LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 50 : RATAPAN MEMILUKAN


__ADS_3

Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat, Farel bekerja di kantor itu sudah tiga bulan lebih, sore hari ia masuk kuliah. Jika ia pulang dari kantor, segera Rahma menyediakan air minum. Yang paling menguntungkan Farel ialah dia tidak merokok, sehingga tidak usah membuang uang secara percuma, di siang hari ketika istirahat, ia hanya makan nasi murahan, di samping itu, gaji Farel juga sudah naik, boleh dikatakan penghidupan mereka mulai lumayan, walau demikian, mereka tetap hidup serba sederhana dan serba irit, gaun yang dipakai Rahmawati juga termasuk gaun murahan. Belum pernah Rahmawati merecoki ingin membeli ini dan itu. Selama itu, belum pernah Farel menyentuh tubuh Rahmawati, hal tersebut membuat Rahmawati bertambah kagum serta cinta kasihnya bertambah dalam terhadap Farel. Mereka juga sering ke rumah pak Ismo Harsoyo atau om Ismo Harsoyo, Ilham telah dibelikan sebuah gitar baru oleh Farel, sedangkan Amanda dibelikan bahan pakaian oleh Rahmawati. Sore itu Farel pulang seperti biasa, begitu duduk di ruangan tamu, secara otomatis air minum telah disediakan oleh Rahmawati.


"Farel!" Ucap Rahmawati. "Tadi pagi mamah dan tante kemari."


"Hah!" Terkejut hati Farel. ""Benarkah mamah serta tante kemari?" Tanya Farel seakan tidak percaya.


"Ya!" Jawab Rahmawati tersenyum. "Mamah sangat gembira mendengar keadaan kita sambil mengucurkan air mata." Lanjut Rahmawati berkisah.


"Terus mamah bilang apa-apa?" Tanya Farel.


"Mamah bertanya apakah saya sudah berisi belum?" Spontan wajah Rahmawati berobah merah.


"Berisi apa?" Tercengang Farel.


"Maksud mamah apakah saya sudah hamil atau belum?" Rahmawati menundukkan kepalanya.


"Hamil dari mana?" Farel tertawa.


"Semula mamah masih tidak percaya ketika saya menceritakan bahwa selama ini kita belum pernah melakukan hubungan, setelah dijelaskan oleh tante, barulah mamah percaya sambil mengacungkan jempolnya." Jelas Rahmawati.


"Mengacungkan jempol?" Tanya Farel.


"Ya! Mamah memuji-muji dirimu!" Ucap Rahmawati lagi. "Dilla akan kawin dengan Toni, sebab Dilka sudah mulai muntah-muntah!" Jelas Rahmawati.


"Kenapa muntah-muntah? Apakah sering keluar malam sehingga masuk angin?" Tanya Ilham.


"Dilla lagi ngidam!" Ucap Rahmawati tersenyum melihat kepolosan suaminya itu.


"Ngidam?" Farel berpikir sebentar. "Kalau begitu berarti adikmu telah hamil?" Tanya Farel.


"Ya!" Jawab Rahmawati.


"Apakah papimu gusar?" Tanya Farel.


"Entahlah? Mamah tidak memberitahukan, hanya mamah memberitahukan bahwa tidak lama lagi mereka akan kawin!" Jelas Rahmawati.


"Perlukah kita menghadiri pesta perkawinan mereka?" Tanya Farel.


"Menurut mamah tidak usah, untuk sementara waktu jangan kita bertemu dengan papah dulu, sebab menurut mamah, sebelum kau maju benar, jangan menampakkan diri, terus terang saja mamah masih penasaran." Balas Rahmawati.


"Penasaran kenapa?" Tercenung Farel.


"Penasaran pada papah yang telah mengusir saya, maka mamah harap supaya kau akan membuat suatu kejutan." Ucap Rahmawati.


"Kejutan apa?" Farel menghela nafas.


"Semaju-majunya saya tetap seorang karyawan, mana mungkin di dalam pandangan papah terdapat diri saya yang kecil?" Jawab Farel.


"Jangan putus harapan, berjuang terus!" Semangat Rahnawati buat Farel.


"Biar bagaimana pun juga saya tidak bisa menyaingi Toni, anak presiden direktur Bank!" Farel menarik nafas.


"Tapi, di dalam pandangan saya kau lebih kaya dari pada yang lain, kaya segala-galanya!" Rahmawati menatap Farel dengan mesra dan penuh cinta kasih.


"Namun, di dalam pandangan papah hanya merupakan pemuda yang termiskin." Farel tersenyum sedih.


"Lain lagi dengan pandangan mamah, kau adalah pemuda yang terbaik di dalam pandangan mamah!" Rahmawati tersenyum simpul.


"Saya tidak berani menerima perkataan pemuda yang terbaik, sebab setiap manusia terdapat kekurangan-kekurangannya." Jawab Farel.


"Sekurang-kurangnya kau tidak lebih kurang dari pada yang lain!" Rahmawati tersenyum di kulum.

__ADS_1


"Waduh! Terlalu banyak kau menyebut kurang sehingga kepala saya menjadi pusing!" Farel tertawa lebar.


"Farel, mungkinkah Dilla dan Toni akan hidup bahagia?" Tanya Rahmawati.


"Hal ini tidak bisa ditentukan, tergantung pada cinta kasih mereka." Ucap Farel. "Suami istri harus hidup saling mengerti dan saling menyayangi, di samping itu hubungan suami isteri juga berperanan penting di dalam hal kebahagiaan hidup. Namun, segala itu kita tidak bisa tentukan secara mutlak, karena manusia bersifat dan berwatak yang tidak sama." Farel berhenti sebentar, kemudian ia baru melanjutkan. "Ada semacam wanita yang takut hidup kesepian, misalnya suaminya bepergian, sehingga ia menyeleweng dengan lelaki lain."


"Jika demikian harus bagaimana supaya wanita itu sadar kembali dari kesalahan-kesalahannya?" Tanya Rahmawati.


"Harus banyak mendengar ceramah-ceramah agama dan harus taat pada ajaran agama, dengan cara demikian kemungkinan besar bisa menyadari wanita-wanita semacam itu. Sebab Tuhan Yang Maha Kuasa tidak ingin menyaksikan umatnya tenggelam di rawa lumpur yang kotor. Maka Allah SWT pasti menolong dengan cara Nya Sendiri." Jelas Farel.


"Farel, kenapa lelaki suka main perempuan diIuaran?" Tanya Rahmawati mendadak.


"Hal tersebut kemungkinan adalah bawaan lahir, menyukai yang baru serta menyukai yang cantik adalah sifat manusia, maka dalam hal tersebut sulit diuraikan atau diterangkan, tergantung sifat dan watak lelaki, yang terpenting, taatilah ajaran agama!" Jawab Farel.


"Farel, apakah cinta kasihmu terhadap saya akan berubah nanti?" Tanya Rahmawati.


"Saya yakin tidak, sebab saya taat pada ajaran agama serta saya selalu merawat cinta kasih kita!" Jawab Farel.


"Kalau demikian, tidak salah saya memilih dirimu sebagai suami saya yang tercinta!" Ucap Rahmawati dengan suara yang lembut.


Farel tersenyum sambil menggenggam tangan Rahmawati seraya berkata, "Rahma. saya juga sangat berbahagia mempunyai seorang isteri yang demikian baik serta bijaksana!" Farel tersenyum bahagia.


"Eh! Farel. apakah kau sudah lupa harus kuliah lagi?" Ucap Rahmawati.


"Ohya! Hampir lupa saking asyik ngobrol." Jawab Farel.


"Perlu mandi dulu?" Tanya Rahmawati.


"Tidak usah!" Jawab Farel. "Sudah terlambat, maka saya harus buru-buru berangkat."


"Makan?" Tanya Rahmawati.


***


Pesta perkawinan Toni dan Dilla diadakan secara meriah sekali. Yang paling menggirangkan hati pak Arif Budiman ialah besannya memberi kredit padanya, namun tidak terluput dari segala syarat yang berlaku. Rahmawati boleh dikatakan telah dilupakan oleh pak Arif Budiman, ia sibuk dengan modal barunya dan hanya berpikir memajukan perusahaannya yang sedang merosot dan mengalami kerugian secara besar-besaran.


Bahagiakah Dilla kawin dengan Toni? Ternyata Toni adalah seorang pemuda mata keranjang. Setelah melihat isterinya hamil, dengan diam-diam ia berpacaran lagi dengan gadis yang lain, lebih cantik dan lebih sexy daripada Dilla. Hal tersebut tidak diketahui oleh Dilla, namun pada suatu hari ketika Dilla sedang belanja untuk keperluan bayinya, tidak terduga sama sekali ia memergoki suaminya sedang bergandengan tangan dengan seorang gadis berbelanja di toko yang sama. Hampir tidak percaya pandangan Dilla, ketika ditegasi, ternyata benar bahwa suaminya sedang bergandengan tangan dengan seorang gadis yang sangat cantik.


"Toni..." Pekiknya dengan suara keras. Ia menghampiri suaminya dengan wajah pucat pasi.


"Kau... kau..." Spontan Dilla mengucurkan air matanya.


"Dilla, ini adalah sekretarisku!" Jawab Toni dengan tenang. "Dikarenakan tadi ada pertemuan, maka aku mengajaknya ke pertemuan itu, sekalian singgah di sini untuk berbelanja setelah selesai pertemuan!" Jelas Toni Adam.


"Kak Toni, inikah isterimu?" Tanya gadis itu dengan suara nyaring.


"Mari saya kenalkan!" Toni perkenalkan isterinya pada gadis itu.


"Saya bernama Asmara dan terus terang saja saya bukan sekretaris suamimu, saya adalah kekasihnya!" Gadis itu berterus terang.


"Toni!" Teriak Dilla. "Betulkah pengakuan gadis ini?"


"Ini... ini...!" Toni bingung mau menjawab seperti apa.


"Kak Toni, kenapa kau tidak berani berterus terang, bukankah di belakang isterimu kau sangat berani, malah kau pernah berkata akan bercerai dengan isterimu?" Ucap gadis yang bernama Asmara itu.


Hancur rasanya hati Dilla ketika mendengar ucapan gadis itu, dengan air mata bercucuran ia bertanya. "Toni, benarkah ucapannya?"


"Ini... mana mungkin. Saya hanya bercanda!" Ucap Toni.


"Apa?" Gadis itu mendelik. "Kau bercanda? kak Toni, kau harus hati-hati dengan ucapanmu, saya bukanlah seorang gadis yang gampang di permainkan." Tegas Asmara.

__ADS_1


"Toni... kau... kau...!" Dilla dengan hati hancur membalikkan badannya dan berlalu dari toko itu.


Sedangkan Toni masih berdiri terkesima di tempat, ia tidak menyangka akan bertemu dengan isterinya di toko itu.


"Kak Toni!" Ucap gadis itu yang bernama Asmara. "Kau lebih sayang isterimu atau lebih sayang saya? Kalau lebih sayang isterimu, saya harap kau jangan bertemu lagi dengan diri saya, susullah isterimu sekarang juga!" Ketus dan tajam suara gadis itu


"Memang saya mencintaimu, tapi dia adalah isteri saya, saya harus bagaimana?" Toni mengeluh.


"Pilih salah satu di antara kami!" Ucap gadis itu dengan tegas.


"Asmara, bagaimana saya berpikir dulu?" Ucap Toni bingung.


"Baik, sebelum ada keputusan, jangan kau bertemu dengan diri saya dan saya melarang kau datang ke rumah saya juga!" Gadis itu membalikkan badan dan langsung pergi.


"Asmara..." Teriak Toni.


Tapi gadis itu tidak menggubris teriakan Toni, langsung ia melambaikan tangannya dan sebuah taxi berhenti di depannya, dengan cepat gadis itu naik ke dalam taxi dan menghilang dari pandangan Toni. Toni Adam merasa kepalanya pusing tujuh keliling, ia berjalan bolak balik di depan toko itu, sehingga menyebabkan banyak orang memandangnya dengan perasaan heran.


Akhirnya ia ke tempat parkir mobil dan masuk ke dalam mobilnya, segera terdengar suara mesin mobil, tak lama kemudian ia meluncurkan mobilnya meninggalkan tempat parkir itu dan menuju ke rumahnya.


Tiba di rumah ia melihat isterinya atau Dilla sedang menangis di tempat tidur.


"Dilla..." Ia menghampiri isterinya. "Kau sudah pulang?" Ucap Toni.


"Toni, saya tidak sangka kau adalah seorang lelaki yang tak bertanggung jawab!" Ucap Dilla terisak-isak.


"Siapa bilang saya tidak bertanggung jawab?" Toni tersinggung. "Yang kau pakai serta kau makan siapa yang tanggung?"


"Saya sudah hampir melahirkan anak, tapi kau malah bermain cinta di luaran, pada hal kita kawin belum begitu lama, begitu tegakah hatimu?" Ucap Dilla terisak-isak.


"Lelaki bermain cinta di luaran adalah lumrah, kenapa kau kalut?" Ucap Toni.


"Saya kan isterimu, lagi pula bukankah kau sangat mencintai saya?" Balas Dilla.


"Memang saya sangat mencintaimu ketika kita masih berpacaran, tapi, kini..." Ucap Toni menyakitkan.


"Kini kau tidak mencintai saya lagi?" Pekik Dilla dengan suara yang keras.


"Kau adalah isteri, kau tidak berhak mencampuri urusan saya!" Toni mulia membentak.


"Saya adalah isterimu, maka saya berhak mencampurinya" balas Dilla.


"Ingat! Ini adalah rumah saya! Bukan rumah orang tuamu, kau jangan terlalu banyak bertingkah!" Toni membalikkan badannya dan keluar dari kamar, langsung ia pergi sambil mengendarai mobilnya.


Tinggal Dilla meratapi nasibnya dan dihibur oleh pembantunya. Perlu diketahui, setelah Toni dan Dilla kawin, orang tua Toni membelikan sebuah rumah baru untuk mereka, maka Dilla hanya tinggal bersama suaminya beserta pembantunya yang setengah tua.


"Nyonya, jangan menangis lagi!" Pembantu itu menghibur Dilla.


"Bi Ijah ..." Dilla memeluk bi Ijah sambil menangis tersedu-sedu. "Tidak disangka suami saya bersifat demikian!"


"Nyonya, jangan bersedih, jagalah dirimu baik-baik, karena nyonya sudah hampir cukup bulan!" Bi Ijah menghela nafas. "Apakah nyonya ingin minum susu?"


"Tidak usah bi Ijah! Saya ingin ke rumah orang tua saya sebentar, jagalah rumah baik-baik!" Ucap Dilla kemudian.


"Ya! Nyonya!" Balas Bi Ijah.


Laporan khusus segera disampaikan oleh Dilla kepada orang tuanya, kaget orang tua Dilla menerima laporan tersebut, mamahnya ikut meneteskan air matanya sedangkan papahnya berdiri mematung di tempat. Demikianlah percekcokan mulut sering terjadi di antara Toni dan Dilla, di samping itu, Toni sering pulang malam dan tidak mengacuhi keadaan isterinya, hal tersebut membuat hati Dilla bertambah hancur dan berduka.


Ketika Dilla melahirkan, ia hanya ditemani oleh bi Ijah, sedangkan Toni entah ke mana. Betapa remuknya hati Dilla di saat itu, suara tangisan bayinya menambah kepedihan hatinya. Tiada henti-hentinya air matanya mengalir. Seminggu kemudian Dilla keluar dari rumah sakit tanpa dijemput oleh suaminya, hanya bi Ijah yang menjemputnya pulang.


Beberapa bulan kemudian, terpaksa Dilla kembali ke rumah orang tuanya sambil menggendong bayinya, keretakan keluarganya menyebabkan ia harus berbuat demikian, yang paling mengiris hatinya ialah jarang sekali Toni mengajaknya berbicara. Kenyataan tersebut memaksa dirinya harus kembali ke rumah orang tuanya dengan ratapan yang memilukan.

__ADS_1


__ADS_2