LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 88 : MEMINTA KEPASTIAN


__ADS_3

Di taman kampus, nampak Balqis duduk sendirian


dengan wajah murung. Matanya memandang lepas tak


bertuju. Sepertinya ada masalah yang sedang dia hadapi.


Beberapa kali juga, dia nampak menarik napas dalam-dalam, seakan berusaha untuk melegakan dadanya yang


terasa sesak oleh beban kehidupan dan masalah yang sedang


dihadapinya. Masalah cinta yang telah dia perjuangkan dengan segenap perasaannya. Bahkan untuk cinta, dia telah menyerahkan kegadisannya pada lelaki yang dia ciatai.


Lelaki yang dihadapkan akan menjadi pendamping


hidupnya kelak, dengan anak-anak yang lucu dan


menyenangkan.


Jika ingat akan lamunannya bisa hidup bahagia bersama kekasihnya kelak dan anak hasil cinta kasih mereka, Balqis tersenyum-senyum sendiri. Namun setiap kali ingat akan hubungan mereka yang sampai sekarang


masih belum menentu, Balqis jadi sedih. Selama hampir


tiga tahun dia berhubungan dengan Cevin, tak sekali pun


dia bertemu dengan keluarga Cevin, terutama kedua orang


tua kekasihnya. Sehingga dia belum bisa memastikan,


apakah hubungannya dengan Cevin disetujui atau tidak


oleh kedua orang tua kekasihnya itu.


Padahal dia sudah menyerahkan segala yang dia miliki pada Cevin. Apa. jadinya, kalau sampai kedua


orang tua Cevin tidak menyetujui hubungan cinta mereka?


Saking asyiknya melamun, sampai-sampai Balqis


tidak menyadari kalau pemuda yang sedang ada dalam


lamunannya, kini sudah berada di belakangnya.


Cevin memang datang secara diam-diam. Dia ingin menggoda kekasihnya. Dan dengan hati-hati sekali, Cevin


mendekati Balqis yang masih asyik dengan lamunannya.


Lalu kedua tangannya segera ditutupkan di kedua mata


Balqis, yang dengan segera memegang kedua tangan


pemuda itu.


"Cevin..."


Tebak Balqis.


Cevin membuka kedua tangannya.


"Bagaimana kau tahu kalau aku yang menutup matamu?" tanya Cevin dengan bibir tersenyum. Matanya


memandang lekat ke wajah Balqis yang cantik.


"Jelas aku tahu..."


Balas Balqis.


"Bagaimana caranya?"


Tanya Cevin.


"Aku.sudah mengenal dirimu luar dalam, Vin..."


Balas Balqis lagi.


"O, begitu...?"


Ucap Cevin singkat.


Balqis menghela napas dalam-dalam.


Sesaat keduanya terdiam.


"Vin...," akhirnya Balqis membuka kata.


"Ya."


Jawab Cevin lirih.


Kembali Balqis tidak langsung bicara. Wajahnya masih menggambarkan kemurungan. Dan semua itu,


semakin membuat Cevin bertanya-tanya, ada masalah apa


sebenarnya dengan kekasihnya. Sehingga tidak biasanya


Balqis menunjukkan wajah murung.


"Ada apa, Qis...?" tanya Cevin setelah duduk disamping Balqis yang kini wajahnya kembali menggambarkan kemurungan. Seakan ada masalah yang


tengah membebani pikiran gadis cantik primadona kampus


itu.


"Kau. nampak murung... Kenapa...?" desak Cevin, ingin tahu apa yang menyebabkan kekasihnya nampak


murung. Matanya masih memandang lekat ke wajah


kekasihnya.


"Aku takut, Vin...," desah Balqis dengan suara lirih.


"Takut kenapa...?" tanya Cevin. "Apa Tante Cindy marah padamu...?"


Ucap Cevin menyebutkan kemungkinan yang terjadi pada Balqis dan mamahnya.


Balqis menggeleng...!!!


"Lalu, apa yang kau takutkan...?" kembali Cevin mendesak dengan mata masih lekat menatap wajah Balqis, ingin mengetahui" apa yang menyebabkan kekasihnya itu murung dan mengatakan takut. Apa yang ditakutinya?


Sesaat Balqis menghela napas dalam-dalam, kemudian


dengan suara lirih dia pun mengatakan apa yang membuatnya takut. Dan membebani pikirannya. Sehingga membuatnya jadi murung.


"Vin..." Ucap Balqis.


"Ya."


Balas Cevin.


"Tiga bulan ini aku tidak mens."


Jujur Balqis.

__ADS_1


"Oh ya...?"


Cevin memberikan tanggapan singkat.


"Ya," jawab Balqis disertai desah lirih. Matanya balas menatap lekat ke wajah Cevin.


Seakan ingin menyelidiki, bagaimana reaksi


kekasihnya.


"Itu yang membuatmu takut...?" kembali Cevin bertanya.


"Ya. Aku takut hamil, Vin..." Cevin tersenyum senang. Tangannya memegang pundak Balqis. Matanya memandang lekat ke wajah


Balqis, yang balas memandang ke arahnya dengan wajah masih menunjukkan ketidakmengertian akan sikap


kekasihnya. Juga masih menggambarkan kecemasan serta


kekhawatiran akan apa yang tengah terjadi padanya.


"Kenapa kau tersenyum, Vin...?" tanya Balqis tak mengerti akan arti senyum kekasihnya. "Aku sudah


memeriksakannya ke dokter dan ternyata aku memang


hamil, Vin..."


Jelas Balqis.


Cevin semakin melebarkan senyumnya, yang semakin membuat Balqis kian bertambah tidak mengerti


akan arti senyum lelaki tampan yang telah membuatnya


jatuh cinta. Dan mau menyerahkan segala yang dimilikinya


pada pemuda itu.


"Aku senang mendengarnya," jawab Cevin masih dengan bibir tersenyum dan mata lekat memandang ke


wajah Balqis. Membuat Balqis semakin tidak mengerti


akan maksud kekasihnya yang sebenarnya.


"Benarkah kau senang...?" tanya Balqis dengan mata


balas memandang lekat ke wajah Cevin, seakan dia ingin


meminta kepastian dari pemuda itu.


Cevin mengangguk tegas dengan bibir masih tetap


dihiasi senyum. Senyum yang terasa menyejukkan dan


seakan berusaha meyakinkan Balqis. Senyum tegas


seorang lelaki yang penuh tanggung jawab, yang siap menjalani dan menyongsong kehidupan bersama wanita yang dicintainya.


"Kenapa...?"


Tanya Balqis.


"Karena memang hal itu yang aku inginkan."


Balas Cevin.


"Maksudmu...?" Balqis masih bertanya, sebab dia


masih belum mengerti akan maksud kekasihnya yang


sebenarnya, juga akan kesungguhan Cevin pada masalah


"Kau tak perlu khawatir, Qis...," kata Cevin menghibur dengan bibir masih mengurai senyum. Matanya


masih memandang lekat ke wajah cantik Balqis. "Kalau


kau mengandung. Karena itu memang yang kukehendaki,


Qis," katanya kemudian dengan bibir masih mengembang


kan senyum. Matanya masih memandang lekat ke wajah


Balqis, seakan dia berusaha untuk memberi keyakinan dan


menenangkan hati gadis itu. Agar Balqis tidak perlu


mencemaskan dan mengkhawatirkan apa yang kini tengah di alaminya.


"Aku tak mengerti, Vin."


Ucap Balqis bingung.


"Kau tahu, dengan kehamilanmu aku bisa memberi


alasan pada kedua orang tuaku, kalau aku harus bertanggung


jawab atas kehamilanmu... ?" kata Cevin masih dengan


bibir tersenyum senang, berusaha meyakinkan kekasihnya


agar kekasihnya tidak perlu mencemaskan kehamilannya.


"Pokoknya kau tak perlu khawatir, Qis. Aku akan tetap


menikahimu..."


Lanjut Cevin.


"Benarkah...?" tanya Balqis meminta kepastian.


Matanya masih memandang lekat ke wajah Cevin yang


duduk di sampingnya dengan tatapan mata redup.


"Kau harus percaya padaku, Qis... Apa selama ini aku


pernah mengecewakan dan ingakar padamu...?" kata


Cevin masih tetap berusaha meyakinkan kekasihnya,


kalau dia bersungguh-sungguh akan bertanggung jawab.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu...?" tanya


Balqis masih menunjukkan wajah khawatir.


Cevin tersenyum...!!!


"Aku yakin, mereka akan mau mengerti."


Ucap Cevin kemudian membuat hati Balqis terasa damai dalam sebuah kegersangan yang sengaja mereka buat bersama.


Digenggamnya tangan Balqis dengan bibir tersenyum dan

__ADS_1


mata masih memandang lekat ke wajah gadis itu, seakan


berusaha meyakinkan Balqis kalau mereka pasti akan


bersatu. Kalau kedua orang tua Cevin akan menyetujui pernikahan mereka.


"Kau harus yakin, Qis...," katanya kemudian masih


menggenggam tangan Balqis dan matanya masih tetap


memandang lekat ke wajah gadis cantik itu.


Balqis hanya diam menunduk dengan mata berlinang. Haru mendengar ucapan kekasihnya. Bangga,


karena Cevin akan menjadi suaminya. Lelaki yang dicintai


dan disayanginya itu, akan bertanggung jawab menikahinya. Itu berarti apa yang. diingingkan dan diharapkannya bakal terlaksana. Dia bisa membina rumah tangga dengan


Cevin. Bisa mendidik dan membesarkan anak-anak


mereka dengan penuh cinta kasih. Itulah keinginannya


selama ini. Tak ada keinginan lainnya.


"Kita harus secepatnya menikah, Vin. Sebab kini aku


sudah mengandung tiga bulan. Aku khawatir, perutku semakin lama akan semakin membesar dan kelihatan. Aku


akan malu sekali, Vin...," desah Balqis lirih.


"Aku mengerti. Percayalah, aku akan secepatnya melamarmu dan kita akan segera menikah," kata Cevin


masih berusaha meyakinkan kekasihnya. Digenggamnya


tangan Balqis dengan erat. Terus berusaha memberikan


ketenangan hati gadis itu, agar bisa menghadapi semua


masalah "Kita akan membina rumah tangga seperti yang kita


impikan selama ini, Qis..."


Balqis kembali menghela napas dengan mata masih


memandang lekat ke wajah Cevin.


Cevin tersenyum penuh arti, "Oh ya, Qis, apa mamahmu sudah mengetahui?"


Lanjut tanya Cevin.


"Belum. Aku takut, Vin. Kau tahu sendiri, mamahku


pasti akan memarahiku kalau mengetahui aku hamil," desah


Balqis lirih dengan wajah masih menggambarkan


kesenduan.


"Ya, aku mengerti..." Ucap Cevin.


"Itu sebabnya aku ingin kau segera melamarku dan


menikahiku, Vin. Sebab aku tidak ingin mamahku serta


orang lain mengertahui kehamilanku ini," desah Balqis


disertai dengan helaan napas dalam-dalam.


Herman manggut-manggut...!!!


"Aku mengerti," katanya lirih. "Dan aku akan segera


menikahimu..." ujarnya kemudian masih dengan wajah


menunjukkan keseriusan dan bibir, dihias senyum,


mengharap Balqis akan mempercayai ucapannya.


Sesaat Balqis terdiam dengan mata memandang ke


wajah Cevin. Tidak lama kemudian, akhirnya Balqis pun


bisa kembali berkata meski suaranya lirih.


"Kutunggu, Vin." Ucap Balqis lirih penuh pengharapan.


Cevin tersenyum...!!!


"Sebentar lagi kuliah dimulai, Qis. Ayo kita masuk,"


ajak Cevin sambil membimbing kekasihnya. Keduanya


pun. meninggalkan taman kampus, untuk mengikuti mata


kuliah yang sebentar lagi akan dimulai.


Sepanjang kuliah dilangsungkan, Cevin beberapa kali nampak menengok ke arah Balqis. Pemuda itu merasa


kasihan melihat kekasihnya yang kelihatannya masih belum


bisa tenang. Dia maklum akan kesulitan yang dialami oleh


Balqis. Bagaimana juga, sebagai wanita Balqis patut bingung, karena dia sedang mengandung. Dan betapa akan malunya Balqis, kalau sampai kandungannya membesar


belum menikah. Apa kata orang nantinya?


Balqis memang sedang mencemaskan status hubungannya dengan Cevin yang selama ini belum juga


diketahui bagaimana hasilnya. Karena selama tiga tahun dia


menjalin cinta dengan Cevin, belum pernah sekali pun


Cevin mempertemukan dia dengan kedua orang tua pemuda itu. Disamping itu, orang tua Cevin memang beberapa tahun belakangan ini


jarang berada di rumah. Mereka menjadi dan merupakan orang-orang


sibuk, yang lebih banyak waktunya di luar, ketimbang,


berada di rumah. Jadi Balqis belum tahu, apa kedua orang


tua Cevin setuju hubungan anaknya dengan dia atau tidak.


Balqis juga kadang merasakan kecemasan, takut kalau-kalau Cevib tidak bertanggung jawab. Apa jadinya


nanti dengan dia dan anak yang dikandungnya, kalau sampai


Cevin tidak bertanggung jawab?


Tapi nampaknya Cevin benar-benar akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Itu


semua bisa dibuktikan dari perkataannya tadi di taman kampus. Ya, semoga saja Cevib memang bertanggung

__ADS_1


jawab atas perbuatannya. Hanya harapan itu yang bisa


sedikit menenangkan perasaan hati Balqis.


__ADS_2