LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 82 : KUNCUP MAWAR ITU!


__ADS_3

Malam telah larut, namun Cevin masih tergolek di tempat tidur dengan mata terbuka lebar. Sudah sejak siang tadi ia gelisah. Sangat cemas.


Perasaan itu muncul begitu saja setelah ia meninggalkan rumah Balqis. Sampai saat ini tidak tahu apa penyebab munculnya perasaan ini. Yang pasti ini terlepas dari soal kemunculan orang gila dengan pentungan besi itu, karena sejak masuk kamar Cevin berusaha keras tidak menatap foto Irfan.


Sudah tiga kali Cevin mengontak Balqis, memastikan keadaanya. Cewek itu baik-baik saja. Namun entah kenapa perasaan gelisah dan cemas ini tidak juga hilang. Terus menekan dan tak bisa diabaikan.


Cevin menatap jam bekernya. Hampir jam satu dini hari. Terlalu larut untuk menelpon, tapi perasaan cemas itu membuatnya tak bisa menahan diri. Akhirnya ia bangkit lalu meraih ponselnya di meja. Ditekannya tombol kontak dan ponselnya langsung terhubung dengan nomer yang dikontaknya terakhir kali.


Balqis...!!!


Tidak diangkat...!!!


Jelas saja...!!!


Dicobanya lagi...!!!!


Tetap tidak diangkat...!!!


Cevin tidak peduli...!!!


Terus ditekannya tombol sampai ponsel di seberang akhirnya diangkat.


"Qis, sorry bangunin. Lo baik-baik aja, kan?" tanya Cevin langsung.


Terdengar gumaman tidak jelas di seberang.


Sepertinya Balqis menempelkan ponsel di telinga sambil tetap melanjutkan tidurnya.


"Qis? Lo baik-baik aja, kan?" Cevin mengulangi pertanyaannya, lebih keras.


"Iyaaa. Ada apa sih? Tadi kan juga udah ditanyain. Gue ngantuk banget niiih…" ucap Balqis.


"Sorry... Sorry... Ya udah, lanjutin deh tidurnya. Gue cuma mau mastiin lo nggak kenapa-napa," ucap Cevin lalu mematikan ponsel. Dihelanya napas panjang. Balqis baik-baik saja. Seperti tiga kali kabar sebelumnya. Tapi kenapa perasaan gelisah dan cemas ini tidak juga berkurang?


Kembali Cevin tergolek di tempat tidur dengan mata terbuka. Hampir tiga jam setelah waktu pergantian hari ketika akhirnya cowok itu jatuh tertidur.


Keesokan paginya Cevin sama sekali tidak terbangun saat bekernya melengking keras. Satu hal yang sangat jarang terjadi. Sepulas apa pun tidurnya pasti akan terbangun kalau beker itu berbunyi. Cevin baru membuka mata setelah adiknya, Queena, menjerit-jerit di telinganya setelah gagal membangunkan sang kakak dengan guncangan tangan.


"Apa sih pagi-pagi jerit-jerit?" Cevin terlonjak bangun. "Hah, udah setengah enam!?" kembali ia terlonjak. "Kenapa Mas baru dibangunin sekarang sih, Queen?" seru Celvin.


Queena, yang baru saja meraih hendel pintu dan hendak keluar, melirik kakaknya dengan kesal.


"Aku termasuk hebat, tau! Berhasil bangunin Mas Cevin. Mamah sama Bi Puji sampai nyerah tuh. Ini aja kalau aku gagal, Mas Cevin mau disiram air aja. Tidurnya kebo banget sih?" kata Queena, lalu keluar.


Begitu kesadarannya pulih, hal pertama yang diingat Cevin adalah Balqis, lalu gimana keadaan cewek itu pagi ini. Perasaan gelisah itu kembali datang dan semakin menggunung karena pagi ini Cevin tidak bisa menjemput.


Cevin meraih ponselnya. "Qis, lo udah bangun?" Ucap Cevin.


"Udah dari tadi." Balas Balqis.


"Gimana kabar lo pagi ini?" Tanya Cevin.


"Baik." Balqis mulai bete. Ditanya itu melulu siapa juga yang nggak bosen.

__ADS_1


"Udah mau berangkat, ya?" Tanya Cevin lagi.


"He-eh. Ngabisin sarapan dulu." Balas Balqis.


"Sorry, Qis. Gue nggak bisa jemput elo pagi ini. Telat bangun." Jelas Cevin.


"Nggak papa. Berangkat sendiri juga bisa." Ucap Balqis.


"Berani, kan?" suara Cevin langsung terdengar cemas. Cowok itu tidak menyadari bahwa ketakutan itu sebenarnya hanya milik dirinya sandiri.


"Berani. Emang kenapa? Dulu-dulu gue juga berangkat sendiri." Balas Balqis.


"Ya udah kalo gitu. Ati-ati di jalan, ya?" Ucap Celvin.


"Iya." Balas Balqis.


"Kontak gue kalau ada apa-apa." Ucap Cevin.


"Iya." Lanjut Balqis.


"Kalau bus penuh jangan paksa berdiri deket pintu. Bahaya." Lagi Cevin mengingatkan.


"Iyaaa. Aduuuh!" Balqis jadi kesal. "Ntar gue nggak berangkat-berangkat nih."


Cevin mengakhiri pembicaraan, karena ia sendiri juga belum apa-apa. "Oke deh. Sampe ketemu di seko…." Belum sempat Cevin menyelesaikan kata-katanya.


"Oke. Daaah!" Balqis buru-buru memotong dan menutup telepon.


Sesaat Cevin mengerutkan kening, kemudian tersenyum. Diletakannya ponsel di meja lalu buru-buru berlari ke luar setelah menyambar handuk.


Balqis melangkah ke luar rumah dengan perasaan gembira. Setelah berhari-hari selalu berada dalam pengawasan dan pengawalan ketat Cevin, bisa sendirian rasanya merdeka banget.


Langkah-langkah ringan Balqis menelusuri trotoar menuju halte melambat saat ia melewati sebuah rumah. Ada suasana duka terasa di rumah itu. Yang jelas, kematian itu bukan menimpa keluarga ini. Mungkin salah satu sanak saudara mereka, karena sama sekali tidak terjadi kesibukan di rumah itu. Hanya samar-samar terdengar isak tangis dari dalam.


Sepertinya mereka sudah siap berangkat menuju tempat duka, karena di halaman telah terparkir sebuah sedan biru dengan mesin menyala. Di dasbornya ada sebuah buket bunga bertuliskan "TURUT BERDU…!!!" sisanya tidak terbaca karena tertutup bunga, tapi sudah bisa dipastikan apa bunyi kalimat lengkapnya.


Balqis sudah akan meneruskan langkahnya saat seseorang menabraknya dari arah jalan raya. Cowok...?! Dia membawa buket bunga juga. Tabrakan itu cukup keras hingga membuat Balqis terhuyung. Cewek itu nyaris jatuh kalau tidak cepat-cepat menyambar tiang listrik terdekat dengan kedua tangan.


Cowok itu juga terhuyung nyaris jatuh. Buket bunga di tangannya terlepas dan terlempar ke trotoar tanpa bisa dicegah. Balqis menatap terbelalak saat melihat buket bunga itu menghantam kerasnya trotoar sehingga beberapa tangkai bunganya patah.


Citra melepaskan kedua tangannya yang tanpa sadar masih memegangi tiang listrik. Cepat-cepat dihampirinya buket bunga itu. Ia hendak memungutnya agar tidak semakin banyak bunga yang rusak, tapi cowok itu sudah lebih dulu bergerak. Baru saja Balqis akan mengulurkan tangan, sebuah tangan sudah terulur lebih dulu, menyambar bunga naas itu dari trotoar.


"Maaf, ya," ucap Balqis lirih, jadi merasa bersalah juga.


"Bukan salah lo," jawab cowok itu singkat, lalu bergegas pergi sebelum Balqis sempat menatap wajahnya.


Gerakan cowok itu yang cepat dan tiba-tiba membuat tangkai bunga yang membentur trotoar tadi akhirnya benar-benar patah dan terlepas dari buketnya.


Bunga itu terjatuh, tanpa cowok itu menyadarinya. Refleks, Balqis mengulurkan kedua tangannya. Bunga itu jatuh di sana. Di tengah kedua telapak tangan Balqis yang terbuka.


Mawar yang masih kuncup.


Warnanya putih.

__ADS_1


Warna mawar yang paling disukai Balqis.


Balqis menengadahkan muka, akan memanggil cowok itu, namun batal karena cowok itu sudah sampai di teras dan tak lama menghilang masuk ke rumah lewat pintu depan yang terbuka. Balqis hanya sempat melihat sekilas punggung dan bagian belakang tubuh yang lumayan tinggi itu.


Setelah sempat tercenung beberapa saat, Balqis mengedikkan bahu. Ditatapnya kuncup mawar di telapak tangannya itu.


"Ya udah. Buat gue aja deh," ucapnya ringan, kemudian diteruskannya langkah kakinya menuju halte. Selama di dalam bus, sepanjang perjalanan menuju sekolah, Balqis terus memandangi kuncup mawar di tangannya itu.


"Cantik banget," gumamnya. Satu senyum kecil muncul di bibirnya. Sesampainya di kelas, Balqis meletakkan kuncup mawar itu di meja, beralaskan selembar tisu.


Sementara itu, begitu bus sampai di halte tujuan, Cevin langsung melompat turun, bahkan sebelum bus benar-benar berhenti. Cowok itu kemudian berlari menuju sekolah.


Kecemasan itu semakin pekat, tapi tetap tanpa penjelasan hingga membuat Cevin seakan gila dan ingin berteriak sekeras-kerasnya, "Ada apa sih sebenernya!?"


Begitu sampai di ambang pintu kelas, Cevin langsung mencari-cari sosok Balqis. Cewek itu ada di bangkunya. Kepalanya menunduk, serius dengan sesuatu yang sedang disalinnya. Pasti Pekerjaan Rumah bahasa Inggris.


Namun kali ini Cevin tidak peduli lagi dengan kebiasan jelek Balqis itu. Biarlah...!!! Biar saja dia menyalin Pekerjaan Rumah di sekolah. Biar saja dia cerewet, bawel, dan kadang celotehnya yang ramai itu bikin kesal dan sakit kuping. Biar saja dia suka iseng dan sering bikin orang pengin marah. Biar...!!! Yang penting dia nggak apa-apa.


Cevin menarik napas panjang. Lega melihat Balqis baik-baik saja. Sekaligus melegakan paru-parunya yang sedari tadi terasa sesak. Cowok itu kemudian memasuki kelas menuju bangkunya dengan langkah lambat. Sedikit menyantaikan kedua kakinya yang tadi berlari dari halte.


"Pasti nyalin Pekerjaan Rumah…"


Mulut Cevin masih terbuka, tapi kalimatnya tidak selesai. Langkahnya terhenti mendadak. Tubuhnya lalu menegang di samping meja. Dua manik matanya tertancap lurus-lurus ke satu titik. Ada gelombang dahsyat ketidakpercayaan dan penolakan atas apa yang saat ini ada di depan matanya.


Kuncup mawar itu!


Kuncup mawar itu adalah bunga yang paling dikenali Cevin. Bunga yang paling diingatnya dari semua bunga yang pernah dilihatnya. Dan tidak akan pernah bisa ia lupakan sampai mati nanti.


Satu-satunya bunga yang terlepas dari buketnya saat kecelakaan itu terjadi. Tergenggam erat di satu tangan Irfan. Bunga itu lalu diberikan oleh Irfan kepada Balqis, agar cewek itu menyimpannya, biar menjadi kenangan Irfan pada gadis yang dicintainya.


Tapi itu sudah lama berlalu. Dan seharusnya mawar itu sudah mengering. Namun mawar itu sekarang ada di sini, dan masih tampak segar.


Ada di sini…!!!


Di dekat Balqis...!!!


Ternyata inilah penjelasan dari kecemasan pekat yang muncul mendadak kemarin siang itu. Kecemasan yang sekarang sudah menghilang karena sudah menjelma menjadi rasa takut.


Rasa takut itu membuat Cevin tidak berada lagi dalam posisi seratus persen sadar, saat kemudian disambarnya kuncup mawar itu.


"Eeeeeh!" Balqis sudah akan merebut bunga itu tapi urung begitu dilihatnya kondisi Cevin. Tertegun ditatapnya cowok itu. Sepasang matanya yang menyorot tajam sarat dengan ketakutan.


"Dari mana lo dapet ini!?" bisikan Cevin seperti datang dari tempat yang sangat jauh.


"Mmm…" Balqis jadi tergagap.


"Balqis, dari mana lo dapet ini!?" bisik Cevin lagi. Kedua rahangnya terkatup rapat.


"Ng… itu… dari nemu." Balas Balqis.


"Di mana?" Tanya Cevin.


"Itu… tadi gue ditabrak cowok," Balqis menjelaskan dengan suara terbata-bata, karena Cevin masih menikamnya dengan tatapan tajam yang sarat ketakutan itu. Balqis tidak mengerti tatapan Cevin itu, tapi membuatnya takut.

__ADS_1


Meskipun cerita yang didengarnya terputus-putus, meskipun tidak mendengarkan dengan kesadaran penuh, Cevin bisa memastikan satu hal "Balqis telah bertemu Irfan...!!!


__ADS_2