
Di taman kampus, nampak Balqis duduk sendirian
dengan wajah murung. Matanya memandang lepas tak
bertuju. Sepertinya ada masalah yang sedang dia hadapi.
Beberapa kali juga, dia nampak menarik napas dalam-dalam, seakan berusaha untuk melegakan dadanya yang
terasa sesak oleh beban kehidupan dan masalah yang sedang
dihadapinya. Masalah cinta yang telah dia perjuangkan dengan segenap perasaannya. Bahkan untuk cinta, dia telah menyerahkan kegadisannya pada lelaki yang dia ciatai.
Lelaki yang dihadapkan akan menjadi pendamping
hidupnya kelak, dengan anak-anak yang lucu dan
menyenangkan.
Jika ingat akan lamunannya bisa hidup bahagia bersama kekasihnya kelak dan anak hasil cinta kasih mereka, Balqis tersenyum-senyum sendiri. Namun setiap kali ingat akan hubungan mereka yang sampai sekarang
masih belum menentu, Balqis jadi sedih. Selama hampir
tiga tahun dia berhubungan dengan Cevin, tak sekali pun
dia bertemu dengan keluarga Cevin, terutama kedua orang
tua kekasihnya. Sehingga dia belum bisa memastikan,
apakah hubungannya dengan Cevin disetujui atau tidak
oleh kedua orang tua kekasihnya itu.
Padahal dia sudah menyerahkan segala yang dia miliki pada Cevin. Apa. jadinya, kalau sampai kedua
orang tua Cevin tidak menyetujui hubungan cinta mereka?
Saking asyiknya melamun, sampai-sampai Balqis
tidak menyadari kalau pemuda yang sedang ada dalam
lamunannya, kini sudah berada di belakangnya.
Cevin memang datang secara diam-diam. Dia ingin menggoda kekasihnya. Dan dengan hati-hati sekali, Cevin
mendekati Balqis yang masih asyik dengan lamunannya.
Lalu kedua tangannya segera ditutupkan di kedua mata
Balqis, yang dengan segera memegang kedua tangan
pemuda itu.
"Cevin..."
Tebak Balqis.
Cevin membuka kedua tangannya.
"Bagaimana kau tahu kalau aku yang menutup matamu?" tanya Cevin dengan bibir tersenyum. Matanya
memandang lekat ke wajah Balqis yang cantik.
"Jelas aku tahu..."
Balas Balqis.
"Bagaimana caranya?"
Tanya Cevin.
"Aku.sudah mengenal dirimu luar dalam, Vin..."
Balas Balqis lagi.
"O, begitu...?"
Ucap Cevin singkat.
Balqis menghela napas dalam-dalam.
Sesaat keduanya terdiam.
"Vin...," akhirnya Balqis membuka kata.
"Ya."
Jawab Cevin lirih.
Kembali Balqis tidak langsung bicara. Wajahnya masih menggambarkan kemurungan. Dan semua itu,
semakin membuat Cevin bertanya-tanya, ada masalah apa
sebenarnya dengan kekasihnya. Sehingga tidak biasanya
Balqis menunjukkan wajah murung.
"Ada apa, Qis...?" tanya Cevin setelah duduk disamping Balqis yang kini wajahnya kembali menggambarkan kemurungan. Seakan ada masalah yang
tengah membebani pikiran gadis cantik primadona kampus
itu.
"Kau. nampak murung... Kenapa...?" desak Cevin, ingin tahu apa yang menyebabkan kekasihnya nampak
murung. Matanya masih memandang lekat ke wajah
kekasihnya.
"Aku takut, Vin...," desah Balqis dengan suara lirih.
"Takut kenapa...?" tanya Cevin. "Apa Tante Cindy marah padamu...?"
Ucap Cevin menyebutkan kemungkinan yang terjadi pada Balqis dan mamahnya.
Balqis menggeleng...!!!
"Lalu, apa yang kau takutkan...?" kembali Cevin mendesak dengan mata masih lekat menatap wajah Balqis, ingin mengetahui" apa yang menyebabkan kekasihnya itu murung dan mengatakan takut. Apa yang ditakutinya?
Sesaat Balqis menghela napas dalam-dalam, kemudian
dengan suara lirih dia pun mengatakan apa yang membuatnya takut. Dan membebani pikirannya. Sehingga membuatnya jadi murung.
"Vin..." Ucap Balqis.
"Ya."
Balas Cevin.
"Tiga bulan ini aku tidak mens."
Jujur Balqis.
__ADS_1
"Oh ya...?"
Cevin memberikan tanggapan singkat.
"Ya," jawab Balqis disertai desah lirih. Matanya balas menatap lekat ke wajah Cevin.
Seakan ingin menyelidiki, bagaimana reaksi
kekasihnya.
"Itu yang membuatmu takut...?" kembali Cevin bertanya.
"Ya. Aku takut hamil, Vin..." Cevin tersenyum senang. Tangannya memegang pundak Balqis. Matanya memandang lekat ke wajah
Balqis, yang balas memandang ke arahnya dengan wajah masih menunjukkan ketidakmengertian akan sikap
kekasihnya. Juga masih menggambarkan kecemasan serta
kekhawatiran akan apa yang tengah terjadi padanya.
"Kenapa kau tersenyum, Vin...?" tanya Balqis tak mengerti akan arti senyum kekasihnya. "Aku sudah
memeriksakannya ke dokter dan ternyata aku memang
hamil, Vin..."
Jelas Balqis.
Cevin semakin melebarkan senyumnya, yang semakin membuat Balqis kian bertambah tidak mengerti
akan arti senyum lelaki tampan yang telah membuatnya
jatuh cinta. Dan mau menyerahkan segala yang dimilikinya
pada pemuda itu.
"Aku senang mendengarnya," jawab Cevin masih dengan bibir tersenyum dan mata lekat memandang ke
wajah Balqis. Membuat Balqis semakin tidak mengerti
akan maksud kekasihnya yang sebenarnya.
"Benarkah kau senang...?" tanya Balqis dengan mata
balas memandang lekat ke wajah Cevin, seakan dia ingin
meminta kepastian dari pemuda itu.
Cevin mengangguk tegas dengan bibir masih tetap
dihiasi senyum. Senyum yang terasa menyejukkan dan
seakan berusaha meyakinkan Balqis. Senyum tegas
seorang lelaki yang penuh tanggung jawab, yang siap menjalani dan menyongsong kehidupan bersama wanita yang dicintainya.
"Kenapa...?"
Tanya Balqis.
"Karena memang hal itu yang aku inginkan."
Balas Cevin.
"Maksudmu...?" Balqis masih bertanya, sebab dia
masih belum mengerti akan maksud kekasihnya yang
sebenarnya, juga akan kesungguhan Cevin pada masalah
"Kau tak perlu khawatir, Qis...," kata Cevin menghibur dengan bibir masih mengurai senyum. Matanya
masih memandang lekat ke wajah cantik Balqis. "Kalau
kau mengandung. Karena itu memang yang kukehendaki,
Qis," katanya kemudian dengan bibir masih mengembang
kan senyum. Matanya masih memandang lekat ke wajah
Balqis, seakan dia berusaha untuk memberi keyakinan dan
menenangkan hati gadis itu. Agar Balqis tidak perlu
mencemaskan dan mengkhawatirkan apa yang kini tengah di alaminya.
"Aku tak mengerti, Vin."
Ucap Balqis bingung.
"Kau tahu, dengan kehamilanmu aku bisa memberi
alasan pada kedua orang tuaku, kalau aku harus bertanggung
jawab atas kehamilanmu... ?" kata Cevin masih dengan
bibir tersenyum senang, berusaha meyakinkan kekasihnya
agar kekasihnya tidak perlu mencemaskan kehamilannya.
"Pokoknya kau tak perlu khawatir, Qis. Aku akan tetap
menikahimu..."
Lanjut Cevin.
"Benarkah...?" tanya Balqis meminta kepastian.
Matanya masih memandang lekat ke wajah Cevin yang
duduk di sampingnya dengan tatapan mata redup.
"Kau harus percaya padaku, Qis... Apa selama ini aku
pernah mengecewakan dan ingakar padamu...?" kata
Cevin masih tetap berusaha meyakinkan kekasihnya,
kalau dia bersungguh-sungguh akan bertanggung jawab.
"Bagaimana dengan kedua orang tuamu...?" tanya
Balqis masih menunjukkan wajah khawatir.
Cevin tersenyum...!!!
"Aku yakin, mereka akan mau mengerti."
Ucap Cevin kemudian membuat hati Balqis terasa damai dalam sebuah kegersangan yang sengaja mereka buat bersama.
Digenggamnya tangan Balqis dengan bibir tersenyum dan
__ADS_1
mata masih memandang lekat ke wajah gadis itu, seakan
berusaha meyakinkan Balqis kalau mereka pasti akan
bersatu. Kalau kedua orang tua Cevin akan menyetujui pernikahan mereka.
"Kau harus yakin, Qis...," katanya kemudian masih
menggenggam tangan Balqis dan matanya masih tetap
memandang lekat ke wajah gadis cantik itu.
Balqis hanya diam menunduk dengan mata berlinang. Haru mendengar ucapan kekasihnya. Bangga,
karena Cevin akan menjadi suaminya. Lelaki yang dicintai
dan disayanginya itu, akan bertanggung jawab menikahinya. Itu berarti apa yang. diingingkan dan diharapkannya bakal terlaksana. Dia bisa membina rumah tangga dengan
Cevin. Bisa mendidik dan membesarkan anak-anak
mereka dengan penuh cinta kasih. Itulah keinginannya
selama ini. Tak ada keinginan lainnya.
"Kita harus secepatnya menikah, Vin. Sebab kini aku
sudah mengandung tiga bulan. Aku khawatir, perutku semakin lama akan semakin membesar dan kelihatan. Aku
akan malu sekali, Vin...," desah Balqis lirih.
"Aku mengerti. Percayalah, aku akan secepatnya melamarmu dan kita akan segera menikah," kata Cevin
masih berusaha meyakinkan kekasihnya. Digenggamnya
tangan Balqis dengan erat. Terus berusaha memberikan
ketenangan hati gadis itu, agar bisa menghadapi semua
masalah "Kita akan membina rumah tangga seperti yang kita
impikan selama ini, Qis..."
Balqis kembali menghela napas dengan mata masih
memandang lekat ke wajah Cevin.
Cevin tersenyum penuh arti, "Oh ya, Qis, apa mamahmu sudah mengetahui?"
Lanjut tanya Cevin.
"Belum. Aku takut, Vin. Kau tahu sendiri, mamahku
pasti akan memarahiku kalau mengetahui aku hamil," desah
Balqis lirih dengan wajah masih menggambarkan
kesenduan.
"Ya, aku mengerti..." Ucap Cevin.
"Itu sebabnya aku ingin kau segera melamarku dan
menikahiku, Vin. Sebab aku tidak ingin mamahku serta
orang lain mengertahui kehamilanku ini," desah Balqis
disertai dengan helaan napas dalam-dalam.
Herman manggut-manggut...!!!
"Aku mengerti," katanya lirih. "Dan aku akan segera
menikahimu..." ujarnya kemudian masih dengan wajah
menunjukkan keseriusan dan bibir, dihias senyum,
mengharap Balqis akan mempercayai ucapannya.
Sesaat Balqis terdiam dengan mata memandang ke
wajah Cevin. Tidak lama kemudian, akhirnya Balqis pun
bisa kembali berkata meski suaranya lirih.
"Kutunggu, Vin." Ucap Balqis lirih penuh pengharapan.
Cevin tersenyum...!!!
"Sebentar lagi kuliah dimulai, Qis. Ayo kita masuk,"
ajak Cevin sambil membimbing kekasihnya. Keduanya
pun. meninggalkan taman kampus, untuk mengikuti mata
kuliah yang sebentar lagi akan dimulai.
Sepanjang kuliah dilangsungkan, Cevin beberapa kali nampak menengok ke arah Balqis. Pemuda itu merasa
kasihan melihat kekasihnya yang kelihatannya masih belum
bisa tenang. Dia maklum akan kesulitan yang dialami oleh
Balqis. Bagaimana juga, sebagai wanita Balqis patut bingung, karena dia sedang mengandung. Dan betapa akan malunya Balqis, kalau sampai kandungannya membesar
belum menikah. Apa kata orang nantinya?
Balqis memang sedang mencemaskan status hubungannya dengan Cevin yang selama ini belum juga
diketahui bagaimana hasilnya. Karena selama tiga tahun dia
menjalin cinta dengan Cevin, belum pernah sekali pun
Cevin mempertemukan dia dengan kedua orang tua pemuda itu. Disamping itu, orang tua Cevin memang beberapa tahun belakangan ini
jarang berada di rumah. Mereka menjadi dan merupakan orang-orang
sibuk, yang lebih banyak waktunya di luar, ketimbang,
berada di rumah. Jadi Balqis belum tahu, apa kedua orang
tua Cevin setuju hubungan anaknya dengan dia atau tidak.
Balqis juga kadang merasakan kecemasan, takut kalau-kalau Cevib tidak bertanggung jawab. Apa jadinya
nanti dengan dia dan anak yang dikandungnya, kalau sampai
Cevin tidak bertanggung jawab?
Tapi nampaknya Cevin benar-benar akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Itu
semua bisa dibuktikan dari perkataannya tadi di taman kampus. Ya, semoga saja Cevib memang bertanggung
__ADS_1
jawab atas perbuatannya. Hanya harapan itu yang bisa
sedikit menenangkan perasaan hati Balqis.