
Beberapa hari kemudian, Farel telah mendapatkan rumah kontrakan yang sederhana, ruangan tamu, dua buah kamar tidur serta dapur dan wc, air pompa yang bersih. Tiga tahun Farel mengontrak rumah itu. Pagi-pagi mereka telah pindah ke rumah kontrakan tersebut, di hari itu juga Farel membeli sebuah ranjang besi dan kursi meja serta perabotan rumah tangga, tidak ketinggalan sebuah lemari pakaian juga.
Keesokan harinya, Farel mulai berusaha mencari pekerjaan lagi, hampir seharian Farel berusaha, namun, hasilnya tetap nihil, dengan lesu ia pulang ke rumah, begitu sampai di rumah, Rahmawati telah menyambutnya dengan wajah berseri-seri.
"Farel. apakah kau merasa letih?" Tanyanya.
"Letih juga!" Farel tersenyum.
"Duduk sebentar untuk menghilangkan lelah, saya akan ke dalam mengambilkan air minum!" Rahmawati masuk ke dalam.
Farel duduk sambil menyandarkan punggungnya ke belakang, tak lama kemudian. Rahmawati keluar lagi sambil membawakan air minum untuk Farel.
"Farel. minum dulu!" Farel menyambutnya serta langsung ia meneguk hingga habis, kemudian ia meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Farel!" Ucap Rahmawati sambil duduk di sebelah Farel. "Bagaimana seandainya saya yang mencari pekerjaan?"
"Jangan dulu!" Jawab Farel. "Kalau kau yang bekerja, muka saya ditaruhkan di mana?"
"Ini bukan soal muka. tapi soal penghidupan!" Balas Rahmawati.
"Lebih baik jangan dulu. karena saya adalah lelaki, maka saya harus bertanggung jawab dalam hal ini!" Ucap Farel tegas.
"Oh ya! Farel, bagaimana besok kita bikin surat kawin?" Ucap Rahmawati.
"Besok?" Farel berpikir sebentar. "Baiklah!" Jawab Farel tersenyum.
"Farel. kau sudah makan belum?" Tanya Rahmawati sambil tersenyum. "Kalau belum akan saya sediakan!"
"Kau sudah makan?" Tanya Farel.
"Belum!" Jawab Rahmawati.
"Baiklah! Kita makan dulu!" Mereka masuk ke dalam, Rahmawati menyendokkan nasi serta mengeluarkan dua butir telur asin serta tempe goreng ke atas meja makan."
"Rahma, tidak disangka kau akan makan telur asin serta tempe goreng!" Farel tersenyum sambil duduk.
"Apakah tidak boleh?" Rahmawati juga tersenyum. "Hidup harus sederhana dan jangan terlalu berfoya-foya!" Mulailah mereka makan sambil mengobrol.
"Rahma, apakah kau menyesal?" Tanya Farel.
"Kalau saya bakal menyesal, tidak mungkin saya mengikutimu!" Jawab Rahmawati.
__ADS_1
"Sebetulnya kau adalah puteri orang kaya, namun, demi diri saya, kau rela hidup melarat." Ucap Farel.
"Farel, kita tidak hidup melarat!" Ucap Rahmawati sungguh-sungguh. "Malah saya merasa kita sangat kaya!"
"Kaya?" Terbengong Farel sejenak.
"Ya!" Jawab Rahmawati. "Kita kaya dengan cinta kasih yang suci murni, coba kita bayangkan, di mana ada manusia berlainan jenis tinggal di dalam satu rumah tanpa melakukan hubungan, apa lagi seperti diri kita telah disahkan sebagai suami isteri." Rahmawati tersenyum geli.
"Kita menjadi suami isteri dikarenakan keadaan yang memaksa, maka walaupun kita besok telah membikin surat kawin, tetap saya tidak akan melakukan hubungan suami isteri, hal ini saya harap kau mengerti adanya." Balas Farel.
"Saya mengerti perasaanmu!" Rahmawati memandang kagum ke arah Farel. "Saya berani mengikutimu disebabkan saya mengetahui kau adalah pemuda yang baik!"
"Baiklah! Rahma, kita telah selesai makan, mari kita mengobrol saja di ruangan tamu!" Lanjut Farel.
"Saya akan membersihkan meja makan serta mencuci piring dulu!" Jawab Rahmawati.
"Oh... ya! Saya hampir lupa." Farel tersenyum. "Belum mandi!"
"Kalau begitu, kau mandi dulu!" Ucap Rahmawati.
"Oke!" Farel mengangguk.
Farel menuju ke kamar mandi, sedangkan Rahmawati menuju ke tempat cucian piring. Berselang beberapa saat, Farel telah selesai mandi dan Rahmawati pun telah beres mencuci piring-piring yang kotor. Setelah menyisir, Farel menuju ke ruangan tamu dan duduk sambil menyandarkan punggungnya ke belakang. Rahmawati keluar dari kamarnya, kemudian ia pun duduk di sebelah Farel.
"Saya rasa papah dan mamah saya tetap sehat walafiat!" Ucap Rahmawati.
"Mudah-mudahan demikian adanya!" Ucap Farel. "Entah kapan baru kita akan menampakkan diri di hadapan papimu? Bisakah saya maju?" Ucap Farel.
"Saya yakin dan percaya bahwa kau akan maju." Ucap Rahmawati sungguh-sungguh. "Kita harus membikin kejutan."
"Untuk mengejutkan siapa?" Tanya Farel.
"Papah saya!" Rahmawati tertawa kecil. "Sebab papah saya pernah menganggap bahwa dirimu tidak mampu apa-apa, maka kau harus memperlihatkan kemampuanmu!"
"Oh... ya! Rahma, benarkah Dilla berpacaran dengan anak orang kaya?" Tanya Farel.
"Benar!" Jawab Rahmawati. "Kalau tidak salah anak dari presiden direktur Bank!"
"Kalau demikian, kaya juga pemuda itu!" Jelas Farel.
"Bukan pemuda itu yang kaya, melainkan orang tuanya yang kaya!" Ucap Rahmawati.
__ADS_1
"Rahma, saya adalah putera dari orang terkaya!" Farel tertawa terbahak-bahak.
"Kaya dengan kejujuran serta kesucian cinta kasih!" Rahmawati tersenyum geli.
"Rahma...!" Tiba-tiba Farel membisik. "Saya harap kau jangan salah duga atau salah sangka, saya tidak mau melakukan hubungan suami isteri bukanlah dikarenakan saya impoten, melainkan saya menjaga martabat serta moral saya!" Ucap Farel.
"Farel... kau..." Spontan wajah Rahmawati berobah merah saking malu.
"Rahma, saya memberitahukan kepadamu supaya kau jangan salah paham." Farel nyengir.
"Saya... saya mengerti!" Rahmawati menundukkan kepalanya.
"Rahma, mulai besok kita harus bertambah irit, supaya jangan sampai kehabisan ongkos dapur." Ucap Farel.
"Ya!" Rahmawati mendongakkan kepalanya. Ia menatap Farel dengan penuh kasih sayang.
"Besok setelah beres mengurusi surat kawin, saya akan langsung mencari pekerjaan dan kau pulang sendiri saja, bagaimana?" Ucap Farel.
"Boleh!" Rahmawati mengangguk. "Saya doakan supaya besok kau akan mendapat pekerjaan."
"Terimakasih atas doamu!" Ucap Farel.
"Farel, kalau kau sudah mendapat pekerjaan, apakah kau akan meneruskan kuliah?" Tanya Rahmawati.
"Mungkin saya akan masuk akademi Akunting!" Balas Farel.
"Bagus! Saya setuju!" Rahmawati berseru dengan girang. "Kalau kau sudah selesai kuliah akademi Akunting, berarti kau bisa mempunyai kedudukan dan gajimu cukup lumayan, di saat itu kita bias mengumpulkan uang, setelah cukup kita akan membeli rumah." Ucap Rahmawati.
"Mudah-mudahan harapan kita bisa tercapai!" Balas Farel.
Setelah larut malam, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.
"Selamat tidur Rahma!" Ucap Farel.
"Selamat tidur Farel sampai bertemu lagi esok pagi!" Balas Rahmawati tersenyum.
***
Esok pagi, setelah selesai mengurusi surat kawin, langsung Farel berusaha mencari pekerjaan lagi, ia keliling-keliling hampir setengah harian, hasilnya tetap nihil, tiba-tiba ia melihat sebuah gedung bertingkat-tingkat menjulang ke langit. Penuh sesak mobil diparkirkan di depan gedung tersebut. Farel berdiri terbengong sejenak.
Mendadak sekelebatan pikiran melewati otaknya.
__ADS_1
"Eh! Kenapa saya tidak mau coba-coba mengadu untung ke dalam gedung ini? Siapa tahu saya bisa mendapat pekerjaan di dalam gedung yang mewah ini?"
Lantas ia memberanikan dirinya masuk ke dalam gedung tersebut, hawa AC yang dingin melenyapkan kepanasannya yang tersorot oleh terik matahari. Dengan dada sedikit terangkat ia memasuki pintu kaca dan langsung menuju ke sebuah ruangan yang bertulisan: INFORMATION. Seorang gadis cantik menyambut kedatangan nya sambil tersenyum-senyum.