LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 99 : MENCARI PEKERJAAN


__ADS_3

Sementara Cevin masih berbincang-bincang di ruang tamu dengan sanak keluarga. Ibu Nabila keluar dari kamar, lalu mengajak mereka pulang. Cevin menerima ciuman sayang dari kedua orang tuanya sebelum pulang. Dan yang paling menyayat dirasakan Cevin, manakala Queena memeluknya.


"Queena tidak bermaksud menjerumuskan kak Cevin," suaranya parau.


"Tenanglah. Semuanya akan bisa kuatasi."


Jawab Cevin.


Suasana rumah itu sekarang sudah sepi. Yang menghuni rumah hanya tinggal dua orang. Sepasang pengantin baru yang hatinya bertolak belakang. Tidak saling mencintai. Sejenak Cevin memandang hujan di luar rumah yang turun rintik-rintik. Kemudian menutup pintu rumah, lalu duduk seorang diri di kursi tamu. Dinyalakan sebatang rokok dan dihisapnya dalam-dalam sambil merenung.


Sayup-sayup dikeheningan malam itu isak tangis Nabila sampai ke telinganya. Dengan rasa iba dipandangnya kamar pengantin yang penuh hiasan bunga. Di dalam situ Nabila menangis seorang diri. Tangis perempuan itu bagai menggapai-gapai hatinya. Menimbulkan rasa belas kasihan laki-laki yang merenung seorang diri. Tak akan ku biarkan dia menangis, pikir Cevin yang kemudian bangkit. Dihampirinya perempuan itu sedang menangis di atas tempat tidur pengantin. Lalu Cevin duduk di sebelahnya.


"Sudahlah jangan menangis," kata Cevin sambil mendesah.


"Jangan dekati aku!" seru perempuan itu.


"Aku tidak akan mengganggumu, percayalah."


Ucap Cevin.


"Kau akan membujuk aku?"


Balas Nabila.


"Tidak. Tapi kita tidak usah bermusuhan. Tidak saling membenci Karena persoalan kita masih dapat diselesaikan dengan jalan saling pengertian. Sekali lagi percayalah, aku akan memegang teguh janjiku."


Jelas Cevin.


"Silakan keluar dari kamar ini!"


Lanjut Nabila kesal.


"Baik."


Ucap Cevin.


Cevin bangkit. Sebelum pergi dia sempat berkata...! "Tiada gunanya kau menangisi pernikahan kita. Sebab aku masih memberikan kebebasan untukmu, untuk berbuat apa saja di luar rumah. Selamat beristirahat, Nabila."


Kata Celvin kemudian.


Cevin melangkah dan menutup pintu kamar rapat-rapat dari luar.


Di kamar belakang Cevin berbaring seorang diri. Sambil berbaring dipandangnya langit-langit kamar. Alangkah getirnya kenyataan yang harus dialami. Demi nama baik keluarga, kegetiran itu musti dijalani dengan sejuta kesengsaraan. Lantas bagaimana dengan Balqis?


Cevin makin dilindas kegetiran. Di langit-langit kamar bermunculan wajah-wajah Balqis dengan beraneka expresi. Sedih, duka, murung dan penuh pesona. Sedang apakah kau sekarang, sayang? Mungkinkah kau sudah tertidur di tengah malam ini? Aku yakin kau tak dapat tidur malam ini. Kau pasti sedang merenungi nasibmu.


Merenungi masa depan anak kita yang bakal lahir. Tapi kenapa tetap menolak ku? Lantas apa yang akan kau lakukan setelah aku menjalani hidup bersama dengan Nabila? Bagaimana pula nasib anak kita? Oh Tuhan, berikanlah petunjuk jalanmu agar kami bisa hidup bersamanya. Luluhkanlah kekerasan hatinya, sebelum hidupnya tambah menderita dan sengsara.


***


Balqis duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya yang kusut Dia melihat dari pantulan kaca,


sepasang matanya yang sedikit membengkak karena semalaman tak henti-hentinya menangis. Tubuhnya nampak lesu dan kurus. Terlalu banyak beban penderitaan yang dirasakannya.

__ADS_1


Pagi itu Balqis kelihatan bingung dan resah. Sebab Balqis berfikir bagaimana caranya untuk membiayakan hidup dengan suaminya? Itulah sebab keresahan dan kebingungan balqis.


Dia musti mencari pekerjaan lain. Sungguh pun betapa susah hidupnya, tak ingin suaminya tahu. Bahkan sampai saat ini Sigit menyangka Balqis masih bekerja di salon kecantikan. Sama sekali tidak tahu kemelut hidupnya di luar rumah.


"Ke mana harus pergi sekarang?" pikir Balqis menimbang-nimbang. Mustikah aku kembali keluar masuk kantor untuk mencari pekerjaan? Tiba-tiba dia ingat seorang temannya. Wisnu. Ya, Wisnu. Bekas temannya di Sekolah Menengah Atas itu pernah menawarkan pekerjaan kepadanya. Jadi foto model?


Ah, merinding juga bulu-bulu di sekujur tubuhnya. Kembali dia menimbang-nimbang pekerjaan itu. Dan akhirnya dia berniat juga mencobanya. Dia sangat memerlukan biaya hidup.


Selesai berdandan Balqis berpamitan kepada suaminya. Sigit cuma mengangguk lesu. Tak acuh. Hati Balqis bagai diiris sembilu. Lantas dia melangkah pergi dengan harapan bisa berhasil.


Di bawah sengatan sinar matahari pagi, Balqis meneruskan langkahnya menuju halte. Di bawah atap halte menunggu bis kota. Dia jadi teringat awal pertemuan dengan Cevin. Teringat semua kenangan yang indah dan amat berkesan.


Namun di balik semua kenangan itu, kemelut pun senantiasa tak mau menghindar. Dan di dalam perutnya kini tumbuh janin laki-laki itu. Laki-laki yang sekarang sudah menjadi suami orang. Menyedihkan, memang. Kendati tetap ada sepercik kebahagiaan di hati balqis. Sebab bayi yang tumbuh dalam perutnya kelak akan menjadi tumpuhan harapannya di hari tua.


Lamunan Balqis buyar ketika sebuah bis kota berhenti di depannya. Bergegas dia naik ke dalam bis kota yang tidak terlalu penuh penumpang itu. Namun tempat duduk tidak ada satu pun yang kosong. Seseorang mencolek bahunya, balqis menoleh. Ternyata seorang laki-laki memberikan tempat duduk padanya.


"Terima kasih," kata balqis sembari duduk bersebelahan dengan pemuda yang berpakaian lusuh. Di pangkuannya membawa map. Balqis melirik sekilas.


"Mau kerja, non?" tegur pemuda itu.


Balqis mengangguk.


"Kerja di mana, non?"


Ucap pemuda itu.


"Kontraktor."


Jawab Balqis.


Balqis memandang sekilas wajah pemuda itu.


"Saya sudah setengah tahun mencari pekerjaan, keluar masuk kantor tidak pernah ada lowongan. Sampai hampir putus asa," desahnya.


Balqis jadi sedih. Teringat keadaan dirinya saat ini. Senasib, sama-sama ingin mencari pekerjaan. Tapi kesedihan itu pura-pura dialihkan pada gedung-gedung pencakar langit.


"Apakah di perusahaan non masih membutuhkan pegawai lagi? Jadi pesuruh pun saya mau."


Ucap pemuda itu lagi.


Balqis menggeleng sambil menelan ludahnya yang di rasa pahit.


Pemuda itu mendesak kecewa. Bis kota yang meluncur telah mendekati kantor tempat tujuan balqis.


Dia segera bangkit.


"Mari," kata Balqis kepada pemuda itu. Dibalas dengan senyuman. Lantas Balqis turun di halte. Mobil-mobil sedang berjejer di depan kantor itu. Yang keluar masuk kantor itu kebanyakan lelakinya tampan-tampan dan wanitanya cantik-cantik. Ada juga aktris dan aktor yang sudah beken namanya. Sedangkan Balqis yang hendak masuk ke kantor itu nampak ragu-ragu. Sesaat dia berdiri sambil menimbang-nimbang, masuk atau tidak.


Sebuah mobil sedan berhenti di sebelahnya. Seorang laki-laki gagah turun sembari menjinjing tas dan dengan pakaiannya rapi dan memakai dasi


"Hay Balqis, sedang apa kau di sini?!" tegurnya.


"Wisnu ..." gumam Balqis tergagap.

__ADS_1


"Mau ketemu saya?" Balqis mengangguk. "Kenapa tidak menunggu di dalam saja?"


Ucap Wisnu.


Balqis cuma tersenyum.


"Ayo masuk," ajak Wisnu. Balqis mengikutinya berjalan bersama memasuki kantor advertising itu. Ternyata di dalam kantor sudah banyak menunggu para tamu. Mereka langsung menghadang Wisnu supaya ingin bertemu lebih dulu.


"Maaf, saya masih ada urusan penting. Harap tunggu di luar sebentar," kata Wisnu tenang. Lantas dia mengajak Balqis masuk ke ruang direktur.


"Duduklah, Balqis. Banyak kemajuan di perusahaan Cevin?"


Tawarnya langsung bertanya.


Balqis mengangguk setelah duduk di kursi menghadapi Wisnu.


"Ada yang bisa saya bantu?"


Tanya Wisnu.


Balqis menarik napas berat. Wisnu mulai dapat merasakan jika Balqis menyimpan sesuatu dalam pikirannya. Maka Wisnu memperhatikannya dalam-dalam.


"Nampaknya ada sesuatu yang kau sembunyikan. Cobalah berterus terang padaku, barangkali aku bisa membantumu."


Ucapan Wisnu membuat kedua mata Balqis basah.


Berkaca-kaca...!!!


"Aku ingin bekerja di sini," sahut Balqis bergetar.


"Heee, apakah kau tidak bergurau?" balas Wisnu termangu. Tidak percaya ucapan perempuan itu.


"Aku bersungguh-sungguh."


Balas Balqis.


"Kalau Cevin tahu bagaimana?" Ucap Wisnu.


"Itu bukan urusannya. Dia tidak berhak melarang kemauanku."


Jawab Balqis.


"Okey. Aku akan mengorbitkan kamu sampai jadi foto model yang terkenal Jadi aktris yang populer," ujar Wisnu sambil menyodorkan telapak tangannya, mengajak Balqis bersalaman. Balqis membalas, dan mereka saling, berjabatan tangan. Saling bertukar senyuman.


"Mari kuajak kamu melihat-lihat studioku. Dan kau akan tahu bagaimana caranya gadis-gadis model bekerja."


Jelas Wisnu.


Tanpa banyak bicara lagi Balqis mengikuti Wisnu.


Para tamu lainnya masih menunggu. Wisnu nampaknya lebih mengutamakan kepentingan Balqis Dari studio foto sampai pembuatan film iklan Wisnu membeberkan cara kerjanya. Lampu-lampu yang berkekuatan puluhan ribu kilo watt menerangi ruang studio yang sedang membuat film iklan. Dua orang bintang ternama sedang beraction menurut perintah sutradara.


"Kebetulan sutradara kita mencari pemain baru untuk film iklan yang menyusul akan dibuat. Tunggu sebentar, nanti kau akan kuperkenalkan dengan dia."

__ADS_1


Jelas Wisnu lagi.


Balqis tersenyum sambil memperhatikan sutradara yang memberikan pengarahan. Lantas cameraman bekerja setelah mendapat perintah dari sutradara itu. Cut! teriakan sutradara Setelah itu cameraman segera memindahkan letak camera, sedangkan lightingman memindahkan pula lampu-lampunya. Wisnu menghampiri Erick Pratama.


__ADS_2