
Irfan datang! Dia kembali!
Cevin membeku di bangkunya. Di kelas yang dikosongkan oleh jam istirahat, ia merasa dunia di sekelilingnya mengabur. Ada dunia lain bergabung. Dunia tempat Irfan kini tinggal. Kekalutannya kini jadi ketakutan yang nyata.
Tiba-tiba Cevin tersentak. Ia menyapukan pandangan ke sekeliling, lalu ke luar jendela. Balqis tidak terlihat, berarti masih di kantin. Cevin cepat-cepat berdiri lalu keluar kelas. Di kantin, Balqis sedang duduk di antara cewek-cewek teman sekelas lainnya, mengobrol dengan riuh sambil mengunyah tahu isi. Cevin bergegas menghampiri.
"Qis, sebentar." Diraihnya tangan kiri Balqis.
Cewek itu menoleh kaget.
"Apa?" Balas Balqis.
"Ikut gue bentar." Ucap Cevin. Dengan paksa Cevin menarik Balqis sampai berdiri dan membawanya ke luar kantin, diiringi tatapan bingung cewek-cewek itu. Balqis berlari-lari kecil, mengimbangi langkah cepat Cevin. Begitu sampai di luar, Cevin melepaskan genggamannya dan langsung ke masalah yang tadi muncul mendadak di kepalanya.
"Qis, lo kenal Irfan?" Tanya Cevin.
"Irfan siapa?" Tanya Balqis bingung.
"Irfan siapa aja. Yang penting lo kenal dia. Ada nggak?" Lanjut Cevin lagi.
"Mmm…" Balqis mengingat-ingat. "Ada sih." Lanjut Balqis.
Muka Cevin langsung pucat. "Ada?" desisnya tegang.
"Ada. Itu juga gue yang kenal dia. Dia sih bisa dipastikan nggak kenal gue sama sekali,” Balqis menjawab kalem. Lalu ia terkikik geli.
Cevin mendesis lagi. Kali ini karena kesal. Jantungnya sudah nyaris lepas, tapi ternyata Balqis cuma bercanda.
"Gue nanya serius banget nih, Qis." Ucap Celvin.
Balqis akan meneruskan candanya, tapi batal saat dilihatnya muka keruh Cevin.
"Nggak." Balqis menggeleng.
"Yakin? Coba lo inget-inget lagi" ucap Cevin.
"Nggak." Balqis menggeleng lagi. "Temen-temen gue di Sekolah Menengah Pertama nggak ada yang namanya Irfan. Kalo temen-temen Sekolah Dasar…" Balqis berpikir sejenak.
"Nggak perlu yang udah lama banget," Cevin langsung memotong. "Temen-temen yang lo kenal waktu SMP aja." Lanjut Cevin.
"Ya itu tadi. Nggak ada." untuk ketiga kalinya Balqis menggeleng.
"Yakin?" Tanya Cevin.
"Yakin!" Jawab Balqis tegas.
Cevin terlihat lega. Balqis jadi tidak tahan untuk tidak bertanya. "Emang kenapa sih?"
"Nggak apa-apa." Cevin langsung menggeleng.
"Yuk, balik ke kelas. Udah mau bel nih," ajaknya.
Balqis mengangguk. Ia melambai ke arah teman-temannya yang masih asyik ngobrol. "Gue dulan yaaa!" serunya.
Mereka menoleh dan berseru bersamaan, "Yaelaaaah! Ke kantin aja dijemput!"
Balqis meringis lebar. Sekali lagi ia melambaikan tangan lalu menyusul Cevin.
***
__ADS_1
Dia mungkin tidak lagi kasat mata. Dia kini maya. Abstrak. Tidak terlihat. Tidak teraba. Tapi dia adalah Irfan! Kakak satu-satunya. Saudara cowok satu-satunya. Musuh bebuyutan di dalam rumah, namun sekutu sahati untuk urusan berkelahi di halaman rumah mereka. Sedetik mereka adu jotos, lima menit kemudian Irfan bisa menghajar anak tetangga demi Cevin. Dan sepanjang ingatan Cevin, mereka belum pernah tidak sekamar.
Jadi Cevin mengenal sosok invisible itu lebih baik daripada siapa pun!
Tapi keyakinan itu tidak bertahan lama. Mengenal baik sosok invisible Irfan bukan berarti tahu pula cara menghadapinya. Cevin justru sangat menyadari bahwa ia sama sekali tidak punya cara. Dan itu membuatnya putus asa. Selain itu, Cevin tahu ia tak bisa membagi kekalutannya pada siapa pun. Hanya pada satu orang, tapi ia tidak yakin dengan respons orang itu.
***
Sigit kaget saat membuka pintu depan dan mendapati Cevin berdiri di hadapannya dengan muka pucat.
"Ada apa?" tanya Sigit cemas.
Mulut Cevin sudah terbuka, tapi perlu waktu cukup lama sebelum akhirnya Sigit mendengar suara serak keluar dari sana.
"Irfan pulang...!!!"
Seketika wajah Sigit tampak kaget, bingung, dan reaksi-reaksi shock lainnya. Tumpukan reaksi yang membuatnya tak bisa bicara, hanya mampu menatap Cevin dengan mulut ternganga dan mata terbelalak. Anak itu sampai lupa menyuruh Cevin masuk sehingga sang tamu menceritakan semuanya dengan berdiri di ambang pintu.
Cerita yang dituturkan Cevin tidak keruan. Suaranya yang serak kadang terbata, dan kadang meluncur deras begitu saja. Ketika Cevin selesai, Sigit sedikit lega. Tadinya ia mengira Irfan "Pulang" dalam bentuk penampakan, dalam aura mistis atau horor, seperti di film atau sinetron di Drama Korea. Ia tidak sanggup membayangkan sahabatnya menjadi arwah gentayangan, hanya karena soal cinta yang belum dimulai.
Masih berdiri di ambang pintu, Cevin menatap Sigit. Tatapannya yang seakan berkata "Gue mesti gimana?" jelas-jelas terbaca di kedua matanya.
"Masuk dulu." Sigit melebarkan pintu. "Lo udah makan?" Tanya Sigit pada Cevin.
"Nggak tau. Lupa." Cevin menggeleng.
"Makan dulu kalo gitu. Abis itu baru kita omongin. Kalo perut kenyang, otak juga kerjanya lebih bener." Sigit lalu berjalan ke dalam. Ia sengaja mengulur waktu karena tak tega mengatakan bahwa penyebab kekalutan Cevin sebenarnya cuma dua hal.
Rasa bersalah dan kenangan...!!!
***
Walaupun Sigit menganggap sumber kekalutan Cevin berasal dari diri Cevin sendiri, toh itu membuatnya tidak tenang juga. Terpaksa terus di pantaunya kondisi adik almarhum sahabatnya itu, yang semakin dianggap sebagai adiknya sendiri sejak kematian Irfan. Langkah pertama yang diambil Cevin untuk mengatasi ketakutannya itu cukup membuat Sigit kaget.
"Cuma gue protect doang." Ucap Cevin.
"Dengan cara yang lo sebut tadi, itu namanya dikerangkeng." Balas Sigit.
"Belom ketemu cara lain." Cevin malas berdebat.
Ia sadar usaha yang dilakukannya mungkin sia-sia. Tapi ia tidak tahu cara lain. Untuk saat ini, hanya ini. Memastikan Balqis tetap berada pada fokus pandangannya, dan terus memastikan keadaanya lewat kontak telepon begitu cewek itu harus dilepasnya.
Bukan hanya Sigit yang bingung melihat sikap Cevin terhadap Balqis. Teman-teman sekelas mereka juga bertanya-tanya. Ke mana pun Balqis pergi, Cevin pasti mengikuti, kalo ia tidak bisa ikut, Balqis harus lapor sebelumnya. Pergi ke mana, dengan siapa, berapa lama.
Kalau Balqis melanggarnya, Cevin pasti blingsatan mencari-cari Balqis. Kalau tidak menemukan Balqis di mana pun, Cevin bisa panik, senewen, dan ujung-ujungnya cowok itu marah-marah karena Balqis menghilang tanpa izin darinya.
Pemandangan Balqis melakukan protes pun kemudian menjadi pemandangan yang sering disaksikan teman-teman sekelas mereka.
"Gue udah bilang, kalo mau ke mana-mana, ngomong dong. Jangan ngilang gitu aja!" ujar Cevin suatu hari.
"Orang gue cuma ke toilet. Masa mesti ngomong juga? Toiletnya keliatan dari sini. Tuuuh!" Balqis menunjuk toilet di ujung koridor dengan jengkel. Cevin tidak peduli.
"Toiletnya emang keliatan. Tapi kalo lo udah masuk ke situ, mana keliatan, lagi? Mana gue tau lo ada di dalam sana?" Lanjut Cevin.
"Ya udah, lo ikut masuk aja, Vin," kata Wisnu dengan tampang bosan. "Lo kelewatan juga sih. Masuk daerah orang aja lapor ke Pak RT nya 1 x 24 jam. Sekali doang. Nah kalo elo, masa tiap lima menit Balqis kudu lapor sih?" Lanjut Wisnu.
Cevin menoleh dan menatap Ian dengan ekspresi tidak suka. "Kalo nggak tau masalahnya, mending nggak usah ngomong deh." Balas Cevin kesal.
Kali lain, di jam istirahat, teman-teman sekelas mereka menemukan Balqis terduduk lesu di bangkunya, sambil memegangi perut. Di sampingnya, Cevin sedang sibuk menulis sesuatu dengan cepat.
__ADS_1
"Kenapa lo, Qis?" tanya Rahmat, yang baru saja memasuki kelas.
"Laper bangeeet!" Balqis langsung menjawab dengan suara melengking keras.
Rahmat melirik Cevin dengan kesal, tapi wajahnya tetap ke arah Balqis.
"Kalo laper ya ke kantin sana. Buruan. Udah mau bel nih." Ucap Rahmat.
"Nggak boleh pergi sendiri," ujar Balqis sambil mencebik.
"Ya ampuuun! Ya udah, sini sama gue." Rahmat berjalan menghampiri Balqis sambil geleng-geleng kepala. Digamitnya lengan cewek itu. "Vin, Balqis gue temenin ke kantin. Lo ngapain sih? Nggak liat cewek lo udah mau semaput gitu, apa?" Lanjut Rahmat.
"Ngerapiin catetan bio. Anak 1-3 diperiksa mendadak. Eh, Qis, lo kan udah gue kasih kue tadi?" Cevin menghentikan kesibukannya dan menatap Balqis. "Sementara buat ganjel perut kan cukup? Ntar istirahat kedua, gue traktir." Lanjut Cevin.
"Kue kecil gitu, mana kenyang? Dibagi dua sama elo, lagi. Cuma sampe di tenggorokan nih, sama ngotor-ngotorin gigi. Nggak nyampe perut!" Balqis bersungut-sungut sambil berdiri, lalu mengikuti Rahmat.
Cevin berseru saat kedua orang itu sampai di ambang pintu, "Kalo gitu gue titip…"
"Bodo!" tanpa menoleh, Balqis langsung menolak. Rahmat tertawa dan menghentikan langkahnya.
"Titip apa lo?" tanyanya.
"Apa aja. Yang penting bisa bikin perut gue rada terisi. Lemper kek, tahu isi kek. Bakwan juga boleh." Balas Cevin.
"Oke." Rahmat mengangguk, sementara Balqis langsung menggerutu.
"Sendirinya kelaperan, tapi gue disuruh nunggu sampe jam istirahat kedua!" Omel Balqis.
"Jangan protes, Qis. Ntar lo nggak gue kasih izin ke kantin nih!" ancam Cevin.
Rahmat buru-buru mengajaknya pergi, "Buruan, Qis. Udah mau bel." cowok itu berjalan ke luar kelas dengan langkah-langkah cepat. Balqis buru-buru mengikuti.
Teman-teman sekelas yang menyaksikan adegan itu lagi-lagi tampak bingung. Karena terlalu seringnya mereka menyaksikan itu, kemudian merebaklah beberapa versi dugaan kenapa Cevin sampai overprotektif begitu. Mereka menginterogasi Balqis ketika cewek itu balik dari kantin.
"Lo pasti pernah nyolong ya, Qis, waktu main ke rumah Cevin. Makanya lo diawasin terus sama dia. Takut lo nyolong di tempat lain," ujar Didik.
"Jangan-jangan lo cewek tukang selingkuh ya? Nggak bisa dipercaya. Makanya ke mana-mana dibuntutin terus." Ini kata Agus.
"Lo punya penyakit ayan ya, Qis? Makanya Cevin nggak tega ngebiarin lo sendirian. Takut lo kumat di jalan, trus nggak ada yang nolongin." Kalau ini Toni yang ngomong.
Diiringi tawa geli seisi kelas, Balqis lalu berdiri dan bertolak pinggang. "Iyaaa, sebutin aja yang jelek-jelek. Gue tukang nyolong, tukang selingkuh, ayan. Trus apa lagi?" Ucap Balqis marah.
"Abis, kenapa dong Cevin sampe kayak gitu?" tanya Didik.
Cevin yang sedang asyik duduk di bangkunya, baru saja hendak menjawab, tapi balqis sudah lebih cepat.
"Ya karena dia cinta banget sama gue!" tandas Balqis. Langsung seisi kelas bersuit-suit dan bertepuk tangan riuh.
"Cieeeh! Keren!" seru Agus.
"Romantis, bo!" timpal Kiki.
"Emang!" jawab Balqis, dengan nada makin tandas tapi muka makin bete. "Makanya lo-lo jangan pada berisik! Mengganggu kemesraan kami aja, tau!" Lanjutnya.
Kembali seisi kelas jadi ketawa-ketawa geli.
Balqis berjalan ke arah bangkunya, sambil terus menatap Cevin. Cowok itu balas menatap Balqis dengan tampang bingung.
"Hai, darling honey!" seru Balqis, dengan nada yang dibuat riang. "Mereka pada ngiri tuh. Katanya kita mesra banget!" Lanjutnya.
__ADS_1
Ketika Balqis sudah duduk di sisi Cevin, cowok itu meraih Balqis dengan satu tangan lalu mencium puncak kepalanya. Sontak teriakan histeris memenuhi ruang kelas mereka.
"CUIH! BETE! NORAK! KAMPUNGAN! UDIK!"