LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 86 : SAYA HAMIL, DOKTER?


__ADS_3

Apa mungkin aku hamil? Desis Balqis dalam hati, berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya tengah


dialaminya. Sudah beberapa hari belakangan ini, aku


merasakan gejala mual dan kepala pening seperti ini. Dan


aku yang dulu tidak menyukai rasa asam dan pedas,


sekarang jadi suka rasa asam dan pedas.


Apakah itu semua tanda-tanda wanita hamil dan sedang mengidam? Kalau memang benar aku hamil,


bagaimana jadinya? Sedangkan aku belum menikah. Aku


masih kuliah... Tentu orang akan menuduhku kuliah nyambi


melacur.


Oh Tuhan... aku bukan pelacur. Kalau memang benar


aku mengandung, maka anak yang ku kandung memiliki


ayah. Cevin ayahnya, sebab dialah yang selama ini


menjadi kekasihku sebab dialah yang selama ini menjadi


kekasihku dan sudah beberapa kali aku dan dia melakukan hubungan badan sebagaimana layaknya suami-istri. Tapi


apakah Cevin mau menerima kenyataan ini?


Rasa pening di kepala Balqis semakin terasa berdenyut, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang


bisa saja dia alami. Kemungkinan yang buruk, yang tak


pernah selama ini terpikir di benaknya. Jika kemungkinan


buruk yang ada dalam pikirannya benar-benar terjadi, apa


yang bisa dia lakukan? Menuntut Cevin untuk


menikahinya, tidak mungkin. Sebab apa yang dilakukannya


dengan Cevin, semata-mata dilakukan atas dasar suka-sama suka, bukan suatu paksaan.


"Cevin...," desis Balqis lirih dengan wajah mendung dan pandangan mata menerawang kosong.


"Malam ini aku gelisah, Vin. Aku gelisah, sebab aku merasakan sesuatu kelainan di tubuhku. Apakah kau di sana


juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat


ini?"


Dipeluknya guling semakin erat, dengan membayangkan kalau yang berada dalam pelukkannya


bukanlah guling, namun tubuh Cevin yang seakan


tersenyum, memberikan ketenangan dan rasa percaya diri


pada Balqis. Lama Balqis termenung melamun sambil memeluk guling. Matanya menerawang jauh. Pikirannya


melayang pada kejadian-kejadian yang pernah dialaminya


bersama Cevin.


Kejadian-kejadian yang indah dan


menyenangkan, namun akhirnya berakibat fatal terhadap


dirinya. Dengan kelainan yang dia rasakan ditubuhnya.


Berulang kali Balqis berusaha mencari jalan untuk


mengatasi semua yang kini dia alami. Namun tetap saja, sulit baginya untuk menemukan jalan itu. Meski kini dia


calon sarjana, namun baru kali ini dia mengalami hal seperti yang kini dia rasakan. Karena memang baru setelah


menjalin hubungan dengan Cevin, dia mengalami


kejadian-kejadian yang baru dirasakan. Kesulitannya dalam


mencari jalan untuk menyelesaikan masalahnya,


dikarenakan sudah dua hari ini Cevin tidak datang ke kampus. Padahal kalau saja Cevin datang, dia akan bisa


mengutarakan semuanya dan meminta pendapat pada


Cevin, bagaimana jalan penyelesaiannya.

__ADS_1


"Kemana Cevin...?" pikirnya lirih. "Sudah dua hari dia tidak datang ke kampus. Sakitkah dia...? Oh, jika dia


besok tidak datang ke kampus lagi, bagaimana aku? Apa


yang harus kulakukan kalau


dengan wajah semakin menggambarkan kemurungan.


Kepalanya kembali dirasakan semakin bertambah pusing,


memikirkan semuanya.


Malam yang sepi itu. semakin membuat Balqis kian


bertambah gelisah. Hatinya masih terasa tidak menentu,


ingin rasanya segera pagi, agar segera bisa memastikan apa


yang sebenarnya terjadi atas dirinya. Kemudian dia berharap


Cevin datang ke kampus, agar dia bisa meminta pendapat


kekasihnya sekaligus meminta tanggung jawab kekasihnya


atas kehamilan yang dia alami akibat hubungan cintanya


dengan lelaki yang dicintainya itu. Namun bagaimana waktu berlalu dengan cepat? Semakin dirasakan, waktu akan


semakin lambat rasanya.


Setelah lama gelisah, akhirnya Balqis pun dapat tertidur ketika jam di dinding sudah menunjukkan angka


satu dini hari. Tidurnya pun nampak gelisah, sebagaimana


yang dirasakan oleh pikirannya.


***


Keesokan harinya, Balqis menuruti saran Ayahnya.


Dia pun datang ke puskesmas untuk berobat. Namun Balqis


sangat kaget, ketika dokter mengajaknya bicara dan


memberitahukan hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter


"Bagaimana, Dok...?" tanya Balqis dengan wajah menunjukkan kecemasan dan ketidak sabaran, karena dia


ingin segera mengetahui hasil pemeriksaan yang diakukan


oleh dokter Eko Syahputra.


"Apa yang Anda rasakan bukan gejala masuk angin...," jawab dokter itu.


"Bukan karena masuk angin, Dok?" ulang Balqis memastikan.


"Benar..." jawab dokter itu.


"Lalu saya kenapa, Dok?" tanya Balqis dengan wajah semakin menunjukkan kegelisahan. Wajahnya kini


menggambarkan perasaan cemas dan khawatir, kalau-kalau


apa yang dikhawatirkannya menjadi kenyataan. Dan kekhawatirannya memang terbukti, ketika dokter itu


menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Rasa mual dan kepala pening yang Anda alami, bukan sakit biasa... Tetapi dikarenakan sekarang Anda


sedang mengandung tiga bulan," tutur dokter itu dengan


bibir tersenyum. Menjelaskan hasil pemeriksaan yang telah


dilakukannya.


"Saya hamil, Dokter?!" tanya Balqis dengan mulut terperangah kaget, sebab dia sama sekali tidak menduga,


kalau dia benar-benar hamil. Dia mulanya menyangga kalau


mual perutnya dan penih kepalanya, akibat masuk angin.


Tidak tahunya, dia hamil hasil hubungan badan dengan


Cevin...???


"Ya."


Lemas lunglai seketika sekujur tubuh Balqis, setelah mengetahui kalau kini dia telah hamil hasil hubungan badan

__ADS_1


dengan Cevin. Memang semua dia inginkan, tetapi yang


membuatnya cemas, selama ini kedua orang tua Cevin


belum pernah ditemuinya. Sehingga dia belum yakin, apakah mereka setuju anaknya berhubungan dengannya atau


tidak. Kalau setuju, memang itu yang dia harapkan. Tapi


bagaimana kalau tidak? Itu yang menjadi pikiran Balqis.


Bagaimana nasibnya dan juga nasih anak yang dikandungnya, kalau sampai Cevin tidak menjadi suaminya?


"Ada apa, Nyonya...?" tanya dokter setengah menyelidik. "Apa ada kesulitan?" tanyanya kemudian


dengan mata memperhatikan wajah Balqis. Sepertinya berusaha mengetahui kecemasan yang tengah dialami oleh


wanita muda dan cantik itu.


"Ti... tidak apa-apa. Dokter...," jawab balqis gugup dengan bibir berusaha tersenyum. Untuk menutupi


kecemasannya.


"Benar tidak ada masalah...?"


Tanya dokter Eko Syahputra itu.


Balqis mengangguk.


"Syukurlah. Saya berharap Nyonya bahagia atas kehamilan itu. Dan tentunya ini pertama kali Nyonya


mengandung bukan...?" kata dokter itu dengan bibir


tersenyum.


"Be... benar, Dokter."


Jawab Balqis.


"Semoga bayi yang Nyonya kandung sehat."


Ucap dokter itu kembali.


"Terimakasih..."


Jawab Balqis singkat.


"Sama-sama..." jawab dokter itu. "Oh ya. ini resep obat yang harus Nyonya ambil..." Dengan bibir masih


tersenyum, dokter itu menyerahkan selembar kertas


bertuliskan resep obat pada Balqis yang segera


menerimanya.


"Sekali lagi terimakasih. Permisi. Dok .."


Ucap Balqis lagi.


"Mari..."


Balas dokter tersebut.


Balqis pun berlalu meninggalkan puskesmas tersebut.


***


Balqis


pulang ke rumah dengan wajah murung. Dan semua itu membuat mamahnya Cindy semakin bertambah heran.


Juga semakin penasaran, sehingga Mamahnya kembali


bertanya.


"Sudah ke dokter, Qis...?" tanya mamahnya. Ketika


melihat balqis sudah pulang dari puskesmas.


"Sudah."


Jawab Balqis.


"Menurut dokter bagaimana, Qis...?" Mamahnya Balqis, Cindy


bertanya, ingin mengetahui apa yang sebenarnya di alami


oleh anaknya.

__ADS_1


__ADS_2