
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, Farel tinggal di rumah pak Ismo Harsoyo sudah hampir sebulan. Boleh dikatakan kota Jakarta telah dihafal oleh Farel, karena dahulu kala Farel pun pernah tinggal di kota Jakarta ini walau pun akhirnya balik kembali ke kampung halaman ibu angkatnya Cindy di kota Lampung dan di samping itu ia sangat berterimakasih pada kebaikan om dan tantenya, terutama pada Amanda yang selalu mencuci pakaiannya.
Mulailah Farel mencari pekerjaan, hampir seharian ia masuk toko ke luar toko atau masuk kantor ke luar kantor, namun, tetap sia-sia dan hasilnya nihil, malah ia merasa perutnya lapar. Terpaksa ia singgah di sebuah warung nasi di pinggir jalan, dengan lahap ia menyikat sepiring nasi serta lauk-pauknya, ditambah lagi dengan segelas air teh, spontan perutnya menjadi kenyang, tanpa disadari ia mengusap perutnya sambil membayar semua makanan dan minuman yang ia makan.
Mulai lagi ia berputar-putar hingga tujuh keliling, tetap saja hasilnya nihil, dengan lesu ia berjalan sambil menundukkan kepalanya, kebetulan ia melewati sebuah sekolahan yang sedang bubar.
Seorang gadis berdiri di pinggir jalan sambil menunggu kendaraan, tangan kirinya membawa buku-buku pelajaran. Farel tidak melihat ke depan, kepalanya tetap menunduk dan sepatunya menendang batu kerikil. Dirinya semakin mendekati gadis itu tanpa disadari oleh Farel, sedangkan gadis itu juga tidak mengetahui adanya sebuah pemuda yang mendekatinya. Tiba-tiba "Buk!" terjadilah tubrukan maut tubuh dengan tubuh.
"Aduh!" Gadis itu berteriak dan badannya sempoyongan serta buku-bukunya berantakan dipinggir jalan.
"Maaf! Maaf! Saya tidak sengaja!" Buru-buru Farel membungkukkan badannya untuk memunguti buku-buku gadis itu, setelah beres, dengan wajah malu-malu dan perasaan minta maaf, ia menghampiri gadis itu seraya menyodorkan buku-buku tersebut kepada gadis itu. "Maaf, nona eh! Saudari, saya tidak sengaja!" Lanjut Farel lagi.
"Bagaimana sih cara anda jalan?" Suaranya halus serta merdu, ia menatap sejenak ke arah Farel, perasaan aneh mengusik-ngusik dirinya, mendadak wajahnya memerah. Dengan cepat ia menyambut buku-bukunya.
"Maaf, nona!" Ucap Farel berdiri terkesima sambil menatap gadis itu. "Betul-betul bukannya disengaja!" Lanjutnya.
"Untung saya yang ditubruk, bagaimana seandainya mobil yang sedang jalan ditubruk oleh anda?" Gadis itu mengerling sebentar, kemudian ia tersenyum.
Senyumannya menggetarkan kalbu Farel, sehingga sukmanya entah terbang ke mana? Ia melongo serta ikut tersenyum, wajahnya ganteng polos, hal tersebut diketahui oleh gadis itu, hatinya juga agak tertarik pada pemuda yang berada di hadapannya, walau pakaian pemuda tersebut berbau keringat.
"Jangan melongo terus, nanti ditubruk mobil baru tahu rasa!" Ucap gadis itu tersenyum lagi.
"Waduh!" Farel berseru.
"Ada apa?" Gadis itu membelalakkan matanya.
"Senyuman nona sangat ... sangat menawan hati!" Balas Farel sedikit menggoda.
"Eh! Jangan genit!" Hati gadis itu merasa senang mendengar pujian Farel, apalagi Farel seorang pemuda ganteng pujaan setiap gadis remaja.
"Saya berkata sejujurnya!" Kata Farel meyakinkan
"Eh! Kenapa anda jalan tidak melihat ke depan, sehingga menubruk saya?" Tanya gadis itu mendadak.
"Saya sedang kesal!" Jawab Farel.
"Kesal kenapa? Ditinggal pacar?" Ucap gadis itu lagi.
"Bukan ditinggal pacar, jangankan pacar, sedangkan teman wanita masih belum ada yang berkenan di hati." Jawab Farel sejujurnya. "Saya kesal hampir seharian keliling-keliling mencari pekerjaan belum dapat!" Jelas Farel.
"Oh! Anda sedang mencari pekerjaan dan belum dapat? Pantas ...!" Gadis itu memanggut-manggut.
"Pantas kenapa?" Farel heran.
"Pantas saya yang ditubruk!" Gadis itu tertawa kecil.
__ADS_1
Hati Farel memekar cerah, sehingga wajahnya memperlihatkan senyumannya yang memikat, matanya juga ikut bercahaya.
"Sekali lagi saya minta maaf!" Ucap Farel sungguh-sungguh.
"Tidak usah minta maaf lagi." Tiba-tiba sekilas pikiran melewati otak gadis itu. "Oh ya! Bagaimana kalau kita berkenalan?" Lanjut gadis itu.
"Berkenalan?" Hati Farel berdebar-debar girang.
"Ya!" Lanjutnya kembali singkat.
"Kenapa anda ingin berkenalan dengan saya?" Tanya Farel.
"Saya ingin berkenalan disebabkan anda kelihatannya jujur serta berterus-terang dan sikap anda wajar, bukan dibikin-bikin!" Kata gadis itu menerangkan.
"Tapi ..., saya merasa malu!" Ucap Farel.
"Malu dikarenakan kerendahan hati tidaklah benar!" Ujar gadis itu. "Malu dikarenakan perbuatan yang salah barulah betul !" Tegas gadis itu.
"Kalau demikian berarti kita harus berkenalan?" Farel masih merasa rendah hati.
"Kau keberatan?" Tanya gadis itu bimbang, berarti keinginan hatinya tidak mau ditolak.
"Baiklah!" Farel mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Nama saya Farel, umur dua puluh tahun, tinggal di rumah om, lulusan Sekolah Menengah Atas, belum mendapatkan pekerjaan." Detail Farel dalam perkenalannya.
Gadis itu hampir tertawa terpingkal-pingkal ketika mendengar Farel menyebutkan identitasnya.
"O ya! Nona ..." Ucap Farel.
"Jangan sebut nona lagi, kedengarannya, seperti belum berkenalan!" Potong Rahmawati yang berwajah cantik jelita.
"Baiklah! Rahma sedang menunggu kendaraan?" Tanya Farel sambil melepaskan telapak tangan, kehangatan tangan Rahma masih terasa oleh Farel, malah mulai menerobos ke dalam hatinya.
"Ya!" Jawab Rahma, hati gadis itu juga berdebar-debar. "Sebetulnya saya selalu di antar jemput oleh sopir, hanya hari ini. sopir sedang repot, terpaksa saya menunggu taxi!" Jelas Rahmawati lagi.
"Kau puteri orang kaya?" Balas Farel.
"Kau senang berkenalan dengan puteri orang, kaya?" Tanya Rahmawati.
"Tidak!" Seru Farel. "Sebab saya adalah pemuda miskin, maka saya kuatir tidak memadai keadaanmu ..., selamat tinggal!" Farel siap meninggalkan Rahmawati.
"Jangan pergi dulu!" Buru-buru Rahmawati mencegahnya. "Kenapa kau menitik beratkan persoalan antara miskin dan kaya?" Tanya Rahmawati.
"Sebab saya tidak ingin menyaksikan dirimu ditertawakan oleh teman-temanmu, dari pada terlanjur, lebih baik anggap saja kita belum pernah berkenalan!" Hati Farel kecewa disebabkan Rahmawati adalah puteri orang kaya.
"Karena sudah terlanjur, maka harus diteruskan!" Sambung Rahmawati.
__ADS_1
"Saya merasa tak sepadan!" Ucap Farel tegas.
"Tidak apa-apa!" Rahmawati mengangkat bahunya.
"Seandainya kau melangkah pergi, saya akan berteriak maling atau pencopet, silahkan pergi!" Ancam Rahmawati.
"Hah! Kenapa harus demikian?" Farel bersungut-sungut. "Orang tidak jadi berkenalan, mau dipaksa!" Lanjut Farel.
"Kau yang tidak sportip, sudah berkenalan ingin membatalkan!" Rahmawati cemberut dan matanya melotot.
"Anggap saja kita sedang berbasa-basi, maka..." Jelas Farel lagi.
"Maka kau terima dan sekarang menolak?" Tiba-tiba Rahmawati tersenyum manis. "Yang kaya kan orangtua saya, sedangkan saya sendiri kan miskin!" Lanjutnya.
"Semiskin-miskinnya kau, tetap orangtua mu kaya!" Farel melangkah.
"Ma ..." Rahmawati berseru. "Ada ma....!"
Secepat kilat Farel membalikkan badannya dengan wajah resah, ia menatap Rahmawati dengan kesal.
"Kalau saya digebuk orang-orang, hatimu senang ya?" Tegas Farel.
"Mana mungkin hati saya senang!" Rahmawati tertawa geli. "Sudahlah! Jangan singgung soal kaya atau miskin." Mendadak Rahmawati mendekati Farel sambil mengulurkan tangannya. "Saya minta maaf!"
Terpaksa Farel juga mengulurkan tangannya, terjadilah salaman yang kedua kalinya.
Mendadak Rahmawati memperlihatkan senyumannya yang menarik, tanpa disadari, Farel juga ikut tersenyum dan akhirnya mereka tertawa-tawa seperti orang asing hidup di luar angkasa.
Lama baru mereka melepaskan tangan masing-masing.
"Farel!" Ucap Rahmawati mendadak. "Bagaimana kita singgah di warung itu," Rahmawati menunjuk ke arah seberang jalan. "Sekedar kita minum untuk menghilangkan dahaga!" Lanjutnya.
"Jangan!" Ucap Farel dengan cepat.
"Saya yang traktir!" Rahmawati menarik tangan Farel untuk menyeberang.
Tiba di warung seberang, mereka duduk di bangku panjang, Rahmawati memesan dua botol minuman, ibu warung menyediakan dua gelas es. Rahmawati menuangkan minuman itu ke gelas Farel, setelah itu, ia baru menuangkan ke gelas sendiri dengan wajah berseri-seri.
"Silahkan minum!" Ucap Rahmawati ramah.
"Terimakasih!" Farel mengangkat gelasnya serta meneguk beberapa kali, demikian juga Rahmawati.
"Farel, bolehkah saya mengetahui alamatmu?" Balas Rahmawati.
"Boleh!" Farel meletakkan gelasnya.
__ADS_1
Kemudian ia memberitahukan alamatnya, Rahmawati juga tidak mau ketinggalan, dengan cepat ia merobek selembar kertas tulis, ia menuliskan alamatnya dan mencatat alamat Farel, alamat Farel disimpannya, kemudian ia memberikan alamatnya kepada Farel seraya berkata, "Inilah alamat saya!"
Farel menyambut dan memasukkan ke dalam kantong bajunya, kemudian ia berkata: "Terus terang saja, saya tidak berani ke rumahmu."