
Tapi, kamu kan masih muda, Cindy? Usiamu pun malah sebaya dengan usiaku." Ucap Ranti.
"Memang betul," Cindy mengangguk. "Tapi statusku yang sudah menjanda membuatku harus hati-hati bertingkah laku kalau tidak mau dicemooh orang." Jelas Cindy.
"Aku kan cuma mengajakmu turun melantai, Cin. Apa itu jelek?" Ranti memprotes.
"Sudahlah, Ran," Cindy kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak enak rasanya kalau kita berdebat soal itu. Kalau memang kamu mau berdansa, turunlah. Nggak apa-apa kok aku sendirian di sini," ucap Cindy lagi menenangkan.
"Suer?" Ucap Ranti singkat meyakinnkan Cindy.
"Suer," Cindy mengangguk. "Masuklah sana. Kasihan, Bagas pasti mencari-carimu." Lanjut Cindy kembali.
Ranti cuma bisa meringis dan tersipu malu sambil mencubit lengannya perlahan begitu ia menyebutkan nama cowok yang akhir-akhir ini
diketahuinya dekat dengan Ranti.
"Oke deh, aku masuk dulu ya? Nggak apa-apakan kamu sendirian di sini?" kata Ranti kemudian sambil beranjak berdiri.
"Ya ampun, kamu pikir aku anak kecil yang takut ditinggal sendirian?" Cindy membelalakkan matanya yang indah.
"'Ya sudah deh, aku ke dalam dulu ya," Ranti mengulaskan senyum manis sebelum berlalu. Cindy pun balas tersenyum dan memandangi kepergian gadis itu. Ranti memang begitu baik dan penuh perhatian padanya. Bahkan untuk acara melantai pun dia berkesempatan pengajaknya agar dia tidak tinggal sendirian di taman yang indah itu.
Lain dengan Sukma, yang sejak mereka datang tadi telah menghilang entah ke mana. Mungkin lagi asyik mojok sama pacarnya.
Sepeninggal Ranti, Cindy menghembuskan napas nya pelan. Suasana ramai namun cukup tertib itu memang menyegarkan suasana hatinya. Apa lagi dari tempatnya duduk ia juga bisa memperhatikan betapa anak-anaknya bisa bermain dengan gembira. Tidak harus terkurung kesedihan dengan berdiam di rumah terus-menerus.
"Sendirian, Non?" Seorang lelaki mengenakan jas berwarna abu-abu dengan penampilannya yang eksklusif datang menghampirinya dan bertanya dengan lembut.
"Oh, eh, ii... iya...," sahutnya tergagap, tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu.
"Boleh aku duduk di sini?" Lelaki itu menunjuk bangku yang tadi diduduki Ranti.
"Silakan," mau tak mau Cindy mengangguk juga. Tidak ada hak baginya untuk melarang lelaki itu duduk di sana. Toh dia sendiri juga tamu di rumah itu.
"Sudah makan belum?" tanya lelaki itu lagi memecah kebisuan yang sempat terjadi di antara mereka.
"Sudah," Cindy mengangguk pelan.
"Tidak turun melantai?" kembali lelaki itu bertanya, seakan tak ingin terjadi kebisuan di antara mereka.
"Tidak," singkat saja Cindy menyahut.
Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban yang diberikan Cindy. Diam-diam diperhatikannya, lebih dalam lagi wanita yang duduk tidak jauh di hadapannya. Wajahnya cantik sekali. Penampilannya pun begitu anggun dan memikat.
Tapi kenapa dia hanya seorang diri di sini?
Tidak adakah teman pendamping yang kebanyakan menyertai pasangan-pasangan lainnya?
Cindy cuma menundukkan wajahnya begitu tahu lelaki itu begitu teliti memperhatikannya. Di tekannya debar jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak kencang.
"Ah, mau apa laki-laki ini? Mengapa dia memandangku sebegitu rupa?" Tanyanya dalam hati.
"Oya, kita belum kenalan. Nama saya Deska, Anda siapa?" sekonyong-konyong lelaki itu mengulurkan tangannya, yang seketika disambut Cindy yang juga segera menyebutkan namanya, karena ia tak ingin dibilang sombong atau kampungan bila menolak perkenalan itu.
"Kamu datang sendiri?" tanya Deska tak dapat lagi menahan keingintahuannya.
"Ramai-ramai, Mas," sahut Cindy kemudian terus terang. Sengaja ia memanggil Deska dengan ucapan 'Mas?, karena berpikir usia mereka cukup terpaut jauh. Riskan rasanya bila memanggil lelaki itu dengan sebutan nama saja, menilai usia Deska diperkirakannya tidak lebih dari empat puluh tahunan.
"Ramai-ramai?" Deska memandangnya separuh heran. "Mana teman-temanmu lainnya?" Lanjut Deska lagi.
"Ada di dalam. Mungkin lagi melantai." Jawab Cindy santai.
"Kenapa kamu tidak ikut dengan mereka?" Kembali Deska bertanya.
"Tidak ah. Lebih enak di sini, banyak pemandangannya," kembali ia melayangkan pandangannya ke arah tempat anak-anaknya bermain.
__ADS_1
"Sejak tadi kulihat, pandanganmu selalu mengarah ke sana terus. Kamu bawa keponakan?" tanya Deska lagi setelah menarik napas sesaat.
"Bukan keponakan, Mas, tapi anak," ungkap Cindy lagi, jujur.
"Oya?" Kali ini Deska tak dapat menyembunyikan kekagetannya lagi. "Kamu... kamu bawa anak?" Lanjut Deska bertanya.
"'Benar, Mas," angguk Cindy.
"Berapa orang anakmu?" Tanya Deska.
"Dua," diam-diam Cindy menggerutu dalam hati. "Sejak tadi hanya pertanyaan-pertanyaan terus yang dilontarkan lelaki di hadapannya. Mau apa sih dia sebenarnya?"
"Kalau kedua anakmu dibawa, pasti papanya ikut dong?" tanya Deska lagi membuat hati Cindy berdebur kencang.
"Mm.... Papa mereka sudah meninggal sebulan yang lalu," ucap Cindy kemudian, polos.
"Oh, eh, maaf, aku telah membangkitkan kenangan pahitmu," Deska terperangah namun dengan cepat ia membenahi reaksinya kembali.
"Tidak apa-apa," Cindy menelan ludahnya yang terasa getir.
Beberapa saat mereka kembali terdiam, seakan sibuk dengan pikiran masing-masing. Di tempatnya Deska termangu rikuh. Pengakuan yang telah diungkapkan wanita di hadapanya benar-benar membuatnya terkesiap. Mulanya, kalau Cindy tidak menyebutkan sendiri, mungkin dia tidak akan mempercaya kalau wanita muda dan secantik Cindy telah dikarunia dua orang anak, bahkan baru saja ditinggal mati suaminya.
Oh, betapa malangnya nasib mereka...!!!
"Kalau boleh kutahu, kamu tinggal di mana, Cindy?" tanya Deska lagi memecah keheningan.
Sesaat Cindy tercekung mendengar pertanyaan itu. "Ah, untuk apa Deska ingin mengetahui alamat rumahnya? Haruskah dia memberi tahu alamat rumah kontrakannya yang kecil pada lelaki yang cukup perlente ini yang dari penampilannya Cindy bisa menilai kalau Deska termasuk orang berada?" Batin Cindy pelan.
Dibuangnya pikiran buruknya jauh-jauh dengan menyebutkan alamat rumahnya yang diminta Deska yang seketika dicatat lelaki itu alam ingatannya.
"Boleh kan kalau kapan-kapan aku bertandang ke rumahmu?" tanya Deska lagi membuatnya kikuk.
"Silakan saja, Mas." pikiran realitas Cindy kembali menyuruhnya untuk berurap demikian.
Dipandangnya sekali lagi sosok wanita yang entah mengapa telah membuatnya tertarik ini. Sementara di tempatnya Cindy begitu gelisah. "Brengsek benar Ranti dan Sukma. Kenapa mereka tidak segera muncul dan mengajaknya berlalu dari tempat ini? Apakah mereka sudah telanjur asyik dengan pasangan masing-masing hingga begitu saja, melupakannya?" Batin Cindy.
Merasa tak enak berdua-duaan terus dengan lelaki yang baru dikenalnya, Cindy pun segera minta diri.
"Maaf ya, Mas, saya mau menemui anak-anak dulu." Ucap Cindy pamit dengan sopan.
"Oh, silakan, Cindy," Deska cuma mengangguk dan mempersilakannya.
Dengan hati lega Cindy pun segera meninggalkan lelaki itu, menyusul anak-anaknya yang masih asyik bermain. Bahkan saking asyiknya tidak mencari-cari di mana mama mereka berada.
***
Sore itu Cindy baru saja selesai menyapu halaman ketika sebuah sedan warna hitam berhenti di depan rumahnya. Dengan hati penuh tanda tanya ia pun mengalihkan perhatiannya pada orang yang baru turun dari mobil yang berhenti itu.
Seketika jantungnya berdegup keras begitu melihat siapa yang datang.
Deska...!!!
"Cindy, lagi sibuk ya?" sapa Deska yang segera tersenyum ke arahnya begitu ia melihat ternyata orang yang ditujunya ada di muka pintu.
"Eh, Mas Deska, silakan masuk, Mas," dengan menenangkan hatinya, Cindy pun segera membuka kan pintu.
"Waduh, mengganggu nih," ujar Deska kemudian sambil melangkah masuk.
"Ah tidak apa-apa." Tanpa canggung Deska pun segera melangkah masuk dan duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu.
"Silakan duduk dulu ya Mas. Sebentar, saya ambilkan minum." Ucap Cindy menawarkan.
"Tidak usah repot-repot, Cin," sahut Deska cepat.
"Tidak apa, Mas. Cuma air minum saja kok." Balas Cindy.
__ADS_1
Tak lama kemudian Cindy pun sudah keluar kembali dengan segelas air putih di tangan.
"Silakan diminum. Waduh, nggak ada kue-kuenya nih, Mas," ucap Cindy kemudian agar sumringah juga. Karena sejak kematian suaminya belum pernah ia didatangi lelaki lain. Dulu, waktu Mas Rangga masih hidup, pernah memang ia kedatangan tamu lelaki. Tapi itu adalah teman-teman suaminya.
"Tidak usah repot, Cin. Air saja sudah cukup," Deska menenangkan, "Oya, mana anak-anakmu?" Tanya Deska kemudian.
"Ada di dalam, Mas. Sebentar saya panggilkan," kembali Cindy masuk ke dalam rumahnya dan tak lama kemudian sudah keluar lagi dengan menggandeng Farel dan Balqis.
"Tuh, ada Oom Deska. Kasih salam dong." Ucap Cindy pada Farel dan Balqis.
Farel dan Balqis pun menurut, disalaminya dengan hormat Oom yang baru pertama kali di lihatnya itu.
"Anak-anak yang manis," puji Deska kemudian.
"Oya, Oom punya makanan untuk kalian. Sebentar ya" Deska pun segera bangkit berdiri berjalan mengambil sebuah bungkusan di dalam mobilnya yang segera diberikannya pada mereka.
Dengan tak Sabar, Farel pun segera membuka bungkusan yang di berikan Deska itu. Dan ia bersorak girang begitu melihat makanan apa yang ada di dalamnya. Tak lain dari coklat, permen, minuman susu, agar-agar dan dua bungkus roti yang masih hangat.
"Makasih ya, Oom," tanpa disuruh lagi Farel pun segera mengucapkan rasa gembiranya yang di balas dengan senyum bahagia Deska.
"Makacih, Oom," Balqis ikut-ikutan. Dengan gemas Deska pun segera mengucal kepala anak manis itu.
"Jangan bikin repot, Mas," ucap Cindy kemudian begitu anak-anak itu berlalu sambil tertawa riang dengan membawa makanan itu masuk kembali ke ruang dalam.
"Aku cuma ingin membagi sedikit kebahagiaan bersama mereka. Tidak apa-apa toh?" Deska masih tersenyum.
"Yah, tidak apa-apa sih. Tapi sebaiknya jangan sering-sering. Aku khawatir mereka jadi kebiasaan." Lanjut Cindy mengingatkan.
Seulas senyum masih mengembang di bibir Deska mendengar ucapan itu. Dalam hatinya berbisik lirih, "Untuk mendapatkan ibunya kan lebih dulu harus mengambil hati anak-anaknya. Nanti, kalau anak-anak itu sudah dekat dengannya, kan tinggal mencairkan hati ibunya".
"Mas..," panggil Cindy kemudian setelah mereka cukup lama juga bicara panjang lebar.
"Kenapa?" Deska memandangnya penuh perhatian.
"Mas datang kemari, apa istri Mas tidak marah?" Lanjut tanya Cindy.
"Istri?" Deska tersenyum hambar. "Dulu sih memang aku mempunyai istri. Tapi kami telah bercerai dua tahun lalu." Jelas Deska.
Kini giliran Cindy yang terkesima mendengar pengakuan Deska. Seakan tak percaya dipandangnya lelaki di hadapannya dalam-dalam.
"Kenapa memandangku seperti itu, Cin? Kamu tak percaya?" tanya Deska seperti mengetahui isi hatinya.
"Kalau boleh saya tahu, kenapa Mas sampai cerai dengan istri Mas itu?" tanya Cindy dengan tenggorokan tercekat.
"Ceritanya cukup panjang Cin. Tapi kalau kau mau mengetahui intinya, dia meninggalkan aku dan lari dengan laki-laki lain," jelas Deska dengan suara bergetar.
"Jadi... Mas dikhianati istri Mas?" Cindy masih terlongong.
"Begitulah, Cin," lelaki itu menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Tapi... tapi Mas mempunyai anak kan?" Lanjut Cindy bertanya.
"Ya," angguk Deska. "Sama sepertimu, aku juga mempunyai dua orang anak yang kini sudah menginjak remaja. Kini mereka meneruskan sekolahnya di luar negeri." Jelas Deska.
"Oh," Cindy tertegun kagum mendengar penuturan lelaki di hadapannya. Dugaannya benar, Deska adalah lelaki yang cukup berada bila ditinjau dari segi materi. Buktinya, walau istrinya telah mengkhianatinya dan meninggalkannya dengan lelaki lain, ia tetap bisa menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri. Dan itu tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Tidak seperti dirinya yang sampai saat ini masih pusing memikirkan dengan apa membiaya hidup anak-anaknya nanti. Sementara Mas Rangga tidak meninggalkan harta yang cukup berarti untuk kelanjutan hidup mereka.
"Kalau, melihat anak-anakmu, aku jadi teringat kebahagiaan keluargaku waktu dulu, ketika anak-anakku masih sekecil mereka," Deska bergumam pelan.
Matanya menerawang jauh...!!!
Teringat kembali kenangannya akan masa lalu yang bahagia dan harmonis, sebelum istrinya meninggalkannya dan lari ke pelukan lelaki lain.
Di tempatnya Cindy pun ikut terpaku diam dan dibiarkannya Deska tercenung membayangkan masa-masa indahnya yang telah berlalu.
__ADS_1