
Hari ketiga, MOS berakhir. Kegiatan itu selesai sore hari. Jauh lebih lama daripada dua hari sebelumnya. Meskipun jauh lebih meletihkan dari pada hari-hari sebelumnya, para murid baru merasa lega. Soalnya, dengan berakhirnya MOS, kegiatan yang sering tidak jelas manfaatnya dan bisa dibilang "Versi SMA" nya itu berakhir sudah.
Sebelum pulang mereka berebut melihat papan pengumuman untuk mengetahui di kelas mana mereka akan mulai belajar senin nanti. Kedua alis Cevin terangkat tinggi saat ternyata ia dan Balqis sekelas.
"Wah, bakalan repot nih!" desisnya. Susah terbayang di matanya, dirinya bakal jadi kurir. Menyampaikan pesan atau titipan Irfan untuk Balqis. Bakal jadi bodyguard, untuk menjaga Balqis selama di sekolah. Bakal jadi spion, untuk mengawasi apa saja yang dilakukan Balqis selama di sekolah, atau siapa-siapa saja cowok yang naksir. Dan lain-lain yang bikin repot, ribet, dan bikin susah.
Bukti pertama bahwa sekelas dengan Balqis akan bikin susah, langsung dirasakan Cevin begitu memasuki halaman rumah. Irfan sudah menunggu di teras dengan muka keruh dan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Kok bisa sih dia sekelas sama elo?" protes Irfan keras.
Irfan menatap abangnya itu dengan takjub. Gila, info apa pun tentang Balqis, dia langsung tau!
"Yah, berarti dia emang nggak jodoh sama elo, jodohnya sama gue," jawab Cevin cuek.
Irfan langsung melotot. "Apa lo bilang!?" tanyanya tajam. Dibuntutinya langkah Cevin ke dalam.
"Lo aneh deh. Mana gue tau sih, bakalan sekelas sama dia? Emangnya gue yang ngatur? Udah, ah. Gue capek banget nih. Mau makan trus tidur!" Ucap Cevin.
Irfan menghentikan langkah. Tidak lagi membuntuti dan mengeluarkan suara. Ia hanya menatap adiknya yang berjalan masuk kamar. Ia tahu itu sama sekali bukan salah Cevin. Itu di luar kuasa Cevin juga. Tapi ia kesaaaal….!!!
Ia yang memperhatikan Balqis selama berbulan-bulan.
Menjaganya dari jauh berbulan-bulan.
Menahan rasa kangen berbulan-bulan.
Menunggu berbulan-bulan.
Berharap berbulan-bulan.
Kenapa Balqis nggak masuk ke SMA nya? Atau paling nggak, masuk SMA-SMA yang lokasinya dekat dengan SMA nya? Kenapa malah satu SMA dengan cevin? Satu kelas pula!
***
Di luar masih gelap gulita saat mata Irfan mendadak terbuka. Meskipun baru beberapa detik terbangun, kesadarannya langsung pulih.
Akhirnya hari ini tiba juga.
Hari akhirnya Balqis berseragam SMA!
Kedua mata Irfan berbinar. Senyumnya merekah lebar. Ia melompat bangun. Dilihatnya Cevin masih meringkuk pulas. Irfan segera menghampiri. Kedua tangannya sudah terjulur, siap membangunkan adiknya itu saat matanya tidak sengaja menatap tajam. Masih setengah jam lagi sebelum jam beker itu berdering.
Ia urungkan niatnya. Cowok itu berjalan mondar-mandir di kamar yang remang-remang itu. Gelisah. Di sibaknya gorden. Di luar masih gelap gulita. Kembali dia berjalan mondar-mandir. Hatinya semakin gelisah. Semakin tidak sabar. Semakin bergemuruh. Dan semakin terasa ingin meledak.
__ADS_1
Ia ingin Cevin bangun secepatnya.
Mandi secepatnya.
Sarapan secepatnya.
Lalu berangkat ke sekolah secepatnya.
Supaya dirinya juga bisa mendapatkan kepastian bahwa Balqis memang sudah memakai seragam putih abu-abu.
Kembali Irfan berjalan mondar-mandir. Berusaha keras untuk bersabar. Satu menit kemudian dia menyerah. Dihampirinya Cevin yang masih tertidur pulas, lalu diguncang-guncangnya tubuh adiknya itu kuat-kuat.
"Vin, bangun! Woi, Cevin! Bangun!" serunya.
Cevin bangun tergeragap dan langsung melompat dari tempat tidur. Guncangan tangan Irfan membuatnya kaget. Sesuatu langsung muncul di dalam pikirannya pasti telah terjadi sesuatu yang buruk.
"Ada apa!? Ada apa!?" tanyanya panik. Di hidupkannya lampu yang terang.
"Sekolah. Cepetan mandi," kata Irfan tak sabar.
"Hah!?" Cevin menatap kakaknya dengan mulut ternganga.
"Cepetan mandi sana. Lo kan kudu sekolah." Ucap Irfan.
"Maksud gue, ngapain tadi lo bangunin gue kayak gitu?" Tanya Cevin.
"Sorry deh. Kaget, ya? Gue bangunin lo supaya lo nggak telat." Ucap Irfan.
"Bukan kaget lagi, tau! Gue pikir ada kebakaran atau gempa bumi," gerutu Cevin kesal. "Kalo nggak ada apa-apa, bangunin orang kira-kira dong." sedetik kemudian Cevin menatap kakaknya dangan pandangan curiga. "Itu doang alasannya?" Lanjutnya.
"Iya. Ini hari pertama lo pake seragam SMA, gitu loh!" seru Irfan. Ditatapnya adiknya dengan mata terbelalak lebar. "Lo akan memasuki tiga tahun masa paling indah dan paling heboh dalam hidup lo. Masa nggak semangat sih?" Alasan Irfan.
"Siapa bilang gue nggak semangat? Tapi bukan berarti subuh-subuh gue udah sampe sekolah, kan?" Cevin balik badan, siap tidur lagi.
"Eh!? Eh!?" Irfan langsung menarik adiknya menjauhi tempat tidur. "Udah pagi nih!" Lanjutnya.
"Masih dua puluh menit lagi!" tunjuk Cevin ke jam beker di meja.
"Nggak! Nggak! Bangun!" Dengan paksa Irfan menyeret adiknya ke luar kamar. Cepat-cepat ia menutup pintu kamar lalu berdiri menghadang Cevin. Melihat peluang untuk bisa masuk kembali ke kamar benar-benar sudah tidak ada lagi, akhirnya Cevin menyerah. Sambil berjalan menuju salah satu kursi makan, ia menguap lebar-lebar dan berhenti sebentar untuk mengulet.
"Cepet mandi sana!" perintah Irfan saat dilihatnya adiknya itu duduk.
"Bentar...! Mata gue belum benar-benar melek. Lo mau gue kelelep di bak mandi?" Ucap Cevin.
__ADS_1
"Ya jangan dong." jawab Irfan langsung. "Jangan hari ini. Besok-besok aja. Hari ini penting banget soalnya." Lanjutnya.
"Sialan!" gerutu Cevin.
Irfan menyeringai lalu terkekeh geli.
Setelah kantuknya agak berkurang, Cevin bangkit berdiri, bersamaan dengan terdengarnya dering jam beker dari dalam kamar. Irfan membuka pintu yang dari tadi dijaganya. Kemudian masuk kamar untuk mematikan beker tersebut.
"Ambilin anduk gue!" seru Cevin.
"Siap, Bos!" langsung terdengar sahutan Irfan. Ia muncul dengan handuk yang diminta dan memberikannya pada Cevin.
Begitu selesai mandi dan kembali ke kamar, Cevin mendapati segala sesuatunya telah disiapkan Irfan di atas tempat tidurnya. Mulai dari baju seragam, kaus kaki, sampai pakaian dalam!
Tempat tidurnya bahkan sudah tertata rapi. Di lantai, didekat salah satu kaki ranjang, Cevin melihat sepatunya juga telah ready to use.
"Penjilat banget sih lo," ucapnya. Sama sekali tidak bersedia mengucapkan terima kasih, karena semua yang dilakukan Irfan memang jelas-jelas tidak tulus. Ada maunya!
"Hehehe...!" Irfan cuma tertawa-tawa. Setelah menyambar handuk dari senderan kursi, ia berjalan keluar kamar. "Sekarang gantian gue yang mandi. Tapi sebelumnya gue mau memastikan sarapan lo udah tersedia di meja." Lanjut Irfan.
Cevin menatap abangnya yang berjalan keluar kamar sambil berbicara penuh semangat itu. Ia jadi tidak bisa menahan senyum saat kakaknya itu telah hilang dari pandangan.
Bertengkar, terkadang berkelahi hebat, bercanda, berebut komik, berteriak saling menyalahkan gara-gara kamar yang sering berantakan, berbagi cerita bahkan rahasia dan banyak hal lagi yang mereka lakukan bersama-sama sejak kanak-kanak. Cevin benar-benar mensyukuri keberadaan kakaknya itu.
Hari ini Cevin melanggar kebiasaan. Ia sarapan tanpa mengenakan baju. Hanya berselimut handuk. Ia tidak ingin seragam SMA nya bau nasi goreng, apalagi terkena butiran nasi atau bumbu berminyak. Sama sekali tidak dihiraukannya omelan ibunya dan teguran ayahnya yang jelas-jelas juga setengah hati. Kedua orangtua nya itu bisa mengerti.
Selesai sarapan Cevin buru-buru masuk kamar untuk bersiap-siap. Tepat seperti apa yang dikatakan Irfan, hari ini ia benar-benar bersemangat. Amat bersemangat.
Hari ini hari pertamanya mengenakan seragam SMA.
Serangan SMA! Putih abu-abu!
Setelah berpakaian lengkap, Cevin menghampiri cermin besar di pintu lemari pakaiannya. Langkahnya perlahan, sambil menahan napas pula. Dan begitu sampai di sana, seketika Cevin berdiri mematung. Ia menatap terkesima pada refleksi pertamanya sebagai anak SMA. Sorot terpana dan tak percaya terpancar jelas di kedua matanya. Juga perasaan bangga dan percaya diri. Bersemangat menghadapi hal-hal baru yang katanya berawal di SMA, dan perasaan-perasaan lain yang tak bisa diucapkan.
"Kereeen. Jadi keliatan udah gede!" Irfan melangkah masuk kamar sambil mengacungkan jari jempolnya. Cevin meliriknya.
"Tinggi lo sama gue cuma beda dua sentian, tau!" Ucap Cevin.
"Tapi waktu itu lo kan masih SMP. Sekarang kita nggak masalah lagi jalan berdua pake seragam, soalnya kita udah sama-sama gede. Kemaren-kemaren mah gue malu jalan sama anak SMP. Masih kecil, meskipun tinggi lo hampir nyaingin gue." Jelas Irfan.
"Cerewet lo, ah!" dengus Cevin. "Buruan, mau ngomong apa? Lo nyusul gue ke kamar pasti karena ada yang mau diomongin, kan?" Ucap Cevin.
"Tauuu aja." Irfan nyengir lebar. Dihampirinya Cevin yang sekarang sibuk menyiapkan buku-buku dan alat tulis. "Kalo dia udah pake putih abu-abu juga, kasih tau gue, ya?" pinta Irfan dengan penuh harap.
__ADS_1
Cevin menatap kakaknya dengan kedua alis terangkat dan mulut sedikit ternganga. "Elo bego, ya? Kalo gue udah pake putih abu-abu, ya jelas dia juga sama, lagi." Lanjut Cevin.
"Iya sih." Irfan mengangguk lalu menyeringai malu. "Ya, gue nggak percaya aja akhirnya dia pake putih abu-abu. Gila, gue nungguinnya lama banget." kemudian dia berseru keras, "Akhirnya penantian gue selesailah sudah!!!'