sanggah


Cindy pedih.


"Mari kita pulang saja" Nenek Minah menimpali.


"Tetapi bagaimana dengan ayah nek?" Sahut Cindy resah.


"Biarkan saja sampai dia sadar sendiri. Tak urung bila kita mengatasi keadaannya yang seperti itu akan celaka. Ayo kita pulang saja Cindy." kata nenek Minah sambil menarik tangan Cindy.

__ADS_1


Terpaksa Cindy menuruti ajakan nenek Minah. Sebentar-sebentar Cindy menoleh kearah rumah ayahnya sembari berjalan. Di ulu hatinya masih terdapat kecemasan bila terjadi kemungkinan yang berakibat fatal pada diri ayahnya. Mungkin saja mati atau bunuh diri. Air mata Cindy terus menetes selama dalam perjalanan menuju rumah nenek Minah. Jarak antara rumah ayahnya dengan nenek Minah cukup jauh. Maka di sepanjang jalan itu Cindy dan Zahra menangisi penderitaan ayahnya. Sebab di mata mereka penyakit yang diderita Hendry menuntut banyak korban perasaan.


__ADS_2