LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 108 : SEBUAH KESEPAKATAN


__ADS_3

Seorang pesuruh kantor mengantarkan sepucuk surat kepada Eliya. Cevin yang bermalas-malasan menelpon relasinya nampak tidak ambil perduli Eliya menunggu sampai Cevin selesai menelpon. Lantas surat itu diberikan kepada Cevin.


"Ada surat dari Asuransi, Pak."


Ucap Eliya.


Cevin tak berselera menerima surat itu.


"Kau baca saja isinya."


Jawab Cevin.


Eliya menyobek amplopnya. Kalimat demi kalimat dibaca dengan teliti. Setelah selesai gadis itu wajahnya berseri-seri. Cevin yang kebetulan memandang Eliya jadi heran.


"Hee, ada apa kok senyum-senyum Eliya?" tegur Cevin.


"Ada kabar gembira, Pak."


Jawab Eliya.


"Kabar apa?"


Tanya Cevin.


"Perusahaan asuransi ini memberi tahu bahwa Balqis bekerja di sana." Pantat Cevin bagai disundut rokok. Dia berdiri bersejingkat kaget.


"Kamu tidak main-main?"


Tanya Cevin.


"Cobalah pak Cevin baca sendiri," kata Eliya sambil menyerahkan surat itu.


Bagai tak sabar lagi Cevin segera membaca isi surat itu. Langsung saja dia berteriak girang seperti anak kecil. Eliya ikut girang melihat atasannya tidak murung lagi Tapi benarkah Cevin tidak murung lagi? Belum lama laki-laki itu dilanda girang, sesaat kemudian jadi berubah murung lagi Dia kembali termenung sambil memegangi kepalanya.


Balqis adalah Balqis. Perempuan itu memiliki hati yang kukuh. Dia nekad pergi dari rumahnya hanya untuk menghindariku. Melupakan aku. Mungkinkah bila aku menemuinya tidak akan menambah hidupnya jadi goncang? Dan sudah kuperkirakan jika sampai kutemukan dia, untuk selanjutnya dia pasti akan pergi lebih jauh.


Mungkin dia tak akan mau kembali. Berarti penderitaan hidupnya akan tambah parah. Jadi aku harus bagaimana?


Cevin ingat Ranti. Maka dia buru-buru menelpon gadis itu.


"Ranti, aku sudah mendapatkan jawaban dari perusahaan asuransi. Balqis ternyata bekerja di situ," kata Cevin.


"Syukurlah. Berarti kita telah tahu jejak kepergian


nya. Aku rasa dia pindah rumah tetap di sekitar Bandar Lampung."


Ucap Ranti.


"Aku bingung langkah apa yang harus kulakukan?"


Kata Cevin.


Cevin nampak gusar.


"Tunggu aku akan ke kantormu. Nanti kita bersama-sama menemui pimpinan asuransi itu. Kita laksanakan sesuai dengan rencana kita, Okey?" Balas Ranti


"Okey," sahut Cevin dengan berat hati "Aku tunggu kau secepatnya untuk datang."


Balas Cevin.


Cevin menaruh lagi gagang telpon ke induknya. Dia termenung lagi. Termenung memikirkan hidup Balqis yang selama ini bekerja di perusahaan asuransi. Tentunya sangat melelahkan. Alangkah menderitanya hidupmu sayang. Kenapa kau tetap bersikeras menolak lamaranku? Kalau saja kau mau tidak mungkin hidupmu akan segetir itu.


Tak lama kemudian Ranti datang. Cevin sudah tak sabar lagi ingin segera pergi ke perusahaan asuransi itu. Tapi Ranti mencegahnya.


"Jangan terburu-buru. Telpon pimpinan perusahaan itu dan tanyakan apakah Balqis sedang ada di kantor," ujar Ranti.


''Kenapa musti begitu?"


Tanya Cevin.


"Kuminta kau jangan sampai menemui Balqis. Akibatnya akan lebih buruk."


Jelas Ranti.

__ADS_1


"Aaaah," Cevin mendesah kesal. Padahal rasa rindu ingin bertemu dengan Balqis sudah meletup-letup.


"Jangan turuti emosimu. Kamu mau menurut apa tidak?" Ucap Ranti lagi.


Cevin jadi lesu.


"Sekarang aku mau tanya, apakah kau masih tega membuat hidup Balqis kian menderita? Sebab dia pasti akan keluar dari pekerjaan lagi setelah kau ketahui. Percayalah, dugaanku ini tidak akan meleset. Padahal dia membutuhkan biaya hidup dan biaya untuk memeriksakan bayinya ke dokter," tutur Ranti.


"Kalau begitu kau saja yang menelpon."


Ucap Cevin.


Ranti langsung menelpon pimpinan asuransi. Cukup lama juga antara Ranti dan pimpinan asuransi itu berbincang-bincang melalui telpon. Dan akhirnya memberi tahukan datang ke sana setelah pimpinan asuransi itu mengatakan Balqis sedang tugas keluar.


"Ayo kita ke sana sekarang," ajak Ranti.


Cevin mengikuti saja kehendak perempuan itu.


Mereka naik mobil menuju ke kantor asuransi Selama di perjalanan perasaan Cevin dilanda tak menentu. Nyaris mobilnya menyerempet sepeda motor. Pengendara sepeda motor memaki, sedangkan Cevin cuma tersenyum pahit.


Kantor asuransi itu bertingkap empat. Megah dan terkenal di Kota Bandar Lampung. Karyawannya cukup banyak. Kesibukan di kantor itu selalu rutin lantaran banyak anggota yang ikut.


Cevin dan Ranti melintas di ruang yang berderet meja karyawan. Mereka kelihatan sibuk sekali. Cevin bersama Ranti langsung menghadap pimpinan.


"Selamat siang," sapa Cevin ramah memasuki ruang kerja pimpinan. Ranti mengikutinya.


"Selamat siang," balas pimpinan itu. Lantas mereka saling berjabatan tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


"Dewa."


"Cevin."


"Ranti."


"Mari silakan duduk."


Ucap Pimpinan itu mempersilahkan Cevin dan Ranti untuk masuk ke ruangannya.


Mereka bertiga duduk mengitari meja tamu. Ruangan yang ber-AC itu terasa sejuk dan nyaman.


"Dia adik saya yang belum lama ini terjadi perselisihan pendapat. Lantas dia kabur dari rumah ingin hidup mandiri. Tekad dan prinsip hidupnya sukar ditaklukkan. Saya faham sifatnya yang demikian. Dan di antara keluarga kami yang tidak ingin menerima bantuan hanya Balqis. Padahal apa kekurangannya hidup kami, Kalau dia mau bekerja di perusahaan milik ayah kami tentunya tidak terlampau sukar. Namun dia punya prinsip hidup lain."


Jelas Cevin.


Dewa mengangguk-angguk percaya.


"Belum ada sebulan dia bekerja di sini sudah mendapatkan dua puluh perusahaan yang mau jadi anggota asuransi. Dia memang tekun dan cekatan dalam banyak hal."


Jelas Dewa.


"Sebelumnya kami minta maaf, karena hal yang ingin saya tanyakan mengenai hal rahasia perusahaan."


Ucap Cevin.


"Silakan. Dengan apa adanya akan kami jawab."


Ucap Dewa menjawab.


"Mengenai gaji perbulan yang dia terima."


Jelas Cevin.


"Oooo itu," Dewa tertawa. "Peraturan di perusahaan kami setiap pegawai baru gajinya satu juta dua ratus ribu rupiah termasuk uang tansport." Cevin yang sejak tadi bicara tiba-tiba tenggorokan nya jadi kering. Lantas dia menelan air ludah yang tiba-tiba dirasakan pahit. Dan bersamaan itu pelayan kantor datang membawa minuman.


Cevin saling bertukar pandangan dengan Ranti.


Ranti mengetahui bahwa Cevin minta bantuan menimpali pembicaraan.


"Maksud kedatangan kami kemari tak lain begini, pak Dewa," Ranti mulai membuka suara.


"Bagaimana? Utarakan saja."


Ucap Dewa.

__ADS_1


"Maaf sekali lagi, barangkali kami menganggap gaji untuk Balqis yang diberikan perusahaan ini terlampau sederhana. Padahal maksud kami bukan itu. Sebagai saudara kami ingin meringankan beban hidupnya. Jangan sampai hidupnya menderita. Seperti apa yang dikatakan kak Cevin, bahwa Balqis tidak pernah mau menerima bantuan dari saudara-saudaranya. Maka lewat pak Dewa, kami akan membantunya," tutur Ranti.


Dewa manggut-manggut.


"Lantas maksud anda bagaimana?"


Tanya Dewa.


"Kami yang akan menambah gaji Balqis menjadi Empat juta lima ratus ribu rupiah setiap bulannya. Di samping itu setiap bulannya kami akan memberikan bonus atas nama perusahaan bapak. Apakah keinginan kami bisa bapak setujui?"


Tanya Ranti.


Dewa berpikir sejenak...!!!


"Sekali lagi, bahwa kami tidak ingin hidup Balqis serba kekurangan, pak. Mohon bapak sudi kiranya menyetujui keinginan kami ini. Dan saya harap bapak tetap merahasiakan kesemuannya ini. Kami benar-benar menyayanginya, Pak," kata Cevin mengharap persetujuan pimpinan asuransi itu.


"Baiklah. Akan saya bantu dan salurkan kebaikan anda sekalian."


Jawab Dewa.


Cevin dan Ranti merasa lega. Kemudian Cevin membuka tasnya dan mengeluarkan buku cheque. Lantas dia menulis sejumlah uang tambahan gaji dan bonus untuk Balqis selama setahun.


"Saya berikan cheque ini kepada pak Dewa untuk tambahan gaji dan bonus Balqis selama setahun." Ucap Cevin.


Cevin menyerahkan cheque itu kepada Dewa.


"Akan saya laksanakan dengan senang hati."


Jawab Dewa.


"Dan apabila ada sesuatu yang terjadi pada Balqis, tolong hubungi saya secepatnya ke kantor."


Balas Cevin lagi.


"Baik."


Ucap Dewa.


Cevin dan Ranti segera mohon diri Dengan hati-hati sekali mereka meninggalkan kantor itu. Tak lain untuk menghindari jangan sampai kepergok dengan Balqis yang tiba-tiba saja pulang dari tugas luar.


"Nah, semuanya beres kan?" kata Ranti lega setelah mereka ada di dalam mobil yang meluncur. Cevin masih sedih seraya mengemudikan mobil. Sedih lantaran tidak bisa bertemu dengan Balqis.


"Sebenarnya aku ingin bertemu sesaat saja dengan Balqis," ujar Cevin.


"Jangan. Demi ketentraman hidupnya, jangan sekali kali kau menemuinya. Kalau kau sampai melanggar nasehatku, keadaan Balqis akan bertambah buruk dan menderita. Dan kalau kau sampai nekad melakukannya, berarti kau tidak mencintainya dengan tulus hati. Cintamu hanya napsu. Mencintai seseorang, bukan berarti harus memiliki. Dan ikut merasa bahagia jika orang yang dicintai hidupnya bahagia. Bukan malah membuatnya hidup menderita. Cobalah kau resapi. Kau fahami"


Jelas Ranti.


Cevin tidak menyahut. Dia melarikan mobilnya tambah kencang. Semakin jauh... jauh dan hilang dari pandangan.


***


"Kamu ini sudah kurang waras ya?" kecam Ranti kepada Cevin yang tak henti-hentinya meneguk minuman keras.


"Habis cuma ini yang bisa sedikit mengurangi rasa rinduku kepada Balqis. Cuma ini pelarianku satu-satunya," balas Cevin yang sudah mulai mabok. Dia menuangkan lagi wisky ke dalam gelasnya yang telah kosong. Terus diminumnya sampai habis.


Band yang mengiringi penyanyi wanita membawakan sebuah lagu yang iramanya slow. Beberapa pasangan tengah melantai di arena dansa. Lampu-lampu yang beraneka warna sebentar-sebentar menerangi ruangan yang redup itu.


"Hari sudah tengah malam, Vin. Ayo kita pulang,"


Ucap Ranti mulai dilanda resah.


"Jangan sok alim. Kamu biasanya suka pergi ke tempat seperti ini dan pulangnya pagi. Kenapa sekarang kamu minta buru-buru pulang?" kata Cevin dengan badan yang bergoyang-goyang lesu. Sepertinya sudah tidak mampu lagi membawa dirinya. Ingin jatuh di tempat duduknya.


"Tapi kalau aku datang ke night club bukan untuk menemani orang mabok gara-gara cinta. Sengaja datang untuk menghibur diri. Dan sejak dari siang kita kan belum pulang. Pakaian kita sampai bau keringat. Ayolah kita pulang, Vin." Ucap Ranti.


"Kau tidak tahu perasaanku." keluh Cevin.


"Siapa bilang aku tidak tahu perasaanmu? Wuaaah...!!! bicaramu sudah semakin ngacau. Dan seharusnya kau bisa merasakan, dengan caramu yang begini belum tentu bisa melupakan Balqis. Tapi kalau kau mau menyadari bahwa Balqis membutuhkan ketentraman, pasti kau akan rela menuruti permintaannya. Dan bila kau sungguh-sungguh mencintainya rela memenuhi apa yang dikehendaki. Tapi kau nampaknya egois."


Jelas Ranti.


"Diam. Kau mau diam tidak hah?!" bentak Cevin dengan mata melotot. Ranti jadi ketakutan.

__ADS_1


Ranti cuma bisa menarik napas berat Tidak disangka kalau Cevin yang genius dan penuh potensi ini, ternyata jadi laki-laki tempe. Laki-laki kampungan.


"Baik, akan kutemani kamu sampai teler. Ayo minum lagi. Kalau masih kurang aku mintakan lagi wiskynya." Ranti jadi timbul keberaniannya untuk menentang Cevin.


__ADS_2