LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 60 : MENGANGKAT BAHU


__ADS_3

"Gue juga ikut seneng, Fan. Sumpah! Akhirnya penderitaan gue yang kudu dengerin cerita lo yang itu-itu melulu, juga selesai sudah!!!" ucap Cevin sungguh-sungguh.


Irfan tercengang, tapi hanya sesaat. Kemudian ia tertawa terkekeh-kekeh.


"Salamin buat dia, ya?" pintanya penuh harap.


"Hmm…," Irfan cuma bergumam, sibuk memasukkan buku-buku pelajaran ke tas ranselnya.


"Ya, Vin. Salamin buat dia, ya?" ulang Irfan.


"Iya," jawab Cevin sambil melangkah ke luar kamar.


Irfan langsung membuntuti langkah adiknya. "Bilang sama dia, salam dari Irfan, gitu. Ya?" pinta Irfan lagi, dengan nada semakin penuh harap.


"Iyaaa," jawab Cevib menahan sabar. "Tadi kuping gue juga udah denger," sungutnya. Kemudian dia hentikan langkahnya di tangga teras. "Ada pesen lagi, nggak? Gue udah mau jalan nih."


"Nggak. Nggak. Itu aja." Irfan menggeleng cepat. "Sampein aja salam gue buat Balqis. Jangan sampe nggak. Salam sayang, gitu. Sama salam kangen." Lanjut Irfan.


"Kacangan, tau! Norak!" cela Cevin. "Gue malu nyampeinnya."


Irfan menyeringai, lalu tertawa pelan. "Iya deh. Salam aja. Nggak pake sayang sama kangen."


"Ya udah. Gue jalan dulu, ya?" Balas Cevin.


"Oke. Ati-ati di jalan ya, Vin." Ucap Irfan.


"Tumben?" Balas Cevin.


"Ya kan kalo nggak ati-ati, lo bisa ketabrak mobil. Terus mati. Kalo lo mati, nggak ada yang nyampein salam gue buat Balqis dong." Lanjut Irfan.


Cevin ternganga. Irfan tertawa melihatnya. Dengan wajah bahagia dilepasnya kepergain adiknya. Namun saat Cevin sudah hampir mencapai pintu pagar, Irfan berubah pikiran. Buru-buru dikejarnya adiknya itu.


"Eh, jangan deng, Vin! Jangan! Jangan!" serunya.


Cevin menghentikan langkah. Ia menoleh dan mengerutkan kening. Irfan yang sudah berada di hadapan adiknya menggeleng kuat-kuat. "Nggak jadi. Gue sendiri aja. Lo nggak usah bilang apa-apa ke dia." Lanjut Irfan.


"Gimana sih? Jadi nyalamin apa nggak nih?" Ucap Cevin.


"Nggak. Nggak. Gue sendiri aja. Pokoknya lo jangan nyebut-nyebut nama gue. Ntar gue mau dateng sendiri ke rumahnya. Kasih tau aja dia udah pake putih abu-abu apa belum, trus keliatannya jadi gimana. Udah itu aja." Balas Irfan.


Cevin mengangkat bahu.


"Ya udah. Gue jalan dulu. Ntar telat, lagi. Cuma gara-gara elo lagi nggak jelas." Balas Cevin.


"Iya. Iya. Sorry. Gih sana berangkat." Lanjut Irfan.


"Giliran udah nggak titip salam, nggak bilang ati-ati lagi." gerutu Cevin sambil balik badan.


Irfan tertawa geli. "Ati-ati di jalan ya!?" serunya karena Cevin udah hilang di balik pagar.


"Telat!" langsung terdengar seruan balik Cevin.


Kembali Irfan tertawa geli. Kemudian ia balik badan dan berjalan masuk rumah dengan senyum sumringah.


***


Cevin tiba di sekolah masih pagi sekali, tapi ternyata kelas sudah ramai. Semangat itu sepertinya menghinggapi semua anak baru. Wajah-wajah itu adalah sebagian dari wajah-wajah yang kemarin dikenalnya selama MOS. Nama-nama mereka pun masih sama. Namun Cevin nyaris tidak mengenali.


Hanya karena mereka semua telah berseragam putih abu-abu!

__ADS_1


Cevin takjub...!!!


Bukan cuma anak kecil di kamarnya yang sekarang sudah menghilang. Semuanya anak ingusan yang kamis kemarin masih berkeliaran di lapangan sekolah, sekarang juga sudah tidak ada lagi. Semuanya wajah yang sedang menuju kedewasaan. Yang harus berpikir dua tiga kali sebelum berlari-lari atau melompat-lompat di lapangan, atau pas jam olahraga.


Cevin terduduk diam di kursi yang dipilihnya. Menatap seisi kelas dengan mata melebar. Terpukau. Sampai kemudian dilihatnya Balqis melangkah memasuki kelas. Kembali Cevin takjub.


Itu anak kecil yang ditaksir kakaknya mati-matian. Namun pagi ini Balqis bukan anak kecil lagi. Dia sudah jadi cewek yang pantas untuk didatangi setiap malam minggu. Yang sudah pantas digandeng tanpa harus merasa malu.


Cevin jadi ingat bahwa Irfan saat ini sedang menunggu informasinya. Balqis dalam seragam SMA. Cevin jadi ingin balas dendam atas ulah Irfan yang membangunkannya setengah jam lebih awal subuh tadi.


Dibiarkannya sang kakak menunggu. Biar dia senewen. Biar dia blingsatan. Biar dia jadi emosi sampai serasa mau gila. Cevin tersenyum sendiri membayangkan keadaan Irfan saat ini. Dan dugaannya memang tepat. Irfan sedang gelisah. Amat sangat gelisah!


***


Irfan meletakan ponselnya di meja, lalu memandangi benda itu dengan intensitas tinggi. Seolah-olah benda itu datang jauh dari angkasa luar dan baru diterimanya dari alien tadi malam. Teman-teman sekelas Irfan terheran-heran melihat tingkahnya, dan jadi ikut-ikutan. Bergantian mereka menundukkan kepala rendah-rendah, memperhatikan ponsel cowok itu, sambil mengajukan pertanyaan yang sama.


"Lo lagi ngeliatin apaan sih?"


Irfan mendongakkan kepala sambil mendesah kesal untuk yang ke sekian kalinya.


"Bisa nggak sih elo-elo pada nggak gangguin gue?" Ucap Irfan.


"Siapa yang gangguin sih? Orang cuma nanya. Lo lagi ngeliatin apaan? Dari tadi serius banget," kata seorang temannya.


"Oh, gue tau!" seru yang lain. "Irfan lagi nunggu kiriman gambar atau rekaman porno!"


"Wuiiih, asyik! Ntar forward ke gue ya, Fan!"


"Gue jugaaa!"


Langsung terdengar seruan riuh dan antusias. Seruan anak-anak cowok pastinya. Sementara para cewek menatap Irfan dengan pandangan jijik.


"Nggak mungkinlah dia terima gambar. Orang HP-nya aja HP konvensional gitu. Mana bisa buat terima yang canggih-canggih." Ejek Dilan.


Irfan menatap Dilan dengan sorot mata berterima kasih, tapi juga dongkol dan agak tersinggung karena ponselnya dibilang konvensional. Memang iya sih. Tapi kan nggak perlu diumumkan terang-terangan begitu.


"Tanks, Dil, untuk pembelaan lo yang pait banget," katanya.


Dilan mengangguk sambil menyeringai geli. Sementara Sigit terawa tanpa suara.


Dengan berat hati, terpaksa Irfan mengubah ringtone ponselnya ke posisi silent, karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Dan sepanjang pelajaran pertama dan seterusnya, ia gelisah luar biasa. Kegelisahan pekat yang benar-benar membuat dadanya sesak dan jadi ingin teriak-teriak.


Penjelasan dari setiap guru lewat begitu saja. Tidak tersangkut di kepala. Setiap uraian pelajaran yang ditulis para guru di papan tulis, dicatatnya asal-asalan. Dan begitu bel istirahat pertama berbunyi, Irfan langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, berharap di layarnya tertera pemberitahuan bahwa ada SMS masuk. Missed call, tidak mungkin, karena Cevin pasti juga sedang belajar.


Dan betapa kecewanya Irfan saat mendapati layar ponselnya tidak menampakkan apa-apa. Sama sekali tidak ada SMS yang masuk! Dengan geram akhirnya dia mengontak adiknya.


"Kok elo nggak ngontak-ngontak gue sih? Gue tunggu-tunggu, juga!" serunya begitu Cevin mengangkat telepon.


"Emang sekarang, ya?" Cevin berlaga bego. "Gue kirain laporannya di rumah."


"Sekarang, tauuu!" deru Irfan jengkel. "Malah harusnya tadi pagi. Begitu lo sampe sekolah, begitu lo ngeliat dia, langsung lapor ke gue! Lo nggak tau, gue udah hampir sinting gara-gara nunggini telepon dari lo!"


"Kalo lo marah-marah, nggak gue kasih tau nih," ancam Cevin.


Irfan langsung tersentak. "Ya jangan dong, iya deh. Sorry…," buru-buru dia minta maaf dan intonasi suaranya melunak. "Jadi, dia gimana? Udah pake putih abu-abu juga?"


Di seberang Cevin tertawa geli tanpa suara mendengar perubahan dratis sikap kakaknya.


"Dasar bego, lo! Ya jelas dia pake putih abu-abu jugalah…."

__ADS_1


Seketika mata Irfan terbelalak.


"Trus? Trus? Dia keliatan gimana?" tanyanya antusias, dan tanpa sadar ia menahan napas.


"Jadi keliatan agak dewasa. Nggak keliatan kayak anak-anak lagi." Ucap Cevin.


"Bener!?" seru Irfan tanpa sadar. "Pasti keliatan tambah cakep deh!"


"Iya, jadi tambah manis." Cevin mengiyakan dan itu memang harus diakui.


"Trus? Trus?" Tanya Irfan.


"Trus apa lagi? Lo kan cuma minta info itu doang. Katanya lo mau langsung nemuin dia nanti?" Balas Cevin.


"Oh, iya, ya?" Irfan tersadar. "Ya udah deh. Thanks banget, Vin. Lo emang my best-best brother!" Lanjut Irfan.


"Ya jelaslah. Emangnya lo punya sodara cowok yang lain, apa?" Balas Cevin kesal.


Irfan meringis geli. Diucapkannya terima kasih sekali lagi, kemudian ditutupnya telepon.


"Thanks banget ya, Vin, brother." Ucap Irfan.


"He-eh." Cevin menutup ponselnya sambil tersenyum kecil. Ia ikut bahagia mendengar kakaknya kedengarannya begitu bahagia.


Setelah mendapatkan kabar itu, Irfan jadi tenang, sekaligus tak sabar menunggu jam sekolah usai. Nanti malam dia akan melaksanakan rencana yang telah disusunnya selama berbulan-bulan, yang dinantikannya sungguh-sungguh dengan segenap kesabaran.


Ia akan mendatangi rumah Balqis. Langsung di hari pertama cewek itu mengenakan seregam SMA. Ia akan muncul dihadapan cewek itu. Utuh, jelas, nyata, dan gamblang. Dan Irfan akan mengatakan semuanya. Keseluruhan cerita. Pengamatannya, penantiannya, dan harapannya. Dan akan dimintanya Balqis agar bersedia jadi ceweknya.


Seharian itu Irfan sangat ceria. Begitu gembira. Terlihat bahagia. Banyak tertawa. Sedikit-sedikit tersenyum. Di mata Irfan, semuanya jadi terasa menyenangkan. Siapa bilang diomelin guru di depan kelas gara-gara nggak bisa menjawab soal-soal memalukan? Biasa-biasa aja tuh. Yang penting budek.


Itu yang terjadi pada jam biologi. Bu Endang sudah berpesan bahwa dia akan mengulangi semua materi pelajaran di kelas dua dalam bentuk rentetan pertanyaan esai. Bahkan juga materi kelas satu. Materi kelas satu? Siapa juga yang masih ingat!


Ternyata rentetan pertanyaan itu benar-benar rentetan. Sampai-sampai tidak ada ruang kosong yang tersisa di papan tulis. Seluruh hitam itu isinya cuma pertanyaan dan pertanyaan.


Dan nasib tidak berpihak kepada Irfan. Ia terkena giliran pertama. Dengan marah Bu Endang memanggilnya ke depan kelas, karena tidak satu pun rentetan pertanyaan itu yang bisa dijawab Irfan. Bahkan soal yang paling sederhana.


Sebenarnya Irfan bukan tidak bisa menjawab. Hanya saja ia tidak ingin hari romantis dan terindah dalam hidupnya ini jadi rusak. Ia ingin hari ini berjalan sempurna, dan berakhir dengan kebahagian dan keindahan yang juga sempurna.


Ia tak ingin kalimat-kalimat romantis yang sudah disiapkannya untuk diungkapkan pada Balqis nanti, tergeser dari dalam kepalanya gara-gara anatomi manusia, hewan, dan para tumbuhan itu.


Masih ada hari esok buat biologi!


Karena itu, Irfan diam saja saat Bu Endang mengomel panjang-lebar di depan mukanya.


"Tuh anak kok bahagia ya, diomelin di depan kelas gitu?" kata Dilan heran, yang juga mewakili keheranan teman-teman lainnya.


Masih ada lagi perubahan Irfan yang membuat teman-teman sekelasnya semakin bertanya-tanya, terutama yang cewek-cewek. Selama ini Irfan selalu menganggap cewek selalu membesar-besarkan masalah, atau hobi membuat hal-hal yang bukan masalah menjadi masalah. Bahwa cewek itu makhluk irasional, yang berpikir dengan cara serumit mungkin, ribet, cengeng, nggak jelas, moody, dan lain-lain.


Sekarang Irfan justru menganggap semua "Keanehan" cewek itu sebagai sesuatu yang unik.


Cowok yang biasanya paling malas kalau melihat segerombolan cewek sedang bergosip itu sekarang juga menganggapnya sebagai sesuatu yang unik dari dunia cewek. Selama ini kalau mendengar cewek-cewek sekelasnya saling curhat, Irfan sering merecoki dengan komentar-komentar, "Begitu aja jadi masalah." Atau… "Soal kecil gitu aja dimasalahin. Buang-buang energi dan waktu aja." Atau yang paling sering membuat para cewek itu kesal, "Dasar cewek! Nggak logis. Senengnya nyakitin diri sendiri!"


Namun hari ini berbeda. Mendadak Irfan jadi penuh empati. Begitu penuh belas kasih. Begitu perhatian. Begitu lembut. Dan begitu bijaksana.


Cewek-cewek sekelas yang biasanya dongkol banget kalau Irfan ikut nimbrung dalam kerumunan mereka, dan langsung mengusir cowok itu jauh-jauh, kali ini terkesima. Terpukau. Takjub dengan pendapat dan advis-advisnya yang begitu bijaksana. Begitu penuh pengertian dan begitu paham akan dunia cewek.


"Okay, ladies…." Irfan tersenyum lembut pada cewek-cewek di sekelilingnya. "Kalo ntar ada masalah lagi, cerita aja sama gue. Kali aja gue bisa bantu cari solusinya. Oke?" kemudian dia bangkit berdiri. Ditinggalkannya kerumunan teman sekelasnya itu, yang menatap kepergiannya dengan mulut terngaga.


Bukan hanya teman-temen sekelasnya, para guru pun dibuat terheran-heran dengan perubahan sikap Irfan itu.

__ADS_1


__ADS_2