LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 77 : KENANGAN LAGI


__ADS_3

Siang itu mereka pulang bersama dan perjalanan seperti pagi tadi terulang. Perjalanan yang hening. Sesak dengan rasa malu, jengah dan asing. Balqis hari ini bukan lagi Balqis yang kemarin-kemarin. Mungkin mereka berdua sudah tidak bisa kembali lagi ke hari-hari kemarin.


Cevin tidak lama di rumah Balqis. Hanya menemui mamahnya Balqis, Cindy saja untuk pamit dan mengantarkan anak perempuannya. Balqis sama sekali tidak keberatan Cevin nggak mampir. Kebeneran malah. Ia betul-betul ingin secepatnya bebas dari rasa gugup dan malu yang sudah menekannya sejak tadi malam. Begitu Cevin sudah pamit dan hilang dibalik pagar, Balqis langsung menarik napas. Panjang dan dalam. Sikap tubuhnya langsung rileks, membuat mamahnya jadi tersenyum geli.


"Gimana komentarnya?" Ucap Cindy.


"Komentar apa?" tanya Balqis sambil mengekor langkah mamahnya ke dalam.


"Ya komentar soal muka sama kulit kamu dong." Lanjut Cindy.


"Wah!" Balqis tersentak. Langsung inget lagi.


"Wah, iya. Lupa! Dia nggak komentar apa-apa tuh." Jawab Balqis.


"Masa?" Cindy berlagak kaget juga. "Nggak sopan juga cowok itu, ya? Padahal kamu udah hampir ngabisin lulur mama. Sampe mamah harus beli lagi tadi. Apalagi semalam kamu maskerannya tebel banget. Jatah untuk tiga kali kamu pakai." Lanjut Cindy pada anaknya Balqis tersebut.


"Wah, iya, ya?" Balqis sampai berhenti melangkah. "Kok dia nggak ngomong apa-apa ya, Mah? Berarti dia nggak merhatin aku dong?" Ucap Balqis.


"Memangnya dia bilang kalau muka sama kulit kamu belang, jadi perlu digosok biar warnanya rata, gitu?" Tanya Cindy pada anaknya.


"Nggak sih." Jawab Balqis singkat.


"Ya udah. Santai aja kalau begitu. Buktinya, walaupun kamu udah maskeran dan luluran, dia tetap nggak sadar, kan?" Balas Cindy lagi.


"Iya sih. Emang dasar tu cowok nggak sensi." Ucap Balqis.


"Dia ada yang berubah nggak hari ini?" Tanya Cindy.


"Ng…." Balqis mengingat-ingat. "Nggak ada sih kayaknya." Lanjutnya.


"Berarti kamu juga nggak merhatiin dia dong? Siapa tau rambutnya agak pendekan. Atau kaus kakinya baru. Atau mungkin seragamnya disetrika lebih licin dibandingkan kemarin-kemarin." ucapan Cindy membuat Balqis tertegun. Mamahnya menoleh, menatapnya sambil mengangkat alis, lalu tersenyum.


"Kamu nggak merhatiin dia, atau yang penting buat kamu… dia ada?" Ucap Cindy.


Balqis makin tertegun. Ditatapnya sang mamah dalam keterpanaan. Wanita itu tersenyum semakin lebar, kemudian balik badan, berjalan ke arah dapur sambil bicara, lagi-lagi dengan nada sambil lalu.


"Buat cowok itu begitu juga. Yang penting kamu ada." Lanjut Cindy.


***


Cevin memasuki rumah dengan senyum cerah. Dengan wajah ceria dan bahagia, ia melangkah menuju kamar. Dibukanya pintu kamar lebar-lebar. Namun langkahnya terhenti seketika. Wajahnya sontak memucat. Tubuhnya membeku tegang. Kedua matanya menatap dengan sorot ketakutan, dan dengan gerakan liar ditelusurinya seisi kamar.


Cevin mencium bau parfum Irfan!


Sedetik kemudian, tanpa sadar Cevin menutup pintu dengan bantingan. Dadanya berdetak sangat kencang. Suara keras itu membuat Bi Puji datang tergopoh-gopoh dan heran melihat anak majikannya itu membeku tegang di depan pintu kamarnya yang tertutup.


"Mas Cevin, ada apa?" tanya Bi Puji cemas.

__ADS_1


Cevin tidak mendengar. Kedua matanya masih tertuju tajam dan lurus ke pintu tertutup di depannya.


"Mas Cevin, ada apa?" Bi Puji mengulangi pertanyaannya. Ia menghampiri Cevin lalu menepuk satu bahu karena pertanyaannya masih tidak terjawab. Tepukan itu membuat Cevin terlonjak kaget dan tanpa sadar melompat mundur.


"Bibi nih, bikin kaget aja!" seru Cevin kemudian.


"Kok bisa? Wong Bibi nanyanya pelan. Ada apa toh?" Tanya bibi lagi.


Mulut Cevin sudah terbuka, tapi kemudian ia urung mengatakan. "Nggak ada apa-apa." ia menggeleng cepat. "Nggak sengaja pintunya tadi kebanting. Bibi masak apa? Aku makannya di dapur aja deh." Cevin berjalan ke dapur.


"Nggak ganti baju dulu, Mas?" Bi Puji menyusulnya dengan kening berkerut.


"Ng…" Cevin bingung menjawab. Kemudian, saat melewati ruang setrika di dekat dapur, ia bertanya, "Bibi lagi nyetrika, ya? Di keranjang situ ada baju sama celana pendekku, nggak?"


"Adanya celana katun yang udah bule itu." Jawab Bi Puji.


"Apa aja deh. Yang penting judulnya aku nggak makan dengan badan telanjang." Balas Cevin.


Ketika Cevin keluar dari kamar mandi setelah berganti baju, Bi Puji sudah memindahkan piring-piring lauk di meja makan ke meja dapur, yang juga sering digunakan untuk makan bersama.


Meskipun heran, perempuan paru baya itu tidak bertanya. Sementara itu Cevin menyantap makan siangnya dalam kondisi yang bisa dibilang tidak sadar. Mulutnya mengunyah secara otomatis karena ada makanan masuk. Sementara indra pengecapnya seperti tidak bekerja. Seandainya tiba-tiba ia ditanya apa yang sedang dimakannya, pasti ia takkan bisa langsung menjawab.


Cevin saat ini benar-benar tegang. Dadanya berdegup kencang, karena baru saja, meskipun sesaat, kembali ia mencium wangi parfum yang biasa dipakai Irfan. Diliriknya Bi Puji yang sedang menyetrika. Perempuan itu terlihat biasa-biasa saja. Berarti dia tidak merasakan adanya keganjilan.


"Queena mana, Bi?" Tanya Cevin.


Berarti tidak ada teman yang bisa diajaknya menemani masuk ke kamar….


Tiba-tiba Cevin merasa malu pada dirinya sendiri. Dengan seragam sekolah yang sekarang sudah putih abu-abu, ia merasa sudah mulai dewasa. Namun ternyata ia ketakutan setengah mati hanya mencium bau parfum kakaknya yang sudah "Pergi". Pada hal orang yang sudah meninggal takkan pernah bisa kembali.


Tapi kalaupun bisa, itu kan kakaknya sendiri.


Selesai makan, mau tidak mau, Cevin harus ke kamar, karena Pekerjaan Rumah fisika yang diberikan Pak Hadi Parjono minggu lalu dan harus dikumpulkan besok belum ia kerjakan. Ia tidak ingin mengalami nasib seperti Didik atau murid-murid lain yang namanya terekam dalam memori otak Pak Hadi Parjono karena pernah membuat masalah.


Jangan sampai deh!


Tanpa itu pun jam fisika sudah sangat mengesalkan. Dengan perasaan yang semakin tegang dan dada yang berdetak semakin kencang, Cevin memberanikan diri melangkah menuju kamar. Dirasakannya tubuhnya mendingin saat perlahan dibukanya pintu kamar.


Tidak lagi tercium bau parfum Irfan. Kamar itu lengang, seperti yang selalu dirasakan Cevin sejak kematian Irfan. Kamar itu juga selalu dalam keadaan rapi, karena tanpa sadar Cevin tak ingin membuat kamar itu berantakan. Percuma. Sudah tidak ada lagi orang yang akan berteriak "Lo jangan naro baju kotor sembarangan dong!" atau "Kenapa sih lo kalo pulang sekolah, ngelempar tas sama buku-bukunya selalu ke kasur gue? Kenapa nggak ke kasur lo sendiri?"


Namun Irfan kadang juga suka main tuduh seenaknya. Seperti pernah terjadi… "Kalo di luar ujan, jalan becek trus sepatu jadi kotor, tu sepatu taro di belakang dong. Jangan dimasukin kamar. Ubin kamar jadi kotor tuh!"


Namun detik berikutnya Irfan sadar bahwa itu sepatunya sendiri. Dan saat adiknya kemudian menatapnya sambil mengangkat kedua alis tinggi-tinggi, Irfan menyeringai lalu terkekeh-kekeh geli. "Itu sepatu kets gue deng. Gue kirain sepatu elo," kilahnya enteng.


Cevin ingat ia cuma bisa mendegus kesal saat itu.


"Maap. Maap. Hehehe…" Irfan malah semakin terkekeh-kekeh.

__ADS_1


Kenangan-kenangan itu…!!!


Cevin jatuh terduduk tanpa sadar. Ia menangis terisak. Ia kangen Cevin. Ia kangen kakak satu-satunya itu. Seandainya bisa bertemu lagi, sebentar juga nggak apa-apa. Cevin memohon lirih, namun sadar permohonan itu mustahil. Hanya akan semakin melukai dirinya sendiri.


Kemudian ia memaksa dirinya untuk menghentikan tangis. Sambil mengusap air mata dengan kedua lengan kaus, Cevin bangkit berdiri. Diraihnya kotak plastik di kolong tempat tidur, tempat ia menaruh seluruh koleksi CD, DVD, dan MP3-nya. Pilihannya jatuh pada kumpulan musik Pop dan Regee, agar kamar ini tidak terlalu sepi. Namun begitu lagu pertama terdengar, langsung terngiang suara Irfan, "Nyetel musik jangan kenceng-kenceng, kenapa sih? Emangnya yang punya kuping elo doang?"


Kenangan yang lain lagi…!!!


Kembali air mata Cevin jatuh. Kali ini ia buru-buru menghapusnya karena didengarnya suara Queena. Cepat-cepat ia menutup pintu kamar dan menguncinya perlahan. Ia tidak ingin adiknya itu melihatnya menangis, karena Queena juga pasti sedih, sangat kesepian. Sekarang sudah tidak ada lagi kakak yang sering menggodanya, yang senang membuatnya menjerit-jerit dengan segala macam cara.


"Pekerjaan Rumah fisika buat besok banyak banget nih, Fan. Jangan ganggu gue dulu, ya? Guru fisika gue galak soalnya," ucap Cevin, bicara pada kakak yang dibiarkannya tetap hidup dalam pikirannya.


Namun entah kenapa, penyangkalan atas kematian Irfan yang dilakukan Cevin dengan sadar itu justru membuatnya tenang. Dari barisan buku di rak di depannya, Cevin mencari buku-buku yang diperlukannya. Diktat fisika, buku catatan, dan buku Pekerjaan Rumah. Dengan mata sembap namun dengan hati yang perlahan menjadi tenang, Cevin mulai mengerjakan Pekerjaan Rumah fisiknya.


***


Pukul lima dini hari, beker berdering. Jadwal yang biasa, tapi hari ini tidak biasa. Hari ini berbeda. Begitu membuka mata, Cevin langsung bisa merasakan ia tidak sendirian di dalam kamar. Tempat tidur Irfan masih rapi, tidak pernah digunakan sejak hari kematiannya, namun sang pemilik ada di dalam kamar ini!


Tanpa sadar bulu kuduk Cevin meremang.


Tetapi tidak seperti kontak pertama kemarin sore, kali ini dia tidak lagi ketakutan. Yang muncul justru perasaan kangen. Kangen bertengkar dengan Irfan. Kangen berebut komik. Kangen saling memekik dan meneriakkan tuduhan karena masing-masing merasa lebih sering merapikan kamar, sementara yang lainnya lebih sering membuat kamar jadi berantakan. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan membuat garis di lantai dengan kapur tulis. Membagi kamar itu menjadi dua teritori. Masing-masing dengan otonomi penuh.


Seluruh sisa ketakutan Cevin kini menghilang. Saat memandangi dinding kamar, cowok itu tersenyum tanpa sadar. Kalau pertengkaran mereka sedang menghebat, biasanya dengan penuh nafsu mereka berdua akan membuat garis batas teritorial itu sampai ke dinding. Akibatnya, mereka harus keluar-masuk kamar dengan posisi badan dimiringkan, karena masing-masing hanya berhak atau jarak setengah ambang pintu.


Suara ketukan di pintu menyadarkan Cevin.


Kepala Queena, adiknya yang masih di bangku Sekolah Dasar kelas tiga, menyembul di sana.


"Sekolah nggak sih? Udah jam setengah enam nih," katanya, lalu langsung menghilang tanpa menunggu jawaban sang kakak.


Cevin bangkit dari posisi berbaring, lalu ia tepekur di tepi tempat tidur.


"Sialan!" desisnya pedih. "Gue bener-bener kangen Irfan."


Perasaan pedih dan kehilangan yang mendadak sangat terasa itu membuat Cevin berangkat ke sekolah dengan langkah gontai. Memang, kontak-kontak itu hanya sesaat, namun Cevin merasa seperti Irfan kembali. Ia bisa merasakan kehadirannya walaupun kakaknya itu kini tidak lagi kasat mata.


Sesampainya di kelas, Cevin mendapati Balqis sedang duduk di bangkunya. Ekspresi muka cewek itu agak aneh. Seperti bingung.


"Ada apa?" tanya Cevin cemas.


Balqis tampak ragu. Mulutnya sudah terbuka tapi segera tertutup kembali. Kemudian ia menggeleng.


"Perasaan gue aja kali, ya? Tapi emang rada aneh sih. Gue kan kalo ngerjain Pekerjaan Rumah suka sambil dengerin radio. Cari yang penyiarnya kocak atau cari lagu-lagu yang asyik gitu. Tapi semalem, masa setiap kali gue pindah channel, selalu lagu itu yang lagi diputer atau mau diputer. Sama! Lo tau nggak, Vin, itu lagunya siapa?!" Balqis berdecak lalu mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat. "Oh iya!" serunya kemudian. "Lagunya Glenn Fredly sama Dewi Sandra. Itu tuh, yang judulnya When I Fall in Love. Iya. Iya. Bener!" Ucap Balqis.


Cevin tersentak...!!!


Wajahnya sontak memucat. Karena naksir cewek ini, Irfan yang fans fanatik 50 cent, Ludacris, dan semua rapper kulit hitam, mendadak jadi melankolis abis! Dan lagu duet Glenn Fredly feat Dewi Sandra itu memang jadi lagu favorit Irfan menjelang kepergiannya.

__ADS_1


__ADS_2