
Cevin malah tertawa.
"Kau memang sahabatku yang setia. Tolong tuangkan wiskynya lagi ke dalam gelas."
Ucap Cevin.
Ranti melakukan itu. Cevin meneguknya lagi sampai habis. Dan Ranti geleng-geleng kepala.
"Sekarang temani aku melantai yuk?" ajak Cevin. Ranti menurut karena ingin tahu sampai di mana kekuatan laki-laki ini melampiaskan emosi dan napsunya. Sambil bergandengan mereka menuju ke arena dansa. Langkah-langkah Cevin sudah mulai sempoyongan.
Irama musik yang mengiringi penyanyi wanita berirama slow. Cevin mendekap Ranti erat-erat sambil bergoyang-goyang mengikuti irama musik. Muka laki-laki itu digesek-gesekan ke pipi Ranti. Merinding juga bulu-bulu halus di sekujur badannya. Sedangkan jemari tangan Cevin *******-***** pinggul perempuan itu. Penuh gairah napsu. Dan ketika Cevin mendekatkan bibirnya ke bibir perempuan itu, dengan cepat Ranti menepiskan muka.
"Cevin, sadarlah aku sahabatmu. Aku bukan Balqis," desah Ranti.
"Izinkan aku menciummu," bujuk Cevin semakin mendekap erat tubuh Ranti yang padat. Bibirnya menggesek-gesek di pipi yang kian dekat dengan bibir perempuan itu.
"Jangan, Vin. Jangan lakukan itu. Ingat aku adalah sahabatmu."
Ucap Ranti.
"Beri aku ciumanmu," rengek Cevin.
"Tidak!" Ranti mendorong tubuh Cevin hingga pelukan laki-laki itu terlepas. Lantas Ranti menarik tangan Cevin meninggalkan arena dansa.
Cevin kembali duduk di kursi bersebelahan dengan Ranti. Tubuh laki-laki itu roboh bagai tak mempunyai kekuatan lagi di pangkuan Ranti. Lalu Ranti mengangkat kepala laki-laki itu dan dipeluknya. Tanpa disengaja jari tangan Ranti menyentuh sebutir air hangat. Dan ketika diperhatikan ternyata laki-laki yang dalam pelukannya itu menangis. Menangis tanpa isak. Perasaan Ranti yang terenyuh sedih. Dia tahu bagaimana siksaan kepedihan di hati laki-laki itu. Lantas dibelainya rambut Cevin.
"Di manakah letak kebahagiaan itu, Ranti?" kata Cevin lemah.
"Sebenarnya kebahagiaan itu ada di hatimu sendiri, Vin."
Jawab Ranti.
"Benarkah itu, Ranti. Buktinya orang yang kucintai, kudambakan selalu menjauhiku. Membenciku. Sedangkan istriku tak pernah mau menghiraukan diriku. Dia pun membenci aku," ratap Cevin lirih tapi memedihkan hati Ranti.
"Punyailah keyakinan pada diri sendiri, bahwa suatu ketika hidupmu akan tentram dan bahagia. Kalau saja kau tidak terlalu memburu Ranti, hidupmu akan tentram dan damai. Sebab yang kau buru sudah bersikeras melupakanmu. Menghindarimu jauh-jauh. Tak ingin merusakkan kebahagiaanmu," tutur Ranti sembari membelai rambut Cevin.
"Bisakah aku melupakan Balqis?" suaranya kian lemah dan lirih. Seolah-olah mulutnya sudah tidak bisa banyak bicara lagi
"Kau harus punya tekad bisa melupakannya. Relakan dia hidup tentram dan bahagia dengan cara hidupnya sendiri."
Balas Ranti.
Cevin cuma mendesah panjang.
__ADS_1
"Sekarang kita pulang ya?" bujuk Ranti.
Cevin mengangguk seperti anak kecil. Lalu dibimbingnya Cevin meninggalkan Night Club itu.
Angin malam meniup sepoi-sepoi ketika mereka baru keluar dari pintu night club. Agak bersusah payah juga Ranti membimbing Cavin sampai ke mobil. Ranti mengemudikan mobil itu membawa Cevin pulang ke rumahnya.
Setelah sampai di depan rumah Cevin, apa yang harus diperbuat Ranti agak kebingungan. Sedangkan pintu pagar halaman terkunci rapat. Lantas dia menekan tombol bel. Dilihatnya seorang wanita mengintip di balik gordyn.
"Selamat malam," sapa Ranti.
Nabila cepat membuka pintunya. Sambil berlari-lari kecil Nabila mendekati pintu pagar halaman. Diperhatikannya perempuan yang mengantar suaminya itu. Perempuan lain lagi yang belum pernah dikenalnya. Dengan tangan gemetar dibukanya pintu pagar halaman lebar-lebar. Ranti meluncurkan mobil masuk ke halaman.
Tubuh Cevin yang lemas itu digotong berdua oleh Nabila dan Ranti masuk ke kamarnya. Kemudian dibaringkan di atas tempat tidur. Nabila memperhatikan suaminya sesaat dengan hati sedih. Baru kemudian keluar dari kamar sambil menutup pintunya. Ranti membarenginya. Ada perasaan cemburu di dalam hati Nabila melihat perempuan yang mengantar suaminya.
"Nona sekretarisnya mas Cevin?" tanya Nabila.
"Teman dekatnya."
Jawab Ranti.
"Jadi bukan sekretarisnya? Kemarin ada perempuan lain yang mengantar mas Cevin mengaku sekretarisnya. Sering menemani mas Cevin ke night club?"
Ucap Nabila.
"Tidak."
Balas Ranti.
"Kau kira aku perempuan macam apa?!" balas Ranti sengit. "Seharusnya sebagai seorang istri, nyonya harus bisa menyenangkan suami. Bisa membuat suami kerasan tinggal di rumah dan tidak keluyuran setiap malam. Pulang dalam keadan mabok," lanjut Ranti.
"Apa urusannya anda berkata begitu?! Kalau anda merasa bisa menyenangkan hati suamiku, kenapa tidak kau gaet saja?!" ketus Nabila.
"Sifatmu seperti anak kecil! Tidak mengintropeksi sejauh mana perlakuan nyonya terhadap suami." Balas Ranti.
"Jangan banyak bicara. Tinggalkan tempat ini secepatnya!"
Ketus Nabila.
"Duh sombongnya. Aku akan pergi secepatnya dari sini. Selamat malam. Permisi. Semoga sifatmu yang angkuh dan sombong itu bisa secepatnya berubah," Ranti bergegas melangkah pergi.
Setelah Ranti pergi, buru-buru Nabila menutup pintu rumahnya. Masih sempat dia mengintip di balik gordyn. Mengawasi perempuan muda itu berjalan kaki di tengah kegelapan malam seorang diri. Sampai akhirnya hilang dari pandangannya.
Nabila berlari masuk ke dalam kamarnya. Dia menangis tersedu-sedu di atas tempat tidur. Sampai kapan kehidupannya yang rasa tidak menentu itu akan berakhir?
__ADS_1
Berry yang dicintainya telah benar-benar menjauhinya. Malah tadi siang laki-laki itu sepertinya menunjukkan secara terang-terangan duduk berdua di kantin bersama Debby. Bercanda begitu mesra di depan matanya. Sedangkan Cevin setiap pulang larut malam dalam keadaan mabok diantar perempuan yang berganti-ganti. Kehidupan macam apakah ini? Nabila meratapi nasibnya yang tak menentu.
Hidupnya bagaikan terombang-ambing...!!!
***
Teriknya sinar matahari siang menyengat kulit Nabila. Dia baru saja keluar dari gedung fakultas. Langkahnya yang lesu menepak di jalanan beton menuju ke kantin. Sebenarnya hari itu dia malas untuk mengikuti kuliah. Tapi untuk apa tinggal di rumah tanpa ada kesibukan lain. Cuma melamun memikirkan nasibnya yang tidak menentu.
Dan di siang itu perasaan Nabila disergap kegelisahan. Rasa demikian belum pernah dialami selama hidupnya. Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi. Firasat itu ternyata makin meyakinkan manakala dilihatnya Queena dan Ranti sudah membarengi langkahnya. Kedua gadis itu sejak tadi sudah menunggu Nabila keluar dari gedung fakultas.
"Nabila aku perlu bicara denganmu," kata Queena agak kaku.
"Soal apa?"
Tanya Nabila.
"Kita bicara di sana saja," ajak Queena sambil menunjuk di tempat yang sepi. Di sana ada pohon beringin yang berdaun rindang. Sejuk dan nyaman sekali tempatnya.
Nabila menuruti kemauan Queena. Ranti tidak ketinggalan mengikutinya. Di bawah pohon itu mereka berdiri untuk mulai berbincang-bincang.
"Kita dulu pernah bersahabat baik. Aku kenal betul sifatmu yang dulu begitu baik dan sederhana. Tapi sekarang aku tidak menyangka kalau sudah berubah begitu angkuh dan sombong. Sampai-sampai kau menganggap kakakku sebagai laki-laki yang tak punya harga diri. Laki-laki yang tak punya masa depan. Kau sia-siakan hidupnya tanpa perduli!" kata Queena yang nadanya marah. Mengencam semua perlakuan Nabila yang tidak disenanginya.
"Setega itu kau berkata begitu padaku," balas Nabila.
"Semuanya itu karena perlakuanmu yang egois. Kalau kau tidak mencintai Cevin itu hakmu. Tapi apa salahnya bila kau mau berbuat secuil kebaikan kepada laki-laki itu. Menghargai dan memperhatikan Cevin sebagai seorang teman misalnya. Kalau kau tidak sudi menganggapnya sebagai suamimu. Aku jadi heran kenapa kau sama sekali tidak punya naluri wanita yang halus dan peka. Dan aku juga heran, apa yang kau cari dalam hidup ini?"
Jelas Nabila.
"Barangkali membanggakan kecantikannya. Mentang-mentang kawin dipaksa mau memperdaya suaminya," celetuk Ranti dengan wajah sinis.
Ucapan Queena dan Ranti dirasa menyembelih perasaannya. Di kedua mata Nabila bergenang butiran air bening. Dan untuk mengendalikan kepedihan hatinya menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Nabila, belum seberapa penderitaan batinmu bila dibandingkan dengan Balqis. Asal kau tahu saja, bahwa sebab frustrasi yang dialami Cevin lantaran perempuan itu meninggalkannya. Perempuan itu meninggalkan Cevin dengan beban penderitaan yang tidak kecil artinya. Aku pergi sekali menceritakan kepadamu, agar naluri kewanitaanmu yang kini cuma ada keangkuhan dapat kembali peka dan halus."
Ucap Queena.
Nabila mendekap erat map di dadanya. Pandangannya lurus ke depan. Dan pandangannya tanpa disengaja melihat Berry sedang berjalan bersama Debby. Cuma dia saja yang tahu. Queena dan Ranti kala itu baru saja menghenyakkan pantatnya di bangku panjang. Nabila segera membuang pandang ke rumput-rumput di depannya. Hatinya bagai disembelih.
Perih...!!!
"Kau mau mendengar ceritaku tentang Balqis?" tanya Queena.
Nabila menyandar di batang pohon beringin. Angin berhembus semilir.
__ADS_1
"Ceritakanlah," sahut Nabila yang masih menahan kepedihan hati.
"Aku yang tahu persis semua yang terjadi hubungan Balqis dengan Cevin," Ranti mulai membuka suara... Dan mulai mengisahkan cerita antara Balqis dan Cevin dari saat Sekolah Menengah Atas sampai saat sekarang ini kepada Nabila.