LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 37 : SAYA AKAN MENUNGGU


__ADS_3

"Tidak apa-apa!" Ucap Rahmawati. "Kalau kau ingin bertemu dengan saya, datang saja di sekolahan!" Rahmawati menunjuk ke arah sekolahannya yang tak jauh dari warung tersebut. "Saya pulang jam setengah enam dan masuk jam setengah satu," Rahmawati menatap Farel tajam-tajam. "Saya harap kau sering-sering datang di sekolahan saya!" Lanjutnya lagi.


"Tapi ..., kau kan dijemput oleh sopirmu?" Balas Farel.


"Tidak menjadi persoalan!" Rahmawati menundukkan kepalanya. Mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil menatap Farel.


"Kalau kau tidak ke sekolahan saya, kemungkinan saya akan ke rumah ommu!" Ucap Rahmawati pasti.


"Kenapa kau bersikap demikian?" Farel tidak habis mengerti.


"Karena kita telah menjadi teman!" Jawab Rahmawati tidak malu-malu lagi.


"Bukankah kau banyak sekali teman-teman?" Jelas Farel.


"Teman biasa banyak, tapi kalau teman akrab tidak ada!" Rahmawati tertawa kecil, memang ia berkata sejujurnya.


"Apakah kau tidak terlalu memaksakan diri?" Ucap Farel.


"Maksudmu?" Rahmawati membelalakkan matanya.


"Saya adalah pemuda miskin!" Jawab Farel. "Mungkin kau akan kecewa!" Lanjutnya.


"Kecewa dikarenakan kemiskinan seseorang adalah suatu kesalahan, hidup mengejar kemewahan akan menjerumuskan diri sendiri." Ucap Rahmawati sambil minum. "Bagi saya, yang penting ialah kebahagiaan dan kerukunan serta penuh pengertian!" Rahmawati tersenyum manis.


"Kalau kau sudah menderita kemiskinan, mungkin kau akan menyesal." Farel tersenyum.


"Penyesalan karena menderita kemiskinan bukanlah perbuatan yang terpuji, melainkan mengkhianati kenyataan yang seharusnya dihadapi dengan ketabahan hati serta kekuatan batin," Ucap Rahmawati tanpa mengedipkan matanya. "Penyesalan disebabkan perbuatan yang salah atau berdosa barulah terpuji, apalagi bertekad bulat untuk bertobat!" Mata Rahmawati bersinar-sinar terang.


"Bagus uraianmu, namun..., benarkah manusia akan bertobat?" Tanya Farel.


"Sang waktu menunggu!" Jawab Rahmawati bersungguh-sungguh.


"Sang waktu menunggu?" Farel tercenung.


"Ya! Sang waktu tidak memberi ampun pada yang tidak mau bertobat, namun, menunggu pada yang bertekad bulat untuk bertobat!" Lanjut Rahmawati dengan pikiran yang cukup luas.


"Maksudmu?" Farel tercengang.


"Ingat! Lewatnya sang waktu sangatlah cepat, bagi yang bertekad bulat untuk bertobat masih keburu, tapi, bagi yang tidak mau bertobat berarti mereka akan memikul dosa menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa!" Lanjut Rahmawati.


"Tepat ucapanmu!" Farel mengacungkan jempolnya. Kemudian ia berkata dengan suara halus. "Rahma, sudah waktunya pulang, saya kuatir orangtua mu akan gelisah!" Lanjut Farel mengingatkan.


"Baiklah!" Jawab Rahmawati, kemudian ia berkata lembut: "Farel, jangan lupa ke sekolahan saya!"


"Ya!" Jawab Farel singkat.


Demikianlah mereka berpisah, Rahmawati naik taxi pulang ke rumahnya, sedangkan Farel naik ojek. Tiba di rumah, ia melihat Amanda sedang menyiram bunga, begitu Amanda melihat Farel sudah pulang, hatinya spontan girang.


"Kak Farel!" Amanda mendekatinya. "Sudah makan?" Lanjutnya.


"Belum!" Jawab Farel.


"Saya sediakan ya?" Lanjut Amanda lagi.


"Terimakasih, Amanda, tidak usah." Ucap Farel.


"Tidak apa-apa, kak Farel!" Buru-buru Amanda masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur.

__ADS_1


"Mamah, kak Farel sudah pulang!" Teriak Amanda pada ibunya.


"Sudah pulang?" Tanya ibunya.


"Ya!" Jawab Amanda.


"Cepat sediakan makan untuk Farel!" Ibunya sedang membersihkan kamar mandi.


"Ya, ma!" Dengan cepat Amanda menyediakan hidangan makan, setelah beres ia ke ruangan tamu, tapi Farel tidak berada di ruangan tamu, bergegas Amanda ke pekarangan rumah, Farel sedang berdiri sembari memandang ke arah tanaman bunga.


"Kak Farel, makan dulu!" Seru Amanda sambil mendekati Farel.


"Sungguh indah bunga mawar ini!" Farel menunjuk ke sekuntum bunga mawar yang berwarna merah muda.


"Kak Farel senang bunga mawar?" Tanya Amanda.


"Senang!" Farel mengelus bunga mawar itu.


"Kalau kak Farel senang, saya akan tanam bunga mawar lagi!" Amanda tersenyum.


"Apakah bunga-bunga di sini Amanda yang merawatnya?" Tanya Farel.


"Ya!" Jawab Amanda.


"Sungguh telaten Amanda merawat bunga-bunga yang ada di sini!" Farel memuji. Tersipu-sipu Amanda mendengar pujian Farel, wajahnya memerah dan hatinya merasa girang.


"Kak Farel makan dulu." Lanjut Amanda.


"Kau sudah makan?" Tanya Farel.


"Sudah!" Jawab Amanda.


"Belum!" Jawab singkat Amanda.


"Kalau demikian, saya akan tunggu papahmu pulang, baru makan." Ucap Farel.


"Tidak usah ditunggu!" Ucap Amanda. "Papah mungkin malam baru pulang, kak Farel makan saja dulu." Jelas Amanda.


"Mamahmu sudah makan?" Tanya Farel lagi.


"Sudah! Kak Farel makan saja, semuanya telah saya sediakan." Balas Amanda.


"Terimakasih, Amanda!" Farel masuk ke dalam dan langsung menuju ke dapur.


"Tante, makan!" Ucap Farel pada tantenya yang belum beres membersihkan kamar mandi.


"Aku sudah makan!" Jawab tantenya. "Oh ya! Bagaimana? Sudah mendapat pekerjaan?" Tanya tantenya.


"Belum tante." Farel mulai makan.


"Memang sulit mendapat pekerjaan," Tantenya tetap menyikat kamar mandi. "Tapi, jangan berputus asa, perlahan-lahan juga bisa dapat!"


"Ya, tante!" Farel mengunyah sambil menjawab.


Selesai makan, Farel kembali ke ruangan tamu, ia duduk sambil membaca majalah. Amanda mendekatinya sambil tersenyum.


"Kak Farel sudah makan?" Tanyanya.

__ADS_1


"Sudah!" Jawab Farel.


"Kak Farel sudah mendapat pekerjaan?" Amanda duduk di hadapan Farel, ia menatap Farel dengan mata bercahaya.


"Belum!" Farel menarik nafas, di saat itu ia tiba-tiba teringat pada Rahmawati. "Pekerjaan belum dapat, malah berkenalan dengan seorang gadis yang masih sekolah." Jelas Farel.


"Kak Farel telah berkenalan dengan gadis yang masih sekolah?" Heran! Hati Amanda seperti diiris-iris setelah mendengar ucapan Farel. "Siapa nama gadis itu dan cantikkah dia?" Lanjut Amanda bertanya.


"Namanya Rahmawati dan dia sangat cantik jelita!". Jawab Farel tanpa memperhatikan tingkah laku Amanda.


"Kalau demikian saya memberi selamat pada kak Farel!" Amanda tersenyum sedih, ia menggigit bibirnya, hal tersebut tidak diperhatikan oleh Farel. "Mudah-mudahan gadis itu akan setia pada kak Farel!" Lanjut Amanda lagi.


"Amanda, kami baru berkenalan, bukan sedang bercinta. Kenapa dia harus setia pada saya?" Jelas Farel.


"Dia ingin berkenalan dengan kak Farel berarti dia jatuh cinta, kalau tidak, mana mungkin dia ingin berkenalan, lagi pula wajar kak Farel di cintai oleh seseorang gadis, sebab kak Farel sangat baik dan ganteng!" Jelas Amanda.


"Amanda, kau masih kecil, tidak seharusnya kau membicarakan hal tersebut, nanti pelajaranmu akan terganggu." Lanjut Farel.


"Waktu belajar harus belajar! Kita harus bisa membedakan waktu, jangan terlalu mendambakan sesuatu." Jawab Amanda.


"Amanda, kenapa kau berpendapat demikian?" Farel termangu.


"Aku mempunyai pikiran yang sudah dewasa!" Jawab Amanda.


"Demikian juga dengan dirimukan?" Farel tersenyum sambil menatap ke arah Amanda, mendadak pandangan matanya bentrokan pada tonjolan di dada Amanda. Wah! Mira sudah mulai dewasa, pantas pikirannya agak lain dengan gadis-gadis cilik. Pikir Farel sambil tersenyum, buru-buru ia menatap ke tempat lain. "Amanda, kau masih belum dewasa betul lebih baik jangan terlalu banyak berpikir hal-hal yang bukan-bukan, saya kuatir kau akan rusak oleh pikiranmu sendiri!" Jelas Farel.


"Mungkinkah diri saya telah dewasa? Saya sendiri juga tidak tahu!" Ucap Amanda sambil menatap ke tempat yang jauh. "Saya tidak berpikiran yang muluk-muluk, saya selalu berpikir pada urusan yang benar, maka saya yakin, bahwa diri saya tidak akan rusak oleh pikiran tersebut." Balas Amanda yakin.


Farel melongo...! "Busyeeet!" Ucapnya di dalam hati. "Gadis apa Amanda ini?" Farel menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kak Farel, kelas berapa gadis itu?" Tanya Amanda mendadak.


"Kelas tiga Sekolah Menengah Atas!" Jawab Farel.


"Berasal dari keluarga orang kaya?" Tanya Amanda.


"Ya!" Jawab Farel.


"Sifatnya bagaimana?" Tanya Amanda.


"Waduh! Amanda!" Farel menggeleng. "Saya belum mengenal sifat serta wataknya, sebab kami baru berkenalan." Jelasnya lagi.


"Kak Farel, saya harap gadis itu akan setia selalu pada Kak Farel!" Mendadak Amanda menundukkan kepalanya, ia seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.


"Amanda, saya juga harap nanti seandainya kau sudah dewasa, kau akan menemukan seorang pemuda yang baik serta ganteng!" Ucap Farel dengan suara lembut dan sungguh-sungguh.


"Saya tidak mungkin bercinta dengan pemuda mana pun juga!" Amanda mengangkat kepalanya. Kemudian ia menatap pada Farel dengan tatapan matanya yang aneh, kebetulan Farel juga menatap ke arahnya, sehingga tatapan mata mereka saling bentrok, Farel tersenyum.


"Amanda, mana mungkin?" Balas Farel.


"Segala sesuatu yang ada di dunia pasti akan bisa terjadi kemungkinan, termasuk ucapan saya tadi!" Ucap Amanda sungguh-sungguh, la menatap ke arah Farel tanpa mengedipkan matanya. "Saya harap kak Farel akan mendapatkan kesetiaan cinta dari gadis itu!" Lanjutnya.


"Amanda, jangan suka menyinggung cinta, kau masih belum dewasa betul." Jelas Farel kembali.


"Mudah-mudahan pada suatu hari, kak Farel akan menyebut saya telah dewasa!" Lanjut Amanda.


"Tiga atau lima tahun lagi, saya pasti menyebutmu telah dewasa!" Farel tersenyum.

__ADS_1


"Saya akan menunggu!" Amanda bangkit dari tempat duduk, kemudian ia menuju ke kamarnya, ia masih sempat melirik ke arah Farel.


__ADS_2