
Satu bulan kemudian...!!!
Sigit tidak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam hati istrinya. Dan tidak tahu bahwa di dalam kandungan perempuan yang telah dinikahinya itu telah tumbuh janin lelaki lain. Cuma yang dia perbuat sekarang, sikapnya kian dingin terhadap istrinya. Itulah sebabnya hingga sepasang suami istri ini jarang sekali bertegur sapa. Keduanya nampak saling bertahan pada pendiriannya masing-masing.
Rupanya keadaan diri Balqis kini, tak bisa terus menerus bertahan begitu. Sebab dia harus memberi tahu kepada suaminya, tentang keadaan dirinya yang telah mengandung. Sungguh pun hal itu rasanya teramat berat.
Ditambah lagi dengan permasalahan dengan Selly, mamahnya cevin yang bersikeras untuk tidak membiarkan anaknya Cevin menikah dengan Balqis. "Sudah jangan banyak ngomong! Begini saja, kalau kau memang mau menuntut tanggung jawab anakku, katakan berapa biaya untuk menggugurkan kandunganmu? Kemudian jangan kau ganggu anakku lagi!" Ucap Selly mamahnya Cevin menghina. Menganggap nilai nyawa, biasa ditukar dengan sejumlah uang. Saat Balqis meminta pertanggungjawaban hasil dari perbuatan Cevin dengan memberikan saran yang sangat tidak bisa di terima Balqis akhirnya Balqis pun harus bisa menentukan pilihan.
Akhirnya Balqis menerima lamaran Sigit yang mengajaknya hidup bersama.
Tidak...!!!
Balqis mengambil keputusan tidak akan meninggalkan suaminya. Meskipun apa yang akan terjadi, keputusannya itu tak akan bisa tergoyahkan. Sekalipun janin yang dikandungnya adalah benih Cevin. Dan maukah Sigit menerima bayi itu setelah lahir sebagai anak kandungnya sendiri? Maukah?
Balqis kembali merasa terombang-ambing oleh ketidak pastiannya itu. Cintanya terhadap Cevin begitu
besar. Sedangkan rasa belas kasihan dan kesetiaannya terhadap Sigit juga teramat besar. Dan rasanya dia tak akan sampai hati mengatakan kepada suaminya tentang benih yang sedang tumbuh dalam kandungannya. Tentu lelaki itu akan merasa sangat disakiti oleh keterusterangannya. Seolah-olah dia telah menikam secara langsung kehidupan suaminya. Suami yang tak berdaya atas segala kekurangannya. Dan hal itu bisa merupakan api kemarahan suaminya. Lelaki itu pasti akan sangat marah begitu mengetahui istrinya sampai begitu nistanya. Dan lebih dirasakan memalukan lagi, istrinya itu sampai mengandung akibat perbuatan terkutuk itu. Dan akhirnya Balqis cuma bisa menarik napas berat. Semula niatnya yang menggebu-gebu ingin memberi tahu keadaan dirinya kepada suaminya, kembali tertunda-tunda. Apalagi mengutarakan niatnya untuk meminta dicerai dari suaminya.
Itulah kelemahan Balqis setiap melihat keadaan diri suaminya yang invalid. Dia tak sampai hati, meskipun sebenarnya sudah tak tahan didera penderitaan dan dilindas kegetiran.
***
Malam itu suasana di rumah Balqis agak menyenangkan. Sebab Sigit mau meneguk minuman kopi yang disediakan Balqis di atas meja ruang makan. Dan hal itu merupakan awal suatu keberanian Balqis untuk menegur suaminya.
"Mas Sigit ingin makan malam? Balqis sediakan ya?" kata Balqis lembut dan penuh perhatian.
"Aku masih kenyang," sahutnya nampak tak bergairah.
Balqis menarik napas kecewa, lantas menarik kursi. Duduklah dia menghadapi meja. Menghadapi suaminya yang dengan santainya meneguk minuman kopinya. Seolah-olah lelaki itu sama sekali tak menghiraukan kehadiran istrinya. Acuh saja. Membuat Balqis merasa canggung menghadapi suaminya.
Sekarang, Balqis mau mengutarakan sekarang. Memberitahukan keadaannya sekarang. Ditunda-tunda pun akhirnya akan ketahuan juga.
Tapi kemudian dia ragu lagi. Dia merasa saat seperti ini kurang tepat. Lalu kapan lagi dia akan memulai?
Keadaan sudah semakin mendesak. Dari pada suaminya akhirnya tahu, lebih baik dia tahu sekarang. Itulah letupan perasaan Balqis, hingga timbul keberaniannya. Tidak ragu-ragu lagi.
''Mas, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," kata Balqis tanpa mengangkat mukanya. Dia enggan bersitatap dengan suaminya.
"Ya, katakan saja," suara Sigit datar. Yang dipandang bukan wajah istrinya, melainkan gelas yang berisi minuman kopi. Dan minuman kopi itu tinggal separuh.
"Sebelumnya Balqis minta maaf"
Ucap Balgis, terdengar suara Balqis bergetar, nadanya berat terlepas dari mulutnya. Membuat Sigit merasa ada sesuatu kejanggalan yang lain dari biasanya. Ditambah lagi dengan ucapan "Maaf" istrinya. "Aneh? Ada apa ini?" pikir Sigit yang kemudian memandang wajah Balqis.
"Ada apa, Qis?"
Ucap Sigit.
"Balqis pasti akan sangat mengecewakan mas Sigit."
Balas Balqis.
Sigit tersenyum pahit...!!!
__ADS_1
"Selama ini kau tak pernah mengecewakan aku. Justru aku yang tak pernah menyenangkan hidupmu."
Balas Sigit.
"Menyakiti perasaan mas Sigit," suara Balqis mulai parau.
"Itu memang seringkali kurasakan. Tapi aku menyadari tentang semua kekurangan pada diriku." Jelas Sigit.
"Bukan itu..." Keluh Balqis yang mulai terisak.
"Lalu apa?" Sigit memandangnya tidak faham.
"Keadaanku sekarang... keadaanku sekarang..." ucapan Balqis terhenti. Tangisnya meledak.
"Bicaralah terus terang, dan jangan dibarengi dengan isak tangis begitu. Semuanya itu akan membuatku jadi kesal."
Ucap Sigit.
Balqis buru-buru mengusap air matanya. Dan berusaha menghentikan tangisnya, walau isaknya masih tersisa. Dadanya bergelombang naik turun. Oh Tuhan, berikanlah aku kekuatan untuk mengutarakan keadaanku yang sekarang ini. Dan semoga mas Sigit akan memaafkanku dengan tanpa penyesalan. Tanpa kemarahan.
"Mas Sigit, aku telah ham... hamil sebelum menikah dengan mas Sigit," suaranya berat sekali.
Sigit sesaat terperangah. Kemudian dia menarik napas panjang, seolah-olah hampir kehabisan napas. Dan dirasakan seolah-olah ruangan itu jadi teramat pengap.
"Aku sudah menduga..." gumam Sigit sambil menundukkan muka. Dan ucapan itu nyaris tidak kedengaran. Sementara di dalam dadanya segumpal kenyerian menggigit-gigit hatinya. Betapapun kemarahan, kebencian meletup-letup dalam dadanya, namun karena dia menyadari tentang segala kekurangannya, maka tak berdayalah dia. Ibarat padi yang tertunduk menguning. Tertunduknya Sigit memang dapat diibaratkan padi yang tua dan menguning. Sebab telah sarat dengan segala macam cerita dan siksaan batin. Sementara itu Balqis merasa dicekam rasa berdosa. Bersalah. Maka dia melangkah hati-hati mendekati suaminya. Dan sepasrah diri menerima hukuman yang akan diterimanya. Mungkin setimpal dengan perbuatannya. Maka Balqis memegang pundak lelaki itu. Sigit masih tetap tertunduk.
"Aku mohon pengampunanmu, mas..." suara Balqis gemetar dalam isak.
Tidak terdengar sahutan...!!!
Menjadikan Balqis makin pedih.
"Mas, kau tidak mau mengampuni aku?" memelas sekali ucapan perempuan itu. Tapi tetap tidak ada reaksi dari Sigit, sehingga kepedihan kian merejah. Tangisnya pun menjadi semakin terisak.
Tubuh yang lesu bagai tak mempunyai daya itu digoyang-goyangkannya. Dan meskipun digoyangkan hanya bagaikan patung. Menurut saja kemauan perempuan itu. Membuat Balqis jadi menjerit.
"Maaaaas! Maaaaas! Kenapa tak kau jawab?!"
Ucap Balqis.
Tidak ada sahutan...!!!
Tangis Balqis tambah melengking. Tidak lagi menggoyang-goyangkan tubuh lelaki itu. Sekarang dipeluknya erat tubuh yang bagai tak mempunyai kekuatan dan daya menghadapi kenyataan.
"Balqis memang perempuan terkutuk, mas "
Ucap Balqis.
"Syukurlah kalau kau tahu itu," suara Sigit serak parau.
"Sudikah kiranya mas Sigit mengampuni, Balqis?"
Tanya Balqis.
__ADS_1
Perlahan-lahan Sigit mengangkat kepalanya, sampai dia tengadah memandang langit-langit rumahnya. Di matanya nampak berkilau-kilau digenangi air bening. Dan bibirnya mengucap bagai bergumam pelan...!
"Betapa mudahnya pengampunan bagi perbuatan
seorang istri yang nista."
Kata Sigit kemudian.
"Balqis memang nista. Balqis memang terkutuk, tapi Balqis juga perempuan biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Oleh sebab itu Balqis mohon agar mas Sigit mengampuni Balqis. Lakukanlah apa saja, asalkan jangan putuskan rasa kesetiaanku untuk selamanya padamu. Aku pasrah menerima hukuman apa saja darimu," suara Balqis disela isak tangisnya.
"Kau telah merusak citra kaum wanita."
Ucap Sigit.
"Balqis tahu itu."
Ucap Balqis.
"Dan anak dalam rahimmu senista perbuatanmu."
Lanjut Sigit lagi.
"Biarkan dia tumbuh besar dalam rahimku, karena aku sangat membutuhkannya. Bayi yang akan lahir dalam kandunganku ini, merupakan kebahagiaanku satu-satunya. Dia bagaikan pelita yang akan menerangi dalam hidupku," kata Balqis yang begitu sangat mendambakan kehadiran bayinya itu.
Sigit menarik napas berat. Dalam-dalam sekali tarikan napasnya itu, sampai-sampai dadanya bagai mau pecah. Pecah menampung terlalu banyak udara. Lalu sedikit, perlahan dia hembuskan napasnya kembali. Sementara letupan kemarahan dan gejolak emosi ditahannya.
"Sudah sejak dari awal aku mengatakan, bahwa hidupku tak mempunyai kekuatan untuk membahagiakan hidupmu, tapi kenapa kau tetap mempertahankan diriku?"
Kata Sigit menjelaskan.
Balqis tertunduk. Tergiang kembali ucapan Cevin yang minta ketegasan darinya. Bercerai dengan suaminya demi anaknya, kemudian menikah dengan Cevin. Harus sekejam itukah aku mengambil keputusan?
Oh Tuhan, tunjukanlah jalan yang terbaik pada diriku. Rasanya aku tak bisa berbuat banyak menghadapi persoalan yang pelik ini, keluh Balqis dalam hati
"Jadi sekarang apa kemauanmu?" tanya Sigit sambil menatap wajah Balqis.
Balqis mengangkat kepalanya, membalas tatapan suaminya.
"Balqis tidak tahu," jawab Balqis sembari menggelengkan kepala. Mendesah dalam keluhan.
"Kau harus bisa tegas memilih antara dia atau aku. Jangan dibiarkan persoalan ini kian berlarut-larut Karena ini menyangkut masa depan bayi yang akan lahir dari dalam kandunganmu."
Jelas Sigit.
"Balqis tidak akan meninggalkan mas Sigit," kata Balqis dengan terisak.
"Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Kau pasti membohongi dirimu sendiri. Sudahlah Balqis, aku rela melepaskanmu dan menikahlah dan kembali dengan Cevin. Kau mungkin akan dapat hidup bahagia di sisinya. Percayalah."
Jelas Sigit.
"Tidak. Tidaaaak!" Balqis berlari masuk ke kamarnya. Di atas tempat tidur dia menangis. Apa pun yang akan
terjadi dia tak akan meninggalkan suaminya.
__ADS_1
Biarlah...!!! Biarlah...!!!
Cevin menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Aku tak akan meninggalkan suamiku yang butuh kasih sayang dan perawatan.