LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 62 : SESUATU


__ADS_3

Lucunya, walaupun sudah yakin penampilannya oke dan keren dalam balutan kaus dan jins baru, tetap saja pada hari "Y" ini Irfan kehilangan keyakinan itu. Ia terus berkutat di depan cermin sampai lama untuk mendapatkan keyakinan itu kembali.


Setelah itu ia menyisir rambut lagi. Dan lama lagi. Terakhir, ia memakai sepatu. Irfan menarik keluar sepatu ketsnya dari bawah tempat tidur. Cevin sempat terkesima, karena sepatu kets abangnya yang biasanya dekil itu sekarang jadi bling-bling. Pasti Irfan menyikatnya sampe setengah mampus tuh, gumam Cevin.


Setelah rambut oke, baju oke, sepatu juga oke, berikutnya adalah parfum. Irfan menyemprotkan parfum kesayangannya. Seketika aroma wangi memenuhi kamar. Akhirnya selesailah sudah semua persiapan. Irfan menatap refleksi dirinya di cermin untuk yang terakhir kali.


"Sip. Oke," desahnya puas. Ditariknya napas panjang-panjang. Lega banget.


"Akhirnya!" Cevin ikut menarik napas lega. "Cuma ngeliatin lo dandan aja gue udah capek banget."


Irfan menatap adiknya lewat cermin lalu menyeringai.


"Ntar kalo lo naksir cewek untuk pertama kali, lo juga akan kayak gue gini. Jadi nggak waras. Sinting!" Ucap Irfan.


"Nggak bakalan!" tandas Cevin yakin.


"Taruhan!" tandas Irfan balik, lebih yakin.


Acara terakhir sebelum pergi, Irfan pamit pada seisi rumah. Ditambah lagi, ia juga meminta doa restu. Lagi-lagi di luar kebiasaan. Biasanya Irfan akan langsung berjalan ke arah pintu, menoleh dan melambaikan tangan sabil berseru, "Berangkat ya! Daaah, semuanya." kali ini Irfan benar-benar pamit. Bahkan Queena pun dia pamiti dan mintai doa restu.


"Mas Irfan pergi dulu ya, Queen. Doain Mas semoga sukses, ya?" Ucap Irfan.


"Sukses apaan?" tanya Queena bingung.


"Pokoknya sukses deh." Ucap Irfan.


"Iya deh. Semoga sukses," jawab Queena malas-malasan, karena dia benar-benar tidak mengerti. Lagi pula, bagi Queena, urusan Irfan itu nggak penting.


Irfan merogoh salah satu kantong celana panjangnya, lalu mengeluarkan selembar lima ribuan.


"Nih, buat jajan." Lanjut Irfan menyerahkan uang itu pada Queena. Dia ulurkan uang itu pada Queena. Mata adik bungsunya yang masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar itu berbinar-binar. Queena langsung mengulangi doanya. Kali ini dangan penuh semangat. "Semoga sukses ya, Mas Irfan!" Dipeluknya sang kakak dengan kedua tangan, lalu diberinya cipika-cipiki.


Irfan menyeringai geli. Ia menyambut pelukan dan ciuman itu. Cevin menyaksikan adegan itu juga dengan senyum geli. Namun, ada rasa haru yang kemudian muncul. Apa yang terjadi di depan matanya itu sangat indah. Membuat dada jadi merasa hangat.


Setelah itu Irfan pamit pada Bi Puji, tentu saja plus minta doa restunya. Mamah mereka, yang biasanya sudah pulang kerja saat jam sekolah anak-anaknya, tumben-tumbenan kali ini pulang sore hari. Ia ditelepon Irfan, juga dipamiti dan dimintai doa. Kalau ini penting banget. Soalnya doa ibu biasanya manjur.


"Sukses apa sih, Fan?" tanya mamahnya heran.


"Ya pokoknya doain Irfan sukses aja deh, Mah." Irfan tidak mau menjelaskan. Dia hanya tertawa malu.


"Iya deh. Sukses ya," ucap mamahnya sambil tersenyum geli di seberang sana. Ia bisa mendengar tawa malu anak lelakinya. Selain itu, diam-diam ia memang mengikuti perkembangan anak sulungnya itu akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Makasih banyak, Mah." Balas Irfan.


Belum lama Irfan menutup telepon, terdengar suara klakson. Taksi sudah datang. Ia segera menghampiri satu-satunya orang yang belum dipamiti di rumah. Cevin. Dipeluknya adik cowoknya itu erat-erat. Tubuh Cevin sempat menegang, karena sama sekali tidak mengira. Namun kemudian dibalasnya pelukan kakaknya itu.


"Thanks banget ya, Vin. Doain gue sukses, ya?" Ucap Irfan.


"Pastilah." Balas Cevin.


Irfan melangkah meninggalkan rumah. Sebelum hilang di balik pagar, ia menoleh, tersenyum dan melambaikan tangan pada kedua adiknya yang melepas kepergiannya.


Sigit ternyata sudah membuka pintu belakang taksi untuk Irfan. Sambil tersenyum, Sigit mempersilahkan sahabatnya itu naik.


"Silakan," ucapnya khidmat.


"Terima kasih. Terima kasih," Irfan menjawab khidmat pula. Sigit tertawa geli.


Sigit duduk di depan, di samping sopir, karena buket bunga yang nanti akan mereka ambil dipastikan akan menghabiskan sisa ruang di jok belakang.


Setelah mengambil buket bunga, sepanjang jalan bisa dibilang Irfan nyaris tidak mengeluarkan suara. Ia sibuk gelisah. Sibuk gugup. Sibuk menghela napas. Sibuk menggigit bibir. Sibuk melihat ke luar jendela. Dan sibuk memegangi buket bunganya agar tidak rusak karena guncangan taksi. Sigit, yang sesekali menatapnya lewat kaca spion dalam, jadi tersenyum geli. Sampai akhirnya mereka tiba ditujuan.


Taksi berhenti di tepi jalan. Namun Irfan tidak bergerak. Tetap duduk di tempatnya. Hanya menatap lurus-lurus ke seberang jalan, ke satu jalan kecil di sana, tempat penantian panjangnya yang menguras banyak emosi itu akan berakhir. Dengan penerimaan atau… penolakan.


Karena Irfan tetap juga tidak bergerak, akhirnya Sigit turun dari taksi lebih dulu. Perlahan dibukanya pintu di sebelah Irfan.


Irfan mendongak. Dia mengangguk, lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kuat-kuat. Dengan hati-hati diulurkannya buket bunga yang sedari tadi dipeganginya kepada Sigit. Tanpa sadar, Sigit juga menerimanya dengan sangat hati-hati. Kemudian Irfan turun dari taksi.


"Rambut gue gimana? Nggak berantakan, kan?" tanya Irfan cemas.


"Nggak," Sigit menggeleng. "Lagian lo malah lebih keren kalo rambut lo berantakan."


"Belakang kaus gue lecek, nggak?" Tanya Irfan memastikan.


"Nggak. Gimana bisa lecek kalo duduk lo nggak nyendar ke jok? Sibuk megangin kembang. Tenang aja. Penampilan lo udah oke banget kok. Kalo gue cewek, gue pasti udah naksir elo!" ucap Sigit sungguh-sungguh.


Irfan tertawa lebar tanpa suara. Ditepuknya satu bahu Sigit.


"Thanks banget, Git," ucapnya, dengan ketulusan yang terlihat jelas dalam suara dan cara menatap sahabatnya itu.


Sigit jadi terharu...!!!


"It’s okay," Sigit tersenyum lebar. Diserahkannya buket bunga itu pada Irfan, kemudian ganti ditepuknya bahu sahabatnya itu.

__ADS_1


"Mudah-mudahan sukses. Gue pengin liat elo bahagia." Ucap Sigit.


Sesaat mereka bertatapan. Kemudian Irfan balik badan dan berjalan menjauh sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan.


"Good luck!" seru Sigit.


Irfan menoleh, kembali tersenyum lebar. Kemudian ia acungkan jempol kirinya. Sigit membalas. Ia acungkan kedua jempolnya. Sambil tersenyum, terus ditatapnya tubuh Irfan yang menjauh.


Bisa dirasakannya kegugupan sahabatnya itu.


Kegelisahannya...!!!


Kecemasannya...!!!


Ketakutannya...!!!


Seluruhnya memuncak di hari ini, setelah penantian yang begitu panjang, yang tidak bisa dirasakan Sigit, bahwa itu tidak akan lama lagi.


Tidak akan lama…!!!


Semua rasa itu telah menghilangkan konsentrasi dan kewaspadaan Irfan terhadap apa pun di sekelilingnya. Fokus pada tujuan, ia benar-benar tenggelam dalam semua rasa yang telah mengepungnya begitu lama itu.


Tidak dipedulikannya hal lain. Tidak dirasakannya "Sesuatu" datang. Tidak juga Sigit. Yang masih mengiringi Irfan dengan tatapan mata. Tidak dirasakannya "Sesuatu" itu bergerak semakin dekat.


Tidak juga pengemudi sedan itu, yang memanfaatkan kelengangan jalan dengan langsung menambah kecepatan. Sama sekali tidak diduganya bahwa seseorang akan muncul begitu saja dari antara mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan. Seseorang yang sibuk membawa buket bunga besar kemudian menyeberang tanpa menoleh kiri dan kanan.


Dan "Sesuatu" itu kemudian melakukan tugasnya. Rem berdecit sia-sia!


Semua bisa mendengar kerasnya bunyi hantaman itu. Logam yang beradu dengan daging dan tulang. Hanya beberapa detik. Tidak ada yang bisa dilakukan. Orang-orang hanya bisa tersentak.


Terkesima...!!!


Menatap dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Tubuh itu rebah. Tanpa sedikit pun suara. Darah mengalir. Buket bunga itu terlepas dari tangan. Terlempar. Menghantam aspal jalan dengan keras. Rebah dan… patah!


Namun satu kuncup tertinggal. Tergenggam erat dalam jemari Irfan. Mawar putih. Warna tanpa warna, hingga segala macam warna yang diinginkan bisa diimpikan.


Sigit berlari seperti kesetanan. Sesaat sebelum tubuh Irfan menghantam kerasnya aspal jalan, ia menangkap tubuh itu dan memeluknya kuat-kuat.


Namun sekuat apa pun pelukan, tidak bisa menghalangi kematian.


Sigit duduk bersimpuh di tengah jalan, dengan Irfan dalam pelukan. Sepasang mata yang tadi menatapnya dengan sarat kecemasan namun begitu hidup dalam nyala semangat dan harapan, kini telah tertutup.

__ADS_1


"Sesuatu" itu telah selesai melakukan tugasnya...!!!


__ADS_2