
Begitupun jangan sampai merusak kehidupan rumah tangga Balqis dengan Sigit. Namun persoalan yang pelik ini harus bisa diambil jalan tengah. Salah satu harus ada yang mengalah. Maka ibu Nabila segera bertanya kepada anaknya;
"Kau mau hidup dimadu?"
Ucap ibunya Nabila.
Nabila diam sesaat, lalu mengangguk. Kedua orang tua Nabila jadi terperangah.
"Apa sebabnya kau mau di madu?"
Tanya ibunya Nabila setelah mengetahui jawaban dari Nabila.
"Karena Balqis mempunyai kepribadian yang luhur. Dia menghargai sesama wanita. Dan banyak kelebihannya dibandingkan diriku."
Jawab Nabila.
Semua orang yang hadir di situ tak bisa membuka suara lagi. Mereka terharu mendengar ketulusan hati Nabila. Ternyata di balik keangkuhan perempuan itu ada pula kepasrahan dan kepekaan.
"Semuanya ini yang menjadi penyebabnya adalah Nabila sendiri. Maka biarlah Nabila yang menanggungnya. Nabila ikhlas."
Tutur Nabila yakin.
***
Sebelum Balqis minta izin cuti, pimpinan asuransi tempat Balqis bekerja sudah terlebih dahulu memanggilnya ke kantor. Sebab kemarin dia menerima telpon dari Cevin supaya Balqis diberikan cuti. Permintaan Cevin lantaran dengan pertimbangan bahwa kandungan Balqis sudah berusia tujuh bulan. Dia tak sampai hati dalam keadaan begitu Balqis masih terus bekerja mendatangi setiap kantor.
Rosalina duduk menghadap...!!! Laki-laki gemuk setengah baya itu tersenyum ramah sekali.
"Balqis, mengingat kandunganmu sudah mencapai tujuh bulan, maka perusahaan kami akan memberikan cuti kepadamu sampai anakmu, lahir. Setelah itu kau boleh masuk bekerja lagi," kata pimpinan asuransi tersebut.
Wajah Balqis jadi berseri-seri. Baik benar pikir Balqis. Dan pimpinan asuransi tempat dia bekerja merupakan seorang pimpinan yang sangat bijaksana sekali. Tanpa terlebih dahulu minta izin sudah diberikan cuti.
"Apakah selama saya menjalani cuti, gaji saya tetap bisa saya terima, Pak? Maaf kalau saya kurang pantas menanyakan hal ini."
Tanya Balqis.
"Jangan kawatir. Gaji dan bonus anda tetap saya berikan seperti biasanya."
kata pimpinan asuransi tersebut.
"Terima kasih, Pak."
Ucap Balqis.
"Sekarang kau boleh pulang dan mulai besok saya ucapkan selamat menjalani cuti itu. Semoga anda selalu gembira dan bahagia."
kata pimpinan asuransi tersebut.
Masih belum habis pikir mengenai kebaikan pimpinan asuransi tersebut sambil berjalan melintasi ruang kantor. Dan semenjak bekerja di situ selalu saja diperhatikan oleh pimpinan asuransi tersebut. Jauh sekali bila dibandingkan dengan karyawati lainnya. Apakah barangkali bapak pimpinan asuransi tersebut naksir padaku? Atau sekedar kasihan karena dia tahu suamiku lumpuh dan aku yang mencari nafkah? Ah, terserah apa yang dipikirkan laki-laki itu.
Ketika Balqis baru saja keluar dari pintu kantor, seorang laki-laki sudah berdiri menantinya. Balqis terbelalak karena kenal betul siapa laki-laki itu.
"Balqis," panggilnya laki-laki itu.
Balqis cuma menatap laki-laki sepintas terus meneruskan langkahnya. Tapi laki-laki itu mengikutinya. Di jalanan yang agak sepi laki-laki itu menyambar lengannya.
"Berhenti, Balqis. Aku ingin bicara."
Balqis meronta berusaha melepaskan cekalan tangan laki-laki itu. Tapi laki-laki itu malah kian erat mencekalnya. Tak mau melepaskan dan menariknya supaya berhenti.
"Kau sekarang kerja di mana?" tanya Cevin pura
pura tidak tahu.
"Kerja di mana pun kau tak perlu tahu."
Jawab Balqis.
"Aku rindu sekali kepadamu, Balqis."
Ucap Cevin.
"Tapi aku sudah melupakanmu."
Balas Balqis.
Cevin memandang perut balqis yang membuncit besar. Lantas di bibirnya tersenyum bahagia. Balqis buru-buru memutar tubuhnya agar perutnya yang membuncit tidak dipandang Cevin.
"Aku menjumpai kali ini untuk yang terakhir kalinya. Aku hendak mohon pamit untuk pergi jauh. Dan aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Betapa berat dan hancurnya hatiku, aku akan berusaha melupakanmu. Karena kau sudah tidak sudi lagi kepadaku. Bersikeras melupakanku," kata Cevin yang nadanya parau.
Mendengar ucapan Cevin tubuh Balqis berbalik lagi. Sekarang dipandangnya wajah Cevin dalam-dalam.
"Kau akan pergi bersama istrimu?"
Tanya Balqis.
Cevin menggeleng. Kedua matanya nampak berkaca-kaca.
"Kau ingin pergi sendiri?"
Lanjut Balqis dengan pertanyaannya.
"Ya."
Jawab Cevin.
"Kau tega meninggalkan istrimu?"
Kembali Balqis bertanya.
"Tidak ada jalan lain karena aku telah melanggar janji dan sumpahku. Aku mohon kepadamu, temanilah aku pergi ke suatu tempat, sebelum aku pergi ingin rasanya ditemanimu walau sesaat. Seperti pertama kita bertemu dengan baik, berpisah pun dengan baik. Kau mau ya?" bujuk Cevin lemah lembut.
Balqis tertunduk menimbang-nimbang. Bersedia atau tidak? Dan ketika dipandangnya mata laki-laki itu sangat memelas sekali. Balqis jadi merasa kasian, bukankah selama ini Cevin selalu bersikap baik kepadanya? Laki-laki yang jujur dan penuh tanggung jawab.
Tidak pernah sekalipun mengecewakannya. Malah dia yang sering membuat laki-laki itu kecewa. Frustrasi...!!!
"Mau ya? Untuk sekali ini saja. Setelah itu aku akan pergi jauh dan tidak akan mengganggumu lagi. Mau ya?" bujuk Cevin makin memelas.
Balqis mengangguk.
Cevin tersenyum lega. Lalu mereka menuju ke mobil. Cevin membukakan pintu untuk Balqis. Setelah perempuan itu duduk di jok depan, pintunya ditutup pelan. Seolah-olah jangan sampai perempuan itu kaget. Setelah itu menyusul dia duduk di belakang stir dan meluncurkan mobilnya.
Selama di dalam perjalanan menuju pantai, sebentar-sebentar Cevin melirik ke arah perut Balqis. Alangkah bahagianya jika bayi itu lahir dengan ikatan yang sah melalui akad nikah.
Mobil itu telah sampai di pinggiran pantai. Cevin mengajak Balqis turun. Di bawah tenda yang nyaman mereka duduk berdua. Sesaat Balqis memejamkan mata karena ingat awal pertama pergi bersama Cevin. Laki-laki itu mengajaknya ke tempat ini juga. Apakah ini memang dikehendaki Cevin? Awal cinta tumbuh di sini dan akhirnya juga di sini.
"Di saat ini kukenang kembali jalinan cinta kita sebelum berpisah. Masa-masa yang kita lewati terasa begitu indah dan menyakitkan. Dirimu yang selalu membayangiku di setiap gerak langkahku dalam hidup ini. Namun kau tak pernah dapat memberikan kepastian untuk mau hidup bersamaku," kata Cevin yang sendu sembari memandang lautan lepas.
Jauh...!!!
Ombak yang saling berkejaran. Nelayan
nelayan yang sedang mencari ikan.
"Impian tidak selamanya menjadi kenyataan. Mencintai seseorang pun bukan harus dimiliki. Seperti apa yang terjadi pada diri kita. Hari ini kita bertemu bukan untuk merintis kisah kita yang dulu. Tapi bertemu untuk berjanji saling melupakan."
Ucap Balqis.
Cevin memandang wajah Balqis yang sendu.
__ADS_1
Ucapan perempuan itu bagai sembilu yang menggores hatinya. Bagai pagar baja yang membatasi jalinan cinta mereka di saat ini. Lalu Cevin merapatkan dirinya ke tubuh perempuan di sampingnya.
"Izinkan sebentar saja kubelai jari tanganmu kasih. Sudah sekian lama aku menanggung rindu sampai tak kuasa aku menahannya. Meskipun ini untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah merasa paling bahagia dalam saat-saat terakhir ini," pinta Cevin mengharapkan sekali.
Balqis memejamkan matanya. Membiarkan Cevin membelai jari tangannya dengan lembut dan mesra. Sementara hati perempuan itu bagai ditikam sembilu. Sejuta rasa haru membalut jiwanya, hingga dari sudut matanya menetes butiran air bening. Apalagi manakala jari tangannya dicium oleh Cevin. Jiwanya seperti ingin menjerit.
"Kalau pada suatu saat anak kita lahir, dan kebetulan aku tidak ada di sisimu, sebut saja namaku. Pasti Tuhan akan selalu melindungimu. Karena setiap saat aku berdoa agar kau dapat melahirkan anak kita dengan selamat. Dan berilah dia nama Viko Kurniawan, bila dia laki-laki Jika perempuan berilah nama Dewi Kurniawati."
Ucap Cevin.
Isak tangis Balqis semakin berkepanjangan..
"Sudahlah, hentikan tangismu." Cevin membasuh air mata perempuan itu. "Bila kita masih ada umur panjang kelak kita akan bertemu lagi. Walaupun tanpa kisah yang dulu."
Lanjut Cevin.
Cevin memeluk bahu Balqis. Dibimbingnya perempuan itu ke mobil. Saat-saat perpisahan itu terasa sangat mencekam perasaan mereka masing-masing. Di
terminal Raja basah mereka berpisah. Balqis mengiringi kepergian laki-laki itu dengan deraian air mata.
***
Sudah seminggu Cevin tidak ada kabar beritanya. Kepergiannya tidak diketahui ke mana. Membuat seluruh keluarganya jadi bingung dan cemas. Untuk sementara urusan kantor ditangani oleh Nabila dan Balqis. Ranti sering kali datang membantunya. Di lain pihak kedua orang tua Cevin dengan orang tua Nabila mempunyai rencana lain. Mereka berniat untuk menolong keadaan suami Balqis yang menderita cacat itu.
Dan ternyata rencana itu disepakati pula oleh Queena dan Nabila. Mungkin dengan cara bisa menyembuhkan cacat Sigit keadaannya akan bisa berubah lain.
Hingga pada suatu sore mereka datang ke rumah Sigit. Kedatangan mereka sangat mengejutkan laki-laki itu. Dengan setengah terheran ditemuinya keluarga Cevin dan keluarga Nabila. Semua merasa terharu melihat keadaan laki-laki cacat itu.
"Barangkali kedatangan kami sekeluarga mengejutkan, bukan?" kata ayah Cevin.
"Saya merasakannya juga begitu," balas Sigit yang duduk di kursi roda.
"Sebenarnya kami datang untuk menolong keadaan diri saudara," lanjut ayah Cevin.
"Apa hubungannya tuan-tuan bermaksud demikian?"
Tanya Sigit.
"Saya orang tua Cevin."
Sigit manggut-manggut.
"Lantas maksud tuan menolong keadaan saya itu bagaimana?"
Tanya Sigit.
"Mengobatkan cacat saudara sampai bisa pulih. Ya walaupun tidak sesempurna yang dulu lagi. Tapi paling tidak bisa kembali baik. Bisa berjalan dan mempunyai gairah hidup lagi."
"Biayanya tidak kecil tuan-tuan."
Ucap Sigit.
"Itu tidak jadi soal. Yang penting saudara bersedia untuk berobat."
Sigit menimbang-nimbang. Ada perasaan ragu dan bimbang.
"Saudara mencintai Balqis bukan?"
Sigit terperangah dan gusar.
"Kalau saudara benar-benar mencintai Balqis harus mau berobat sampai sembuh. Bisa mempunyai atensi sebagaimana suami yang normal."
"Saya terlalu mencintai Balqis."
Jawab Sigit.
"Nah, kalau begitu saudara harus menuruti saran kami."
"Maaf, sebelumnya saya banyak terima kasih atas perhatian tuan-tuan. Biarkan sisa hidup saya tetap begini," kata Sigit tenang.
Mereka merasa kecewa...!!!
Begitu juga yang lainnya...!!!
"Boleh kami tahu di mana tempat tinggal orang tuamu?" tanya ayahnya Cevin. "Kami ingin bertemu."
"Saya sudah jadi anak terbuang. Untuk apa musti mengikut sertakan orang tua saya? Mereka sudah membenci saya," keluh Sigit.
"Sejahatnya orang tua, tak mungkin tega melihat anaknya hidup menderita dan sengsara."
Sigit menepiskan muka. Dia jadi ingat pengorbanan yang dilakukannya menentang kehendak orang tuanya. Kehendak akan dinikahkan dengan gadis pilihannya. Tapi karena dia sangat mencintai Balqis nekad kabur dari rumah dan menikah di luar sepengetahuan orang tuanya. Sampai detik ini pun orang tuanya tidak mengetahui tempat tinggalnya. Keadaan dirinya yang cacat.
"Kenapa saudara sampai jadi anak terbuang?"
"Pernikahan saya dengan Balqis tidak direstuinya," suara Sigit lemah. Ada perasaan rindu yang mencekam di hatinya. Rindu dengan kedua orang tuanya. Tiga tahun lebih dia berpisah, dan kini rasa rindu meletup-letup.
"Di mana tempat tinggal orang tuamu?"
Sigit menyebutkan di bilangan cukup elite.
"Seingat saya di daerah itu ada yang banyak saya kenal. Coba sebutkan siapa nama orang tuamu. Barangkali saja saya kenal." Ucap ayahnya Cevin.
Sigit dengan berat hati menyebutkan kedua nama orang tuanya.
"Mereka itu kan teman lama kita, Pa." Ibu Cevin nampak senang.
"Ya. Ayahnya malah teman usahaku dulu."
Ada secerah harapan yang menyala di hati Sigit. Barangkali dengan pertemuan ini akan banyak membawa hikmah.
***
Selama Balqis menjalani cuti, hari-hari yang dilaluinya selalu diisi dengan kesibukan. Setiap hari membuat pakaian bayi untuk persiapan bilamana anaknya lahir. Sudah tiga hari berdiam diri di rumah timbul rasa jenuh. Di samping kangen ingin menemui suaminya. Tapi dalam tiga hari itu perutnya selalu saja diserang rasa sakit.
Apakah bayiku akan segera lahir? Pikir Balqis. Kemudian dia menghitung dari bulan pertama berhenti mens sampai saat ini. Tujuh bulan lebih empat hari. Mungkin bayiku akan lahir pada usia kandungan tujuh bulan? Perasaan Balqis jadi resah bercampur gelisah.
Sore itu tanpa diduga kepala pimpinan asuransi tempat Balqis selama ini bekerja datang. Dengan setengah malu dan kikuk Balqis menemuinya. Betapa mengherankan, seorang direktur mau datang ke pondoknya yang miskin.
"Bagaimana kesehatanmu, Balqis?" tanya kepala pimpinan asuransi.
"Perut saya sering kali sakit, Pak."
Jawab Balqis.
"Mari kuantar kau ke dokter. Mungkin sudah ada pertanda bahwa bayimu akan lahir."
Ucap kepala pimpinan asuransi itu.
"Tapi usia kandunganku baru tujuh bulan lebih empat hari."
Jelas Balqis.
"Hal itu mungkin saja bisa terjadi."
kepala pimpinan asuransi itu berkata lagi.
Balqis tak ingin mengecewakan tawaran kebaikan pimpinannya itu. Dan memang sudah pada waktunya memeriksakan kandungannya ke dokter. Selama di perjalanan baru pertama kali kepala pimpinan asuransi tersebut menanyakan soal suami balqis.
"Tadi tak kulihat suamimu, ke mana dia?"
__ADS_1
"Saya tinggal sendiri."
Jawab Balqis.
"Sudah berpisah dengan suamimu?"
Balqis menggeleng.
Kepala pimpinan asuransi itu agak heran.
"Kok bisa ya, suami istri tinggal berlainan tempat."
"Bisa-bisa saja," gumam balqis.
"Apakah suamimu jarang datang?"
Balqis mengangguk.
"Lantas kalau ingin saling bertemu bagaimana?"
"Saya datang ke rumahnya. Tapi sudah seminggu ini saya belum menjenguknya."
Jelas Balqis.
Mobil yang dikemudikan berhenti di depan rumah dokter langganan Balqis. Balqis selama kehamilannya itu sudah langganan kalau periksanya ke situ. Pasien yang menunggu cukup banyak. Tapi balqis mendapat prioritas lebih dulu.
Di kamar periksa...!!!
"Tidak lama lagi bayi nyonya akan lahir," ujar dokter yang baru saja memeriksanya. Balqis termenung. Sesaat dia ingat Cevin. Ingat laki-laki itu yang menitiskan darah daging bayi yang dikandungnya. Lalu bayangan Sigit juga terlintas di benaknya. Perasaan Balqis sedih sekali. Dia merasa amat berdosa terhadap suaminya.
Berdosa...!!!
Semuanya itu lantaran laki-laki yang bernama Cevin. Benarkah begitu?
Lantaran laki-laki itu semuanya jadi hancur?
Lantas Balqis mencoba instropeksi. Bukan-bukan Cevin yang menjadi penyebabnya. Nasiblah yang menghendaki begini.
***
Semakin aneh dirasakan oleh Balqis mengenai kunjungan kepala pimpinan asuransi tempat dia bekerja itu. Laki-laki setengah baya itu acap kali datang setiap sore mengunjunginya. Mengantarnya ke dokter. Membuat Balqis kadang-kadang timbul praduga, jangan-jangan direkturnya ini menaruh hati padanya? Sebab tanpa maksud tertentu laki-laki itu tak mungkin seringkah datang.
Selain itu Nabila dan Ranti sering pula datang menjenguknya. Hubungan mereka sudah seperti saudara sendiri. Kedua perempuan itu merasa senasib ditinggal pergi oleh suaminya masing-masing. Dan semenjak itu antara Nabila dan Balqis saling berbicara dari hati ke hati. Secara pribadi membicarakan soal Cevin.
"Kita memang senasib, Qis," keluh Nabila.
"Yah. Tapi nasibmu masih lebih baik dibandingkan aku. Di saat menjelang bayiku akan lahir, orang-orang yang kucintai telah pergi."
Ucap Balqis.
"Apakah kau tidak mempunyai famili di Bandar Lampung ini?"
Tanya Nabila.
"Punya. Mereka adalah paman dan bibiku. Cuma rasanya aku malu sekali bertemu dengan mereka. Apalagi sampai mereka tahu aku hamil di luar nikah."
Jelas Balqis.
"Mereka tahu keadaan suamimu yang sesungguhnya?"
Tanya Nabila.
Balqis mengangguk.
"Pasti mereka memakluminya." Ucap Nabila lagi.
"Tapi aku merasa hina di hadapannya. Apalagi sampai mereka tahu mas Sigit pergi meninggalkan aku."
Ucap Balqis.
"Semua ini karena kesalahanku," gumam Nabila sedih.
"Kau tidak bersalah apa-apa, Nabila."
Ucap Balqis.
"Kalau sejak dulu aku berbuat sebagaimana istri yang baik terhadap mas Cevin, barangkali tidak sampai terjadi begini. Dia frustrasi lantaran kau menolaknya, sedangkan aku tak pernah mengurusnya. Memperhatikannya. Aku lebih cenderung menuruti emosi, mengejar Berry yang kucintai. Sekarang aku baru sadar, jika Cevin memang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan Berry."
Jelas Nabila menyesal.
"Kenapa dia sampai pergi?"
Tanya Balqis.
"Tidak pantas jika kukatakan."
Jawab Nabila.
"Terus terang sajalah, barangkali di antara kita bisa menemukan jalan yang baik."
Ucap Balqis.
"Soal melanggar janji dan sumpah."
Jelas Nabila.
"Janji dan sumpah apa?"
Tanya Balqis.
"Aku mau menikah hanya di catatan kertas, tapi tidak mau disentuh tubuhku ataupun dipergauli seperti layaknya suami istri. Hidup kami walaupun serumah jarang sekali bertegur sapa. Namun pada suatu malam dia pulang dalam keadaan mabok, lalu membayangkan seolah-olah aku adalah kamu. Sehingga malam itu juga dia merenggut kesucianku. Aku tahu, bahwa dia sangat mencintaimu. Akibatnya dia pergi karena melanggar janji dan sumpahnya itu. Aku merasa menyesal. Sebab saat itu aku sudah sadar akan semua kekuranganku dan mencintainya. Kini rasanya terlambat sudah," keluh Nabila dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Kau masih belum terlambat, Nabila. Asalkan kau mau menunjukkan kepadaku."
Jelas Balqis.
"Dan bagaimana mengenai suamimu?"
Tanya Nabila.
"Aku tidak tahu harus mencarinya ke mana."
Ucap Balqis.
"Barangkali dia kembali ke rumah orang tuanya?" Kata Nabila lagi.
"Itu tidak mungkin."
Balas Balqis.
"Kenapa tidak mungkin?"
Tanya Nabila.
"Sebab kedua orang tuanya sangat membencinya. Semuanya itu gara-gara mas Sigit bersedia memutup aib akan kehamilanku ini. Selama tiga tahun lebih dia tak pernah mau menemui orang tuanya. Susah ataupun senang kita pikul bersama."
Jelas Balqis.
Nabila termenung. Dia jadi membayangkan seandainya dia menikah dengan Berry, tentu nasibnya akan sama dengan Balqis. Hidupnya terbuang. Bila dalam keadaan susah dan menderita orang tua tidak mau tahu.
__ADS_1
Menyedihkan, memang...!!!