
Apa mungkin aku hamil? Desis Balqis dalam hati, berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya tengah
dialaminya. Sudah beberapa hari belakangan ini, aku
merasakan gejala mual dan kepala pening seperti ini. Dan
aku yang dulu tidak menyukai rasa asam dan pedas,
sekarang jadi suka rasa asam dan pedas.
Apakah itu semua tanda-tanda wanita hamil dan sedang mengidam? Kalau memang benar aku hamil,
bagaimana jadinya? Sedangkan aku belum menikah. Aku
masih kuliah... Tentu orang akan menuduhku kuliah nyambi
melacur.
Oh Tuhan... aku bukan pelacur. Kalau memang benar
aku mengandung, maka anak yang ku kandung memiliki
ayah. Cevin ayahnya, sebab dialah yang selama ini
menjadi kekasihku sebab dialah yang selama ini menjadi
kekasihku dan sudah beberapa kali aku dan dia melakukan hubungan badan sebagaimana layaknya suami-istri. Tapi
apakah Cevin mau menerima kenyataan ini?
Rasa pening di kepala Balqis semakin terasa berdenyut, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang
bisa saja dia alami. Kemungkinan yang buruk, yang tak
pernah selama ini terpikir di benaknya. Jika kemungkinan
buruk yang ada dalam pikirannya benar-benar terjadi, apa
yang bisa dia lakukan? Menuntut Cevin untuk
menikahinya, tidak mungkin. Sebab apa yang dilakukannya
dengan Cevin, semata-mata dilakukan atas dasar suka-sama suka, bukan suatu paksaan.
"Cevin...," desis Balqis lirih dengan wajah mendung dan pandangan mata menerawang kosong.
"Malam ini aku gelisah, Vin. Aku gelisah, sebab aku merasakan sesuatu kelainan di tubuhku. Apakah kau di sana
juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat
ini?"
Dipeluknya guling semakin erat, dengan membayangkan kalau yang berada dalam pelukkannya
bukanlah guling, namun tubuh Cevin yang seakan
tersenyum, memberikan ketenangan dan rasa percaya diri
pada Balqis. Lama Balqis termenung melamun sambil memeluk guling. Matanya menerawang jauh. Pikirannya
melayang pada kejadian-kejadian yang pernah dialaminya
bersama Cevin.
Kejadian-kejadian yang indah dan
menyenangkan, namun akhirnya berakibat fatal terhadap
dirinya. Dengan kelainan yang dia rasakan ditubuhnya.
Berulang kali Balqis berusaha mencari jalan untuk
mengatasi semua yang kini dia alami. Namun tetap saja, sulit baginya untuk menemukan jalan itu. Meski kini dia
calon sarjana, namun baru kali ini dia mengalami hal seperti yang kini dia rasakan. Karena memang baru setelah
menjalin hubungan dengan Cevin, dia mengalami
kejadian-kejadian yang baru dirasakan. Kesulitannya dalam
mencari jalan untuk menyelesaikan masalahnya,
dikarenakan sudah dua hari ini Cevin tidak datang ke kampus. Padahal kalau saja Cevin datang, dia akan bisa
mengutarakan semuanya dan meminta pendapat pada
Cevin, bagaimana jalan penyelesaiannya.
__ADS_1
"Kemana Cevin...?" pikirnya lirih. "Sudah dua hari dia tidak datang ke kampus. Sakitkah dia...? Oh, jika dia
besok tidak datang ke kampus lagi, bagaimana aku? Apa
yang harus kulakukan kalau
dengan wajah semakin menggambarkan kemurungan.
Kepalanya kembali dirasakan semakin bertambah pusing,
memikirkan semuanya.
Malam yang sepi itu. semakin membuat Balqis kian
bertambah gelisah. Hatinya masih terasa tidak menentu,
ingin rasanya segera pagi, agar segera bisa memastikan apa
yang sebenarnya terjadi atas dirinya. Kemudian dia berharap
Cevin datang ke kampus, agar dia bisa meminta pendapat
kekasihnya sekaligus meminta tanggung jawab kekasihnya
atas kehamilan yang dia alami akibat hubungan cintanya
dengan lelaki yang dicintainya itu. Namun bagaimana waktu berlalu dengan cepat? Semakin dirasakan, waktu akan
semakin lambat rasanya.
Setelah lama gelisah, akhirnya Balqis pun dapat tertidur ketika jam di dinding sudah menunjukkan angka
satu dini hari. Tidurnya pun nampak gelisah, sebagaimana
yang dirasakan oleh pikirannya.
***
Keesokan harinya, Balqis menuruti saran Ayahnya.
Dia pun datang ke puskesmas untuk berobat. Namun Balqis
sangat kaget, ketika dokter mengajaknya bicara dan
memberitahukan hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter
"Bagaimana, Dok...?" tanya Balqis dengan wajah menunjukkan kecemasan dan ketidak sabaran, karena dia
ingin segera mengetahui hasil pemeriksaan yang diakukan
oleh dokter Eko Syahputra.
"Apa yang Anda rasakan bukan gejala masuk angin...," jawab dokter itu.
"Bukan karena masuk angin, Dok?" ulang Balqis memastikan.
"Benar..." jawab dokter itu.
"Lalu saya kenapa, Dok?" tanya Balqis dengan wajah semakin menunjukkan kegelisahan. Wajahnya kini
menggambarkan perasaan cemas dan khawatir, kalau-kalau
apa yang dikhawatirkannya menjadi kenyataan. Dan kekhawatirannya memang terbukti, ketika dokter itu
menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
"Rasa mual dan kepala pening yang Anda alami, bukan sakit biasa... Tetapi dikarenakan sekarang Anda
sedang mengandung tiga bulan," tutur dokter itu dengan
bibir tersenyum. Menjelaskan hasil pemeriksaan yang telah
dilakukannya.
"Saya hamil, Dokter?!" tanya Balqis dengan mulut terperangah kaget, sebab dia sama sekali tidak menduga,
kalau dia benar-benar hamil. Dia mulanya menyangga kalau
mual perutnya dan penih kepalanya, akibat masuk angin.
Tidak tahunya, dia hamil hasil hubungan badan dengan
Cevin...???
"Ya."
Lemas lunglai seketika sekujur tubuh Balqis, setelah mengetahui kalau kini dia telah hamil hasil hubungan badan
__ADS_1
dengan Cevin. Memang semua dia inginkan, tetapi yang
membuatnya cemas, selama ini kedua orang tua Cevin
belum pernah ditemuinya. Sehingga dia belum yakin, apakah mereka setuju anaknya berhubungan dengannya atau
tidak. Kalau setuju, memang itu yang dia harapkan. Tapi
bagaimana kalau tidak? Itu yang menjadi pikiran Balqis.
Bagaimana nasibnya dan juga nasih anak yang dikandungnya, kalau sampai Cevin tidak menjadi suaminya?
"Ada apa, Nyonya...?" tanya dokter setengah menyelidik. "Apa ada kesulitan?" tanyanya kemudian
dengan mata memperhatikan wajah Balqis. Sepertinya berusaha mengetahui kecemasan yang tengah dialami oleh
wanita muda dan cantik itu.
"Ti... tidak apa-apa. Dokter...," jawab balqis gugup dengan bibir berusaha tersenyum. Untuk menutupi
kecemasannya.
"Benar tidak ada masalah...?"
Tanya dokter Eko Syahputra itu.
Balqis mengangguk.
"Syukurlah. Saya berharap Nyonya bahagia atas kehamilan itu. Dan tentunya ini pertama kali Nyonya
mengandung bukan...?" kata dokter itu dengan bibir
tersenyum.
"Be... benar, Dokter."
Jawab Balqis.
"Semoga bayi yang Nyonya kandung sehat."
Ucap dokter itu kembali.
"Terimakasih..."
Jawab Balqis singkat.
"Sama-sama..." jawab dokter itu. "Oh ya. ini resep obat yang harus Nyonya ambil..." Dengan bibir masih
tersenyum, dokter itu menyerahkan selembar kertas
bertuliskan resep obat pada Balqis yang segera
menerimanya.
"Sekali lagi terimakasih. Permisi. Dok .."
Ucap Balqis lagi.
"Mari..."
Balas dokter tersebut.
Balqis pun berlalu meninggalkan puskesmas tersebut.
***
Balqis
pulang ke rumah dengan wajah murung. Dan semua itu membuat mamahnya Cindy semakin bertambah heran.
Juga semakin penasaran, sehingga Mamahnya kembali
bertanya.
"Sudah ke dokter, Qis...?" tanya mamahnya. Ketika
melihat balqis sudah pulang dari puskesmas.
"Sudah."
Jawab Balqis.
"Menurut dokter bagaimana, Qis...?" Mamahnya Balqis, Cindy
bertanya, ingin mengetahui apa yang sebenarnya di alami
oleh anaknya.
__ADS_1