LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 95 : PERTANGGUNGJAWABAN


__ADS_3

Sore itu Cevin tengah duduk berdua dengan Nabila di taman rumahnya. Mereka nampak sudah begitu mesra. Nabila memang seorang wanita yang agresif dan menggairahkan. Tapi sebenarnya Cevin melakukan semua itu, hanya sekedar untuk menyenangkan hati mamahnya. Di dalam hati kecilnya sebenarnya dia merasa sedih, jika ingat akan Balqis gadis yang dicintainya yang kini dalam keadaan mengandung.


Ingin rasanya saat itu bukan Nabila yang sedang duduk dalam pelukannya tetapi Balqis. Namun keinginan itu, rasanya tak akan pernah terwujudkan. Sebab mamahnya tetap pada pendiriannya, tidak menyetujui hubungan mereka.


Mereka terus bermesraan. Pemuda tampan itu pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nabila, sementara gadis indo itu balas melingkarkan kedua tangannya di leher Cevin.


Sesaat keduanya hanya diam. Mata mereka saling pandang. Bibir mereka perlahan merapat. Semakin lama, semakin bertambah rapat. Sampai akhirnya saling beradu.


"I love you, Cevin...," desis Nabila sambil mempererat rangkulan tangannya di leher Cevin. Bahkan salah saru tangannya, kini menekan bagian belakang kepala Cevin, sehingga membuat ciuman mereka semakin bertambah kuat.


Cevin sebenarnya enggan untuk melakukan ciuman itu, karena pikirannya jauh tertuju pada Balqis yang entah bagaimana perasaannya karena sudah dua minggu tidak bertemu dengannya. Padahal Balqis sangat mengharapkan jawaban darinya, atas kehamilan yang dialami wanita itu.


Namun karena dia melihat mata mamahnya memperhatikan ke arahnya dari balik jendela rumahnya, mau tidak mau Cevin pun akhirnya menurut. Dia pun perlahan mencium bibir sensual milik Nabila.


Lama keduanya berciuman. Apalagi Nabila nampaknya enggan untuk melepaskan bibir Cevin. Sehingga membuat Cevin tak bisa melepaskan ciumannya. Padahal Cevin sebenarnya jengah melakukan semua itu di alam terbuka. Berbeda dengan Nabila yang sudah mengecap pendidikan di luar kota, menganggap hal itu merupakan hal yang wajar. Mereka terus hanyut dalam ******* bibir mereka. Sehingga mereka tidak menyadari kalau sepasang mata dengan tajam memperhatikan perbuatan mereka.


Sepasang mata sembab dengan wajah menggambarkan kegetiran hari itu, tak berkedip menyaksikan adegan mesra tersebut.


"Cevin...!" teriak Ranti yang kasihan melihat temannya nampak semakin terguncang menyaksikan adegan mesra, namun terasa menyakitkan bagi Balqis, memanggil Cevin yang seketika tersentak dan melepaskan ciumannya.


"Balqis..." mata Cevin membeliak kaget ketika melihat siapa yang datang. Nampaknya dia tak menduga kalau Balqis akan datang ke rumahnya dan menyaksikan adegan yang tengah dia lakukan dengan Nabila.


Balqis hanya bisa terperangah dengan mulut melongo. Air matanya seketika berlinang, marah, kesal dan perasaan lainnya beraduk menjadi satu di dalam dadanya. Ingin rasanya Balqis menjerit, namun tak mampu. Mulutnya seperti terbungkam.


"Siapa mereka, Vin...?" tanya Nabila sambil memandang ke wajah Cevin yang seketika berubah pucat dan murung. Dia tidak mengerti, kenapa, calon suaminya seketika berubah murung.


"Teman-teman kuliahku...." Cevin hanya menarik napas dalam-dalam dengan kepala mengangguk lemah.


Hatinya kini kisruh dengan kehadiran Balqis. Terlebih gadis yang kini tengah mengandung bayi hasil hubungan dengannya, nampak menangis sambil menggigit bibir. Sedang matanya, tenis memandang lekat ke arahnya. Tatapan itu, bagaikan bilah pisau yang tajam dan terasa menusuk ke ulu hati Cevin.


"Beginikah tanggung jawab yang kau janjikan padanya, Vin...?" kecam Ranti dengan wajah menunjukkan kebencian. Bagaimana juga, sebagai sesama wanita, Ranti tidak bisa menerima perlakuan Cevin terhadap temannya begitu saja. "Lelaki macam apa kau, Vin? Mana tanggung jawabmu yang telah kau katakan padanya ketika kau hendak mengajaknya berbuat? Tidak ingatkah kau, kalau di rahimnya kini tersimpan janin darah dagingmu...?" dengan suara kasar serta marah, Ranti terus mengecam Cevin. Mewakili temannya yang hanya bisa menangis, tak tahu harus bagaimana setelah melihat kenyataan yang ada.


Tangis Balqis semakin mengiris hati, membuat Cevin kian tertunduk diam. Hatinya tiba-tiba ikut menjerit. Seakan turut mengutuk dirinya, yang tidak sanggup mengambil keputusan. Sehingga, mau menuruti apa yang dikatakan oleh mamahnya.


Dia juga mengutuk mamahnya, yang tidak mau mengerti dan mau memahami bagaimana penderitaan yang dialami oleh Balqis. Seharusnya dia bertanggung jawab pada perbuatannya. Tanggung jawabnya bukan hanya pada perbuatannya terhadap Balqis saja, akan tetapi ada yang lebih utama, yaitu tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dari janin yang dikandung gadis itu. Janin yang merupakan darah dagingnya sendiri. Karena dialah yang selama ini menggauli Balqis.


"Cevin, kenapa kau hanya diam...?" tanya Nabila sambil memandang ke calon suaminya yang masih tertunduk. Bagaimana juga, sebagai calon istri Cevin, Nabila agak tersinggung dengan ucapan Balqis.


"Keterlaluan sekali dia, Vin," sungut Nabila.


Kemudian gadis indo itu hendak menghampiri Balqis, ketika dengan sontak Cevin mencegah.


"Jangan Nabila..."


Ucap Cevin melarang.


"Kenapa...?"


Tanya Nabila.


"Sudahlah, kau tidak mengerti urusannya!" sentak Cevin kesal, karena Nabila mau ikut campur dengan urusannya. Nabila tidak tahu, apa masalah antara dia dan Balqis yang sebenarnya.


"Tapi bagaimana juga, kau calon suamiku, Vin. Aku tidak mau calon suamiku dihina begitu."


Ucap Nabila.


"Sudahlah Nabila, lebih baik kau masuk saja. Kau tidak tahu apa-apa dalam masalah ini. Biar aku yang menangani sendiri," kata Cevin dengan sedikit kesal, karena Nabila masih tetap tidak mau menuruti kata-katanya dan ingin ikut campur dalam masalah itu. Padahal Nabila tidak tahu menahu urusannya. Nabila sesaat memandang ke arah Balqis dan Ranti, kemudian dengan mendengus karena kesal, gadis indo itu pun berlalu meninggalkan mereka.


Masuk ke dalam rumah...!!!


Sepeninggalan Nabila dengan wajah masih nampak murung Cevin melangkah mendekati Balqis dan Ranti.


"Silakan duduk," ajaknya.


"Aku hanya ingin menagih janji padamu, Vin. Mana tanggung jawabmu? Bukankah dulu kau berjanji akan menikahiku, jika aku hamil? Tapi sekarang... kau enak-enakkan dengan gadis lain. Seakan melupakan tanggungjawabmu!" kecam Balqis dengan kembali menangis. Sedih jika iya ingat akan nasib yang dialaminya.


"Maafkan aku, Qis," lirih Cevin berkata. Perlahan kepalanya menunduk lemah. "Aku telah berusaha untuk bertanggung jawab, tapi..."


"Tapi apa...?!" sentak Balqis cepat dengan mata memandang tajam ke arah kekasihnya. "Dimana perasaanmu, Vin? Bukankah kau yang melakukannya? Kenapa kau mesti meminta persetujuan mamahmu?" desak Balqis. "Bagaimana nanti denganku, Vib?" Balqis kembali menangis, membuat Ranti semakin bertambah iba melihatnya. Sebagai seorang teman. Ranti tidak bisa mendiamkan temannya begitu saja.


"Vin, maaf bukannya aku ingin campur urusan kalian. Tetapi sebagai teman, aku mengharap kau mau sportif. Kau harus tanggung jawab atas perbuatan yang telah kalian lakukan bersama," kata Ranti menimpali. Dia merasa kasihan dengan Balqis.


Cevin semakin menundukan kepala dalam-dalam, mendengar ucapan Ranti. Dia memang ingin bertanggungjawab. Tetapi mamahnya tidak menyetujui. "Aku tahu, Ranti. Aku pun sebenarnya ingin bertanggungjawab. Dan sebenarnya hanya Balqis yang kucintai. Aku akan berusaha, Ranti... Percayalah, aku akan tetap mencintai Balqis."


Ucap Cevin lirih.


"Tidak bisa!" dari dalam rumah tiba-tiba keluar Selly, mamanya Cevin langsung menyela. "Mamah tidak setuju! Heh perempuan, apa kau sudah tidak punya rasa malu? Sudah tahu Cevin hendak menikah, kau masih berani datang. Kau kira akan bisa menggagalkan pernikahan anakku, heh...?!" mata Selly melotot tajam, memandang ke arah Balqis.


"Mah...!" Cevin berusaha membela Balqis. "Balqis tidak salah, Mah. Cevib lah yang salah..."


Lanjut Cevin.


"Sudah jangan banyak ngomong! Begini saja, kalau kau memang mau menuntut tanggung jawab anakku, katakan berapa biaya untuk menggugurkan kandunganmu? Kemudian jangan kau ganggu anakku lagi!" tanya Selly menghina. Menganggap nilai nyawa, biasa ditukar dengan sejumlah uang.


"Maaf Tante, saya tidak menuntut uang. Saya hanya ingin Cevin mau menikahi saya, sebagai tanggungjawabnya atas perbuatan yang telah dia lakukan pada saya," jawab Balqis tak mau kalah, sebab dia merasa benar. Sudah sepantasnya, dia menuntut tanggung jawab atas perbuatan Cevin.


"Jadi kau tetap memaksa agar Cevin menikahimu?!" hardik Selly dengan mata melotot dan napas memburu oleh emosi. Karena dia menganggap kehadiran Balqis, telah mengacaukan semuanya dan mengganggu kebahagiaan anaknya dengan Nabila.


"Ya."


Ucap Balqis tegas.


"Tidak akan pernah itu terjadi, karena sebentar lagi Cevin akan menikah."


Ucap Selly.


"Saya akan menuntut!"


Balas Balqis.

__ADS_1


"Menuntut apa...?"


Tanya Selly.


"Tanggung jawabnya," jawab Balqis tetap tegas. Berusaha menunjukkan kalau dia datang ke tempat itu bukan untuk mengemis. Tetapi meminta tanggung jawab pada Cevin, juga sekaligus menagih janji yang telah diucapkan Cevin kepadanya setiap kali Cevin meminta dilayani keinginannya.


"Tanggung jawab apa...?"


Tanya Selly.


"Silakan Tante tanya sama anak Tante sendiri. Vin, jika kau memang mencintaiku dan benar-benar lelaki, kutunggu kau di rumah. Dulu kau yang meminta pada mamahku agar mereka mengijinkan aku bisa bersama dengan mu. Sekali lagi jika kau benar-benar lelaki, kuharap kau datang menemui kedua orang tuaku. Permisi..."


Ucap Balqis, Balqis bangun dari duduknya, kemudian melangkah meninggalkan teras rumah itu diikuti oleh Ranti.


Cevin hanya bisa duduk di kursinya, memandangi kepergian Balqis dengan hati berdebar. Dia ingat akan perjanjian yang diucapkannya di depan Cindy, mamahnya Balqis.


"Kau tidak perlu memikirkan dia lagi, Vin."


Ucap Selly.


"Tapi, Mah..."


Balas Cevin.


"Tapi apa...?!" hardik mamahnya.


"Bagaimana juga, bayi yang dikandung Balqis adalah darah daging saya, Mah... Jika mamah mau menghukum, hukumlah Cevin. Bukan bayi dalam kandungan Balqis. Bayi itu membutuhkan pengakuan seorang ayah..."


Jelas Cevin.


"Persetan dengan ucapannya! Kalau mamah tidak setuju, jangan sekali-kali kau membantah. Kau mengerti...?!" kembali Selly membentak dengan mata melotot.


"Sudahlah, kau tak perlu memikirkan dia. Biar mamah yang akan mengurusnya. Ayo Nabila, ikut tante," ajak Selly.


"Mamah mau kemana...?" tanya Cevin.


"Kau tak perlu tahu. Ini urusan mamah. Ayo Nabila," kembali Selly mengajak calon menantunya pergi, yang dengan menurut diikuti calon menantunya.


"Aku pergi dulu."


Ucap Nabila pada Cevin.


Cevin hanya mengangguk, membiarkan kedua wanita itu pergi entah kemana. Pikirannya masih pusing memikirkan semua kejadian yang dialaminya. Mamahnya menghendaki dia menikah dengan Nabila. Padahal dia sudah terlanjur mencintai Balqis. Disamping itu, Balqis pun kini tengah mengandung anak hasil jalinan cinta kasih mereka. Bayi yang dikandung Balqis membutuhkan tanggung jawab dan pengakuannya sebagai lelaki dan sebagai ayah bayi itu. Karena memang dialah yang menanam benih janin tersebut di rahim Balqis. Akibat hubungan cinta dia dan Balqis yang berjalan lebih dari tiga tahun.


***


"Mas..." dari arah pintu rumah, terdengar suara adiknya, Queena memanggil, membuat lamunan Cevin seketika buyar. Dengan lesu pemuda tampan yang kini mengalami, kebimbangan dan masalahnya itu menengok ke arah adiknya.


"Ada apa. Queena?" tanya Cevin lirih.


"Mamah sama Mbak Nabila kemana...?"


Tanya Queena.


"Entahlah..."


Jawab Cevin kemudian.


"Nampaknya Mamah marah, Mas..." kata Queena dengan wajah turut murung. Baik Queena maupun Cevin, sudah tahu bagaimana kalau mamah mereka marah. Apapun akan di hadapinya. Queena merasa khawatir, kalau-kalau mamahnya akan berbuat diluar dugaan. Atau mendatangi rumah Balqis dan mendamprat Balqis habis-habisan. Kasihan Balqis. Karena menurut Queena, Balqis tidak bersalah.


Lagi pula, sudah sepantasnya kakaknya Cevin diberi kebebasan untuk menentukan masa depannya. Untuk memilih wanita yang akan dijadikan pendamping hidupnya.


Kakaknya, Cevin sudah mahasiswa bahkan calon sarjana. Tidak pantas mamahnya senantiasa memaksakan kehendak hatinya pada anak-anaknya.


"Mungkin..."


Jawab Cevin.


"Tadi Mbak Balqis datang ya, Mas...?"


Tanya Queena lagi.


"Ya" lirih Cevin menjawab.


Di wajahnya seakan tak ada semangat lagi. Bagaimana juga, Cevin tetap merasa kasihan pada Balqis yang kini mengandung janin darah dagingnya.


"Kasihan Mbak Balqis, Mas..."


Ucap Queena lagi.


Cevin hanya bisa menarik napas dalam-dalam.


"Apa yang hendak mas lalukan selanjutnya?"


Lanjut tanya Queena.


"Entahlah..."


Jawab Cevin singkat.


"Mas harus tegas... Mas lelaki, jangan cengeng. Mas harus bisa menunjukkan sikap. Kita tidak bisa selalu menuruti apa kata mamah, Mas. Kita harus bisa menentukan pilihan kita..."


Jelas Queena.


"Kau berani melakukan itu?"


Tanya Cevin.


"Kenapa tidak? Lihat saja nanti... Queena tetap tidak akan mau dijodohkan seperti yang mas alami sekarang. Queena akan tetap pada pendirian Queena...!" tegas gadis berusia dua puluh tiga tahunan itu. Sekaligus dia juga berusaha memberi semangat dan keyakinan pada kakaknya.

__ADS_1


Cevin terdiam mendengar ucapan adiknya. Hatinya masih diliputi kebimbangan dan masih belum mengerti, apa yang seharusnya dia lakukan untuk menyelesaikan masalah yang kini tengah dialaminya.


"Kenapa mas masih diam?!" sentak Queena mengingatkan kakaknya, agar tidak hanya diam diri.


"Maksudmu?" Tanya Cevin ragu.


"Berbuat, Mas... Berbuatlah...! Jangan hanya diam menuruti apa kata mamah. Mas lelaki, jangan cengeng. Jika mas benar-benar ingin bertanggung jawab atas perbuatan yang telah mas lakukan pada mbak Balqis dan juga mas benar-benar mencintai mbak Balqis, maka segeralah berbuat!" kata Queena terus memacu semangat kakaknya, agar kakaknya mau melakukan suatu tindakan untuk menyelesaikan masalahnya.


"Apa yang harus aku perbuat, Queena.,.?"


Tanya Cevin lemah.


"Mas jangan cengeng! Mas lelaki...!"


Cecar Queena.


"Aku pusing, Queena. Aku tak tahu, apa yang harus kulakukan...?" keluh Cevin masih belum mengerti apa yang semestinya dia lakukan dalam menghadapi kemelut cintanya dengan Balqis, karena senantiasa di tentang oleh mamahnya yang ingin agar dia menikahi Nabila. Gadis pilihan mamahnya.


"Bertindaklah, Mas. Bertindaklah...!" Queena terus ngotot.


"Iya, apa yang harus aku lakukan?"


Tanya Cevin seperti terlihat ragu dalam kebingungannya.


"Selagi mamah pergi dengan mbak Nabila, cepat mas siapkan semua keperluan yang akan mas bawa pergi."


Jelas Queena.


"Maksudmu, aku kau suruh kabur?"


Tanya Cevin lagi.


"Ya."


Jawab Queena.


"Kemana?" Tanya Cevin.


"Kemana saja yang tidak dapat dijangkau oleh mamah... Bawa serta Mbak Balqis pergi dan kalian menikahlah di sana. Hanya itu yang bisa mas lakukan sekarang," kata Queena terus memberi motivasi pada kakaknya.


"Bagaimana dengan kau dan papah?"


Tanya Cevin.


"Kenapa memangnya dengan aku dan papah? Kami tidak ada masalah? Justru mas yang punya masalah. Sudahlah, jangan pikirkan aku dan papah. Pikirkan masa depan mas dan mbak Balqis. Jika nanti aku tahu dimana mas berada, aku akan mengajak papah kesana."


Jelas Queena memberikan sebuah ketenangan dan semangat buat Cevin untuk mengambil sebuah kepurusan.


"Apa kau yakin, papah akan menerima perbuatanku?"


Tanya Cevin lagi.


"Papah akan mengerti..."


Jelas Queena.


"Tapi aku tak punya banyak uang, Queena?"


Ucap Cevin.


"Mas punya tabungan berapa?"


Tanya Queena.


"Hanya sekitar tiga juta lima ratus ribu..."


Jawab Cevin.


"Itu sudah cukup. Balqis juga punya tabungan lima juta.


Bawa tabungan. Queena. Cepatlah... tak ada waktu lagi, Mas. Jangan sampai terlambat, sebelum mbak Balqis putus


asa atau berubah pikiran"


Ucap Queena.


"Kau memang adikku yang baik, Queena..."


Ucap Cevin.


"Sudahlah, jangan membuang waktu, Mas."


Lanjut Queena.


"Baik. Kau bantu aku mempersiapkan semuanya..." Jawab Cevin akhirnya.


"Ayo."


Queena menjawab.


Dengan dibantu Queena, Cevin pun mengemasi keperluannya untuk minggat bersama Balqis. Hatinya kini terbuka, setelah adiknya memberikan semangat. Dan kini hatinya telah bulat, bahwa cintanya yang suci hanya untuk Balqis. Dia selama ini pura-pura mencintai Nabila, karena hanya ingin sekedar menyeyangkan hati mamahnya saja.


Setelah semua perbekalan yang hendak dibawa telah


rapi, Cevin pun mempersiapkan diri untuk pergi meninggalkan rumah itu. Rumah mewah, dimana dia tinggalkan yang berawal sederhana namun penuh keindahaan serta kedamaian dengan keberhasilan usaha papahnya berubah menjadi rumah yang mewah namun rumah itu, baginya tak lain sebagai penjara saja.


"Queena, sampaikan salam sama papah, dan berikan surat ini pada mamah ya...?"


Ucap Cevin dan menyodorkan surat yang telah dibuatnya pada Queena.

__ADS_1


Queena mengangguk...!!!


__ADS_2