
Cindy merebahkan tubuhnya yang terasa penat di samping tubuh kedua anaknya, yang dalam waktu sebentar saja sudah terlelap.
Ah, betapa lelah sekali tubuhnya belum lagi semalam ia harus begadang menunggui jasad suaminya di rumah sakit. Kesesakan dan keperihan terasa memukul batinnya.
Sungguh ia tak menyangka sampai di sinilah akhirnya kisah cinta dan kehidupannya bersama Rangga, suaminya.
Perlahan Cindy memejamkan matanya untuk memenuhi kantuknya yang tidak tertahankan. Tidak lama kemudian ia pun sudah terlelap dengan membawa mimpi masa lalunya.
Cindy tidak pernah lupa awal pertama kepergiannya dari Lampung ke Jakarta waktu itu. Masih terlintas di kepalanya betapa ia membenci sikap kolot ayahnya setelah menjalani kehidupan selama lima tahun di sel dan saat pulang ke rumah ayahnya yang hendak menjodohkan adiknya Zahra dengan Pak Ruslan, juragan kaya di kampungnya itu. Terjadi keributan antara Cindy dan Ayahnya Hendry karena terus terang Cindy tidak setuju dengan keinginan ayahnya tersebut.
"Pokoknya Cindy tidak setuju, Yah! Jika Zahra ayah jodohkan dengan Pak Ruslan" tandasnya waktu itu ketika ayahnya mengemukakan pendapatnya akan menjodohkan dan mengawinkan adiknya dengan juragan yang punya istri lebih dari seorang itu.
"Tidak setuju bagaimana, Cindy?" Sang ayah memandangnya dalam. "Kamu tahu. Ayah kan sudah menerima lamaran Juragan Ruslan untuk adikmu. Jangan bikin malu gara-gara pengaruhmu terhadap Zahra akhirnya dia bisa menolak rencana ayah ini, Nak." Ucap Hendry kesal.
"Ayah!" pekiknya kaget. "Kenapa Ayah tak mengkompromikan hal itu lebih dulu pada Cindy? Kenapa Ayah sembarang menerima lamaran itu?"
"Cindy," ibunya ikut menengahi. "Pak Ruslan begitu memaksa ingin memperistri adikmu. Maka itu tanpa tenggang waktu lagi, dia pun segera memutuskan untuk melamar dan memperistri Zahra, Nak..."
"Pikiran kuno! Kolot!" sergahnya cepat. "Apa ibu pikir kebahagiaan itu bisa dibeli dengan harta? Apa Ibu pikir dengan harta kita bisa hidup bahagia dan saling mencintai?"
"Cinta itu dapat tumbuh di kemudian hari, Cindy! Begitu juga dengan Zahra adikmu lambat atau cepat pasti dia bisa mencintai Pak Ruslan," ayahnya yang sejak tadi diam kini membuka suaranya. "Lihatlah kami. Ayah dan ibumu, Nak. Dulu, ketika kami menikah juga tak ada cinta di hati masing-masing. Namun, waktu jualah yang
menghadirkan cinta itu perlahan-lahan."
"Cindy mengerti hal itu, Ayah," bantahnya lagi. Tapi, tidakkah Ayah melihat dan merasakan kalau Ayah dan Ibu sama-sama belum pernah menikah ketika dijodohkan dulu? Tidakkah Ayah merasakan betapa Ayah dan Ibu masih sama-sama remaja ketika menikah dulu? Lantas, bagaimana dengan Zahra?"
__ADS_1
Kedua orangtuanya hanya menarik napas mendengar ucapan yang dilontarkan anaknya itu. Memang, apa yang dikatakan Cindy tidak bertolak belakang dan benar adanya. Mereka memang masih sama-sama muda ketika dijodohkan dulu. Mungkin itu sebabnya mereka bisa membina dan menjalin tali kasih sampai sekarang ini. Tapi bagaimana dengan Zahra? Juragan Ruslan yang sudah tidak muda lagi itu, bahkan telah mempunyai tiga orang istri.
Apakah keadaan mereka yang miskin dan untuk mencari nafkah sehari-hari saja susah, yang telah mengilhami pikiran mereka dengan menerima lamaran juragan itu begitu saja tanpa mempertimbangkannya lebih dulu?
Kini, kedua orangtua itu membisu seribu bahasa dengan pikiran kalut. Bagaimana sebaiknya? Jalan apa yang harus diambil?
***
Semua perbincangan dan pikiran mengenai persoalan perjodohan Zahra dan Juragan Ruslan di dengar jelas oleh Zahra dari balik tembok kamarnya dan hal itu memang sempat singgah dalam kepala Zahra, apa yang dia dengar dari kedua orang tuanya serta kakaknya Cindy. Namun yang lebih mendominan perasaan Zahra, bagaimana perasaan Fadly? Marahkah dia mengetahui kekasihnya akan dinikahkan dengan lelaki lain? Tidakkah dia akan tersinggung, mengetahui pujaan hatinya akan dijodohkan dengan lelaki tua yang mempunyai harta berlimpah?
Berbagai perasaan berkecamuk dalam hati Zahra. Ia sungguh-sungguh bingung, haruskah ia menceritakan perihal ini pada Fadly atau menyembunyikannya saja?
Keputusan akhirnya diambil Zahra dengan menceritakan semuanya pada Fadly. Ketimbang berita itu datang dari mulut lain yang belum tentu semuanya benar, toh lebih baik Ia yang mengemukakannya lebih dulu. Biar bagaimana, cepat atau lambat toh Fadly akan mengetahuinya juga.
Malam itu dengan diam-diam dan berdusta pada orang tuanya dan mengatakan bahwa ia akan mengunjungi rumah teman baiknya Febrina, Zahra pun mengendap-endap menemui Fadly di tempat mereka biasa bertemu.
"Berita buruk apa, Ra? Soal juragan itu kah?" tanya Fadly pelan.
"Benar, Dly." Zahra menganggukkan kepalanya.
"Semalam orangtuaku memberi tahu bahwa mereka sudah menerima lamaran lelaki tua itu..."
"Hah?! Jadi...," Fadly terkesiap. Dibalasnya tatapan Zahra dalam-dalam.
"Aku menyesali keputusan ini, Dly tanpa sepengetahuanku, mereka begitu saja menerima lamaran itu...," desahnya lirih.
__ADS_1
Beberapa saat mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Bukan Fadly tak tahu kalau Juragan Ruslan memang mengincar Zahra dan begitu bernafsu untuk menjadikan gadis itu sebagai istrinya. Di kampung mereka, Juragan Ruslan memang terkenal sebagai seorang yang kaya raya. Sawahnya berhektar-hektar, kebunnya luas, bahkan rumah yang ditinggalinya pun begitu mewah dan mentereng. Bukan saja rumah istri pertamanya yang dibangun begitu megah dan mentereng, rumah istri kedua dan ketiga pun tidak kalah bagusnya. Dengan ketiga istrinya itu Juragan Ruslan mendapatkan enam orang anak.
Dalam diam Fadly cuma bisa mendesah. Diremasnya kepalanya dengan pikiran kalut. Apa yang kurang pada Juragan Ruslan? Harta berlimpah, istri yang lebih dari satu serta anak-anak yang hampir selusin, apakah itu belum cukup memuaskan hatinya? Kini, lelaki tua yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu telah mempersunting kekasih hatinya dengan diam-diam.
Apa yang harus diperbuatnya? Haruskah ia mempertahankan Zahra, gadis yang begitu dicintainya, atau membiarkan Zahra , jatuh begitu saja ke dalam pelukan lelaki yang lebih pantas menjadi pamannya itu?
Fadly menelan ludahnya yang terasa getir. Mampukah ia mempertahankan kekasih hatinya? Mampukah ia bersaing dengan Juragan Ruslan dalam memperebutkan diri gadis cantik itu?
"Dly...," panggilan lembut Zahra kembali menyadarkan cowo' itu dari terawangannya.
Dengan segera Fadly membetulkan letak duduknya dan memandang wajah gadis di hadapannya dalam-dalam.
"Apa yang harus kita perbuat, Dly? Sungguh, aku tak sudi dinikahkan dengan lelaki yang telah beristri," ujar Zahra kemudian dengan suara bergetar.
Kembali Fadly termangu mendengar ucapan yang dilontarkan Zahra. Yah, apa yang harus diperbuatnya? Mempertahankan gadis itu atau...
"Fadly...," desah Zahra lagi. hampir tak terdengar. "Apa yang mesti kita perbuat dong? Bantulah aku... Aku... tak ingin berpisah darimu, Dly."
"Begitupun aku, Ra," Fadly segera merengkuh bahu gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya. "Tapi... aku bingung, apa yang mesti kulakukan menghadapi kasus ini"
"Kamu harus punya pendirian, Dly," Zahra cepat menyahut.
"Yah," Fadly mengangguk lemah. "Tapi, bagaimana mungkin aku dapat bersaing dengan Juragan Ruslan? Kau tahu, keluargaku hanyalah keluarga miskin yang tak ada apa-apanya dibandingkan dengan lelaki itu. Mana mungkin
orangtuamu mau menerima diriku?"
__ADS_1
Kembali mereka terdiam. Zahra tahu apa yang dikatakan Fadly memang ada benarnya. Keluarga cowo' itu memang keluarga miskin, namun mungkin kedua orangtuanya yang mendambakannya hidup berkecukupan mau menerima dirinya sebagai menantu?
Keduanya terhanyut dengan pikiran masing-masing. Zahra mencoba berpikir dalam untuk mencari jalan keluarnya.