LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 80 : JIWA ADALAH KEKAL


__ADS_3

Tidak hanya itu...!!!


Cevin juga menjeput dan mengantar pulang Balqis. Setiap hari...!!! Sementara bentuk proteksi lain yang dilakukan cowok itu begitu Balqis tidak lagi bersamanya adalah dengan mengiriminya SMS atau menelponnya, untuk memastikan cewek itu dalam keadaan baik.


Tadinya Balqis patuh. Ia membalas setiap SMS dan menjawab setiap telepon. Tapi lama-lama cewek itu bosan juga. Karena bunyi setiap SMS dan telepon Cevin selalu "Lo baik-baik aja, kan?", minimal sehari dua kali, lama-lama Balqis jadi stress juga seperti anak kecil minum obat yang selalu di ingetin. Jadinya malah nggak baik-baik aja, kan?


Pernah Balqis mematikan ponselnya untuk melarikan diri sebentar saja dari overprotektif Cevin. Tapi usahanya itu malah membuat telepon rumahnya terus berdering. Kemudian di dengarnya suara Cindy, mamahnya menjawab pertanyaan, setelah itu mamahnya muncul di kamar, menanyakan ada masalah apa antara Balqis dan Cevin. Balqis tak bisa menjawab karena ia sendiri juga tidak tahu. Cewek itu jadi dapat masalah baru, karena Cindy, mamahnya mengira ia punya masalah gawat tapi tidak mau cerita.


Membiarkan ponselnya begitu saja tanpa memedulikan SMS dan telepon dari Cevin, ternyata juga bukan jalan keluar. SMS yang masuk jadi bertubi-tubi dan ponsel itu jadi berdering terus. Bikin kepala mau pecah. Emosi Balqis akhirnya memuncak. Ketika kemudian diangkatnya telepon, siap marah-marah, Cevin ternyata lebih galak lagi.


"Kenapa SMS gue nggak dibales!?" dari seberang langsung terdengar suara Cevin dengan nada tajam.


"Bosen, tau! Isinya sama melulu. Telepon nanyanya itu-itu juga." Jawab Balqis.


"Balqis, denger ya!?" Cevin mendesis dengan nada yang semakin tajam. "Gue khawatir sama elo, Qis. Makanya gue SMS, gue telepon. Kalo lo nggak bales SMS gue, nggak ngangkat telepon, lo bikin gue tambah khawatir." Jawab Cevin santai.


"Kan tiap hari lo nganter gue sampe rumah? Kenapa juga lo masih ngirim SMS dan nelepon?" Tanya Balqis mengingatkan Cevin.


"Gue cuma nganter, Qis. Nggak nginep. Dan itu kan tadi sore. Sekarang udah mau jam sembilan. Selisih berapa jam tuh? Bisa terjadi banyak hal, tau!" Alibi Cevin nggak mau kalah.


"Tapi gue kan di rumah sendiri!" Balas Balqis lebih beralasan.


"Nggak peduli lo ada di mana!" tandas Cevin.


"Pokoknya, bales SMS gue ya! Kalo gue telepon, angkat!" Cevin langsung mematikan telepon. Balqis menghentakkan kakinya.


"Hiiih! Dasar otoriter!" makinya sambil melempar ponsel itu ke kasur.


Di seberang, Cevin tercenung. Masih dengan ponsel di tangan. Ia tahu, ketakutannya telah menyebabkan dirinya bersikap terlalu keras terhadap Balqis. Tapi ia tidak tahu cara lain. Ia berharap, dengan begini Irfan tidak bisa "Mengambil" Balqis. Cewek itu terus berada dalam pengawasan kedua orangtuanya dan pengawasan Cevin.


Kalaupun bisa, apa pun wujud kakaknya itu kini, jiwa adalah kekal. Cevin berharap hati juga kekal sama seperti jiwa.


***


Esok paginya, ketika hendak berangkat sekolah dan memeriksa isi dompetnya, Cevin baru menyadari bahwa uang sakunya cekak banget. Ia nggak sadar bahwa setiap hari meng-SMS dan menelpon Balqis telah menguras isi dompetnya untuk membeli pulsa. Sedangkan jadwal mendapatkan uang saku bulanan masih jauh.


Otak Cevin terus mengalkulasi sisa uang saku yang ada, plus sedikit tabungan, kira-kira ia bisa bertahan berapa lama. Bisa saja ia menghemat transpor dan mengurangi jajan, tapi sampai kapan?


Karena sibuk memikirkan ini-itu, Cevin jadi tidak ingat sarapan. Akibatnya saat ini, saat menelusuri trotoar menuju rumah Balqis, perutnya melilit kelaparan.

__ADS_1


Enak nggak ya, kalo numpang sarapan di rumah Balqis? Gila, laper banget! Katanya dalam hati. Kemudian cowok itu berdecak dan tersenyum sumbang. Semalem gue marah-marahin tu cewek, dan sekarang gue minta makan? Tragis banget!


Kelaparan dan kepala sibuk mempertimbangkan untuk numpang makan membuat Cevin tidak fokus pada jalanan di depannya. Tiba-tiba satu pukulan keras mendarat di punggungnya. Cowok itu berteriak keras, kaget dan kesakitan. Seketika ia balik badan. Seorang bapak menyambutnya dengan tatapan marah.


"Kamu tau nggak kalo semennya belum kering!?” bentaknya.


Cevin menunduk. Tidak jauh dari kakinya, ada satu area kecil berupa lapisan semen yang masih basah, untuk menutupi lubang agar tidak semakin lebar dan membahayakan pengguna jalan. Kedua jejak sepatunya tercetak jelas di sana. Pantas saja bapak itu jadi berang.


"Maaf, pak. Maaf…" Cevin membungkukkan badan. "Saya nggak ngeliat."


"Makanya kalo jalan jangan sambil ngelamun. Jadi bisa liat-liat. Sana pergi!" usir bapak itu. Sambil meraih ember kecil berisi adukan semen ia memelototi Cevin.


Cevin buru-buru pergi dari situ. Ketika ia sampai di rumah Balqis, cewek itu sedang menunggunya di teras. Tampangnya cemberut.


"Yuk!" Balqis langsung mengajak Cevin berangkat. Tapi saat melihat wajah Cevin yang pucat, Balqis jadi bertanya, "Kok tampang lo kusut begitu? Belum sarapan ya?"


"Mmm…." Cevin berdeham. Ditatapnya Balqis dengan senyum kikuk. "I...iya."


"Hah!?" Balqis ternganga. "Gimana sih lo? Gimana bisa belajar kalo nggak sarapan?" Ucap Balqis.


"Yaaah…" Cevin melebarkan senyumnya.


"Sumpah, Qis. Sakit banget." Cevin menyentuh punggungnya hati-hati dengan satu tangan. Balqis meliriknya, masih dengan tampang kesal.


"Roti aja, ya? Makan sambil jalan. Soalnya kalo makan di sini, ntar kita telat." Ucap Balqis.


"Oke. Lo sweet banget emang," Cevin langsung melontarkan pujian.


"Semalem lo udah marah-marah, sekarang gue yang ngasih sarapan. Kalo lo masih bilang gue jelek, bener-bener gue kasih racun di roti lo ntar!" gerutu Balqis sambil balik badan dan berjalan ke dalam. Cevin menatapnya sambil menyeringai. Namun seringai itu langsung menghilang begitu Balqis sudah tidak terlihat. Cevin tetap merasa apa yang menimpanya hari ini bukan kebetulan.


Tak lama Balqis keluar, dengan satu tangkup roti dan segelas air mineral. Cevin buru-buru mengubah air mukanya.


"Isinya selai kacang. Adanya cuma ini," kata Balqis sambil mengeluarkan roti. Cevin menerimanya dengan sigap.


"Ini juga udah oke banget. Yuk, jalan. Nyokap lo mana? Mau pamit." Ucap Celvin.


"Lagi masak di dapur. Udah gue pamitin tadi." Ucap Balqis.


Keduanya pun melangkah keluar.

__ADS_1


***


Sampai siang menjelang sore, saat Cevin menyusuri jalan menuju rumahnya, rasa sakit di pungguang akibat pukulan tadi pagi tidak juga hilang. Cevin kembali berpikir, apa yang menimpanya hari ini pasti bukan kebetulan.


Tiba-tiba saja ia melihat "Tanda" itu, dulu sekali, di suatu hari saat ia dan Irfan masih Sekolah Dasar. Pertengkaran serius mereka yang pertama. Cevin sudah lupa apa penyebabnya, dengan sebatang ranting kayu Irfan memukulnya keras-keras di punggung.


Cevin ingat, kejadian itu membuatnya menangis, setelah sebelumnya ia menjerit keras dan Bi Puji tergopoh-gopoh menghampiri. Perempuan paruh baya yang biasa sabar itu sampai marah-marah. Dia merebut ranting itu dari tangan Irfan dan mengancam akan melakukan hal yang sama jika sekali lagi Irfan berani memukul adiknya seperti itu.


Kenangan samar yang mendadak teringat lagi dengan sangat jelas itu membuat Cevin tersentak. Langkahnya terhenti mendadak. Tanpa bisa dicegah, jantungnya berdebar keras saat menyadari penyebab semua kejadian yang menimpanya hari ini.


Irfan marah!


***


Sudah lima belas hari berlalu sejak Cevin memasuki kamar dengan jantung deg-degan dan pikiran campur aduk. Sudah selama itu pula ia berdiri di depan foto Irfan. Tatapannya terpaku pada dua mata di dalam foto itu. Sepasang mata yang sedang tertawa, tapi Cevin tidak menangkap kesan itu saat ini.


Ada banyak kalimat yang telah terlontar dalam diam yang cukup lama itu. Cevin tidak ingin menyebut sikap yang diambilnya saat ini sebagai tantangan. Ia tidak berniat menyakiti Irfan.


Sama sekali...!!!


Namun Balqis milik dunia ini, dan cewek itu tidak tahu apa-apa. Jadi biarkan Balqis tetap di sini. Itulah permohonan Cevin pada sang kakak. Permohonan yang digemakan dalam hati tapi ia yakin Irfan bisa mendengarnya.


Biarkan Balqis tinggal. Yang artinya, Cevin juga memohon agar sang kakak juga mau melepaskannya….


Pagi ini, sekali lagi dengan kedua mata menatap lurus pada kedua mata di dalam foto itu, Cevin mengulangi permohonannya, dalam diam dan dengan sikap tubuh yang menantang.


Setelah sepuluh menit tegak di depan foto Irfan, Cevin membalikan badan. Dilihatnya jam di pergelangan tangan. Astaga! Sudah lewat lima menit dari jadwal ia harus berangkat. Diraihnya tas sekolahnya, tanpa memeriksa isinya, kemudian bergegas keluar rumah.


Bus yang pertama lewat, penuh sesak. Cevin nekat berdiri di pintu. Sampai di rumah Balqis, cewek itu sudah senewen berat.


"Kok telat banget sih? Telepon gue nggak diangkat-angkat, lagi." sambut Balqis begitu Cevin muncul di depan pagar.


"Mana nyokap lo? Mau langsung pamit nih," ucap Cevin langsung.


Citra berlari ke dalam, tak lama muncul bersama Cindy, sang mamah. Cevin langsung pamit, juga Balqis. Diiringi tatapan mamah Balqis, Cevin dan Balqis balik badan dan berlari ke luar halaman. Keduanya terus berlari di sepanjang gang dan trotoar tepi jalan raya. Setiap kali Balqis tertinggal, Cevin langsung meraih satu tangannya dan menariknya.


Ditikungan, mereka melihat bus jurusan sekolah mereka baru saja meninggalkan halte. Serentak keduanya memanggil. Cevin berteriak, Balqis menjerit. Bus itu berhenti. Meskipun pelajar adalah jenis penumpang yang sama sekali tidak potensial memberikan keuntungan, histeria kedua pelajar itu membuat sang sopir tak tega untuk meninggalkan mereka di belakang.


Bus itu penuh, tapi keduanya tidak peduli. Yang penting bisa memperkecil persentase keterlambatan. Cevin menyuruh Balqis naik lebih dulu, kemudian ia menyusul. Untuk kedua kalinya di pagi ini, cowok itu harus berdiri di pintu. Kali ini dengan Balqis yang harus dijaganya. Yang harus ditahananya dengan punggung setiap kali bus itu berbelok ke arah kanan.

__ADS_1


Begitu bus berhenti di halte depan sekolah, keduanya langsung melompat turun dan berlari sekencang-kencangnya menuju sekolah. Ternyata pintu gerbang telah tertutup. Bel baru saja berbunyi. Keduanya memohon dengan amat sangat pada Pak satpam agar bersedia membuka gerbang sedikit saja, karena masih ada sedikit waktu sebelum guru piket datang dan sebelum guru jam pertama sampai di kelas.


__ADS_2