
Setiap sore Farel pasti bertemu dengan Rahmawati di sekolahan, di samping itu, Farel lebih giat berusaha mencari pekerjaan, tapi, hasilnya tetap nihil, malah sepatunya sudah hampir rusak. Seperti biasa sore itu Farel menunggu Rahmawati di depan sekolahan, tak lama kemudian, lonceng berbunyi, berduyun-duyun murid sekolah itu berjalan keluar dari dalam sekolahan, riang gembira wajah-wajah murid-murid tersebut, ada yang pulang dengan mobil, ada yang pulang dengan motor, ada juga yang sedang menunggu bis atau menunggu ojek di pinggir jalan. Rahmawati dengan wajah berseri-seri menuju ke tempat Farel menanti.
"Farel!" Serunya. "Sudah lama kau menunggu?" Tanya Rahmawati.
"Belum begitu lama!" Andi tersenyum. "Eh! Rahma, pak sopir tidak datang menjemputmu?" Balas Farel.
"Entahlah!" Rahmawati memandang ke arah tempat parkir mobil ternyata mobilnya tidak berada di tempat parkir. "Mungkin pak sopir tidak sempat!" Jawab Rahmawati. "Bagaimana kita tunggu sebentar?" Balasnya.
"Boleh!" Jawab Farel.
Sejenak kemudian, mobilnya telah datang, Dilla berada di dalam mobil. Kaget rasanya hati Rahmawati, apa lagi di saat itu Farel sedang menggandeng tangannya, ia berusaha melepaskan tangan Farel, tapi, tidak keburu lagi, mobilnya telah berhenti di hadapannya. Dengan cepat Dilla turun dari mobil, hatinya juga terkejut menyaksikan kakaknya sedang bergandengan tangan dengan seorang pemuda.
"Kak Rahma! Siapa pemuda ini?" Dilla mengawasi Farel dari kepala sampai ke ujung kaki, mendadak ia mengerutkan keningnya, sebab pakaian dan sepatu Farel amat dekil.
"Dilla, mari kukenalkan!" Rahmawati memperkenalkan Farel pada adiknya.
"Saya bernama Farel!" Farel mengulurkan tangannya dengan maksud ingin bersalaman, namun, diacuhkan oleh Dilla.
"Saya adiknya!" Dilla menunjuk ke arah Rahmawati. kemudian ia berkata pada kakaknya. "Kak Rahma, mari kita sekalian ke Super Market, saya ingin membeli gaun baru!" Langsung ia menarik tangan Rahmawati ke mobil.
"Farel, besok sore kita bertemu lagi!" Serunya dari dalam mobil.
"Ya!" Jawab Farel sambil menyaksikan luncuran mobil dari hadapannya, kemudian menghilang dari pandangan matanya. Farel menundukkan kepalanya, hatinya terpukul oleh sikap Dilla, tiba-tiba ia menarik nafas sambil berlalu dari situ. Setelah Dilla membeli gaun baru di super market, langsung mereka pulang ke rumah. Tiba di rumah, segera Rahmawati masuk ke dalam kamarnya untuk menaruh buku-buku pelajarannya, ia berbaring dulu ke atas tempat tidur, sejenak kemudian baru ia keluar dan menuju ke belakang. Papah dan mamahnya sedang makan.
"Papah, mamah!" Ucapnya.
"Rahma, makan dulu!" Suara mamahnya.
"Entar dulu, saya mau mandi!" Rahmawati menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai makan, pak Arif Budiman dan Dilla menuju ke ruangan tamu, sebelum ia duduk, Dilla telah menghampirinya.
"Papah, saya tadi melihat kak Rahma sedang bergandengan tangan dengan seorang pemuda." Kata Dilla.
"Oh!" Pak Arif Budiman duduk. "Kalau demikian kakakmu telah mempunyai pacar, siapa pemuda itu?" Tanyanya lagi.
"Farel namanya." Jawab Dilla.
"Apa profesinya?" Tanya papahnya.
"Saya tidak tahu, kelihatannya..." Jawab Dilla terhenti.
"Kelihatannya anak orang kaya?" Pak Arif Budiman tersenyum.
"Bukan!" Jawab Dilla sambil mengerutkan keningnya. "Kelihatannya bukan anak orang kaya, sebab pakaiannya dekil serta sepatunya agak rusak." Balas Dilla menjelaskan.
"Apa?" Spontan senyumannya hilang lenyap dan wajahnya berobah kaku. "Kalau demikian berarti pemuda itu adalah anak orang miskin." Ucap pak Arif Budiman marah.
"Mungkin!" Balas Dilla.
"Celaka!" Seru pak Arif Budiman dengan muka merah padam. "Cepat panggil kakakmu kemari!" Lanjutnya.
"Ada apa?" Suara isterinya.
"Celaka! Rahma berteman dengan pemuda miskin!" Serunya.
"Tidak apa-apa, kan?" Ucap isterinya sambil duduk di sebelah suaminya.
"Tidak apa-apa?" Teriak pak Arif Budiman dengan gusar. "Pokoknya tidak bisa, aku akan melarang nya!"
"Jangan terlalu berkukuh pada pendirian sendiri, Rahmawati sudah dewasa, dia mempunyai hak untuk memilih." Suara isterinya sabar.
"Aku tidak perduli!" pak Arif Budiman menggebrak meja. "Aku adalah orang tuanya, dia harus menurut kemauanku, titik!"
Dilla telah masuk ke dalam, ia memberitahukan kepada Rahmawati bahwa papah memanggilnya. Saat itu Rahmawati telah selesai mandi dan baru saja ia ingin makan. Tanpa makan lagi Rahmawati menuju ke ruangan tamu, ia menyaksikan wajah papinya kaku serta merah padam.
"Rahma, kemari!" Suara papahnya parau. "Duduk!" Lanjut pak Arif Budiman.
Rahmawati duduk di hadapan papahnya dengan hati kebat kebit, ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Diliriknya Dilla yang berada di sebelah mamahnya, sinis-sinis wajah Dilla menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Rahma, kau telah mempunyai pacar kan?"
Suara papahnya seperti sebuah martil memukul ke dadanya. Ia mengangguk. "Apa profesi pacarmu?" Tanya pak Arif Budiman.
Yeni menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.
"Jawab!" Bentak papahnya.
"Ibunya berada di Lampung!" Jawab Rahmawati.
"Apa usahanya di Jakarta?" Tanya pak Arif Budiman.
"Tidak usaha apa-apa!" Rahmawati menundukkan kepala.
"Apa?" Seru papahnya dengan suara keras. "Dia tidak usaha apa-apa?" Lanjut pak Arif Budiman.
"Ya!" Jawab Rahmawati.
"Apakah kau sudah lupa pesanku?" Bentak papahnya. "Kenapa kau tidak menurut pada peringatanku tempo hari? Kau berani membangkang? Kurang ajar!" Bentak pak Arif Budiman.
"Papah, salahkah saya berteman dengan pemuda miskin? Haruskah saya kawin dengan pemuda kaya raya?" Jawab Rahmawati tegas.
"Kau memang bersalah dan harus kawin dengan pemuda kaya!" Bentak papahnya dengan gusar.
"Papah hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan diri saya!" Ucap Rahmawati dengan berani. "Di mana kebijaksanaan papah dan di mana kasih sayang papah? Saya sudah dewasa dan saya mempunyai hak menentukan pilihan hati!" Jawab Rahmawati tetap tegas.
"Apa?" langsung papahnya berdiri. "Kau berani kurang ajar?" Papahnya menuding ke kening puterinya.
"Saya tidak berani kurang ajar, hanya membela hak saya!" Jawab Rahmawati.
"Apa hakmu?" Papahnya masih berdiri. "Dari kecil aku merawat serta membiayaimu. Hingga dewasa, setelah dewasa dan merasa kaki sudah kuat menginjak tanah, hm! Mulai membangkang dan mulai kurang ajar pada orang tua!" Bentak pak Arif Budiman marah.
"Mendewasakan anak adalah kewajiban orang tua!" Ucap Rahmawati. "Soal jodoh adalah hak anak dan tidak bisa dipaksa oleh orang tua!" Lanjut Rahmawati membela diri.
"Kalau demikian, kau telah lupa budi orang tua yang telah mendewasakan dirimu?" Suara keras pak Arif Budiman masih terdengar.
"Mustahil!" Teriak papahnya. "Seandainya kau kawin dengan pemuda kaya, tidak mungkin batinmu akan tertekan, lebih-lebih tidak mungkin kau akan hidup sengsara, sebab kau bisa memiliki segala apa yang kau inginkan!" Ucap pak Arif Budiman dengan pendapat sendiri.
"Tapi, misalnya saya tidak mencintai pemuda kaya tersebut atau suami kaya tersebut?" Tanya Rahmawati.
"Cari pemuda kaya yang bisa kau cintai!" Seru papahnya dengan nafas tersengal-sengal.
"Segala sesuatu telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, dapatkah saya menghindarkan diri dan menurut kemauan papah, yakni mencari pemuda kaya untuk dijadikan suami?" Ucap pak Arif Budiman masih dengan keadaan marah. "Walaupun sudah ditentukan, kau harus berusaha!" Desak papahnya.
"Mungkinkah?" Balas Rahmawati.
"Kenapa tidak mungkin!" Papahnya mengangkat bahunya. "Asal kau mau berusaha, pasti mungkin!" Jelas pak Arif Budiman.
"Jodoh bukanlah semacam benda yang bisa dicari menurut keinginan hati. Papah harus ingat, cinta kasih menentukan jodoh dan bukanlah jodoh menentukan cinta kasih, walau jodoh, namun tiada cinta kasih, dapatkah jodoh tersebut berlangsung lama?" Opini Rahmawati.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya aku tidak setuju kau berteman atau berpacaran dengan pemuda miskin!" Ucap papahnya tegas. "Besok sore kau ajak temanmu kemari!" Ucap pak Arif Budiman.
"Untuk apa ajak dia kemari?" Tanya Rahmawati.
"Aku ingin bicara dengan dia!" Ucap papahnya sambil duduk. "Ingat! Besok sore harus kau ajak dia kemari!" Ulang pak Arif Budiman lagi.
"Baik, papah!" Jawab Rahmawati sembari berdiri, kemudian ia langsung menuju ke kamarnya.
"Pah, aku rasa hal ini harus direnungkan, sebab adat Rahmawati cukup keras." Ucap istrinya.
"Tidak perduli!" Ucap suaminya. "Lebih baik kau ke dalam kamarnya dan membujuknya supaya jangan berpacaran terus dengan pemuda itu!" Terpaksa isterinya bangkit dari tempat duduk dan menuju ke kamar Rahmawati.
Setelah berada di dalam kamar, ia melihat Rahmawati sedang duduk melamun di pinggir tempat tidur.
"Rahma...!" Ia menghampiri puterinya. "Jangan melamun."
"Mamah, saya tidak sangka papah berwatak demikian!" Rahmawati menghela nafas.
"Kau besok akan mengajak pemuda itu ke mari?" Tanya mamahnya.
__ADS_1
"Ya!" Ucap Rahmawati. "Apa pun yang akan terjadi tidak bisa menggoyahkan percintaan kami!" Jelas Rahmawati pada mamahnya.
"Tapi, jika papimu tetap melarang?" Tanya mamahnya lagi.
"Saya sudah mengambil keputusan tetap!" Ucap Rahmawati tegas. "Apapun tidak bias memisahkan percintaan kami!" Jawabnya tegas.
"Kalau papahmu mengusirmu?" Tanya mamahnya.
"Saya akan pergi dari rumah ini!" Rahmawati berkata sungguh-sungguh. "Tidak mungkin saya akan kelaparan di luar." Jawab Rahmawati tegas.
"Rahma, tegakah kau meninggalkan mamahmu?" Ucap mamahnya lirih.
"Saya hanya meninggalkan rumah, bukan meninggalkan mamah!" Rahmawati tersenyum rawan.
"Kau ingin hidup bersama pemuda itu?" Tanya mamahnya.
"Ya!" Jawab Rahmawati tegas.
"Kau tidak akan menyesal?" Tanya mamahnya lagi.
"Kalau saya akan menyesal, tidak mungkin saya berdebat dengan papah, lagi pula saya mengenal betul watak serta sifatnya!" Balas Rahmawati.
"Pemuda itu maksudmu?" Balas Mamahnya.
"Ya! Namanya Farel!" Rahmawati memberitahukan. "Dia adalah pemuda yang baik!"
"Rahma, memang dia belum kerja?" Tanya mamahnya.
"Belum!" Jawab Rahmawati. "Tapi dia sedang berusaha mencari pekerjaan!"
"Dia tinggal bersama siapa?" Tanya mamahnya lagi.
"Bersama om dan tantenya!" Balas Rahmawati.
"Omnya berusaha apa?" Tanya mamahnya.
"Membawa taxi gelap!" Jawab Rahmawati.
"Oh!" Tiba-tiba mamahnya teringat sesuatu.
"Oh ya! Rahma, bagaimana kita ke dokter sebentar?" Ajak mamahnya.
"Untuk apa?" Rahmawati tercenung.
"Bukankah kau sering sakit perut? Maka lebih baik aku ajak kau ke dokter!" Jelas mamahnya.
"Saya rasa tidak perlu!" Balas Rahmawati.
"Harus, karena seandainya kau diusir oleh papahmu, mana kau ada uang lagi untuk ke dokter?" Jelas mamahnya lirih.
"Baiklah!" Balas Rahmawati.
Setelah bertukar pakaian, berangkatlah mereka ke dokter spesialis tanpa memberitahukan pada pak Arif Budiman. Sehabis diperiksa oleh dokter spesialis, ternyata penyakit Rahmawati tidak berbahaya.
"Mamah, apakah kita langsung pulang?" Tanya Rahmawati setelah berada di luar kamar praktek.
"Belum, mari kita ke rumah farel!" Ucap Mamahnya.
"Untuk apa?" Tanya Rahmawati heran.
"Setelah tiba di rumahnya, kau akan tahu sendiri!" Jelas mamahnya.
"Tapi saya belum pernah ke rumahnya." Balas Rahmawati.
"Alamatnya kau tahu?" Tanya mamahnya.
"Tahu!" Jawab Rahmawati.
"Kalau demikian, mari kita berangkat!" Ajak mamahnya segera.
__ADS_1