LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 81 : ORANG GILA


__ADS_3

Dengan berat hati petugas sekuriti itu menggeser pintu gerbang yang berat itu. Hanya sedikit, cukup untuk kedua anak itu menyelinap masuk. Keduanya mengucapkan terima kasih, lalu berlari secepat-cepatnya menuju kelas.


Untung saja, guru belum datang. Keduanya masuk kelas dengan tubuh basah oleh peluh tetapi lega karena berhasil selamat. Godaan teman-teman sekelas mereka tanggapi hanya dengan cengengesan.


Selamat untuk Balqis, tapi tidak untuk Cevin. Saat istirahat pertama, cowok itu baru sadar bahwa ia tidak membawa buku pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan!


"Mampus gue, Qis!" desis Cevin. "Buku Pendidikan Kewarganegaraan gue ketinggalan!"


"Yaaah!" Balqis memekik tertahan. "Kok bisa? Hari ini yang ada Pendidikan Kewarganegaraan cuma kelas kita, nggak bisa cari pinjeman." Ucap Balqis.


"Makanya itu bingung gue, ck!" Cevin berdecak.


"Ya udah. Kita pake cara kayak waktu itu lagi. Tapi jangan pinjem bukunya Kiki. Ntar nggak sukses lagi." Ucap Balqis.


"Percuma!" Cevin menggeleng. "Yang ketinggalan bukan cuma buku cetaknya. Semuanya. Buku catetan, Pekerjaan Rumah, latihan." Lanjut Cevin.


"Haaaaa...!?" kali ini Balqis memekik keras. "Ketinggalan, apa lo sengaja nggak bawa sih?" Lanjut Balqis.


"Ketinggalanlah!" jawab Cevin dengan intonasi yang tanpa sadar jadi ketus. Ia enggan menceritakan alasan kenapa ia bisa lupa.


"Ya udah. Mendingan ntar lo jujur sama Bu Tika Kartini." usul Balqis kemudian.


Cevin manggeleng...!!!


"Percuma!" Ucap Cevin.


"Iya sih." Balqis mengangguk lemah. "Jadi?"


"Pasrah. Mau gimana lagi?" Balas Cevin.


Untuk Bu Tika Kartini, tidak membawa buku Pendidikan Kewarganegaraan adalah pelanggaran yang sifatnya absolut. Meskipun cerita di balik tidak terbawanya buku tersebut sedramatis kisah Titanic atau Siti Nurbaya, beliau tidak peduli.


Nggak bawa, ya nggak bawa. Titik!

__ADS_1


"Waktu itu, cuma nggak bawa buku cetak aja, lo dikeluarin dari kelas. Sekarang lo bukan cuma nggak bawa buku cetak, tapi juga buku catetan, buku Pekerjaan Rumah, sama buku latihan!" Balqis memandangi keempat jarinya. Kedua matanya terbelalak saat menyadari betapa gawat masalah yang dihadapi Cevin. "Kayaknya lo bakal dikeluarin dari sekolah!" Lanjut Balqis.


Cevin melirik jengkel, tapi tidak jadi marah ketika mendapati sorot cemas di kedua mata Balqis.


Ternyata Bu Tika Kartini masih ingat bahwa sebelumnya Cevin juga pernah tidak membawa buku Pendidikan Kewarganegaraan. Tidak mengherankan sih sebenarnya. Bedanya, dulu beliau menganggapnya sebagai kasus ringan atau kasus umum, tapi sekarang Bu Tika Kartini menganggapnya sebagai kasus khusus.


Karena Cevin tidak membawa seluruh buku yang berhubungan dengan Pendidikan Kewarganegaraan, Bu Tika Kartini menekankan kata "Seluruh" itu dengan menyebutnya tiga kali berarti Cevin memang tidak tertarik untuk mengikuti pelajarannya. Jadi dengan sangat berat hati, beliau membebaskan Cevin dari pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan selama satu bulan.


Satu bulan?


What a wonderfull life!


Beneran, sumpah! Kalau saja Pendidikan Kewarganegaraan bukan salah satu mata pelajaran yang nilainya wajib berwarna biru di rapor. Dengan adanya kejadian ini, Cevin tidak yakin sekeras apa pun ia berusaha dirinya akan punya peluang untuk mendapatkan nilai biru.


Cevin tidak tahu bagaimana cara Irfan melakukannya, atau bagaimana semua peristiwa yang menimpanya selama dua hari terakhir ini terhubung dengan almarhum kakaknya itu. Yang jelas, hari ini nasibnya lebih sial daripada kemarin.


Jauh lebih sial!


***


Masih dengan ransel tersandang di punggung, Cevin berdiri tegak di sana. Ditentangnya sepasang mata Irfan yang berada di dalam foto berbingkai. Sesaat hanya ada keheningan. Kemudian Cevin bicara dengan suara tenang. Sangat tenang. Jenis ketenangan yang biasa terjadi sesaat menjelang badai.


"Sekarang Balqis sama gue. Bukan sama elo!"


***


Kalimat yang sama, sikap yang sama, diulangi Cevin keesokan paginya, sesaat sebelum berangkat ke sekolah. Tindakan yang tidak perlu sebenarnya. Satu kali, cukup.


Tapi dua kali, terlalu banyak!


Cevin pamit pada seisi rumah, lalu berangkat. Tidak sampai berdiri lima menit di halte, bus yang ditanggungnya datang. Namun bus itu tidak pernah sampai di halte tujuan. Di tengah jalan, bus yang sarat penumpang itu mogok. Segala upaya yang dilakukan sopir berikut kondekturnya tidak berhasil membuat mesin kendaraan itu menyala.


Akhirnya kedua orang itu pasrah dan memindahkan seluruh penumpang ke bus-bus pada trayek yang sama. Tapi saat ini jam sibuk. Seluruh angkutan umum dalam keadaan penuh. Bus pertama yang lewat cuma bisa memuat tujuh orang lagi. Bus kedua malah lebih parah, hanya tiga orang yang bisa naik. Itu pun sudah pasti di pintu.

__ADS_1


Tak ayal, tiap kali sebuah bus muncul lalu berhenti di hadapan, terjadi saling dorong di antara penumpang. Semua berebut naik. Cevin pilih mengalah. Akibatnya, ia jadi tidak bisa menjemput Balqis. Waktunya tidak cukup. Terpaksa diteleponnya cewek itu. Memintanya untuk tidak menunggu dan berangkat ke sekolah lebih dulu. Sebenarnya hal itu membuat Cevin sangat cemas. Tapi tidak ada jalan lain.


Ketika bus berikutnya muncul, Cevin memaksa naik karena waktu sudah benar-benar mepet. Begitu sampai di halte tujuan, cowok itu langsung melompat turun. Ditelusurinya trotoar dengan setengah berlari, karena bel masuk sudah berbunyi dua menit yang lalu. Tapi Cevin lega karena tadi Balqis sudah mengirim SMS yang mengatakan dia sudah sampai di sekolah. Paling tidak cewek itu tidak ikut terlambat.


Langkah setengah berlari Cevin mendadak terhenti. Seorang laki-laki yang sepertinya tidak waras tiba-tiba muncul dari tikungan di depannya. Laki-laki itu kurus, kumal, dekil dan bajunya compang-camping. Di kepalanya bertengger helm rusak. Tapi bukan itu yang membuat Cevin mematung. Melainkan benda yang tergenggam di tangan kanan laki-laki itu.


Pentungan besi!


Orang gila itu menghampiri Cevin dengan mata melotot dan muka marah. "Mau gue abisin lo!?" teriaknya.


Cevin memucat dan semakin tak mampu bergerak. Orang gila itu mengayunkan pentungan besinya. Sesaat Cevin mengira dirinya sudah tewas, tapi satu tangan menyambar lengan kiri Cevin dari belakang.


"Lari, goblok!" si pemilik tangan berteriak dan menariknya dengan sentakan.


Cevin tersadar. Ia balik badan, mengikuti tangan yang menariknya. Ternyata Wisnu. Keduanya lari pontang-panting. Orang gila itu mengejar sambil berteriak-teriak dan mengacung-acungkan pentungan besinya.


Kedua cowok itu terpaksa nekat memanjat pagar sebuah rumah, lalu melompat masuk ke halamannya setelah tiga kali bunyi bel yang mereka tekan dengan kalap tidak membuat satu orang pun keluar.


Wisnu pucat.


Cevin lebih pucat lagi.


Keduanya bersembunyi di belakang kursi teras, sambil mengintip ke arah jalan. Tak lama orang gila itu muncul. Berlari melewati rumah tempat mereka bersembunyi. Masih sambil berteriak-teriak dan mengacung-acungkan besi yang di pegangnya. Setelah teriakan orang gila itu tidak terdengar lagi, baru kedua cowok itu menarik napas lega.


"Bego, lo!" bentak Wisnu kemudian. "Bukannya langsung kabur! Lo bisa mati kalo tadi sempet kena sabetan!" Ucap Wisnu lagi.


"Biasanya di situ nggak pernah ada orang gila. Kenapa tiba-tiba ada? Terus kok sama sekali nggak ada polisi yang nangkep?" suara Cevin terdengar mengambang. Seketika ia teringat kalimat yang dua kali diucapkannya di depan foto Irfan.


"Namanya juga orang gila, suka berkeliaran." Ia berdiri. "Yuk, ah. Buruan. Keburu yang punya rumah nongol. Ntar kita dikira mau nyolong, lagi. Lagian udah telat banget nih. Untung ada alesan yang oke!" Ucap Wisnu.


Keduanya kembali memanjat pagar, melompat keluar dan segera berlari ke arah semula.


Siangnya, sepulang sekolah, saat menyusuri kembali trotoar itu menuju halte bersama Balqis, Cevin mengawasi sekelilingnya dengan waspada. Balqis melakukan hal yang sama, juga semua murid yang berjalan menuju halte. Kejadian yang menimpa Cevin dan Wisnu tadi pagi memang menjadi pembicaraan ramai.

__ADS_1


Cevin menarik napas lega setelah bus yang mereka tunggu datang dan orang gila berbahaya itu tidak terlihat sama sekali.


__ADS_2