
Perasaan yang dibawa Balqis pergi dari rumah adalah kemurungan. Dan gairahnya untuk berbuat apa pun sebab pikirannya saat ini sedang kacau balau.
Yang selalu memenuhi benaknya tak lain bayi yang ada dalam kandungannya. Bagaimana kelanjutannya, jika bayi itu lahir tanpa pernikahan yang syah?
Belum jauh pikiran Balqis membayangkan kejadian yang akan datang, Cevin nampak berjalan memasuki ruangan dimana Balqis berada itu. Detak-detak suara sepatunya bagai bergema di telinga Balqis. Maka perempuan itu mengangkat wajahnya dan memandang laki-laki yang baru memasuki ruangan itu. Dan Balqis menerima lemparan senyum Cevin yang khas. Menggetarkan jantung hatinya.
Cevin mendekati Balqis.
"Wajahmu nampak pucat. Kau sakit?" tegur Cevin penuh perhatian.
Balqis menggeleng.
"Aku ingin bicara denganmu, Qis," Cevin melangkah masuk ke ruang tersebut. Balqis bangkit lalu mengikuti lelaki itu.
"Bagaimana keputusanmu?" tanya Cevin sambil duduk di kursi.
"Aku ..." suara Balqid terhenti di tenggorokan.
"Kau bersedia menikah denganku!?" Balqis menggeleng.
"Jadi kau merelakan aku menikah dengan Nabila?"
Tanya Cevin.
Balqis terdiam. Tertunduk berusaha menahan tangisnya. Kemudian perempuan itu mengangguk. Cevin spontan berdiri lalu mendekati Balqis. Dipegangnya erat kedua pundak perempuan itu kuat-kuat.
"Kamu sudah gila ya?! Kamu merelakan aku menikah dengan Nabila, sedangkan di dalam perutmu tumbuh janinku. Semakin lama semakin besar dan dia lahir dengan darah dagingku!" kata Balqis yang nada suaranya keras.
"Biarkan aku merawatnya dengan penuh kasih sayang, karena aku tidak tega meninggalkan suamiku. Dia sangat membutuhkan aku," Balqis mulai terisak.
Cevin mengeluh sambil mengibaskan kedua tangannya. Seperti tengah menghadapi kenyataan yang sukar diatasi. Kekerasan hati perempuan itu sungguh sukar diluluhkan.
"Baik, aku tidak bisa memaksamu. Agaknya pergaulan kita selama ini hanya seperti sebuah sandiwara. Tapi sandiwara yang belum selesai. Okey, aku akan menempuh perjalanan hidup yang tak pernah kubayangkan. Yaitu menempuh hidup baru dengan seseorang yang tidak kucintai," kata Cevin yang sudah patah semangat untuk memiliki Rosalina.
"Aku rasa kau akan hidup bahagia dengan gadis pilihan orang tuamu, dibandingkan hidup bersamaku. Karena persoalanku tak mungkin bisa terselesaikan."
"Betapapun peliknya persoalan itu, kalau kita berdua sudah searah dan setujuan pasti akan terselesaikan. Tapi nampaknya kau sendiri yang merasa keberatan untuk menyelesaikannya."
"Jangan paksa aku," ratap Balqis.
Kedua bahu Cevin jadi berubah lesu mendengar ratap perempuan itu. Yah, aku memang berdosa kalau harus memaksa perempuan ini untuk meninggalkan suaminya. Menceraikan suaminya yang keadaannya sangat menyedihkan itu. Cevin menarik napas panjang.
Berusaha memerangi emosinya yang egois itu dengan ketenangannya. Lalu dia memeluk perempuan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dan tangis Balqis semakin berkepanjangan. Dia merasakan pertanda bahwa cinta dan kasih sayang laki-laki ini akan berhenti sampai di sini. Sebab esok malam laki-laki ini akan bersanding di pelaminan dengan gadis lain.
Alangkah menyedihkan. Kendati Balqis menerima kenyataan yang akan terjadi itu dengan hati pasrah.
"Balqis, aku sadar. Betapapun besarnya cintaku padamu, tak punya kuasa untuk memaksamu. Meskipun mulai hari esok aku telah menjadi milik orang lain, namun hati dan cintaku tetap milikmu. Percayalah," ujar Cevin sambil membelai rambut Balqis.
"Lupakan saja aku, Vin."
Ucap Balqis.
"Tidak mungkin bisa."
Jawab Cevin.
"Jadilah seorang suami yang baik."
Lanjut Balqis.
"Aku akan berusaha. Tapi bagaimana bisa melakukannya jika aku selalu ingat padamu. Tetap mencintaimu."
Jawab Cevin.
"Mencintai bukan berarti harus memiliki."
Balas Balqis.
"Itu pendapatmu. Lain dengan pendapatku, bukan?"
Jelas Cevin.
"Agar hidupmu tentram dan bahagia, mulai besok kita tidak usah bertemu lagi," suara Balqis bergetar parau.
"Sekejam itukah kau padaku, Balqis?"
Ucap Cevin sedih.
"Aku rasa itu jalan yang lebih baik. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain. Sebab selama ini aku telah menjadi sumber penderitaanmu, juga suamiku. Terhadap kaumku, aku tidak ingin menyakiti perasaannya."
__ADS_1
Jelas Balqis.
Cevin mendekapnya kian erat. Ada setitik air mata yang bergayut di sudut matanya.
"Kenapa impianku harus berakhir begini, Qis?" Lanjut Cevin.
"Karena kita tak mungkin bisa saling memiliki. Aku
mohon... Aku mohon lupakan saja semua yang terjadi diantara kita, Vin," ucap Balqis dengan berat hati. Di sela-sela isak tangisnya.
"Izinkanlah aku menciummu, sebelum kau tinggalkan aku," pinta Cevin yang tanpa menunggu jawaban Balqis sudah mengulum bibir perempuan itu. Hangat dan mesra sekali.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Queena yang masuk ruangan itu jadi termangu memandang Cevin dan Balqis saling berciuman. Cevin dan Balqis buru-buru melepaskan ciumannya. Kedua pipi Balqis merah jambu dan buru-buru meninggalkan ruangan itu.
"Balqis," panggil Cevin. tapi Balqis tak menghiraukan lagi.
Queena tersenyum curiga pada kakaknya.
"Besok malam mau menikah, masih memanfaatkan hari terakhir ini dengan bermesraan sama gadis lain," sindir Queena.
"Kau tidak tahu banyak tentang kami," keluh Cevin sembari menjatuhkan diri di kursi.
"Aku tahu, hal semacam ini biasa terjadi."
Ucap Queena.
"Jangan memvonis semuanya begitu." Ucap Cevin pada adiknya itu.
"Lantas bagaimana dong?" tanya queena setengah mencibir.
"Engkau tahu sendirikan, sebelum aku mengenal calon istriku, terlebih dahulu aku mengenal Balqis. Saling mencintai." Jelas Cevin.
Queena termangu.
"Lalu kenapa waktu sebulan yang lalu kau ajak Balqis buat menikah untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu dia menolak?" Tanya Queena melanjutkan.
"Sekali lagi, banyak hal yang tidak kau ketahui. Namun bisa kau bayangkan, betapa hancur perasaannya
karena esok aku akan menikah dengan Nabila."
Jawab Cevin.
"Kau ada perlu apa datang ke mari?" tanya cevin.
"Nabila dirawat di rumah sakit," jawab Queena sedih.
"Dia sakit mendadak?"
Tanya Cevin.
"Tidak."
Jawab Queena singkat.
"Lalu kenapa?"
Tanya Cevin.
"Minum pil tidur melebihi dosis. Dia nekad mau bunuh diri, tapi tertolong oleh dokter."
Jelas Queena.
"Ada masalah apa lagi?" Tanya Cevin.
"Ya, karena Nabila tahu kau masih berhubungan dengan Balqis!" Jelas Queena.
"Inilah akibatnya kalau anak muda pada abad sekarang dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintai. Aku tahu, sebenarnya Nabila tidak mencintaiku. Dan aku yakin dia sudah punya pilihan hati sendiri." Jelas Cevin.
Queena mulai menangis.
"Aku mohon tengoklah dia di rumah sakit."
Pinta Queena.
"Apakah hal itu tidak menimbulkan kebenciannya padaku? Belum tentu pula kunjunganku menyenangkan hatinya."
Jawab Cevin.
"Cobalah berikan pengertian."
__ADS_1
Lanjut Queena.
"Pengertian yang bagaimana? Dia kan sudah dewasa dan bisa membedakan yang mana baik dan yang mana buruk. Mungkin dengan cara senekad itu sudah dianggap baik untuknya."
Jawab Cevin.
Hendphone di Cevin berdering.
"Hallo...?"
Ucap Cevin
"Cevin. Ini Mamah, Vin."
Sebuah suara Selly, mamahnya Cevin terdengar.
"Ada apa, Mah?"
Tanya Cevin.
"Queena sudah ada di situ?"
Tanya Selly.
"Ya."
Jawab Cevin.
"Sudah diberi tahu kalau Nabila ada di rumah sakit?"
Tanya Selly lagi.
"Ya."
Jawab Cevin.
"Cepatlah ikut Queena ke rumah sakit. Nabila dalam keadaan kritis." Ucap Selly.
"Tapi masih bisa tertolong kan?"
Ucap Cevin bertanya.
"Pokoknya mamah minta kamu sekarang juga pergi ke rumah sakit bersama Queena. Jangan memalukan orang tua, Vin. Kalau sampai kejadian ini terdengar di luar dan pernikahanmu gagal, alangkah memalukannya."
Balas Selly menjelaskan.
"Ini kan kemauan mamah."
Jawab Cevin.
"Sudahlah, cepat berangkat!" suara itu hilang.
Pikirannya jadi kalut Dengan terpaksa dia bangkit dan berjalan keluar dari ruangan itu diikuti Queena adiknya.
Cevin berjalan tampak semakin lesu. Balqis pulang dengan keputusannya dan sekarang Nabila masuk rumah sakit. Hati Cevin kian sedih. Kesedihannya dapat dirasakan juga oleh Queena.
***
Alangkah sejuk udara yang berhembus di lorong rumah sakit Kesibukan orang yang berlalu lalang nampak bisa dihitung, karena saat ini bukan waktunya jam besuk. Yang nampak hilir mudik cuma para suster dan dokter jaga.
Sementara itu di luar sebuah kamar VIP nampak Efendi dan Selly dilanda gelisah. Selly seperti sudah tak sabar lagi menunggu Cevin. Duduk tidak sejenak, berjalan mondar-mandir pun tak enak. Sebentar-sebentar pandangannya tertuju ke koridor, lalu beralih ke dalam kamar. Yang mana di dalam kamar itu berbaring Nabila. Wajahnya pucat, tubuhnya bagai tak mempunyai daya lagi.
Ditunggui kedua orang tuanya. Sesaat kemudian di koridor rumah sakit itu muncul Cevin dan Queena. Langkah mereka sama cepatnya menuju ke arah kamar Nabila. Selly segera menyongsongnya.
"Cepat temui Nabila, Vin," kata Selly tak sabar lagi.
"Tentu saja, Mah."
Jawab Cevin.
Cevin dengan tenang melangkah masuk kamar itu. Kedua orang tua Nabila membalas salam Cevin, lalu mereka meninggalkan Cevin dan Nabila di kamar itu. Cevin melangkah satu-satu mendekati tempat tidur Nabila. Sedangkan Nabila memalingkan muka ke samping. Enggan rasanya bersitatap dengan Cevin.
"Kenapa kau senekad itu Nabila?" tegur Cevin lunak.
Gadis itu masih memalingkan muka tanpa ada reaksi.
"Aku tahu, bahwa kau mungkin saat ini marah dan mingkin juga sekarang tidak menghendaki pernikahan kita. Tapi dengan caramu yang begitu sangat memalukan."
Ucap Cevin.
__ADS_1
Nabila menggerakkan kepala dan menatap tajam mata Cevin. Tatapan yang maknanya menyuruh laki-laki pergi dari hadapannya. Cevin tahu itu. Dia tersenyum tenang.