LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 84 : PERISTIWA ULANG


__ADS_3

Hari ini udara terasa sejuk, karena mendung sudah membayang sejak pagi. Dua jam menjelang bel berbunyi, mendadak langit menjadi sangat pekat dan turun hujan lebat. Sigit menatap tetes-tetes air itu, mempertimbangkan untuk membatalkan rencananya ke sekolah Cevin. Namun lima belas menit menjelang bel, mendadak hujan berhenti sama sekali.


Begitu bel pulang berbunyi, Sigit segera bangkit dan berjalan ke luar kelas. Dianggukkan kepala pada guru mata pelajaran terakhir, yang masih sibuk mengemasi buku dan kertas-kertasnya. Ia meminta maaf dengan senyum karena keluar kelas lebih dulu.


Dua puluh menit kemudian, karena menumpang mobil seorang teman, Sigit sudah sampai di tujuan, di sebuah warung makan merangkap toko stationery di seberang sekolah Cevin. Setelah memilih bangku dan memesan minuman, Sigit mengirimkan SMS pada Cevin, memberitahukan dirinya sudah di tempat.


Sambil menunggu kedatangan Cevin, Sigit memperhatikan gedung sekolah di depannya. Tatapannya lalu beralih ke trotoar di depan gedung itu. Hujan yang cuma sesaat tapi sangat lebat telah memenciptakan genangan air


kotor di beberapa tempat di depan trotoar itu. Tak lama Cevin datang. Sendirian...!!!


"Di mana Balqis?" tanya Sigit.


Cevin mengedikkan bahu. "Tadi sih ada," jawabnya sambil lalu.


Sigit jadi menyesal telah mengucapkan pertanyaan yang maksudnya hanya untuk basa-basi itu, karena ia sudah tahu perkembangan terakhir hubungan Cevin dan Balqis.


"Itu Balqis!" desis Sigit tiba-tiba sambil menunjuk ke seberang jalan. "Panjang umurnya tuh anak!" Ucap Sigit kemudian.


Cevin menoleh. Dilihatnya Balqis berjalan sendirian menuju gerbang dengan langkah-langkah santai. Cara Balqis berjalan dan ekspresi wajahnya yang tampak wajar, cenderung polos malah, tanpa sadar membuat Cevin waspada. Walaupun kini mereka telah saling asing, Cevin terlalu mengenal cewek itu.


"Sori, Git. Ngobrolnya ditunda dulu, ya." Cevin memutar kursi yang ia duduki. Kini cowok itu duduk membelakangi Sigit, menghadap ke jalan raya. Sigit jadi mengerutkan kening melihat tingkah Cevin, dan perhatiannya jadi ikut tertuju pada Balqis.


Sementara itu, masih dengan langkah santai dan ekspresi biasa-biasa saja, Balqis menghampiri kerumunan teman-teman sekelasnya yang sedang berdiri di tepi trotoar, menunggu jemputan atau bajaj kosong yang lewat, atau menunggu orang yang akan bersama-sama berjalan ke halte bus.


Tiba-tiba, dengan gerakan yang begitu cepat dan tidak terduga, Balqis melompat ke tengah genangan air kotor, tepat di depan kerumunan teman-temannya. Tak ayal, cipratan air kotor melayang ke segala arah. Mendarat di baju, tas, tangan, kaki dan semua objek yang berada tepat dijalur cipratannya. Seketika terdengar pekikan dan jeritan keras.


"Balqiiiiiis...!!!"


Sambil terkikik, Balqis langsung mengambil jurus langkah sejuta. Langkah seribu sih masih kurang cepat. Cewek itu berlari secepat-cepatnya. Terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Para korban keisengannya jelas tidak tinggal diam. Mereka berlari mengejar, sambil menjerit dan berteriak-teriak. Melontarkan ancaman dan sumpah serapah.


"Bener, kan!?" desis Cevin dan segera bangkit berdiri. "Bentar, Git!" ditepuknya bahu Sigit tanpa menoleh, dan cowok itu langsung berlari keluar dari warung makan.


Sesaat Sigit cuma bisa terkesima melihat peristiwa itu. Namun sedetik kemudian ia tertegun saat menyadari peristiwa yang sama pernah terjadi.


Dulu sekali...!!!


Tanpa berpikir lagi, Sigit segera ikut berdiri dan berlari keluar. Disusulnya Cevin. Di dalam kepalanya berkelebat peristiwa lampau, dan tanpa sadar ia membandingkannya dengan apa yang saat ini sedang terjadi di depannya.


Balqis melakukan keisengan yang persis sama. Akibatnya juga persis sama. Cewek itu dikejar-kejar para korban keisengannya.


Dulu Irfan berlari mengejar Balqis. Kini Cevin juga berlari untuk mengejar cewek yang sama. Bedanya, Cevin berlari di bawah bayang-bayang pepohonan atau lindungan mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Dulu Irfan berlari menyebrangi jalan tepat di pertigaan untuk menghadang Balqis. Kini Cevin juga melakukan hal yang pasti akan persis sama.


Dugaan Sigit tepat. Di depan mereka ruas jalan bercabang tiga. Setelah sesaat menengok ke belakang untuk meyakinkan Balqis sudah tertinggal jauh di belakangnya, Cevin berlari menyeberang dan langsung berbelok. Sigit segera menyusulnya.


Mendadak Cevin berhenti berlari. Sigit seketika juga menghentikan larinya, dan menghentikan dugaan-dugaan di kepalanya. Cevin mengamati pepohonan peneduh jalan tidak jauh di dekatnya, lalu menghampiri salah satunya dengan langkah cepat. Batang pohon itu lumayan besar dan ada semak-semak rimbun di kakinya.


Kemudian Cevin berdiri menunggu, di balik batang pohon itu, di sisi yang tidak terlihat dari arah tikungan tempat Balqis akan muncul nanti. Sigit berdiri mematung. Ia menyadari betapa miripnya jalinan peristiwa ini dengan peristiwa lain yang pernah terjadi.


Setelah beberapa detik tubuh Cevin hilang di balik batang pohon, Sigit tersadar. Ia segera menghampiri Cevin. Cevin menyambutnya dengan meletakan satu telunjuk di bibir, sambil tersenyum, lalu menunjuk ke seberang dengan dagu.


Ini sedikit berbeda...!!!


Hanya sedikit...!!!


Sigit mengangguk mengerti. Tak lama Balqis muncul dari tikungan. Masih berlari secepat-cepatnya. Napasnya terengah, namun bibirnya meringis geli. Juga kedua matanya. Kilatan tawa itu muncul jelas-jelas di sana.


Sigit tertegun...!!!


Ada sesuatu yang terasa luruh di dalam dadanya...!!!


Ekspresi itu juga masih ekspresi yang sama.


Cevin yang juga mendengar suara orang berlari dan sudah menduga itu pasti Balqis, segera bersiap-siap. Ia menegakkan tubuh. Sesaat menjelang Balqis akan melewati pohon yang jadi tempatnya bersembunyi, Cevin mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan tiba-tiba.


Cevin menangkap tubuh Balqis dan menariknya ke semak-semak rimbun di dekat pohon. Balqis kaget dan seketika berontak, tapi langsung diam begitu didengarnya suara bisikan.


"Sst! Ini gue!" Ucap Cevin.


Sambil menarik Balqis ke tengah rerimbunan semak, Cevin menoleh ke arah Sigit dan mengingatkan pesannya tadi dengan bahasa isyarat. Sigit mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan karena tak lama kemudian senyum itu menghilang tanpa sisa.


Sepasang mata Sigit berubah nanar...!!!

__ADS_1


Menyaksikan apa yang terjadi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Cevin dan Balqis merunduk dalam-dalam di balik semak. Karena tidak bisa menahan tawa, dengan gemas Cevin terpaksa memeluknya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya membekap mulut cewek itu kuat-kuat.


Tiba-tiba Sigit terpaku...!!!


Tubuhnya membeku saat menyadari sesuatu...!!!


Persamaan setting tempat, persamaan situasi. Usai jam sekolah, hujan yang baru saja reda meninggalkan genangan air kotor di depan trotoar sekolah. Balqis melakukan keisengan. Menciprtatkan genangan air kotor itu ke arah teman-temannya, lalu terbirit-birit untuk menyelamatkan diri!


Dulu, Irfan berlari mengejar untuk melindungi Balqis. Dan kini ganti Cevin yang melakukannya!


Namun ada perbedaan ending!


Dulu Irfan hanya bisa melindungi Balqis dengan berdiri untuk menutupi. Tidak bisa lebih. Sementara kini, Cevin tidak bisa hanya seperti itu karena Balqis mengenalinya.


Sigit tersentak dari keterpakuannya saat didengarnya suara-suara orang berlari dan tak lama kemudian beberapa cewek muncul di tikungan. Seragam sekolah mereka penuh bercak cokelat. Enam atau tujuh cewek itu, semuanya teman sekelas Balqis, berlari sambil mengomel. Mereka berhenti tidak jauh dari Sigit, lalu memandang berkeliling. Mencari-cari. Masih sambil marah-marah.


"Si Balqis tuh iseng banget deh. Heran! Tu anak kalo nggak ngisengin orang sebentar aja langsung mati, kali ya?"


"Tapi sekarang isengnya dia nggak lucu. Pasti abis deh ntar gue diomelin nyokap nih. Rok gue sampe kotor banget gini."


"Kalo sampe ketangkep, bakalan gue celupin tu anak di kubangan air tadi. Sumpah!"


Sigit buru-buru bertindak, karena salah satu cewek sudah bergerak mendekati semak tempat Cevin dan Balqis bersembunyi.


"Nyari cewek yang lari sambil ketawa-ketawa, ya?" tanya Sigit.


"Iya!" langsung terdengar jawaban kompak.


"Tadi lari ke seberang." Sigit menunjuk ke seberang jalan. Ke arah kompleks perumahan. Tanpa berpikir lagi, cewek-cewek itu langsung berlari ke seberang jalan begitu lalu lintas di depan mereka sepi.


"Makasih, kak!" seru mereka bersamaan.


"Oke!" Sigit balas berseru, sambil menahan senyum. Begitu keadaan sudah benar-benar aman, dia berseru ke arah semak-semak. "Oke, aman!"


Cevin keluar dari semak, menggandeng Balqis yang mukanya memerah karena menahan tawa. Cevin lalu menegurnya dengan nada kesal.


"Elo isengnya kadang suka kelewatan deh, Qis. Baju mereka sampe kotor gitu." Ucap Cevin.


"Alaaah, direndem sebentar trus dicuci juga ilang," Balqis menjawab ringan.


"Hehehe...!!!" Balqis menyuarakan tawanya dalam bentuk tiga suku kata, tapi langsung didusul tawa yang benar-benar geli. Rasanya ingin sekali Cevin menjitak kepala Balqis. Rasa asing di antara mereka dengan cepat mencair. Keduanya kembali seperti sebelum Cevin memutuskan untuk menjauh.


"Yuk, cabut, Qis. Keburu mereka nongol nanti," ajak Cevin.


Ketiganya segera meninggalkan tempat itu, berlari cepat ke arah tikungan depan, menuju halte. Berlari di antara Cevin dan Sigit, mendadak membuat Balqis teringat kembali akan peristiwa yang dialaminya. Cewek itu tiba-tiba berhenti.


Cevin dan Sigit yang mengapitnya seketika menghentikan laju langkah-langkah cepat mereka. Balqis berdiri di hadapan Sigit. Ditatapnya cowok itu lurus-lurus.


"Kayaknya dulu gue pernah lari bareng elo juga deh." Kata-kata Balqis itu membuat kedua cowok di dekatnya membeku. "Iya, bener elo!" Balqis mengangguk. "Trus, kayaknya ada cowok satu lagi deh." Ucap Balqis melanjutkan.


"Akhirnya lo inget juga." suara Sigit tersekat di tenggorokan.


"Siapa ya nama tu cowok? Temen lo itu?" Tanya Balqis.


"Siapa? masih inget, nggak?" suara Sigit kini bergetar.


"Mmm…." Balqis mengerutkan keningnya. Sesaat kemudian ia menggeleng.


"Coba tolong diinget-inget, Qis. Inget bener-bener." Sigit benar-benar memohon.


Sementara itu Cevin membeku di tempatnya berdiri. Kedua matanya yang menatap Balqis lurus-lurus mulai berkabut.


Inikah hari itu?


Hari terakhir Irfan bertemu Balqis, seperti yang ditulis Irfan di catatan hariannya?


Balqis mengerutkan keningnya lagi. Tampak jelas ia berusaha mengingat. Namun tak lama ia menyerah.


"Nggak inget." Balqis menggeleng.


"Sama sekali?" Lanjut Sigit bertanya.


"Iya." Jawab Balqis.

__ADS_1


"Kalo tampangnya kayak gimana, masih inget, nggak?" nada suara Sigit mulai melemah.


"Apalagi itu," jawab Balqis sambil mengedikkan bahu dengan sikap santai. "Ah, udah ah. Ngapain dibahas sih? Nggak penting." Ucap Balqis melanjutkan.


Terputus...!!!


Sigit merasa satu-satunya mata rantai yang masih menghubungkan cewek ini dengan Irfan telah terputus.


Cevin juga merasakan hal yang sama, tapi dengan emosi yang membadai kedua arah yang berlawanan.


Senang, tapi juga sedih...!!!


Lega, tapi sesak juga...!!!


Bersyukur, tapi menyesal...!!!


Ingin memeluk, namun sekaligus juga ingin melepaskan...!!!


Sesaat hanya ada keheningan. Cevin terdiam. Sigit terdiam. Balqis menatap keduanya dengan bingung.


"Kok jadi pada diem? Kenapa sih?" tanya Balqis.


Cevin dan Sigit tersentak bersamaan. Keduanya lalu berusaha keras menetralkan emosi masing-masing.


"Dik, katanya ada yang lo mau omongin?" suara Cevin terdengar mengambang.


"Besok-besok aja. Nggak terlalu penting." suara Sigit juga terdengar jauh. Saling pengertian yang tidak diucapakan.


"Kalo gitu gue duluan ya. Mau ngaterin si tukang iseng nih." Cevin melirik Balqis yang berdiri di sebelahnya. "Ntar keburu temen-temennya nongol, lagi." Lanjut Cevin.


Balqis terkikik geli. Tapi tak lama tawa itu menghilang.


"Lo mau nganter gue pulang lagi?" Ditatapnya Cevin dengan heran. "Kemaren-kemaren gue disuruh pulang sendiri." Balas Balqis lagi.


"Udah, diem. Nggak usah cerewet. Gara-gara tadi, besok pagi kayaknya lo juga mesti gue jemput." Ucap Cevin menjawab.


Cevin melotot...!!!


Balqis langsung terkekeh-kekeh geli. Terlihat jelas kegembiraan di wajahnya.


"Asyiiiik. Besok selamet...!" katanya tanpa dosa.


Dua cowok yang berdiri di dekatnya menatapnya dengan perasaan campur aduk.


"Oke deh." Sigit menepuk bahu Sigit. "Ntar gue kabarin lagi kalo mau ketemu." Lanjut Sigit.


Mereka berpisah...!!!


Saat Cevin dan Balqis sudah berjalan menjauh itulah Sigit teringat kembali apa tujuannya menemui Cevin siang ini. Sambil mengeluarkan komik yang disisipi foto Balqis, Sigit mengejar keduanya. Namun tak lama langkahnya terhenti.


Sigit membatalkan niatnya...!!!


Kalau Balqis melihat foto dirinya saat masih di Sekolah Menengah Pertama itu, pasti ia akan ribut bertanya. Saat ini Sigit dan Cevin sudah terlalu letih untuk menjawab. Sambil menatap dua orang yang semakin jauh itu, Sigit mengeluarkan foto Balqis dari halaman komik. Tatapannya kemudian bergerak turun. Mendadak ia terkejut saat menyadari sesuatu. Dengan cepat diangkatnya kepala. Ditatapnya Balqis, yang walau pun sudah berjalan cukup jauh tapi masih bisa dilihatnya dengan jelas.


Tatapan Sigit lalu kembali ke foto di tangannya, kemundian ke sosok Balqis yang menjauh. Lalu sekali lagi kembali ke foto di tangannya.


Tidak salah...!!!


Anting-anting yang sama, jam tangan yang sama, tas yang sama, ikat pinggang yang sama, kaus kaki yang sama dan sepatu yang sama! Bahkan saat ini Balqis mengikat rambutnya dengan ikatan yang jadi ciri khasnya asal-asalan. Satu-satunya yang tidak lagi ada di dalam foto itu adalah seragam putih biru.


Sigit terpaku...!!!


Instingnya mengatakan, ini bukan kebetulan. Karena, ini terlalu sempurna. Perlahan Sigit menyisipkan kembali foto itu ke tengah-tengah halaman komik. Saat dimasukkannya ke tas, komik itu tersangkut di ritsleting.


Lembaran-lembarannya terbuka tepat di halaman tempat foto Balqis diselipkan, menampakan bagian belakangnya. Ada sebaris kalimat di sana.


Seketika Sigit batal memasukkan komik itu ke tas. Diambilnya lagi foto Balqis lalu dibaliknya dengan cepat.


Cowok itu terkesiap...!!!


Keterkejutannya yang teramat sangat membuat tubuhnya limbung. Cepat-cepat disambarnya dahan pohon terdekat. Sambil menyandarkan tubuh ke batang pohan yang kuat, ditekannya dadanya dengan satu tangan. Gemuruh jantungnya bahkan sanggup menggetarkan kelima jarinya.


Diiringi kesadaran yang sepertinya sudah menurun jauh dari posisi seratus persen, tatapan Sigit turun perlahan, ke foto Balqis yang masih ada di tangannya. Tanpa sadar tangannya mencengkeram kuat. Sekali lagi dibacanya tulisan di balik foto, dengan kesadaran yang tidak lagi seratus persen itu.

__ADS_1


Kasih tau Cevin, gue titip Balqis...!!!


__ADS_2