
Balqis baru saja keluar dari pintu sebuah kantor. Wajahnya sangat ceria. Sebab sejak tadi pagi tiga perusahaan yang didatangi bersedia menjadi anggota asuransi. Dan selama dia menemui pimpinan perusahaan selalu disambut dengan keramahan. Tidak mengherankan bila setiap pimpinan perusahaan selalu bersikap begitu kepadanya. Karena dia cantik dan anggun. Bahkan kadang-kadang dipengaruhi untuk meninggalkan pekerjaannya dan pindah di perusahaan yang dikunjungi.
Banyak sekali suka dan dukanya. Namun Balqis tetap menyenangi pekerjaan itu demi kelangsungan hidupnya. Di balik pekerjaan rutinnya yang setiap hari mendatangi kantor-kantor, sementara itu pula selebaran Balqis beredar di setiap perusahaan di ibukota. Hal itu sama sekali tidak diketahuinya. Sepuluh orang dikerahkan oleh Cevin untuk membagi-bagikan kepada setiap kantor. Pekerjaan yang tidak mudah dilakukan. Tapi berapa besar biaya yang dikeluarkan, Cevin tidak ambil pusing. Yang penting bisa menemukan Balqis. Di lain pihak Cevin semakin frustrasi. Sudah sekian lama belum juga ada kabar balasan dari perusahaan yang telah dibagi-bagikan selebaran. Lantas ke mana perginya Balqis? Atau mungkin dia pergi keluar kota? Itu bisa jadi karena sampai kini belum ada tanda-tanda bahwa Balqis bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Kalau memang begitu, harus dicari ke mana perginya perempuan itu?
Sore itu tidak seperti biasanya Cevin pulang ke rumah. Entah apa pula yang menggerakkan hatinya untuk pulang. Mungkin saja karena dia dalam beberapa hari ini terlalu lelah bekerja. Di samping lelah pikiran bagaimana bisa menemukan Balqis. Begitu di sore yang cerah itu dia sampai di rumah, dilihatnya Nabila sedang menyirami tanaman. Cevin yang melangkah turun dari mobil agak merasa heran. Sejak kapan Nabila timbul keinginannya untuk begitu. Lalu Cevin memperhatikan rumahnya. Semuanya bersih, tidak seperti hari-hari sebelumnya penuh debu.
Nabila seperti tidak menghiraukan kedatangan suaminya. Dia tetap saja menyirami tanaman. Memunguti dedaunan yang kering lalu dibuangnya ke tempat sampah.
Cevin jadi enggan menegur perempuan itu. Masing-masing tidak mau memulai bertegur sapa. Sama-sama tahan gengsi Lalu Cevin melangkah masuk ke ruang dalam.
Di dalam rumah semua perabotan ditata rapi. Suasananya jadi berubah nyaman dan bersih. Dan ketika dia masuk ke kamar bau harum menusuk hidungnya. Cevin jadi senyum-senyum sendiri. Lantas dia menaruh tas-nya di atas meja. Menaruh pantatnya di kursi sambil melepaskan sepatunya.
Malam ini dia sudah membuat janji. Janji dengan Eliya yang dalam beberapa hari ini ada urusan di Bandar Lampung. Maka Cevin membuang jauh-jauh pikiran tentang perubahan sikap istrinya. Dan dia selalu ingat janji yang pernah diucapkan kepada perempuan itu. Dia tidak akan mengganggu kesukaan perempuan itu. Memberikan kebebasan sekehendak hatinya. Apalagi sampai mau menyentuhnya. Tegur sapa pun selama tinggal serumah cuma beberapa kali dan bisa dihitung.
Selesai mandi Cevin berpakaian necis. Dia mencoba untuk membuang kekalutan pikiran dengan berkencan. Ingin mengulang kenangan lama yang indah bersama Eliya. Barangkali dengan begitu agak bisa mengurangi beban kesepiannya.
Ketika Cevin keluar dari kamar, dilihatnya Nabila duduk seorang diri sambil membaca majalah. Hal itu merupakan keanehan lagi buat Cevin. Perempuan itu selama hidup serumah dengannya tidak pernah melakukan begitu. Sehabis pulang kuliah terus pergi lagi. Pulangnya tengah malam. Ada apa sebenarnya?
Tapi perempuan itu nampak tak mau memandang Cevin. Bagi Cevin merasa diacuhkan. Sama seperti waktu-waktu sebelumnya. Ah, perduli apa? kata hati Cevin yang kemudian pergi tanpa pamit. Terus saja berjalan tanpa mau menoleh lagi. Sedangkan Nabila begitu suaminya melangkah pergi, sempat dipandangi punggung laki-laki itu. Lantas dia mendengus kesal.
Di sebuah restauran yang terkenal di ibukota seorang gadis telah menunggu di situ. Restauran itu tempatnya sangat romantis dan tenang sekali. Sesaat kemudian Cevin datang ke tempat itu. Dan gadis itu menyambutnya dengan gembira.
"Sudah lama menungguku, Eliya?" tegur Cevin sambil duduk di kursi. Berhadapan dengan Eliya.
Eliya memperhatikan Cevin dalam-dalam.
"Pak Cevin nampak sedikit kurus dan kurang ceria. Terlalu berat untuk melupakan Balqis?"
Tanya Eliya.
"Darimana kau tahu hal itu?"
Tanya Cevin.
"Tak perlu dikatakan, tapi aku banyak mengetahui masalahnya. Maka Eliya datang ke Bandar Lampung untuk menghibur pak Cevin," ujar perempuan itu sembari senyum-senyum.
"Kita mau bikin acara apa malam ini?"
Tanya Cevin.
"Terserah."
Jawab Eliya.
"Temani aku ke night club."
Balas Cevin.
"Kenapa tidak mengajak Eliya ke Puncak?"
Tanya Eliya.
Handrian tersenyum pahit.
"Berdua di dalam kamar villa bersamamu akan menambah pedih hatiku," desah Cevin.
"Ingat Balqis?" Cevin mengangguk. "Mari sejenak kita lupakan perempuan itu."
__ADS_1
Lanjut Eliya.
"Sukar rasanya."
Jawab Cevin.
Eliya tersenyum menggoda.
"Kalau berangkat sekarang night clubnya belum buka."
Ucap Eliya.
"Kita nonton film dulu."
Jelas Cevin.
"Okey."
Balas Eliya.
Mereka pergi meninggalkan restauran itu. Selama di perjalanan menuju bioskop Studio 21 sikap Cevin dirasakan Eliya sudah banyak berubah. Tidak seromantis dulu. Barangkali laki-laki yang duduk di sampingnya ini begitu berat tekanan batinnya.
"Istri pak Cevin juga cantik. Tak kalah dibandingkan dengan Balqis," kata Eliya memecah kebisuan.
"Tapi masih banyak kekurangannya dibandingkan Balqis."
Ucap Cevin.
"Sudah tahu benar pribadinya?"
Balas Eliya.
Jelas Cevin.
Cevin menginjak rem, rambu lalu lintas menyala merah. Suara klakson mobil saling bersahut-sahutan karena mobil yang paling depan mogok. Polisi menghampiri mobil yang mogok itu. Lalu memeriksa surat-suratnya setelah didorong ke pinggir jalanan. Cevin mengamatinya sembari tersenyum.
"Kalau begitu bagaimana jalinan hubungan antara pak Cevin dengan istrinya?"
Tanya Eliya.
"Saling tak acuh dan jarang bertegur sapa."
Jawab Cevin.
Lampu hijau menyala, Cevin meluncurkan mobilnya.
"Tentunya tidak harmonis dong."
Ucap Eliya.
"Begitulah."
Balas Cevin.
"Kenapa dulu tidak menikah dengan Balqis saja?" Tanya Eliya.
"Inginnya sih begitu. Tapi sekarang dia kabur entah ke mana," keluh Cevin. Eliya tertawa kecil. "Ada yang lucu?"
__ADS_1
Tanya Cevin.
"Orang seperti pak Cevin kok sampai ditinggal kabur pacar. Kan lucu," kata Eliya sembari tertawa.
"Yaaaah... nasib."
Balas Cevin.
Mobil Cevin memasuki halaman parkir gedung bioskop. Lalu keduanya turun dan menuju ke loket. Eliya berdiri menunggu ketika Cevin membeli karcis. Di dalam hatinya merasa kasihan juga pada laki-laki itu.
Selesai membeli karcis Eliya langsung menggandeng tangan Cevin berjalan masuk ke gedung bioskop.
***
Nabila tidur di kamar dengan gelisah. Sebentar-sebentar dia membolak-balikkan badannya. Sebentar-sebentar dilihatnya jarum jam beker yang ada di atas meja. Di sebelahnya tergeletak tas suaminya. Ah, sudah tengah malam begini Cevin belum pulang.
Entah mengapa perasaan Nabila malam ini lain bila dibandingkan dengan perasaan yang sudah-sudah. Dulu dia selalu masa bodoh pada suaminya. Mau pulang tengah malam atau dini hari tak dihiraukan. Tapi kenapa perasaan itu kini menggeluti?
Nabila menarik napas panjang. Sekali lagi dipandang nya jarum jam beker. Jam tiga pagi. Dugaannya pasti laki-laki itu pulang dalam keadaan mabok. Tak lama kemudian dikeheningan malam terdengar suara mobil berhenti. Nabila bergegas turun dari tempat tidur dan lari keluar kamar.
Di balik gordyn Nabila mengintip keluar. Dilihatnya seorang perempuan sedang membuka gembok pintu pagar halaman. Nabila memperhatikan apa yang dilakukan perempuan itu. Yang membuatnya tidak ragu karena mobil yang berhenti di luar pagar halaman itu milik Cevin. Pasti Cevin ada di dalamnya. Dan siapakah gerangan perempuan itu? Kenapa ada taxi yang ikut berhenti? Saking ingin tahunya Nabila membuka pintu rumah.
"Selamat pagi, nyonya," sapa Eliya ramah.
"Malam. Ada keperluan apa?" Tanya Nabila.
"Mengantarkan Cevin yang mabok."
Jawab Eliya.
Nabila mengeluh kesal sembari berjalan ke pintu pagar halaman. Lalu dia membuka pintu itu lebar-lebar, sedangkan Eliya meluncurkan mobil masuk ke halaman rumah. Tubuh Cevin yang lemas seperti tidak mempunyai kekuatan lagi segera digotong masuk oleh Nabila dan Eliya. Dari mulutnya mengeluarkan bau minuman keras. Di atas tempat tidur Cevin dibaringkan. Setelah itu Nabila dan Eliya meninggalkan Cevin yang terbaring di kamarnya.
"Di mana Cevin mabok?" tanya Nabila setengah mencurigai Eliya.
"Di night club."
Jawab Eliya.
"Kamu salah satu hostes di night club itu?"
Tanya Nabila.
Eliya sembari berjalan tersenyum.
"Bukan. Saya wakil direktur pak Cevin yang membuka cabang perusahaan di Palembang." Nabila manggut-manggut setengah tidak percaya.
"Saya mengharap pada nyonya untuk berbuat yang baik terhadap suami. Saya telah mengetahui banyak tentang kehidupan rumah tangga pak Cevin. Alangkah sayangnya bila prestasi kerja pak Cevin yang gemilang bisa merosot karena hidup rumah tangganya tidak bahagia. Hidupnya yang tersia-sia," kata Eliya yang langkahnya sudah sampai di ambang pintu.
"Nona tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga kami," sahut Nabila.
"Maaf nyonya, saya tidak bermaksud begitu. Tapi apa salahnya jika saya memberikan sekelumit saran."
Jawab Eliya.
"Saran nona saya terima. Dan sering-seringlah menemani Cevin setiap malam di night club ya?" kata Nabila mencibir.
"Selama pak Cevin membutuhkan saya, tentu saja saya bersedia. Sebab di mana lagi dia bisa menumpahkan semua kegetiran hidupnya, kalau bukan karena saya atau kepada wanita lainnya," tegas juga ucapan Eliya. Permisi," lanjut Eliya sambil melangkah pergi.
__ADS_1
Nabila menatap kepergian perempuan itu dengan kesal dan jengkel. Sampai perempuan itu naik ke dalam taxi terus ditatapnya. Dan setelah taxi itu membawa pergi perempuan itu, barulah dia masuk mengunci pintunya rapat-rapat. Lalu berjalan selangkah demi selangkah menuju ke kamar Cevin. Sebelum ditutupnya pintu kamar itu, sesaat dipandangnya tubuh Cevin yang terbaring di atas tempat tidur. Terenyuh juga hatinya melihat laki-laki yang setiap malam pulang dalam keadaan mabok itu.
Pintu kamar itu ditutupnya perlahan-lahan sampai rapat. Kemudian dia duduk merenung seorang diri di kursi. Lantas dalam hatinya tercetus pertanyaan, "Apa sebenarnya yang kau cari dalam hidup ini, Nabila? Kebahagiaan atau memburu cinta? Sadarkah kau, bahwa keadaan dirimu sekarang bukan remaja lagi? Bagaimanapun kau tidak mencintai Cevin, hidupmu sudah sah. Kenapa tak kau ciptakan kehidupan yang harmonis dan bahagia? Apakah kekuarangannya pada diri Cevin? Cobalah kau hayati dengan jiwa dan perasaanmu. Dengan naluri kewanitaanmu. Berry belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Cevin. Dan seharusnya kau mendalami dan mau mengerti ucapan terakhir Berry, yang menghendaki antara kamu dan dia menjadi sahabat. Satu bukti telah kau lihat sendiri bukan? Berry sekarang telah tergaet gadis lain. Dan laki-laki itu mempunyai prinsip baik. Tidak mau mengganggu kebahagiaan rumah tanggamu. Jadi apalagi yang bisa kau harapkan dari Berry? Jadi apalagi kekurangannya Cevin? Apalagi. Apalagi!" Cetusan hatinya itu membuat Nabila gusar dan resah. Saking tak bisa menemukan kepastian, akhirnya dia cuma bisa menangis terisak-isak. Lalu dia berlari ke kamarnya. Membanting dirinya di atas tempat tidur dan menguras habis tangisnya. Dia masih belum tahu apa yang musti dilakukannya.