
Malam itu Cevin baru saja sampai di rumah setelah mengantar Balqis pulang. Setelah memasukan mobil ke garasi, dia pun berjalan menuju ke pintu depan rumahnya.
Dibukanya pintu rumah, kemudian dia pun melangkah masuk.
Ketika dia masuk ke rumah, di ruang tamu mamahnya tengah duduk sendirian. Papahnya entah dimana, juga Queena, adiknya tidak kelihatan saat itu. Setelah menutup pintu rumah, Cevin pul meneruskan langkah kakinya.
"Selamat malam. Mah..?" sapa Cevin ketika melewati sofa dimana mamahnya duduk dengan mata memandang ke arahnya. Seakan ada sesuatu yang sedang menjadi perhatian mamahnya saat itu atas dirinya.
Mungkin juga mamahnya merasa heran, karena dia pulang kuliah larut malam. Sebab saat itu jam di dinding sudah menunjukkan angka sepuluh.
"Kok mamah belum tidur...?" tanya Cevin kemudian dengan diikuti menghentikan angkahnya.
Sebagai seorang anak, Cevin pantas mengkhawatirkan mamahnya. Dia khawatir ada masalah yang sedang di hadapi mamahnya. Dan sebagai seorang anak lelaki, sudah
sepantasnya Cevin mengkhawatirkan mamahnya. Sebagai anak kedua dan lelaki, saat ini setelah kakaknya Irfan meninggal, dia adalah pembela keluarga jika ada masalah di keluarganya.
"Malam...," jawab mamahnya Cevin dengan suara dingin. Matanya masih memandang ke arah anaknya.
Kemudian dengan rasa ingin tahu, mamanya Cevin kembali bertanya.
"Mamah memang sengaja menunggumu, Vin. Dari mana saja kau, Vin...?" tegurnya.
Mata wanita setengah baya itu, masih tertuju ke arah anaknya. Memperhatikan sekujur tubuh anaknya dengan seksama. Bagaikan Khawatir kalau-kalau ada bagian tubuh anaknya yang hilang.
"Kuliah, Mah...," jawab Cevin.
"Kuliah apa yang sampai malam hari begini...?" tanya mamahnya menyindir dengan bibir tersenyum kecut dan mata masih tetap memandang lekat ke wajah anaknya. Cevin tak menyahuti.
"Sini duduk..." perintah mamahnya. Cevin pun menurut duduk di samping mamahnya.
"Cevin..." Ucap Mamahnya.
"Ya, Mah..."
Balas Cevin.
"Mamah ingin tanya padamu. Apa selama ini mamah pernah mengajarimu berbohong...?" tanya mamahnya Cevin dengan nada tegas dan tajam. Matanya memandang lekat ke wajah anaknya, seakan tengah melakukah penyelidikan.
"Tidak, Ma."
Ucap Cevin.
"Apa selama ini mamah pernah mengajarimu menentang dan berani terhadap orang tua...?" kembali mamahnya Cevin bertanya dengan mata masih tetap memandangi wajah anaknya, bagaikan seorang jaksa yang tengah menanyai tertuduh.
Cevin terdiam...!!!
"Jawab, Cevin...?"
Ucap mamahnya sedikit dengan nada keras.
"Tidak. Mah...!"
Balas Cevin.
"Lalu kenapa kau berani berbohong dan berani menentang mama...?" tanya wanita setengah baya itu dengan disertai helaan napas dalam-dalam. Matanya tetap tertuju pada wajah anaknya yang kini menundukkan kepala.
"Cevin tidak merasa berbohong dan berani menentang mamah," jawab Cevin lirih, berusaha membela diri.
"Benar kau tidak merasa berbohong dan berani menentang mamahmu...?" tanya mamahnya Cevin meminta jawaban yang tegasan dari anaknya,
"Benar, Ma." Balas Cevin.
"Baik... rupanya kini kau sudah tidak menghiraukan mamah lagi," gumam wanita setengah baya itu, membuat
Cevin bertambah tak mengerti akan maksud mamahnya yang sebenarnya. Sudah dia bingung karena Balqis hamil dan dia baru saja hendak mengatakannya pada mamahnya, ternyata mamahnya telah lebih mendahului melakukan interogasi kepadanya. Sehingga Cevin pun tak bisa untuk mengutarakan apa yang dibawanya sepulang mengantar Balqis ke rumahnya.
"Maksud mamah...?" tanya Cevin memberanikan diri, karena dia sama sekali belum mengerti akan maksud perkataan mamahnya yang sesungguhnya. Dia merasa, selama ini dia tidak pernah menyepelekan atau menentang mamahnya. Selama ini, dia senantiasa menurut dan berusaha menunjukkan baktinya pada kedua orang tuanya.
Tapi kenapa mamahnya tiba-tiba menuduhnya tidak lagi menghiraukan ucapannya?
Bukankah itu merupakan hal yang aneh?
Dan tidak bisa diterima?
"Kau sudah mahasiswa dan juga calon sarjana, Cevin. Seharusnya kau mengerti apa yang mamah maksudkan," kata mamahnya Cevin dengan suara masih tegas.
"Sungguh, Mah. Cevin belum mengerti akan maksud ucapan mamah," jawab Cevin lirih. Kemudian setelah menarik napas dalam-dalam, Cevin meneruskan ucapannya.
"Selama ini, Cevin merasa telah menuruti apa kata mamah. Dan selama ini, Cevin merasa tak pernah sekali pun berani menentang mamah. Bagaimana Cevin mengerti maksud mamah, kalau kenyataannya Cevin tak pernah melakukan tindakkan yang menentang atau menyepelekan mamah..?"
__ADS_1
Lelaki muda dan tampan itu wajahnya seketika berubah sedih. Bahkan nampak hampir menangis. Hatinya kesal karena dia merasa selama ini mamahnya senantiasa menekannya. Mamahnya tidak mau mengerti, kalau dia bukan anak kecil lagi. Kalau dia sudah dewasa. Sudah mahasiswa, calon sarjana yang memiliki intelektualitas tinggi. Yang sudah sepantasnya menentukan masa depan diri sendiri.
Selly, mamahnya Celvin manggut-manggut.
"Baik, kalau memang kau belum mengerti maksud mamah. Sekarang mamah ingin tanya padamu. Dan mamah berharap kau mau menjawabnya dengan jujur," kata mamahnya Herman dengan tetap memandang ke wajah anaknya.
"Tentang apa, Mah?" Tanya Cevin.
Wanita setengah baya itu tidak langsung mengutarakan pertanyaannya. Namun untuk sesaat dia nampak menarik napas dalam-dalam dengan mata masih memandang lekat ke wajah anaknya. Tatapan matanya yang tajam, membuat Cevin tidak berani mengangkat wajahnya untuk beradu pandang. Jangankan dia yang sebagai anak.
Papahnya saja yang menjadi suami, kadang tidak berani beradu pandang dengan mamahnya jika mamahnya Cevin sedang dalam keadaan marah. Dan kejadian itu, sudah berlangsung semenjak Cevin kecil. Dan kenyataan itu pula yang membuat Irfan kakaknya yang sudah meninggal, Cevin serta adiknya, Queena pun turut takut beradu pandang dengan mamahnya jika mamah mereka sedang marah.
"Cevin..."
Ucap Selly, Mamahnya.
"Ya, Ma..."
Balas Cevin.
"Benarkah kau masih pacaran dengan gadis bernama Balqis?" tanya mamahnya Cevin dengan mata memandang lekat ke wajah anaknya.
"Darimana mamah tahu...?"
Tanya Cevin.
"Dari siapa mamah tahu, itu tak menjadi soal. Mamah hanya minta kau menjawab apa yang mamah tanyakan dengan jujur," tegas Selly.
Cevin menunduk semakin dalam.
"Benar kau masih menjalin hubungan dengan gadis itu?" Tanya Selly, mamahnya Cevin.
"Memangnya kenapa, Mah?"
Tanya Cevin ingin tahu.
"Eh, ditanya malah balik bertanya. Jawab dulu pertanyaan Mamah. Apa benar kau masih pacaran dengan gadis yang bernama Balqis...?" ulang wanita setengah baya itu dengan mata masih memandang lekat ke wajah anaknya.
Seakan wanita setengah baya itu meminta jawaban yang juga kepastian dari anaknya
"Kalau benar memang kenapa, Mah?"
Tanya Cevin.
Matanya semakin lekat, menatap ke wajah anaknya yang dengan. lemah menganggukkan kepala.
"Iya, Mah."
Balas Cevin.
"Bukankah sudah mamah katakan dari pertama kali kau membicarakan masalah Balqis, kalau mamah tidak menyukainya. Kalau mamah tidak ingin kau menjalin hubungan dengannya? Kenapa kau masih tetap menjalin hubungan dengannya? Bukankah itu merupakan tindakkan membantah...?!" bentak Selly marah, karena dia merasa telah disepelekan oleh anaknya.
"Kau dengar Cevin. Mamah tidak setuju kau dengan gadis itu! Masih ingat kejadian yang menyangkut kakakmu Irfan dengan gadis itu kan? Mamah tidak mau apa yang di alami kakakmu terjadi dengan kau juga, Kau jangan bikin malu orang tua, Vin. Papah dan mamahmu sudah menyetujui kau menjadi suami Nabila. Lagi pula, kau bisa melihat Nabila jauh lebih cantik dibandingkan gadis itu. Nabila juga memiliki segalanya. Orang tuanya kaya raya dan terpandang. Pendidikkan Nabila pun sangat membanggakan. Dia kini menyandang gelar S2."
Ucap Selly.
"Tapi, Mah..." Cevin hendak membantah, namun Selly dengan cepat memotong.
"Mamah tidak mau mendengar alasan apa pun darimu. Jangan bikin malu Mamah."
Ucap Selly.
"Mah, beri Cevin kesempatan untuk berusaha..."
Ucap Cevin tanpa sampai selesai perkataannya sudah di potong oleh Selly.
"Sekali mamah bilang tidak setuju, tidak... Jangan sekali-kali kau membantah, kalau kau masih ingin mamah anggap sebagai anak mamah kau harus menuruti apa kata mamah. Tapi jika kau tetap dengan pendirianmu, hendak menikahi gadis itu, silakan kau boleh angkat kaki dari rumah ini dan jangan lagi menginjak rumah ini! Biarlah mamah kehilangan seorang anak lagi. Mamah lebih suka hilang anak satu, ketimbang harus dilawan oleh anak yang tidak mau mengerti maksud baik mamah yang sebenarnya. Kau mengerti,
Cevin...!" tegas mamahnya setengah mengancam.
Cevin terdiam dengan kepala masih menunduk.
"Mamah sudah memilihkan istri untukmu, Cevin. Mamah tidak ingin kau membantah. Dan perlu kau ingat,
istrimu tidak akan membikin malu keluarga kita..." kata mamahnya kemudian dengan wajah menggambarkan keyakinan, kalau pilihannya itu benar-benar sempurna dan bisa dipercaya.
Herman masih diam tak berkata. Rasanya percuma saja dia berusaha meminta pengertian mamahnya, karena mamahnya tetap keras pada pendiriannya. Namun disisi lain, dia juga mencintai Balqis.
Terlebih kini Balqis dalam keadaan hamil. Rasanya tidak mungkin, dia meninggalkan Balqis dan menikah dengan Nabila, gadis pilihan mamahnya.
__ADS_1
"Nabila itu anak orang berada. Dia lulusan sarjana luar negeri. Masa depannya cerah. Apa yang kau banggakan dari Balqis? Lagi pula, kalau masalah cantik? Nabila tidak kalah dibandingkan Balqis, Kau bisa membuktikannya besok...!" kata mamahnya lagi berusaha meyakinkan anaknya, agar mau menerima tawarannya. Agar bisa menerima Nabila, gadis pilihannya untuk mendampingi hidup Cevin kelak.
"Tapi, Mamah..." Ucap Cevin terhenti.
Cevin berusaha membantah, namun belum juga dia selesai bicara, mamahnya telah lebih dulu memotong ucapannya. Membuat Cevin seketika menghentikan perkataannya.
"Apalagi yang mau katakan...?" tanya mamahnya Cevin dengan mata memandang lekat ke wajah anaknya.
Pandangannya yang tajam itu, membuat Cevin kembali menunduk. Dia tidak berani beradu pandang dengan mamahnya. Jangankan dia, papahnya juga senantiasa tidak berani beradu pandang dengan mata mamahnya yang tajam dan terasa menuduk.
"Cevin lebih mencintai Balqis, Mah..." jawab Cevin dengan suara lirih, berusaha memohon pengertian dari mamahnya kalau cinta tidak bisa dipaksakan. "Bagaimana Cevin bisa membina rumah tangga dengan orang yang tidak Cevin cintai, Mah...?" kata Cevin kemudian berusaha mengingatkan mamahnya dan memberi pengertian pada mamahnya akan arti cinta yang sebenarnya.
"Omong kosong...! Cinta itu mudah diucapkan dan didapatkan setelah kalian membina rumah tangga nanti, Cevin...," kata mamahnya Cevin masih tetap pada pendiriannya. "Kau belum melihat Nabila, jadi kau bisa bicara begitu. Tapi nanti, kalau kau sudah bertemu, mamah yakin pendirianmu akan berubah," kata mamahnya dengan bibir tersenyum, membayangkan kecantikan wajah calon menantunya. Dia yakin, tentu akan bisa melupakan Balqis saat bertemu dengan Nabila nantinya.
Cevin terdiam tak menyahut.
"Mamah yakin, jika kau sudah bertemu dengan Nabila dan sudah mengenal dia lama, pasti kau akan bisa menerimanya...," kata mamahnya Cevin dengan bibir tersenyum, masih membayangkan bagaimana anaknya kelak akan hidup berdampingan dengan Nabila. Dan yang lebih dari itu, dia akan bangga karena mempunyai besan orang terpandang dan terhormat serta kaya raya.
"Tidak, Ma... Cevin tidak bisa..."
Jawab Cevin.
"Kau mau membantah mamah ya?" Ucap Selly.
"Maaf...! Mamah...! Bukannya Cevin hendak membantah dan berani pada mamah. Tapi Cevin hanya minta, pengertian dari mamah. Cevin sudah dewasa, sudah mahasiswa dan calon sarjana. Berilah kesempatan pada Cevin untuk menentukan pilihan hati Cevin sendiri, Mah..."
Jelas Cevin.
"Baik... kalau itu memang maumu. Tapi ingat, jika itu sudah kemauanmu, jangan harap mamah mau mengakuimu sebagai anak lagi. Dan silakan kau boleh minggat dari rumah ini. Jangan menginjakkan kaki ke rumah ini lagi!" Ucap Selly tegas.
Setelah berkata begitu, Selly bangun dari duduknya. Kemudian dengan kesal, wanita setengah baya itu berlalu meninggalkan anaknya yang masih duduk terdiam seorang diri dengan pikiran yang masih berkecamuk tidak menentu.
Ucapan mamahnya adalah sebuah keputusan, bukan main-main. Kalau mamahnya sudah mengatakan tidak akan mengakui dirinya sebagai anak lagi tentunya akan terjadi. Dan itulah yang membuat hati Cevin bimbang. Haruskah dia tetap pada pendiriannya, yang berarti dia tidak akan lagi diakui anak oleh mamahnya? Atau mengikuti kemauan mamahnya, yang berarti dia harus meninggalkan Balqis dan bayi dalam kandungan Balqis hidup menderita? Setelah beberapa saat terdiam dengan pikiran berkecamuk tak menentu, akhirnya Cevin bangun dari duduknya. Menuju ke tangga loteng. Naik ke loteng dan masuk ke dalam kamarnya untuk tidur. Namun entah mengapa malam itu Cevin tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya gelisah, memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya dengan mamahnya.
Tadi ketika dia baru pulang mengantar Balqis, terjadi perdebatan yang seru antara dia dan mamahnya. Perdebatan itu semata-mata dikarenakan Cevin ingin mendapatkan hak menentukan masa depan sendiri. Tidak harus senantiasa menuruti kehendak mamahnya. Namun akhirnya dia kalah.
Walau papah dan adiknya, Queena sudah berusaha membantunya, tetap saja mamahnya merupakan Ratu di rumah itu. Segala keputusan yang diambil mamahnya, merupakan hukum yang harus dilaksanakan oleh penghuni rumah itu. Tidak terkecuali papahnya.
Kadang Cevin juga bertanya, kenapa sih papahnya harus mengalah dengan mamahnya? Bukankah papahnya di rumah, itu adalah kepala rumah tangga? Seharusnya papahnyalah yang berhak menentukan semua keputusan di rumah itu.
Tapi di keluarganya sangat lain. Justru mamahnya lah yang berhak menentukan keputusan di rumah tangga itu. Yang membuat Cevin kadang jengkel, mamahnya setiap mengambil keputusan tidak terlebih dulu meminta pertimbangan dari keluarganya. Dia masih ingat akan kata-kata mamahnya yang tegas dan tidak mau tahu apa pun alasannya. Mamahnya tetap tidak menyetujui hubungan cinta dia dengan Balqis.
Ingatan Cevin kembali melayang pada perdebatan antara dia dan mamahnya yang baru berlangsung tadi.
"Sekali mamah bilang tidak setuju, tidak... Jangan sekali-kali kau membantah, kalau kau masih ingin mamah anggap sebagai anak mamah kau harus menuruti apa kata mamah. Tapi jika kau tetap pada pendirianmu, silakan kau boleh angkat kaki dari rumah ini. Jangan kembali lagi. Dan mamah tidak akan mau mengakui kau sebagai anak mamah lagi. Biarlah mamah kehilangan anak satu, asalkan mamah tidak ditentang oleh anak. Kau mengerti itu, Cevin...!"
Ucap Selly, mamahnya Cevin saat itu.
Begitulah senantiasa yang dikatakan oleh mamahnya, setiap kali Cevin mengajak membicarakan masalah Balqis.
Cevin menggeliatkan tubuhnya. Dari semula tengkurap dengan kedua tangan menopang dagu, kini terlentang dengan kedua tangan dibawah kepala. Matanya memandang ke langit-langit kamar. Seakan dia ingin meminta pertolongan pada langit-langit kamar, agar dia bisa mencari jalan keluar guna menyelesaikan masalah yang tengah dihadapinya.
"Mamah sudah memilihkan istri untukmu, Cevin. Mamah tidak ingin kau membantah. Dan perlu kau ingat, istrimu tidak akan membikin malu keluarga kita..." kata mamahnya kemudian dengan wajah menggambarkan keyakinan, kalau pilihannya itu benar-benar sempurna dan bisa dipercaya.
"Nabila itu anak orang berada. Dia lulusan sarjana luar negeri. Masa depannya cerah. Apa yang kau banggakan dari Balqis? Lagi pula, kalau masalah cantik? Nabila tidak kalah dibandingkan Balqis. Kau bisa membuktikannya besok...!" kata mamahnya lagi berusaha meyakinkan anaknya, agar mau menerima tawarannya. Agar bisa menerima Nabila, gadis pilihannya untuk mendampingi hidup Cevin kelak.
"Tapi, Mamah..." Cevin berusaha membantah, namun belum juga dia selesai bicara, mamahnya telah lebih dulu memotong ucapannya. Membuat Cevin seketika menghentikan perkataannya.
"Apalagi yang mau katakan...?"
Ucap Selly.
"Cevin lebih mencintai Balqis, Mah..." jawab Cevin dengan suara lirih, berusaha memohon satu pengertian dari mamahnya kalau cinta tidak bisa dipaksakan.
"Bagaimana Cevin bisa membina rumah tangga dengan orang yang tidak Cevin cintai, Mah...?" kata Cevin kemudian berusaha mengingatkan mamahnya dan memberi pengertian pada mamahnya akan arti cinta yang sebenarnya.
"Cinta itu mudah diucapkan dan didapatkan setelah kalian membina rumah tangga nanti, Cevin...," kata mamahnya Herman masih tetap, pada pendiriannya. "Kau belum melihat Nabila, jadi kau bisa bicara begitu. Tapi nanti, kalau kau sudah bertemu, mamah yakin pendirianmu akan berubah," kata mamahnya dengan bibir tersenyum, membayangkan kecantikan wajah calon menantunya. Dia yakin, kalau Cevin tentu akan bisa melupakan Balqis jika sudah bertemu dengan Nabila.
Cevin terdiam tak menyahut.
"Mamah yakin, jika kau sudah bertemu dengan Nabila dan sudah mengenal dia lama, pasti kau akan bisa menerimanya...," kata mamahnya Cevin dengan bibir tersenyum, masih membayangkan bagaimana anaknya kelak akan hidup berdampingan dengan Nabila. Dan yang lebih dari itu, dia akan bangga karena mempunyai besan orang terpandang dan terhormat serta kaya raya. Cevin terus hanyut dengan pikirannya. Kesal hatinya, setiap kali ingat akan kediktatoran mamahnya. Dia juga tidak habis mengerti, kenapa papahnya tidak bisa berbuat apa-apa?
Kenapa justru mamahnya yang seakan menjadi kepala rumah tangga di rumah itu?
Bukan papahnya?
Cevin masih terus memikirkan masalah yang dialaminya. Masalah cintanya dengan Balqis, yang terus di tentang oleh mamahnya. Juga masalah ucapan kekasihnya tadi sore, ketika di kampus. Pernyataan kekasihnya, yang memberitahukan kalau sekarang kekasihnya sedang mengandung janin hasil hubungan cinta mereka. Dan janin itu, kini sudah berusia tiga bulan. Cevin kembali menarik napas dalam-dalam, setiap ingat kata-kata kekasihnya.
Kemudian dia kembali teringat pada kata-kata Balqis tadi sore, ketika mereka berada di kampus. Bahkan dia tadi sore pun telah berjanji pada Balqis, kalau dia akan bertanggungjawab dengan menikahi wanita itu.
__ADS_1
Cevin terhempas ketika ingat akan janjinya pada Balqis yang baru beberapa waktu lalu dia ucapkan. Kenapa dia tadi tidak memberitahu pada mamahnya, kalau Balqis kini dalam keadaan hamil? Sehingga dia tidak akan dipaksa terus untuk menikahi Nabila.
Mengapa dia tak memiliki keberanian? Pikir Cevin dalam hati, menyesali kepengecutannya. Malam terus merambat bergulir seirama dengan berputarnya waktu. Jam di dinding kamar pun sudah menunjukkan angka satu dini hari lewat tiga puluh lima menit. Namun Cevin masih belum juga bisa memejamkan mata. Pikirannya masih terus melayang tak menentu. Memikirkan semua masalah yang tengah dihadapinya. Lelah memikirkan semua masalah yang dihadapinya, akhirnya Cevin pun tanpa sadar ia tertidur.