LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 46 : TERUSIR DARI RUMAH


__ADS_3

Keesokan sore, dari sekolahan Rahmawati mengajak Farel ke rumahnya. Tiba di rumah, papahnya Rahmawati sedang duduk di ruangan tamu sembari merokok dengan asyiknya. Mamahnya duduk di sebelahnya.


"Selamat sore pak!" Ucap Farel sambil menghampiri papahnya Rahmawati.


"Duduk!" Pak Arif Budiman menatap ke arah Farel dengan tajam. Segera Rahmawati masuk ke dalam dan keluar lagi sambil mengambilkan minuman untuk Farel, setelah diletakkan di atas meja, ia duduk di sebelah Farel.


"Orang tuamu usaha apa?" Tanya pak Arif Budiman dengan suara parau.


"Ayah saya telah lama meninggal dunia dan ibu saya tidak usaha apa-apa!" Farel menjelaskan. "Sedangkan orang tua kandung saya tidak tahu berada di mana?" Lanjut Farel.


"Kalau demikian, yang telah meninggal adalah ayah angkatmu?" Tanya pak Arif Budiman.


"Ya!" Jawab Farel.


"Ibumu yang masih hidup juga ibu angkat?" Tanya pak Arif Budiman.


"Ya!" Jawab Farel.


"Aku dengar ibumu tinggal di Lampung?" Tanya pak Arif Budiman.


"Ya!" Jawab Farel. "Malah saya masih mempunyai seorang adik angkat!"


"Kau mencintai puteriku yang sulung?" Tanya pak Arif Budiman mematikan rokoknya di asbak.


"Ya!" Jawab Farel sopan.


"Hm!" Tanya pak Arif Budiman mendengus. "Apa pekerjaanmu dan kau berani mencintai puteriku?"


"Saya belum bekerja!" Jawab Farel. "Namun saya sedang berusaha pekerjaan! Saya berani


mencintai puteri bapak dikarenakan puteri bapak juga manusia, tiada berbeda dengan saya!" Lanjut Farel menjelaskan.


"Siapa bilang tidak berbeda?" Keras suara Tanya pak Arif Budiman. "Kau adalah pemuda berasal dari keluarga miskin, sedangkan puteriku berasal dari keluarga yang kaya, di situlah perbedaan kalian!" Jelas pak Arif Budiman.


"Kaya dan miskin tidak berbeda, sebab semua manusia adalah umat Nya!" Sahut Farel. "Lagi pula saya bisa berusaha supaya bisa maju!"


"Kau ingin berusaha dengan apa?" Tanya pak Arif Budiman tertawa terbahak.


"Dengan sepasang tangan saya!" Ucap Farel tegas. "Semua manusia ketika baru lahir juga tidak membawa apa-apa, seperti halnya dengan bapak dan saya!"


"Tapi, bukankah sekarang aku cukup kaya?" Tanya pak Arif Budiman.


"Apakah hasil keringat bapak sendiri atau warisan orang tua?" Tanya Farel.


"Hal ini kau tidak perlu tahu!" Membentak pak Arif Budiman. "Pokoknya kau tidak sederajat berpacaran dengan puteriku!"


"Kenapa saya tidak sederajat berpacaran dengan puteri bapak?" Tanya Farel. "Sedangkan saya juga manusia."


"Kau adalah manusia miskin, maka kau tidak berderajat!" Ucap pak Arif Budiman.


"Kalau misalnya orang tua saya kaya?" Balas Farel.


"Baru kau sederajat!" Jawab pak Arif Budiman. "Namun, kayakah orang tuamu?" Tanya pak Arif Budiman tertawa sinis.


"Apakah kaya dan miskin merupakan syarat utama bagi orang yang ingin berpacaran?" Tanya Farel.


"Bagi orang lain aku tidak tahu, tapi bagiku, itulah merupakan syarat utama!" Jawab pak Arif Budiman.


"Bapak terlalu egois!" Ucap Farel. "Secara hukum bapak telah bersalah, karena mengekang hak azazi manusia!"


"Hem! Ini adalah rumahku, Rahmawati adalah puteriku!" Ucap pak Arif Budiman dengan suara gusar. "Di dalam keluarga, hukum itu tidak berlaku!"


"Bagi saya, di mana saja hukum tetap berlaku!" Ucap Farel sungguh-sungguh. "Saya harap bapak harus merenungkan secara seksama!"


"Aku telah merenungkan secara seksama, malah sangat teliti sekali, sehingga aku tidak mengizinkan puteriku berpacaran dengan keluarga miskin, apa lagi menjurus ke soal kawin, lebih-lebih aku tidak menyetujui!" Ucap pak Arif Budiman.


"Apakah bapak memikirkan soal kebahagiaan?" Tanya Farel.


"Justru aku sering memikirkan hal tersebut, sehingga aku selalu berhati-hati pada puteriku!" Ucap pak Arif Budiman. "Misalnya puteriku kawin dengan kau, apakah kau bisa memuaskan keinginan hatinya?"


"Saya tidak menginginkan apa-apa!" Ucap Rahmawati mendadak.


"Belum waktunya kau bersuara!" Bentak pak Arif Budiman.


"Saya bersuara demi diri saya, apakah tidak boleh?" Tajam ucapan Rahmawati.

__ADS_1


"Perlukah aku menampar mulutmu!" Bentak pak Arif Budiman dengan suara gusar.


Mendadak isteri pak Arif Budiman mengedipkan matanya ke arah Rahmawati, terpaksa Rahmawati membungkam.


"Hem!" Suara pak Arif Budiman. "Coba lihat adikmu, setiap hari ke mana-mana pasti pakai mobil, apakah kau tidak merasa malu terhadap adikmu?" Tanya pak Arif Budiman.


"Kenapa saya harus merasa malu?" Tanya rahmawati. "Kalau Farel maju, ia juga bisa membeli mobil."


"Impian di siang hari bolong!" Ucap pak Arif Budiman tertawa gelak. "Macam dia bisa membeli mobil nanti?" pak Arif Budiman menunjuk ke arah Farel.


"Apakah mobil pacar Dilla dibeli oleh jerih payahnya sendiri?" Tanya Rahmawati.


"Bukan! Orang tuanya yang membelikan!" Tanya pak Arif Budiman.


"Kalau bukan orang tuanya yang membelikan berarti pacar Dilla juga tidak mempunyai mobil kan?" Tanya Rahmawati lagi.


"Orang tuanya kaya, pasti dibelikan!" pak Arif Budiman mengangkat bahunya sedikit.


"Kalau orang tua saya kaya, saya juga bisa mempunyai mobil!" Farel menyeletuk.


"Ha! Ha! Ha!" pak Arif Budiman tertawa. "Paling-paling sekarang kau mempunyai mobil-mobilan!"


Farel menundukkan kepalanya, perih hatinya mendengar ucapan pak Arif Budiman, hampir saja ia menjerit dan wajahnya merah padam. Kalau bukan demi Rahmawati, mungkin ia sudah pergi dari rumah itu.


"Ohoi!" Suara pak Arif Budiman. "Kau gusar? Maka lebih baik kau jangan mencintai puteriku!"


"Saya yang mencintainya!" Tegas dan nyaring suara Rahmawati.


"Kau mencintainya?" Tanya pak Arif Budiman menatap gusar ke arah puterinya. "Kau ingin mati kelaparan?"


"Tidak mungkin saya akan mati kelaparan!" Jawab Rahmawati dengan berani.


"Kau pasti mati kelaparan!" pak Arif Budiman menuding ke arah Rahmawati. "Pasti!"


"Tidak!" Teriak Rahmawati.


"Bagus! Bagus! Kau semakin kurang ajar pada orang tua!" Mendadak pak Arif Budiman membentak dengan suara keras. "Pergi kau ikut dia!"


"Pah! Kau mengusir rahma?" Suara isterinya.


"Ya! Aku mengusirnya!" Bentak pak Arif Budiman "Biar dia tahu rasa!"


"Benar!" Ucap pak Arif Budiman. "Kau ingin mempunyai suami yang miskin, kan? Silahkan kau pergi bersama dia!" pak Arif Budiman menunjuk ke arah Farel.


"Baik, saya akan pergi!" Jawab Rahmawati.


"Ingat! Kau tidak boleh membawa baju yang kubelikan!" Ucap pak Arif Budiman dengan bengis.


"Baiklah!" Rahmawati mengeraskan hatinya. "Saya akan membawa seragam sekolah saja!" Rahmawati masuk ke dalam kamarnya. Ketika mamagnya ingin ikut ke dalam kamar, spontan pak Arif Budiman mencegahnya. Terpaksa isterinya membatalkan niatnya.


"Kau boleh bawa Rahmawati pergi dari sini!" Ucap pak Arif Budiman pada Farel. "Mulai saat ini, dia sudah bukan puteriku lagi!"


"Perlukah bapak berpikir kembali?" Tanya Farel.


"Kecuali dia memutuskan hubungannya dengan kau!" Ucap pak Arif Budiman.


"Saya tetap mencintainya!" Suara Rahmawati, ia telah membungkus seragam sekolahnya.


"Sini!" Ucap pak Arif Budiman. "Buka bungkusanmu!" Perintahnya.


Rahmawati membuka bungkusannya, dengan cepat pak Arif Budiman memeriksa seragam Rahmawati, dari kantong baju seragam Rahmawati, pak Arif Budiman mengeluarkan uang Rahmawati, langsung ia memasukkan ke dalam kantong bajunya seraya berkata, "Boleh pergi sekarang!"


"Tapi... itu adalah uang saya!" Balas Rahmawati.


"Uangmu dari siapa?" Tanya pak Arif Budiman.


"Dari mamah!" Jawab Rahmawati.


"Dari mana uang mamahmu?" Tanya pak Arif Budiman.


"Dari... baiklah! Kami pergi sekarang!" Kemudian Rahmawati berkata pada mamahnya. "Mamah, kami pergi!" Mamahnya, mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


Rahmawati pergi bersama Farel hanya membawa pakaian seragam. Dengan naik taxi langsung mereka menuju ke rumah pak Ismo Harsoyo. Tiba di rumah pak Ismo Harsoyo, kebetulan pak Ismo Harsoyo bersama isterinya sedang duduk santai di ruangan tamu, ketika mereka melihat kedatangan Farel bersama Rahmawati, hati mereka tidak terkejut lagi, malah tersenyum-senyum menyambut kedatangan Farel dan Rahmawati. Dengan ramah isteri pak Ismo Harsoyo mempersilahkan Rahmawati duduk.


"Benarkah kau telah diusir oleh papahmu?" Tanya isteri pak Ismo Harsoyo.

__ADS_1


"Benar tante!" Jawab Rahmawati, kemudian ia menutur apa yang telah terjadi.


"Waduh!" Seru pak Ismo Harsoyo. "Kejam juga hati papahmu. untung mamahmu telah mempersiapkan segala-galanya!"


"Sekarang begini saja!" Ucap isteri pak Ismo Harsoyo. "Tinggal dulu di sini, setelah mendapat rumah kontrakan baru kalian pindah!" Ucap tantenya.


"Sebetulnya saya masih merasa tidak enak, sebab kami belum kawin secara sah, bagaimana boleh tinggal satu rumah!" Farel mengeluh.


"Jangan lupa mamahnya Rahmawati telah mensahkan kalian, apa lagi telah disaksikan oleh kami, maka... kalian telah dianggap sah sebagai suami isteri!" ucap isteri pak Ismo Harsoyo.


"Lebih baik kalian bikin surat kawin di catatan sipil!" Saran pak Ismo Harsoyo. "Demi menjaga segala kemungkinan!" Lanjutnya.


"Betul! Harus demikian!" Seru Rahmawati.


"Saya ada usul!" Ucap Farel mendadak. "Sebelum mengadakan pesta perkawinan, kita jangan melakukan hubungan suami isteri dulu!"


"Itu sih tidak perlu!" Pak Ismo Harsoyo tersenyum.


"Setelah kalian bikin surat kawin, berarti kalian telah menjadi suami isteri yang sah!" Jawab pak Ismo Harsoyo.


"Tapi... saya masih merasa belum cukup, sebelum mengadakan pesta." Ucap Farel sungguh-sungguh.


"Boleh juga demikian!" Pak Ismo Harsoyo mengangguk sambil tersenyum.


"Kak Farel, kak Rahma!" Amanda muncul dari belakang. "Entar malam kak Rahmawati tidur bersama saya dan mamah tidur di ranjang lipat, sedangkan papah tidur bersama Ilham dan kak Farel terpaksa tidur di sini!" Amanda menunjuk di ruangan tamu menyaksikan Farel bisa berkumpul dengan Rahmawati.


"Mulai besok saya akan mencari rumah kontrakan!" Ucap Farel.


"Oh ya!" Ucap pak Ismo Harsoyo mendadak.


"Apakah Rahma masih ingin meneruskan sekolah?" Tanya Pak Ismo Harsoyo.


"Saya rasa tidak usah lagi!" Jawab Rahmawati.


"Sayang kalau demikian!" Sambung isteri pak Ismo Harsoyo sambil menarik nafas. "Pada hal tidak lama lagi kau akan lulus!"


"Bagaimana kau teruskan saja sekolahmu?" Tanya Farel mendadak. "Setelah Lulus baru berhenti sekolah!"


"Jangan!" Jawab Rahmawati. "Sebab mulut Dilla sangat jail, pasti dia menceritakan yang bukan-bukan di sekolahan, bagaimana saya ada muka lagi melanjutkan sekolah?" Jelas Rahmawati.


"Kalau demikian, terpaksa juga harus berhenti sekolah?" Ucap Farel.


"Ya! Apa boleh buat!" Rahmawati menghela nafas.


"Farel...!" Ucap pak Ismo Harsoyo. "Yang penting sekarang kau ajak Rahmawati membeli beberapa potong pakaian!"


"Pakaian jadi, jangan bahan!" Sambung isteri pak Ismo Harsoyo.


"Ya! Tante!" Ucap Rahmawati.


"Saya ikut!" Suara Amanda.


"Untuk apa kau ikut?" Tanya isteri pak Ismo Harsoyo pada puterinya.


"Biarkan saja om!" Ucap Rahmawati sambil tersenyum. "Mari kau ikut sekalian!"


"Oh ya!" Ucap pak Ismo Harsoyo mendadak. "Uang dari mamahmu akan kuserahkan kepadamu!"


"Biar om saja yang simpan!" Ucap Rahmawati. "Kalau perlu saya baru ambil!"


"Kau tahu berapa uang itu?" Tanya pak Ismo Harsoyo.


"Saya tidak tahu!" Jawab Rahmawati.


"Cukup untuk kontrak rumah yang lumayan selama tiga tahun!" Pak Ismo Harsoyo menjelaskan. "Mungkin masih ada lebih!" Ia memberitahukan jumlah uang itu.


"Saya tidak sangka uang simpanan mamah saya sedemikian banyak!" Rahmawati menggelengkan kepala.


"Sekarang kau ingin ambil berapa?" Tanya pak Ismo Harsoyo.


"Asal cukup saja untuk saya membeli beberapa potong pakaian jadi!" Ucap Rahmawati.


Pak Ismo Harsoyo berdiri dan kemudian ia menuju ke kamarnya, sejenak kemudian, ia keluar lagi dan menyerahkan uang kepada Rahmawati seraya berpesan.


"Tidak usah beli yang mahal-mahal, asal bias dipakai sudah cukup." Ucap pak Ismo Harsoyo. "Kalian harus menyimpan uang itu untuk persiapan kehidupan sehari-hari!"

__ADS_1


"Ya, Om!" Balas Rahmawati.


Setelah menerima uang, tak lama kemudian berangkatlah mereka bertiga untuk membeli pakaian atau gaun wanita. Selesai belanja, langsung mereka pulang tanpa singgah di mana-mana lagi. Malam itu, di rumah pak Ismo Harsoyo menjadi ramai, sebab Amanda sedang menyanyikan lagu kesayangannya dengan diiringi oleh gitar dan harmonika. Pak Ismo Harsoyo dan isterinya juga ikut-ikutan menepuk-nepuk tangan, sehingga suasana di dalam rumah pak Ismo Harsoyo menjadi meriah.


__ADS_2