LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 85 : CEWEK GEBETAN GUE!


__ADS_3

Malam itu, di kamar masing-masing, dua orang sama-sama di cekam satu perasaan yang tidak bisa mereka uraikan dengan kata apa pun yang pernah mereka kenal. Keduanya sama-sama duduk diam di depan jendela, memandang ke langit malam. Tidak bergerak. Hanya dada mereka yang bergerak teratur yang memberitahukan keduanya hidup, bukan patung lilin.


"Ah, udah ah. Ngapain dibahas sih? Nggak penting."


Kalimat yang diucapkan Citra siang tadi, bergema berulang kali di dalam tempurung kepala Cevin.


Nggak penting…!!!


Nggak penting…!!!


Nggak penting…!!!


Perlahan, kedua mata Cevin mengelam dan berkabut. Perlahan pula kepalanya kemudian tertunduk.


"Maaf, Fin," bisik Cevin serak.


***


Kalimat yang sama berdentam di kepala Sigit. Berulang kali. Namun perlahan menghilang saat satu kalimat lain menyeruak pelan-pelan.


Kasih tau Cevin, gue titip Balqis…!!!


Perlahan, sorot mata Sigit mengelam. Perlahan pula kepalanya kemudian tertunduk.


"Lo bilang sendiri, Ron. Dia adik lo," bisik Sigit ke kegelapan malam.


***


Cevin menatap satu baris kalimat itu sejak beberapa menit yang lalu. Tanpa bicara. Tanpa bergerak. Kepalanya terus menunduk karena Sigit meletakkan foto Balqis dengan posisi terbalik itu di atas meja.


"Tulisan ini tadinya ada, nggak?" suara Cevin terdengar samar.


"Nggak tau. Gue nggak pernah balik-balik tu foto. Nggak kepikiran," Sigit menjawab pelan. "Kita tunggu apa kata Irfan." Lanjut Sigit.


"Hah?" kepala Cevin terangkat perlahan.


Sigit tertegun menatap wajah di depannya. Kesedihan, kerinduan, penyesalan. Semuanya terlihat jelas dan saling berperang.


"Kita tunggu apa kata Irfan. Gue udah bilang, gue nggak mau ikutan. Ini urusan kalian berdua. Jadi dia yang harus ngomong." Sigit melanjutkan kalimatnya.


Sigit memasukkan foto itu ke dalam laci meja belajar Irfan, tempat foto-foto Balqis yang lain disimpan. Tiba-tiba terdengar bunyi bel, lalu suara pintu pagar dibuka dan ditutup kembali.


"Balqis udah dateng," ucap Cevin pelan.


"Ngapain Balqis ke sini?" Tanya Sigit.


"Mau belajar bahasa Inggris. Senin ulangan. Tu anak pelajaran bahasa Inggris nya parah banget. Makanya gue suruh ke sini." Jelas Cevin.


"Pantes lo nggak ikut nyokap bokap lo. Pilih jaga kandang." Kata Sigit.


"Bukannya pilih jaga kandang. Ikut juga percuma. Nggak bakalan enjoy. Senin ada ulangan dua. Berat-berat pula." Jelas Cevin.


Tak lama terdengar bunyi pintu depan diketuk. Namun tidak ada yang bergerak. Suasana di dalam kamar itu masih terasa begitu emosional, hingga keduanya merasa seperti terikat. Terdengar lagi pintu depan diketuk-ketuk, disusul suara Balqis yang mengucapkan rentetan salam keras-keras.


"Haloooo? Permisiii! Adsalaamu'alaikum?! Spadaaa!? Excuse Me?! Tok...! Tok...! Tok...! Shalom!? Kulonuwun?! Punteeeeeeen...!!!


Cevin dan Sigit saling pandang lalu sama-sama tertawa geli sambil geleng-geleng kepala. Keduanya berjalan ke luar kamar.


"Iya, halo," kata Cevin sambil membuka pintu.


"Satu aja cukup kali, Qis." Jawab Cevin.


"Maaf deh. Maksudnya supaya cepet dibukain, gitu. Soalnya gue aus banget nih. Bagi minum dong. Yang dingin ya. Trus gelasnya yang gede," Balqis langsung nyerocos.


"Masuk dulu, kaliii." Balas Cevin lagi.


"Oke!" cewek itu melompat masuk. Sigit menatapnya, tak mampu menahan senyum. "Eh? Haiii!" sapa Balqis begitu melihat Sigit.


"Hai juga," balas Sigit, masih sambil tersenyum.


"Lo istirahat sebentar, trus kita langsung mulai ya? Biar lo pulangnya nggak kemaleman," kata Cevin sambil berjalan ke dapur.


"Oke!" Balqis mengangguk. Ia berjalan menuju sofa panjang, meletakkan tasnya di sana, lalu duduk dengan nyaman.


Jam lima lewat lima belas, Cevin dan Balqis siap-siap belajar. Sigit menyingkir ke teras. Karena malam ini Cevin sendirian di rumah, Sigit memutuskan untuk menginap dan pulang besok siang.


"Setel radio dong. Kalo belajar suasananya sepi, gue malah cepet ngantuk." Ucap Balqis.


Balqis merosot dari sofa, kemudian duduk bersila di lantai. Ia menghadap ke meja tamu yang rendah. Di atas meja buku cetak bahasa Inggris nya sudah dalam keadaan terbuka.


Cevin menggeser sofa panjang di belakang Balqis sampai menempel di dinding agar tercipta ruang lapang, kemudian cowok itu berjalan ke dalam. Malas menggotong radionya yang besar dari kamar, dipinjamnya radio-tape kecil milik Bi Puji.


"Radio apa?" Tanya Cevin.


"Apa aja. Yang penting penyiarnya asyik." Jawab Balqis.


Cevin memutar-mutar tunning. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti. Samar-samar ia mendengar lagu Glenn feat Dewi, When I Fall in Love.


Dibesarkannya volume...!!!


"Bosen, ah!" Balqis langsung protes. "Ganti yang lain deh." Lanjutnya.


Cevin tidak mengacuhkan. Intuisinya mengatakan sesuatu akan terjadi, karena jantungnya berdetak lebih detak tanpa sebab. Lagu itu berakhir. Suara sang penyiar, cewek, langsung menyusul. Dengan nada riang penyiar itu mengatakan di studio telah hadir seorang tamu yang khusus diundang atas permintaan pendengar.


"Nih orang punya story yang waktu itu bikin terharu. Trus banyak yang minta dia cerita ulang. Makanya kami undang dia ke studio."


Sang penyiar kemudian menambahkan bahwa selama setengah jam ke depan, hanya satu lagu itu yang akan diputar. Karena lagu itulah yang jadi lagu kenangan.

__ADS_1


"Oh iya," sambungnya. "Dia nggak mau ngasih tau nama aslinya. Malu, katanya. Takut ada yang ngenalin. Jadi di sini dia pake nama Jhon. Oke? Yuk, kita dengerin sama-sama ceritanya."


Jhon...!!!


Nama itu menghantam Cevin seperti pukulan godam. Di teras Sigit juga mendengarnya. Ia tersentak. Sesaat tubuhnya diam menegang, kemudian ia melompat berdiri dan berlari ke dalam.


Melalui sebuah gelombang radio, dari suatu tempat entah di mana di luar sana. Seseorang bernama Jhon memulai ceritanya.


Dan suara itu…. membekukan aliran darah Cevin dan Sigit. Merenggut setengah kesadaran mereka. Menusuk tepat di pusat emosi keduanya, lalu merobeknya, hingga jubah berlapis yang selama ini mereka kenakan ketegaran, ketabahan, kesabaran, keikhlasan semuanya terkoyak dan menampakan isi yang kesungguhannya.


"Eh, itu cowok yang waktu itu!" seru Balqis, lalu meletakan buku yang sedang dipegangnya. "Gue apal suaranya. Gedein! Gedein!" Ucap Balqis meminta.


Baik Cevin maupun Sigit sama-sama tidak bergerak, jadi Balqis mengulurkan satu tangannya. "Kok sore-sore sih? Waktu itu kan malem? Asyiiiik, bisa dengerin cerita lengkapnya!" kata Balqis senang, tidak menyadari sesuatu telah menimpa kedua cowok yang saat ini berdiri di belakangnya. Ia besarkan volume radio.


Suara volume yang diperbesar itu seolah menghadirkan Irfan kembali ke tengah-tengah Cevin dan Sigit. Rasanya benar-benar tak bisa dipercaya, mereka bisa mendengar lagi suara Irfan.


Sungguh-sungguh suara Irfan...!!!


Cowok yang mengaku bernama Jhon itu menuturkan satu cerita yang baik Cevin maupun Sigit terlibat di dalamnya. Cinta pertamanya. Pengamatannya. Penantiannya. Kecemasannya. Kesabaran sekaligus ketidaksabarannya. Dan harapannya.


Namun, ternyata tidak hanya itu. Suara yang sudah sangat mereka kenal itu juga bercerita tentang sang adik. Satu-satunya saudara cowok yang dimiliki. Tentang tiada hari tanpa pertengkaran. Saling meledek, saling tuduh, saling berteriak, saling tendang, saling jotos, saling jitak. Dan biasanya pertengkaran itu berakhir dengan pemulihan fisik. Bisa di mana saja. Di sofa, di tempat tidur, di lantai, di ambang pintu, hingga membuat orang jadi susah lewat, bahkan di atas tanah dan rumput halaman.


Sesaat cerita itu terputus oleh tawa. Kemudian suara itu melanjutkan bahwa gulat fisik itu bisa berlangsung cukup lama. Hingga mamah mereka kemudian memanggil kedua anak laki-lakinya itu dengan di ibaratkan dengan kucing dan tikus.


Tokoh kucing dan tikus ini selalu di ibaratkan yang tidak pernah akur jika sedang bersama.


Tatapan Cevin mengabur...!!!


Cerita itu tervisualisasi di sana, di fokus matanya yang kini kembali ke hari-hari dulu itu.


Dia dan Irfan...!!!


Beda usia mereka kurang dari dua tahun. Sejak kecil sampai saat-saat terakhir, Irfan hanya sedikit lebih tinggi darinya. Pertengkaran dan perkelahian mereka mulai berkurang setelah Irfan masuk Sekolah Menengah Pertama.


Perbedaan seragam itu penyebabnya...!!!


Dengan seragam putih-biru, Irfan merasa sudah besar dan ogah lagi meladeni Cevin yang waktu itu masih berseragam Sekolah Dasar, putih-merah tentunya.


Satu yang bisa dirasakan dengan jelas tidak hanya oleh Cevin, tapi juga oleh Balqis dan Sigit, kasih dan cinta dalam cara suara itu menuturkan ceritanya. Cowok itu menyayangi adiknya.


Kontras dengan Balqis yang tertawa-tertawa geli saat mendengar bagian cerita yang lucu, mendesah pelan dengan kepala menggeleng ke samping, atau kedua tangan tertangkup di depan dada saat cerita berada pada bagian yang mengharukan di kiri dan kanannya, Cevin dan Sigit membeku. Keduanya pucat pasi, menggigil dalam keterdiaman.


Samar, kemudian terdengar lagi lagu When I Fall in Love. Kali ini lagu itu cuma sebagai latar, rupanya tanda bahwa Jhon akan kembali berkisah tentang cinta pertamanya. Kali ini cowok itu tidak lagi menyebut "Cewek Gebetan Gue", tapi langsung menyebutkan namanya. Bukan Balqis, tetapi Dewita.


Nama lengkap Balqis memang Balqis Dewita!


Balqis memekik, tapi tetap tidak tahu apa-apa. Hal itu malah membuat Cevin dan Sigit merasakan sakit di dada kiri mereka, seakan di tikam. Namun puncak dari semua hantaman bertubi yang diterima keduanya di sore menjelang malam itu adalah saat Jhon mengatakan bahwa… dia menyerahkan cinta pertamanya itu untuk sang adik!


Seketika Cevin limbung. Dia terhuyung. Sigit buru-buru menangkap tubuhnya lalu menopangnya dari belakang.


Tiba-tiba suara sang penyiar yang bernada riang itu menyeruak, mengatakan bahwa siapa pun yang ingin berinteraksi langsung dengan Jhon, ada satu nomer telepon yang bisa dihubungi.


Berinteraksi langsung...!?


Cevin dan Sigit hanya mampu bereaksi dengan sisa-sisa kesadaran yang masih mereka miliki.


Ini mimpi.


Pasti mimpi...!!!


Satu-satunya mimpi tapi mereka bisa tetap sadar dan terjaga. Namun tetap saja, ini pasti cuma mimpi!


Citra langsung ribut.


"Pinjem telepon dong, Vin. Hp gue kayaknya pulsanya udah sekarat." cewek itu meraih tasnya, mengeluarkan ponselnya, lalu mengecek pulsa. "Tinggal seribu!" keluhnya. "Nggak cukup dong."


Karena Cevin sama sekali tidak beraksi, Sigit mengeluarkan ponsel miliknya dari saku kemeja.


"Nih, pake punya gue aja," ucap Sigit pelan.


Diulurkannya benda itu kepada Balqis.


"Makasiiih." Balqis menerima tanpa menoleh. Langsung ditekannya sederet angka yang tadi disebutkan sang penyiar.


"Halo? Ini Balqis," katanya begitu telepon tersambung.


"Hai, Balqis."


Melalui radio kecil di depan mereka, Cevin dan Sigit bisa mendengar suara "Irfan" melembut saat menjawab sapaan itu.


"Hai jugaaa," Balqis menjawab penuh semangat. Radio kecil itu menggaungkan tawa geli. "Eh, nama gebetan lo itu kayak nama gue lho. Nama gue juga ada "Dewita nya!" ucap Balqis kemudian.


"Gitu ya? Bagus deh. Seneng dengernya."


"Kenapa sih elo nyerah gitu? Kenapa gebetan lo itu lo kasih ke adik lo?" Balqis bertanya polos.


Sama sekali tidak menyadari dampak pertanyaan itu terhadap Cevin. Keheningan yang menghancurkan hadir sebagai jawaban sementara.


"Karena gue nggak bisa jaga dia," jawab "Irfan - Jhon" sesaat kemudian.


"Emangnya lo kenapa?" kejar Balqis.


Kembali keheningan yang menghancurkan tercipta. Cevin memejamkan kedua matanya.


Balqis, please, bisik hatinya pedih.


"Soalnya gue harus pergi."

__ADS_1


"Jauh?" tanya Balqis.


"Jauh banget."


"Ke mana?" tanya Balqis.


"Ke tempat cewek itu nggak bisa nyusul."


"Ke mana tuh? Manusia paling jauh baru bisa sampe ke bulan tuh. Bisa disusul. Asal punya duit banyak. Dan gue jamin, lo nggak mungkin pergi ke sana. Pasti masih di bumi." Balas Balqis.


Terdengar tawa geli "Irfan - Jhon". "Di bumi itu banyak tempat yang nggak bisa disusul lho, Qis." katanya lunak.


Balqis terdiam. Kemudian ia bicara dengan nada yang juga melunak, "Maaf deh. Bukannya gue mau ikut campur. Abis gue sedih nih dengernya." Lanjut Balqis lagi.


"Gue malah lebih sedih lagi."


"Iya sih. Ya udah. Thanks ya ngobrolnya." Lanjut Balqis kemudian.


"Sama-sama," jawab Jhon lembut. "Baik-baik ya, Cit." Lanjutnya.


"Iya." Balqis mengangguk tanpa sadar.


"Sekarang kasih teleponnya ke orang di sebelah kanan elo."


"Iya." Balqis menyerahkan telepon itu pada Cevin. Setelah benda itu berpindah tangan, baru cewek itu merasa heran. Bagaimana Jhon bisa tahu ia tidak sendirian? Keherannya makin bertambah saat kemudian didengarnya percakapan itu.


"Nggak ada yang mau lo omingin sama gue?" tanya Jhon.


Cevin menelan ludah dengan susah payah. "Maaf, Fan," ucapnya serak.


Hening...!!! Hening...!!! Hening...!!!


Keheningan yang membuat tubuh Cevin menggigil hebat.


"Fan, maaf," bisiknya, dengan lebih susah payah, karena tenggorokannya terasa sangat sakit.


"Nggak apa-apa. Nggak usah merasa bersalah gitu. Dari pada tu cewek gue bawa ke sini. Mendingan dia sama elo."


Hening...!!!


Kemudian "Irfan" meneruskan dengan kalimat yang membuat pertahanan Cevin akhirnya runtuh.


"Gue sayang elo. Titip cewek itu, ya?"


Tak terjawab. Cevin tidak mampu lagi menahan isaknya. Ponsel di tangannya terlepas dan hampir saja membentur lantai kalau saja Sigit tidak buru-buru menangkapnya.


"Hai, kawan," Jhon menyapanya.


Sigit mendengar suara Irfan melalui radio kecil itu. Sigit membeku, tidak mampu menjawab.


"Thanks banget. Buat semuanya. Baik-baik, ya? Bye."


Acara itu berakhir. Kembali lagu Glenn Fredly feat Dewi Sandra mengalun. Hanya di bagian akhir. Mengiringi suara penyiar yang mengucapkan terima kasih lalu menutup acara itu dengan salam perpisahan. Kemudian hening. Radio kecil itu tidak lagi mengeluarkan suara apa pun.


Cevin dan Sigit tersadar. Keduanya bergerak bersamaan. Seperti kesetanan, mereka mengguncang-guncang radio itu. Nihil. Mereka periksa kabel. Masih tersambung ke stop kontak. Mereka pukul-pukul dengan telapak tangan. Tetap tanpa hasil.


Jarum indikator masih di sana. Di tempat yang persis sama. Namun stasiun radio itu menghilang. Tidak ada sedikit pun suara yang tertangkap. Hening. Radio-tape kecil itu membisu.


Keduanya segera teringat nomer telepon tadi.


Meski pun sudah bisa menduga apa yang akan mereka dengar, Cevin menekan juga deretan angka itu. Pada posisi speaker aktif, terdengar suara monoton dari mesin operator.


"Nomer yang anda tuju, belum terpasang…"


***


Hampir seperempat jam berlalu sejak radio-tape itu benar-benar membisu. Dengan sorot mata sangat kebingungan, Balqis menatap dua cowok yang duduk tidak jauh di belakangnya itu. Cevin yang menangis tanpa suara. Sigit yang pucat dan seperti tidak sadar sepenuhnya. Hanya pada kedua mata mereka, segala gejolak emosi yang ditahan mati-matian itu jelas-jelas terbaca.


"Ada apa sih?" Balqis bertanya lirih dan hati-hati. "Kalian berdua kenapa?" Lanjutan Pertanyaan Balqis.


Sesaat tidak ada sedikit pun reaksi. Kemudian Cevin bergerak. Tangan kanannya menghapus air mata, sementara tangan kirinya melambai pelan.


"Duduk sini, Qis," katanya pelan. Sambil menggeser tubuh, ditepuknya tempat di sebelah kirinya. Balqis tampak ragu, tapi kemudian bergerak juga. Ia duduk di tempat kosong yang di berikan Cevin. Di antara cewek itu dan Sigit.


"Ada apa sih?" Balqis bertanya lagi, karena lagi-lagi kedua cowok di kiri-kanannya bungkam. Cevin kemudian merangkulnya. Sementara Sigit mengusap pelan kepalanya.


"Nanti gue ceritain," ucap Cevin lirih.


***


Beberapa saat yang lalu, kuncup mawar diletakkan dengan sangat hati-hati di batu nisan Irfan.


Dan kini, di sisi nisan, Cevin duduk bersila di atas rumput. Kepalanya tertunduk dan kesepuluh jarinya bertaut. Di sebelah kirinya, Balqis duduk bersimpuh. Di atas pangkuannya, sebuah amplop cokelat tergenggam di antara kesepuluh jarinya.


Amplop itu berisi foto-foto dirinya dan secarik kertas yang pernah ditempelkan Irfan di dinding di atas meja belajarnya.


Cevin mengangkat kepala lalu menoleh ke cewek yang duduk di sebelahnya itu. Sama seperti dirinya, Balqis sama sekali tidak mengeluarkan suara.


"Udah?" tanya Cevin lirih.


Balqis menoleh. Kedua matanya masih berkabut. Ia mengangguk. "Yuk, pulang."


Cevin bangkit berdiri. Diulurkannya tangan kirinya. Lembut, ditariknya Balqis sampai berdiri.


Keduanya meninggalkan tempat itu dalam diam, namun mereka yakin Tuhan dan alam akan menyampaikan apa yang ternyata tadi tidak sanggup mereka sampaikan selain dengan bahasa diam. Untuk seseorang yang kini dipeluk bumi dan tidur dalam diam.


Untuk Irfan, terima kasih dan seluruh cinta…!!!

__ADS_1


__ADS_2