
Malam itu Rahmawati duduk di halaman rumahnya yang luas serta dihiasi beraneka macam bunga dan rerumputan yang menghijau, di sisi sebelah kiri Rahmawati terdapat gunung-gunungan. Mata Rahmawati menatap terus ke arah tempat yang jauh, ia tersenyum, seolah-olah di tempat yang jauh itu terdapat sesuatu yang menggembirakan hatinya.
Memang benar, senyuman Farel yang simpatik serta menawan hati muncul di tempat yang jauh itu.
"Rahma, kau sedang melamun apa?" Suara wanita di belakang Rahmawati. Rahmawati terkejut dan ia menoleh.
"Oh! Mamah!" Seru Rahmawati sambil tersenyum. "Rahma tidak melamun apa-apa!" Lanjutnya.
"Jangan bohong!" Mamahnya duduk di sebelahnya. "Tadi mamah melihat Rahma tersenyum-senyum sendiri, mungkinkah Rahma sedang membayangkan wajah pacarmu?" Mamahnya tersenyum lembut.
"Dari mana datangnya pacar?" Rahmawati cemberut.
"Jawab saja sendiri." Mamahnya tetap tersenyum lembut. "Lebih baik Rahma berterus-terang, supaya mamah bisa ikut berpikir." Lanjut mamahnya.
"Tadi sore Rahma bertemu dengan seorang pemuda ...!" Rahmawati menuturkan apa yang terjadi.
"Oh! Kiranya demikian!" mamahnya tersenyum, namun, mendadak mamahnya mengerutkan kening seraya berkata: "Tidak ada larangan bagi Rahma untuk berkenalan dengan pemuda itu, tapi, Rahma kan tahu sifat papahmu!" Mamahnya menggelengkan kepala.
"Papah tidak senang jika saya bergaul atau berkenalan dengan pemuda miskin?" Rahmawati membelalakkan matanya.
"Ya!" Jawab mamahnya.
"Rahma mengetahui hal tersebut." Rahmawati mengangguk. "Namun salahkah Rahma, jika seandainya Rahma berkenalan dengan pemuda itu?" Tanya Rahmawati kemudian.
"Rahma tidak bersalah, tapi, adat papahmu kan Rahma tahu sendiri." Mamahnya menghela nafas. "Papah mu tidak mau mempunyai mantu orang miskin, hal tersebut kau harus perhatikan." Jelas maamahnya lagi.
"Ya!" Rahmawati menundukkan kepala. "Oh ya! Mamah, Dilla sudah pulang belum?" Tanya Rahmawati.
"Belum!" Mamahnya menarik nafas. "Adikmu sering ke rumah temannya," Mamahnya menggelenggelengkan kepala. "Kadang-kadang juga suka pulang malam!" Lanjut Mamahnya menjelaskan.
"Papah tidak melarangnya?" Tanya Rahmawati.
"Tidak!" Jawab mamahnya singkat.
"Kenapa?" Tanya Rahmawati singkat pula.
"Papimu sangat sayang padanya, sehingga ia jarang diomeli!" Mamahnya menghela nafas.
"Kalau Dilla boleh demikian, kenapa Rahma tidak boleh berkenalan dengan pemuda miskin?" Rahmawati heran.
"Karena papahmu berpikir, bahwa Dilla sering ke rumah orang kaya, maka papahmu membiarkan." Jelas mamahnya lagi.
"Seandainya Dilla ke rumah orang miskin, mungkinkah juga papah akan melarangnya?" Tanya Rahmawati.
"Mungkin saja!" Mamahnya menatap ke arahnya. "Tapi, tidak mungkin Dilla akan berkenalan dengan, pemuda miskin, sifatnya mirip sifat papahmu." Jelas mamahnya kembali.
"Biar bagaimana pun juga Rahma tetap akan berteman dengan Farel!" Tegas ucapan Rahmawati.
"Rahma, kau tidak takut papahmu, marah?" Tanya mamahnya.
"Rahma mempunyai kebebasan untuk memilih demi kebahagiaan Rahma, Mah!" Jelas Rahmawati.
"Mudah-mudahan papahmu tidak akan mengetahui kau telah berteman dengan pemuda miskin!" Papar mamahnya lagi.
"Mudah-mudahan demikian!" Sambung Rahmawati.
"Rahma, jangan duduk di sini terus, nanti kau akan masuk angin!" Ucap mamahnya dengan penuh kasih-sayang. "Masuklah ke dalam rumah!" Lanjutnya.
"Ya, Mah!" Rahmawati bangkit dari bangku beton ia menunggu sebentar, setelah mamahnya masuk ke dalam rumah.
"Apa yang bakal terjadi Rahma tetap berteman dengan Farel!" Gumam Rahmawati sambil melangkah ke dalam rumah. Papahnya sedang membaca Majalah, sedangkan mamahnya duduk di samping papahnya.
Ruangan tamu amat mewah, ubin teraso yang mengkilap serta kursi meubel yang empuk. Pojok kiri terdapat sebuah tivi berwarna dan di tengah-tengah ruangan tersebut berdiri dengan gagah sebuah tivi video serta lemari pajang yang indah berikut segala pajangan yang antik-antik.
"Rahma, ke mari!" Suara papahnya parau, namun berwibawa.
"Ada apa? Pah...!" Rahmawati mendekati papahnya dengan hati berdebar.
"Duduk!" Ucap papahnya sambil menaruh majalah yang sedang di bacanya tadi ke meja.
"Ya!" Jawab Rahmawati.
"Rahma!" Ucap papahnya setelah Rahma duduk di hadapannya. "Tahun ini kau telah lulus Sekolah Menengah Atas, apakah kau akan melanjutkan ke Universitas?" Tanya papahnya.
"Jika papah mengizinkan!" Sahut Rahmawati.
"Rahma belum mempunyai teman pria yang intim!" Mendadak tanya papahnya.
"Belum!" Jelas Rahmawati.
"Kalau kau ingin berteman dengan pria, kau harus memilih dengan tepat, jangan mengecewakan harapan papah." Tegas papahnya.
"Maksud papah?" Tanya Rahmawati.
"Jangan berteman atau bergaul dengan pemuda miskin, ingat!" Jelas papahnya.
"Jadi maksud papah harus bergaul atau berteman dengan pemuda kaya?" Lanjut tanya Rahmawati.
"Ya, demikianlah maksud papah!" Jawab papahnya.
"Misalnya saya berteman dengan pemuda miskin?" Tanya Rahmawati.
__ADS_1
"Aku akan melarang!" Jawab papahnya pasti.
"Kenapa papah melarang Rahma berteman dengan pemuda miskin?" Tanya Rahmawati. "Bukankah pemuda miskin juga manusia?" Lanjutnya.
"Kalau Rahma berteman dengan pemuda miskin dan akhirnya Rahma jatuh cinta terus kawin,
bagaimana dengan penghidupanmu?" Papahnya mengerutkan kening. "Memang pemuda miskin juga manusia, tapi berderajat lain, Rahma harus tahu, bahwa kita adalah keluarga yang kaya, malu! Jika Papah mempunyai mantu dari keluarga miskin!" Jelas Papahnya panjang lebar.
"Kalau misalnya saya rela hidup miskin?" Rahmawati menatap papahnya.
"Berarti Rahma ingin kawin dengan pemuda miskin kan?" Papahnya menarik panjang suaranya. Mendadak papahnya berkata dengan suara yang keras. "Tidak bisa!"
Kecewa hati Rahmawati, ia melirik ke arah mamahnya, namun, mamahnya pura-pura tidak melihat lirikkan Rahmawati.
"Pokoknya Papah tidak mengizinkan Rahma berteman dengan pemuda miskin, apalagi kawin!" Suara papahnya menggema seisi ruangan tamu. "Mengerti?" Tekan papahnya.
"Mengerti!" Rahmawati menundukkan kepalanya.
Mendadak pintu rumah terbuka. Dilla dengan wajah berseri-seri menghampiri papah mamahnya.
"Papah, mamah!" Ia duduk di samping Rahmawati.
"Dari mana Dilla?" Tanya mamahnya.
"Biasa, naik mobil balap dengan teman!" Jawab Dilla. "Kami mengebut sepanjang jalan, kemudian kami singgah di sebuah restoran yang mewah untuk mengisi perut, setelah itu kami ke Night club berdansa!" Seru Dilla waktu menuturkan, wajahnya berseri-seri terus.
"Siapa teman priamu?" Tanya papahnya. "Dan kenapa dia tidak masuk ke mari?" Lanjut tanya papahnya.
"Namanya Toni Adam. putera presiden direktur salah satu bank swasta di kota Jakarta ini pah!" Jawab Dilla bangga. "Dia tidak masuk ke mari dikarenakan masih ada urusan lain!" Lanjut Dilla.
"Anak presiden direktur bank?" Suara papahnya girang. "Apakah betul?" Tanya papahnya.
"Ya! Dilla tidak bohong!" Jawab Dilla.
"Kenal dari mana?" Tanya papahnya.
"Dari teman juga!" Sambung Dilla.
"Pernah Dilla ke rumahnya?" Tanya papahnya lagi.
"Pernah sekali!" Ucap Dilla bangga. "Rumahnya lebih mewah dari rumah kita. Bahkan dia adalah putera satu-satunya!" Lanjut Dilla menjelaskan.
"Apakah dia mencintaimu?" Wajah papahnya berseri-seri.
"Mungkin!" Balas Dilla.
"Kapan dia akan ke mari?" Tanya papahnya.
"Bagus! Bagus!" Ucap papahnya. "Besok Dilla harus ajak dia ke mari!" Lanjut papahnya.
"Baik, pah!" Ucap Dilla. "Papah Dilla ingin mandi dulu!" Lanjut Dilla.
"Suruh bi Minah menyediakan air panas!" Ucap papahnya lagi.
"Ya!" Dilla bangkit dari tempat duduk, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.
"Keberuntungan Dilla amat bagus, dia dapat berkenalan dengan anak presiden direktur, berarti penghidupannya akan terjamin di kemudian hari!" Kata papah sepeninggalan Dilla.
Papah mereka tertawa terbahak-bahak. Papah Dilla atau papah Rahmawati bernama Arif Budiman, wajahnya angker serta berwibawa, ia berniaga baik dan hatinya keras.
"Rahma. kau sudah dengar penuturan Dilla?" Ucap pak Arif Budiman. "Contohlah adikmu, jangan hanya berpikir ingin berteman dengan pemuda miskin, kalau demikian, kapan kau akan naik mobil balap seperti adikmu?" Lanjut pak Arif Budiman lagi.
"Rahma tidak memusingkan kemewahan, yang saya pentingkan ialah kebahagiaan hidup serta kerukunan keluarga nanti!" Balas Rahmawati.
"Kalau Rahma sudah makan tempe serta ikan asin, apakah Rahma masih akan bahagia?" Tanya pak Arif Budiman angkuh.
"Cinta kasih melebihi segala kemewahan mau pun makanan yang enak!" Jewab Rahmawati tegas.
"Cinta kasih?" Pak Arif Budiman membelalakkan matanya. "Berapa harganya cinta kasih itu? Huh!" Lanjutnya dengan pertanyaan kepada Rahmawati.
"Lebih berharga dari apa pun juga!" Jawab Rahmawati.
"Kalau demikian kau lebih mementingkan cinta kasih dari pada lain-lainnya?" Tanya papahnya itu.
"Cinta kasih menyangkut kebahagiaan hidup, maka Rahma lebih mementingkan cinta kasih!" Jelas Rahma tetap dengan prinsipnya.
"Diam!" Bentak pak Arif Budiman pada puterinya, wajahnya mulai merah dan suaranya juga sudah parau. "Aku tidak mau dengar segala ocehanmu!" Bentaknya.
Rahmawati membungkam, tiba-tiba wajahnya meringis sambil mendekap perutnya.
"Rahma, kau kenapa?" Tanya mamahnya khawatir.
"Tidak kenapa-napa!" Buru-buru Rahmawati bangkit dari tempatnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Rahma kenapa?" Tanya pak Arif Budiman pada isterinya.
"Tidak tahu?" Isterinya masih tercengang, kemudian ia menyusul ke kamar Rahmawati.
"Rahma, kau kenapa?" Mamahnya mengelus rambut Rahmawati.
"Tidak apa-apa!" Rahmawati bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"Jangan bohong," Ucap mamahnya. "Wajahmu pucat!" Lanjut mamahnya.
"Mamah, sebetulnya sudah biasa!" Rahmawati menjelaskan. "Saya sering datang bulan tidak cocok, sehingga perut saya sakit seperti diiris-iris!" Jelas Rahmawati.
"Pernahkah kau ke dokter?" Tanya mamahnya.
"Belum pernah!" Jawab Rahmawati.
"Lebih baik kau ke dokter!" Balas mamahnya lagi.
"Saya rasa tidak apa-apa!" Ucap Rahmawati.
"Lebih baik kau ke dokter untuk diperiksa!" Mamahnya mengulangi perkataannya.
"Lain kali saya akan ke dokter!" Jawab Rahmawati.
"Oh ya! Apakah kau sudah mendengar peringatan dari papahmu?" Mamahnya menatap rawan ke arahnya.
"Sudah!" Jawab Rahmawati singkat.
"Kalau demikian ..." Ucap mamahnya terputus.
"Rahma akan tetap berteman dengan Farel!" Ucap Rahmawati tegas. "Ancaman papah tidak menciutkan pendirian Rahma, mah!" Lanjutnya.
"Kau sedang mencari penyakit!" Tegas mamahnya.
"Bukan!" Jawab,Rahmawati. "Rahma sedang mencari kebahagiaan hidup!" Ucap Rahmawati.
"Tapi..., seandainya papahmu tahu, akibatnya bagaimana?" Tanya mamahnya.
"Ya, paling-paling diusir!" Rahmawati menarik nafas.
"Kalau misalnya kau diusir, kau mau ke mana?" Tanya mamahnya.
"Ke mana saja!" Jawab Rahma. "Pokoknya saya tetap berteman dengan Farel, kemungkinan, saya telah jatuh cinta padanya!" Jelas Rahmawati.
"Ah! Bagaimana jika papahmu tahu?" Mamahnya, menghela nafas.
"Mamah jangan kuatir," Ucap Rahmawati. "Rahma akan menanggung segala resiko itu!" Rahmawati memperlihatkan sikapnya yang pantang mundur.
Tiba-tiba Rahmawati kembalu meringis lagi sambil mendekap perutnya.
"Rahna, sebetulnya sudah berapa lama kau menderita sakit ini?" Tanya mamahnya.
"Sudah tiga empat tahun!" Jawab Rahmawati dengan wajah meringis dan pucat, sejenak kemudian sudah kembali seperti biasa.
"Lebih baik besok kau ke dokter!" Ulang mamahnya.
"Ya, mami!" Jawab Rahmawati akhirnya.
Tiba-tiba di luar Dilla berseru dengan suaranya yang nyaring.
"Mamah! Mamah!"
"Ada apa?" Tanya mamahnya sembari membuka pintu kamar Rahmawati.
"Mamah, sini!" Dilla menggandeng tangan mamahnya ke ruangan tamu, setelah mamahnya duduk, Dilla berkata dengan wajah berseri-seri.
"Mamah, Dilla dikasih hadiah oleh Toni Adam!" Dilla memperlihatkan sebuah cincin berbatu merah.
"Bagus betul cincin ini!" Mamahnya menyambut serta memperhatikan cincin itu.
"Tentu saja bagus, pemberian dari anak presiden direktur!" Pak Arif Budiman tertawa girang.
"Papah, besok sore Dilla pasti ajak Toni Adam ke mari!" Jelas Dilla.
"Mah! Besok sore siapkan hidangan yang lezat-lezat!" Ucap pak Arif Budiman pada istrinya.
"Untuk apa Pah?" Tanya isterinya.
"Untuk mengundang nak Toni Adam makan di sini!" Jelas pak Arif Budiman.
"Belum tentu dia mau!" Sela Dilla. "Sebab dia sudah biasa makan di restoran yang mewah." Lanjutnya.
"Kalau demikian bagaimana besok sore kita undang dia makan di restoran yang terkenal?" Balas papahnya tidak mau kalah.
"Jika dia mau!" Dilla tersenyum cerah. Kemudian ia berkata: "Oh ya! Kenapa kak Rahma di dalam kamar?" Lanjut tanya Dilla.
"Perutnya lagi sakit!" Jawab mamahnya.
"Mungkin sedang melamunkan pacarnya?" Dilla tertawa cekikikan.
"Kakakmu lebih mau kawin dengan orang miskin!" Ucap pak Arif Budiman dengan wajah kurang senang. "Katanya dia lebih senang hidup susah, asal bahagia." Lanjutnya.
"Tanpa uang mana bisa bahagia?" Sergah Dilla. "Tidak bisa nonton, tidak bisa jalan-jalan serta makan enak. Huh! Lebih baik Dilla tidak kawin dari pada harus kawin dengan pemuda miskin!" Ucap Dilla.
"Bagus, pendirianmu!" Pak Arif Budiman tertawa terbahak, sedangkan isterinya hanya membungkam.
"Kalau kawin dengan pemuda miskin, mana bisa naik mobil mewah?" Dilla mengangkat bahunya sedikit sambil memperlihatkan sikapnya yang sombong.
"Bagus! Bagus!" Pak Arif Budiman tertawa puas.
__ADS_1
Rahmawati termenung di dalam kamarnya, ia tidak setuju dengan pendirian papahnya. Kalau semua gadis remaja hanya memilih pemuda kaya saja, berapa banyak pemuda miskin atau pemuda berdikari menjadi bujang lapuk. Pikir Rahmawati, segala kemewahan atau perhiasan yang berkilau-kilau tidak dipikir olehnya, ia lebih condong pada kebahagiaan hidup, kebahagiaan suami-isteri, kebahagiaan keluarga. Walau di kemudian hari ia harus makan dengan tempe, padahal tempe adalah makanan bergizi. Kendati hanya baru bertemu dengan Farel, namun, keyakinan telah menghayati dirinya. Dari pandangan mata Farel ia bias mengetahui, bahwa Farel adalah pemuda yang jujur, pemuda yang bisa diandalkan pada masa yang akan datang, pemuda yang boleh dijadikan teman hidup, dari segi tingkah-laku ia juga yakin, bahwa Farel adalah pemuda yang berbudi pekerti halus serta sopan santun, terpikir sampai di sini, Rahmawati tersenyum puas dan ia pun memejamkan matanya untuk tidur.