LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 63 : SATU TANYA TANPA JAWABAN


__ADS_3

Bangku itu telah kosong...!!!


Sia-sia Sigit terus menatap ke ambang pintu kelas karena sudah pasti sahabatnya takkan pernah datang. Sia-sia dia berusaha menipu diri dengan menganggap realita itu adalah bagian dari mimpi. Namun di saat ia terjaga, saat mata itu telah terbuka, mimpi itu tidak berakhir.


Di bangkunya, Sigit duduk mematung seperti orang yang tak sadarkan diri. Terjatuh dalam mimpi yang takkan berakhir itu. Mulai hari ini ia akan duduk sendiri. Irfan sudah pergi, takkan pernah bisa ditemukan walaupun betapa keras Sigit mencari.


Tinggal dalam kenangan...!


Hanya dalam ingatan...!


Semua tawa dan pertengkaran, semua lelucon dan keisengan konyol. Semua cerita dan rahasia. Semua dukungan dan pengertian. Sampai kesedihan ini akhirnya hilang dan kekosongan ini berangsur-angsur tersembuhkan.


Sigit mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Berusaha keras agar sakit dan sesak di dadanya tidak meledak keluar.


"Gue duduk sini ya, Git?" Wisnu tiba-tiba saja sudah berada di samping meja. Sigit mendongak kaget. "Gue duduk sini, ya?" Wisnu mengulangi permintaannya.


Seketika Sigit menolak...!!!


"Nggak... Jangan! Biarin aja ini bangku kosong!"


Sesaat Wisnu menatap Sigit, kemudian kembali ke bangkunya sendiri tanpa bicara apa-apa lagi. Ia tidak berusaha untuk memaksa. Begitu juga teman-teman sekelas yang lain. Mereka biarkan Sigit tenggelam dalam kesedihannya. Karena, meskipun rasa itu juga dialami seisi sekelas, Sigit merasakannya jauh lebih pekat dan lebih dalam. Karena dia dan Irfan sudah bersama-sama sejak mereka bertemu di tahun pertama Sekolah Menengah Pertama dulu.


Menjelang bel pelajaran pertama berbunyi, Sigit justru meninggalkan kelas. Tidak satu pun teman-temannya berusaha menghalangi. Tapi sebelum pergi ia sempat berpesan. "Gue minta jangan ada yang duduk di bangkunya Irfan!" ucapnya dingin. Dengan wajah kaku dan kedua rahang mengeras, ia melangkah keluar kelas, menuju sisa-sisa bangunan lama yang masih berdiri. Sigit kemudian memasuki salah satu ruangan.


Dipandanginya ruangan yang dulu pernah menjadi ruang kelas itu. Kini ruangan ini kosong, berdebu, lengang, dan ditinggalkan. Tetapi dulu ruangan ini pasti penuh siswa yang kini sudah bergelar alumni dan entah tersebar di mana saja.


Pasti banyak sekali kenangan di ruangan ini. Milik para alumnus itu.


Berapa banyak dari mereka yang pernah tertangkap menyontek di ruangan ini?


Berapa banyak yang telah kena marah guru?


Berapa banyak yang pernah naksir teman sekelasnya sendiri?


Seberapa konyol keisengan-keisengan yang pernah mereka lakukan?


Seberapa riuh dan ingar-bingar keributan yang pernah mereka ciptakan?


Dan kenangan yang ditinggalkan Irfan di ruangan ini adalah hari pertama ketika anak itu terpaksa harus membawa bekal makanan ke sekolah. Lontong dan bakwan udang yang dikeluarkannya dari dalam tas pinggang sambil berpromosi, bahwa judulnya memang bakwan, makanan rakyat, tapi rasa dan kualitasnya standar hotel berbintang.


Jadi, meskipun mereka berdua tidak bisa jajan di kantin dan terpaksa kembali ke zaman Taman Kanak-kanak membawa bekal dari rumah itu sama sekali bukan kondisi yang tragis atau mengenaskan.


Ada sebentuk senyum muncul di mata sedih Sigit yang menerawang. Namun kenangan-kenangan itu kemudian membuatnya tidak sanggup lagi

__ADS_1


menahan kepedihan. Karena tak mungkin berteriak, akhirnya Sigit melepaskan rasa sesaknya dengan meninju dinding, kemudian menendang keras-keras meja dan kursi rusak yang ditumpuk di salah satu sisi ruang.


Tendangan itu menyebabkan kursi yang ditumpuk paling atas jatuh berdebam. Salah satu kaki kursi yang sudah rusak seketika patah. Sigit meraih kusri itu dan mematahkan ketiga kakinya yang lain. Dibantingnya patahan-patahan kaki kursi itu kuat-kuat ke lantai.


Cowok itu mengamuk diluar kesadaran, dan baru berhenti setelah benar-benar lelah dan kedua kaki dan tangannya terasa sakit. Tubuhnya kemudian meluruh lunglai. Jatuh terduduk di lantai. Sama sekali tidak peduli dengan tebalnya debu dan kotoran.


Ke mana perginya orang-orang yang sudah meninggal? desis hatinya perih. Tanya yang tanpa jawab. Atau bisa jadi justru punya begitu banyak jawaban. Hingga akhirnya percuma saja ditanyakan. Karena hanya akan membingungkan hingga akhirnya berujung dengan lagi-lagi tanpa jawaban.


Kepala Sigit tertunduk dalam dengan susah payah ia menelan ludah. Tangis yang mati-matian ditahan membuat tenggorokannya sakit. Dengan letih ia menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding. Perlahan kedua matanya terpejam.


Dalam kegelapan, ia paksakan hatinya untuk berhenti bertanya ke mana perginya orang-orang yang sudah meninggal. Namun gagal, karena sederet pertanyaan baru kemudian justru bermunculan.


Tidakkah mereka, orang-orang yang sudah "Pergi" itu, juga merasakan kepedihan yang sama?


Apakah meraka juga tetap mengingat dan menyimpan semua kenangan?


Senyum terakhir orang-orang yang mereka tinggalkan. Pelukan terakhir. Tawa terakhir. Percakapan, pertengkaran, kemarahan, kesedihan. Canda dan tangis.


Apakah mereka juga berusaha menembus bagian yang terputus itu?


Berusaha menggapai kembali orang-orang yang mereka cinta. Berusaha bicara. Sama seperti orang-orang yang masih hidup, yang mereka tinggalkan, berusaha terus "Mencari" dan "Menghidupkan Kembali" mereka yang telah pergi. Dengan segala cara.


Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab lainnya, yang luruh bersama air mata, akhirnya membuat Sigit jatuh tertidur.


Tanya yang sama juga menekan dada Cevin sebelum Irfan dimakamkan. Ketika tubuh sang kakak yang terbujur kaku dan diam dalam peti mati itu masih bisa ditatapnya. Masih bisa disentuh dan diraba. Ketika dirinya sudah letih menangis. Ketika telah terhenti semua histeria dan reaksi gila. Pertanyaan itu pun muncul.


Ke mana perginya jiwa-jiwa yang lepas dari badan?


Satu tanya tanpa jawaban.


***


Kematian Irfan diumumkan pihak sekolah Cevin dengan pengeras suara. Namun karena baru satu hari bersama-sama dalam satu kelas, belum begitu saling kenal, hanya segelintir teman sekelas Cevin yang datang melayat. Balqis tidak datang. Sempat timbul kemarahan dalam hati Cevin saat sampai malam menjelang larut, cewek itu tidak juga kelihatan. Bahkan keesokan harinya, saat Irfan dimakamkan, Balqis tetap tidak datang.


"Dia yang matiin kakak gue, dan dia nggak dateng!" desisnya berang. "Kurang ajar tu cewek!" Sigit, yang duduk di sebelahnya, menepuk bahu Cevin pelan.


"Balqis nggak kenal Irfan," bisiknya. "Jadi lo nggak bisa nyalahin dia." Lanjut Sigit.


"Katanya waktu itu udah sempet kenalan?" Tanya Cevin.


"Udah lama banget. Gue nggak yakin Balqis masih inget." Jawab Sigit.


Dua hari kemudian, ketika Cevin kembali masuk sekolah, teman-teman sekelas yang tidak datang melayat satu per satu mendatangi Cevin untuk mengucapkan belasungkawa. Ketika Balqis mendatanginya, tanpa sadar raut wajah Cevin mengeras. Ia masih marah karena cewek itu tidak datang untuk melihat Irfan terakhir kali, sebelum tubuhnya disatukan dengan bumi.

__ADS_1


Balqis, yang bisa melihat kemarahan Cevin dengan jelas, dengan rasa bersalah menerangkan penyebab dirinya tidak datang.


"Maaf, bukannya gue nggak mau dateng. Tapi temen-temen yang gue tanyain pada nggak tau alamat rumah lo. Gue telepon HP lo berkali-kali, tapi nggak aktif." Alasan Balqis.


Amarah Cevin sedikit meluruh. Malas berkali-kali menjawab pertanyaan seputar kematian Irfan, Cevin mematikan ponselnya, bahkan sampai pagi ini.


"Nanti pulang sekolah lo ke rumah gue ya. Mau, ya?" tanyanya. Cevin buru-buru menyambung kalimatnya melihat Balqis ragu. "Sebentar aja. Nanti pulangnya gue anter." Lanjut Cevin.


Balqis tidak sampai hati menolak. Meskipun dalam hati dia bingung, kenapa hanya dirinya yang diminta Cevin untuk ke rumahnya. Sementara teman-teman sekelas yang lain tidak.


Sepanjang perjalan, keheningan mendominasi di dalam taksi. Balqis merasa canggung, juga bingung. Sementara Cevin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak lupa dengan cewek yang duduk di sebelahnya. Hanya sama sekali tidak ingin mengajaknya bicara.


Irfan tewas di jalan raya gara-gara cewek satu ini. Semua orang bilang itu takdir yang tragis. Tapi bagi Cevin, itu sama sekali bukan tragis. Tapi konyol! Sia-sia!


Karena rumahnya masih agak rame dengan kedatangan saudara dan para tetangga, Cevin membawa Balqis ke teras samping.


"Mau minum apa?" tanya Cevin. Nada suaranya tetap dingin.


"Apa aja. Nggak usah juga nggak apa-apa," jawab Balqis pelan. Cevin berjalan ke dalam. Tak lama ia muncul dengan segelas sirop dingin dan sebuah foto berbingkai.


"Ini kakak gue, yang meninggal dua hari lalu." Cevin mengulurkan foto Irfan. Balqis menerimanya, lagi-lagi dengan bingung.


"Kejadiannya ternyata di jalan raya di depan gang rumah gue," ucap Balqis pelan. "Gue sama sekali nggak nyangka kalo itu kakak lo. Tetangga-tetangga gue sih banyak yang keluar, ke jalan. Tapi gue nggak berani." Jelas Balqis.


"Dia meninggal di tempat kejadian," ucap Cevin dengan nada yang tiba-tiba jadi getas. Rasa ingin menyalahkan Balqis atas peristiwa itu kembali muncul.


Balqis jadi bingung harus bagaimana. Akhirnya ia menunduk, memperhatikan foto Irfan. Melihat itu, kemarahan Cevin menguap. Berganti dengan rasa penasaran. Dengan tatap tajam, diperhatikannya wajah tertunduk Balqis.


"Kakak lo nggak mirip elo, Vin," ucap Balqis sambil mengembalikan foto itu dengan gerakan terburu-buru. Bukan apa-apa. Bulu kuduknya merinding.


Kakak Cevin itu, dari fotonya jelas orangnya asyik banget. Kayaknya kocak dan suka iseng. Matanya bandel. Tapi dia sudah meninggal…!!! Lagi pula gue nggak kenal, Balqis berkata dalam hati.


Cevin menerima foto Irfan yang diulurkan Balqis. Perasaannya campur aduk mendapati kenyataan bahwa ternyata Balqis memang tidak mengenal Irfan.


"Dia mirip adik gue, Queena. Di antara kami bertiga, cuma gue yang mukanya beda." Jelas Cevin.


"Oooh." Balqis mengangguk-angguk. Kemudian dengan perasaan tidak enak, ia mohon diri.


"Mmm… gue pamit ya, Vin. Nggak apa-apa, nggak usah dianter. Gue bisa pulang sendiri." Cevin menggeleng tegas.


"Tadi gue udah janji mau nganter lo pulang, kan? Bentar gue ganti baju dulu." Ucap Cevin.


Begitu Cevin menghilang ke dalam, Balqis menarik napas panjang. Di luar suasana duka di rumah ini, dia merasa ada suasana yang lain. Yang aneh, Yang beda.

__ADS_1


Tak lama Cevin kembali, sudah berganti dengan T-shirt dan celana jins. Namun bukan itu yang membuat Balqis semakin merasakan adanya suasana yang aneh itu. Melainkan buket bunga ditangan Cevin, juga ekspresi mukanya yang kelam.


__ADS_2