
Dibalasnya tatapan gadis itu. Di matanya yang kuyu mengalir butiran air bening.
"Jangan membenciku, karena semua ini bukan atas kehendakku. Tentunya kau tahu, kita pun pernah bertemu
baru beberapa kali saja. Dan di luar sepengetahuanku, ternyata orang tua kita telah bersepakat untuk menjodohkan antara kau dan aku," kata Cevin pelan. Seolah-olah hanya ditujukan kepada gadis yang'berbaring di atas tempat tidur itu.
"Tapi saat ini aku tidak sudi lagi menikah denganmu," balas Nabila tegas.
"Aku sudah tahu, mungkin kau sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Begitu pun aku, kau sudah mengerti sendiri. Sebenarnya persoalan ini bisa kita atasi dengan jalan saling pengertian."
Jelas Cevin.
"Maksudmu apa?" sepasang mata Nabila menatap nanar.
"Untuk tetap menjaga nama baik keluarga, sebaiknya jangan kita gagalkan perayaan pernikahan kita."
Lanjut Cevin.
"Huh! Kau sama liciknya dengan mereka." Nabila membuang muka lagi.
"Kau jangan salah mengerti, Nabila. Sekalipun kita telah resmi menjadi suami istri, aku tidak akan memperlakukan kau sebagai istriku. Kau tetap kuberi kebebasan untuk menuruti kehendak hatimu. Aku tidak akan melarangmu meneruskan hubunganmu dengan pilihan hatimu. Percayalah."
Jelas Cevin tegas.
"Itu tidak mungkin."
Balas Nabila.
"Kenapa tidak mungkin?"
Tanya Cevin.
"Karena aku sudah syah menjadi istrimu."
Balas Nabila.
"Anggap saja itu cuma formalitas belaka. Tapi sebenarnya di antara kita hanya sebagai seorang sahabat atau saudara. Tidak lebih dari itu."
Lanjut Cevin menjelaskan.
Nabila memandang lagi wajah Cevin. Dia menilai kejujuran ucapan itu dari sorot matanya. Dan ternyata dia menemukan kejujuran dari sorot mata laki-laki itu.
"Kau berjanji?"
Tanya Nabila.
"Ya."
Balas Cevin.
"Kalau sampai ingkar?"
Tanya Nabila kembali.
"Kau boleh bertindak sesuka hatimu."
Balas Cevin santai.
"Baik. Janji adalah hutang."
Tegas Nabila.
"Akan kupegang teguh janjiku. Percayalah."
Ucap Cevin.
__ADS_1
Janji Cevin rupanya memberikan kekuatan pada diri Nabila. Menjadikan gadis itu mempunyai keinginan dan gairah hidup kembali Perlahan-lahan dia bangkit dan duduk di tempat tidur. Wajahnya pun mulai nampak cerah. Cevin jadi ikut senang.
"Kau ingin minum?" tanya Cevin.
"Tidak."
Jawab Nabila.
"Ingin makan?"
Tanya Cevin lagi.
"Tidak."
Jawab Nabila.
"Lalu apa yang kau sukai?"
Tanya Cevin.
"Ingin cepat-cepat meninggalkan rumah sakit ini."
Ucap Nabila.
"Kau masih membutuhkan istirahat."
Jelas Cevin.
"Kondisi tubuhku sudah pulih," ujar Nabila sambil melangkah turun dari tempat tidur. Cevin membantu menuntun langkah gadis itu, tapi dikibaskan tangannya.
"Aku bisa jalan sendiri."
Ucap Nabila.
Cevin menarik napas panjang. Keras kepala juga gadis ini, pikirnya. Lantas dia cuma mengawasi Nabila yang menuju ke pintu. Semua orang yang sejak tadi menunggu di luar kamar berdiri mengitarinya.
"Ya. Nabila mau pulang sekarang."
Jawab Nabila.
"Belum ada izin dari dokter." Ucap mamahnya lagi.
"Biar. Pokoknya Nabila mau pulang sekarang. Papah sama mamah mau mengantarkan tidak?" ketus Nabila tegas dan hendak melangkah pergi. Tapi lengannya segera dipegang oleh mamahnya.
"Tunggu dulu, Nabila. Kau jangan tambah membuat orang tua jadi malu," kata mamahnya dengan perasaan resah.
"Justru kalau mamah dan papah tidak ingin tambah malu, sekarang juga izinkan Nabila pulang."
Ucap Nabila.
Cevin mendekati Nabila, kemudian mengambil keputusan.
"Saya akan segera menemui dokter dan minta izin agar Nabila diperbolehkan pulang," ujar Cevin.
"Cepatlah beritahu dokter," sahut Selly.
Dengan langkah-langkah mantap Cevin menuju ke kamar dokter. Baik orang tua Nabila atau pun keluarga Cevin menjaga Nabila jangan sampai kabur dari rumah sakit. Wajah-wajah mereka kelihatan resah, kecuali Queena yang diam termenung. Gadis itu tahu apa sebenarnya yang dialami oleh Cevin dan Nabila. Maka helaan napasnya jadi terdengar berat.
Kemudian Queena mengalihkan pandangan ke arah pintu ruang dokter. Di sana Cevin muncul bersama dokter yang berdinas memeriksa pasien. Sejenak mereka berdua berbincang-bincang Nampaknya serius, lalu Cevin mengangguk-angguk dan pergi meninggalkan dokter itu.
"Nabila diizinkan pulang sekarang juga," kata Cevin setelah berkumpul dengan keluarganya.
Mendengar ucapan Cevin, semuanya jadi senang. Queena merangkul pundak Nabila, kemudian berjalan bersama. Yang lainnya mengikuti di belakang meninggalkan rumah sakit itu.
***
__ADS_1
Hujan turun rintik-rintik. Senja yang luruh digantikan malam sepertinya murung. Semurung wajah Nabila yang pada saat itu didandani sebagai pengantin putri. Gaun pengantin yang indah dan mahal sangat serasi dikenakan. Menambah kecantikan dan pesona gadis itu. Namun pesona yang ada terasa sekali diusik oleh kemurungannya. Bibirnya yang terkatup rapat tanpa seulas senyuman. Matanya yang indah senantiasa berkaca-kaca. Ditambah lagi hatinya yang tersayat kepedihan. Semuanya itu lantaran dia tidak menginginkan duduk lagi duduk di pelaminan dengan orang yang tidak
dicintai yang jelas-jelas sudah mempunyai seorang kekasih yang sedang hamil, dalam saat-saat seperti itu, hatinya semakin perih mendapatkan seorang suami yang sebenarnya tidak mencintai dirinya, hal itulah yang membuat Nabila jadi teringat kekasihnya Berry.
Sedang apakah kau saat ini, Ber? Tentunya perasaanmu detik ini sama dengan perasaanku. Sama-sama merasakan kehancuran. Beberapa saat lagi aku akan bersanding dengan laki-laki yang tidak kucintai, laki-laki yang juga tidak mencintaiku dan laki-laki yang sudah mempunyai bakal seorang anak yang ada di rahim wanita lain, bukan dengan dirimu, Berry. Terlampau pahit kenyataan ini, keluh Nabila dalam hati setetes air mata jatuh di pipi. Membuat dua orang perias pengantin yang mendandaninya tersenyum. Senyumnya menaksir bahwa detik itu Nabila merasa amat bahagia.
"Tangisnya disimpan dulu, Non. Buat nanti di kamar pengantin," canda ibu Rara yang mendandani Nabila.
Nabila tidak menyahut. Dihapus air mata yang membasahi pipinya, sementara hatinya dilindai kegetiran.
Mamahnya Nabila memasuki kamar itu.
"Sudah selesai, bu Rara?" tanya mamahnya Nabila, Retno.
"Sudah. Mau diberangkatkan sekarang?"
Ucap bu Rara sang penghias pengantin.
"Ya. Semua tamu-tamu pengiring sudah menunggu. Waktunya pertemuan pengantin di gedung tinggal beberapa menit lagi."
Ucap bu Retno menjelaskan.
"Naik."
Kemudian Nabila didampingi kedua orang tuanya berjalan di ruang tamu menuju ke mobil yang diparkir di depan pintu. Para tamu lainnya ikut menyertainya. Kedua orang tuanya membimbing Nabila sampai naik ke mobil yang dihiasi bunga dan kertas berwarna-warni. Lalu mobil itu membawa Nabila yang dikemudikan kakaknya menuju ke gedung pertemuan. Sedangkan kedua orang tuanya dan pengikut lainnya mengikuti dengan mobil di belakang.
Sampai di gedung pertemuan, hujan masih turun rintik-rintik. Namun di halaman gedung itu penuh mobil-mobil yang diparkir. Para tamu yang datang menghadiri pesta perkawinan itu kelihatan padat. Beberapa orang mendekati mobil pengantin wanita sambil membawa payung. Nabila yang nampak kurang bergairah melangkah turun. Kedua orang tuanya membimbing Nabila memasuki gedung pertemuan. Perhatian seluruh tamu tertuju kepada Nabila. Mereka saling berbisik mengenai kecantikannya. Memuji laksana bidadari yang sangat mempesona.
Group band yang menghibur tamu menyambut kehadiran Nabila dengan sebuah irama instrumental yang lembut. Pembawa acara malam itu membuat suasana para tamu jadi semarak.
"Kita sambut tepuk tangan atas kehadiran mempelai wanita," kata pembawa acara itu.
Para tamu bertepuk tangan riuh. Gegap gempita. Sedangkan Nabila yang berjalan satu-satu menuju ke pelaminan, hatinya bagai diiris-iris sembilu. Sepasang matanya dirasa hangat. Tak lain disebabkan seolah-olah tepuk tangan para tamu merupakan ejekan. Huh! Pada abad modern ini masih ada anutan pada zamannya dahulu kala. Dijodohkan oleh orang tua. Kawin paksa. Dan buru-buru Nabila menutup kedua telinganya. Dan perlahan-lahan dia duduk di pelaminan dengan senantiasa tertunduk.
Kedua orang tuanya yang saat itu sibuk menyambut para tamu, sebentar-sebentar melihat putrinya. Terutama papahnya yang dapat merasakan bagaimana gejolak batin Nabila.
Tak lama kemudian mobil Pengantin pria memasuki halaman gedung. Mobil yang juga dihiasi bunga dan kertas berwarna-warni. Lantas turun seorang laki-laki yang tampan dan gagah. Berpakaian stelan jas hitam dan berdasi. Laki
laki itu adalah Cevin yang senyum dan kegembiraannya cuma diluarnya saja. Padahal hatinya juga murung. Juga pedih.
Seuntai bunga dibawa Cevin menuju ke pelaminan dengan didampingi kedua orang tuanya. Seorang gadis cantik sudah duduk di situ menantinya. Dan ketika Cevin sudah berada di hadapan calon istrinya, bunga itu diserahkannya. Dia melihat ada kilau-kilau di mata calon istrinya itu. Kilau-kilau dari genangan butiran air mata. Namun juga ada sepintas kekagumam melihat kehadiran laki-laki itu.
"Ayo Nabila, bangkit dan terima pemberian bunga itu," kata mamahnya yang nadanya menyuruh.
Nabila bangkit perlahan-lahan dan menerima pemberian seuntai bunga yang diserahkan Cevin. Tepuk tangan tamu gegap gempita. Lalu Cevin dan Nabila duduk berdampingan di pelaminan. Nabila yang senantiasa tertunduk tanpa menunjukkan keceriaan membuat Cevin jadi kikuk duduk di sampingnya.
Sementara itu teman-teman Cevin yang hadir diantara para tamu, hati mereka ikut sedih. Karena mereka tahu perkawinan itu sama-sama tidak dikehendaki oleh sepasang mempelai itu. Menyedihkan, memang. Namun lebih menyedihkan lagi barangkali Cevin melihat Balqis yang malam itu berdiri di antara mobil-mobil yang diparkir. Perempuan itu melindungi diri dengan payung dari hujan yang turun rintik-rintik. Dia sengaja datang untuk melihat dari jauh kekasih hatinya bersanding dengan gadis lain. Dengan deraian air mata, dia mendoakan agar sepasang mempelai itu dapat hidup rukun dan bahagia.
Dan untuk sesaat dia memandang perutnya. Di situ janin Cevin tumbuh dengan subur. Lantas perempuan itu melangkah pergi meninggalkan halaman gedung. Sendiri dia melangkah di antara curahan hujan rintik-rintik.
***
Pesta perkawinan sudah usai. Sepasang pengantin segera menuju ke rumah kediaman yang baru. Rumah yang megah belum lama dibeli oleh papahnya Cevin dan diperuntukkan sebagai hadiah perkawinannya. Mereka yang mengantar sampai di rumah itu hanya sanak keluarga.
Namun sepasang mempelai ini tetap dingin dan biasa-biasa saja. Tiada keceriaan ataupun kemesraan. Hingga sejak permulaan tiada pula sepatah kata yang keluar. Saling diam membisu.
Setelah mereka tiba di rumah itu, mamahnya Nabila, Retno mencoba membujuk anaknya. Sebab dia melihat sikap putrinya masih kukuh. Masih murung seperti pertama kali mau dinikahkan dengan Cevin. Di sebuah kamar, bu Retno membuka pakaian pengantin anaknya sambil berkata...!
"Mamah percaya, lambat laun kau pasti akan mencintai suamimu. Lupakan saja Berry. Dia tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan Cevin."
Ucap Retno, mamahnya Nabila.
Nabila tidak menyahut. Masa bodoh dengan ucapan mamahnya.
"Mamah ingin sekali melihatmu hidup berbahagia. Jangan sia-siakan hidupmu yang cuma sekali ini, nak," Lantas dikecup kedua pipi anaknya penuh kasih sayang. "Mamah pulang dulu ya? Hindarkan pertengkaran dengan suamimu."
__ADS_1
Nabila menjawab pun tidak, mengangguk pun juga tidak. Dan membiarkan ibunya berlalu dari kamar itu.