LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 48 : MENDAPAT PEKERJAAN


__ADS_3

"Anda ingin bertemu dengan siapa?" Tanya gadis itu.


"Saya tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa." Jawab Farel sedikit gemetar. "Saya ingin melamar pekerjaan!"


"Anda ingin melamar pekerjaan?" Tanya gadis itu sambil menatap Farel.


"Ya!" Jawab Farel.


"Tapi saya rasa kemungkinan tidak ada lowongan!" Ucap gadia itu.


"Nona tolong tanyakan." Farel memohon.


"Baiklah! Saya harap anda tunggu sebentar, saya akan tanyakan pada bagian personalia!" Ucap gadis itu lagi.


"Terimakasih, nona!" Balas Farel.


Nona itu masuk ke dalam, Farel menunggu dengan hati kebat kebit, duduk susah berdiri susah, perasaan Farel di saat itu. Berselang beberapa saat, nona itu berjalan keluar dari dalam dengan wajah berseri-seri.


"Bagaimana? Nona!" Buru-buru Farel menyapanya.


"Anda disuruh masuk, mudah-mudahan ada lowongan kerja untuk anda!" Ucap gadis itu.


"Terimakasih, nona. Terimakasih!" Balas Farel.


"Saya harap anda mengikuti saya ke dalam untuk bertemu dengan kepala bagian personalia." Lanjut gadis itu lagi.


"Terimakasih, nona yang baik!" Farel mengikuti nona itu ke dalam, melewati beberapa meja, sampailah Farel di hadapan kepala bagian personalia.


"Maaf, saya harus kembali ke tempat semula dan anda bicara langsung saja dengan bapak kepala bagian personalia." Jelas gadis itu.


"Terimakasih, nona!" Balas Farel.


"Duduk, saudara!" Kepala bagian personalia tersenyum sambil menatap pada Farel.


"Terimakasih, pak!" Farel duduk di hadapan kepala bagian personalia.


"Pernah bekerja di mana?" Tanya bapak itu.


"Belum pernah pak!" Jawab Farel.


"Pendidikan?" Tanyanya lagi.


"Lulusan Sekolah Menengah Atas." Jawab Farel.


"Asal kelahiran?" Tanya bapak itu.


"Jakarta, kemudian pindah ke Lampung!" Jawab Farel.


"Keluarga masih di Lampung?" Tanyanya kembali.


"Ya! Pak!" Jawab Farel.


"Sudah kawin?" Tanyanya.


"Baru bertunangan!" Merah wajah Farel.


"Baiklah!" Kemudian kepala bagian personalia mengeluarkan selembar formulir untuk Farel. "Isilah formulir ini sejujurnya." Ucap bapak bagian personalia itu kembali pada Farel.


"Terima kasih, pak!" Langsung Farel mengisi formulir itu, setelah selesai, ia menyerahkan kembali kepada kepala bagian personalia.


"Saudara tunggu sebentar, aku akan bertemu dengan pak direktur dulu." Jelas bapak itu.


Kepala bagian personalia keluar dari ruangannya, kemudian ia menuju ke tempat tangga lift. Hati Farel berkebat kebit lagi, ia duduk dengan perasaan tidak tenang. Cukup lama Farel menunggu, seperempat jam lebih, kepala bagian personalia baru kembali dengan wajah cerah.


"Saudara disuruh menghadap oleh pak direktur. Mari ikut!" Ucap bapak itu.


"Terimakasih, pak!" Farel mengikuti kepala bagian Personalia, dengan tangga lift mereka ke atas, tangga lift berhenti, mereka memasuki ruangan yang besar, penuh dengan karyawan dan karyawati, setelah melewati ruangan tersebut, barulah mereka memasuki ruangan direktur.


"Selamat siang, pak!" Ucap Farel pada direktur setengah tua berbadan agak gemuk.


"Pak, inilah orangnya." Ucap kepala bagian personalia.


"Em! Kau kembali ke tempat!" Ucap direktur itu pada kepala bagian personalia, suaranya berwibawa.


"Ya! Pak!" Kepala bagian personalia mengundurkan diri.


"Duduk!" Ucap direktur itu.


"Terimakasih, pak!" Farel duduk dengan kaki sedikit gemetar, sebab wajah direktur itu sangat angker.


"Kau ingin bekerja?" Tanya diriktur itu.

__ADS_1


"Ya, pak!" Jawab Farel.


"Aku telah membaca isi formulirmu," balas direktur itu.


Direktur itu berhenti sebentar sambil menatap Farel. "Sebetulnya tidak ada lowongan, tapi, kebetulan seorang pesuruh kantor kami berhenti, maka... bagaimana lowongan tersebut diisi olehmu?" Jelas pak Direktur itu lagi.


"Terimakasih, pak!" Farel bersorak kegirangan di dalam hatinya.


"Kalau demikian, besok kau mulai melaksanakan tugasmu dan temuilah kembali dengan kepala bagian personalia." Jelasnya kemudian.


"Ya, pak!" Jawab Farel.


"Silahkan!" Lanjut bapak itu.


Farel siap meninggalkan ruangan tersebut, mendadak direktur itu berkata lagi. "Aku harap kau bekerja dengan tekun dan sifat sementara untukmu, di kemudian hari... tergantung pada kejujuranmu!" Jelas pak Direktur itu kembali.


"Terimakasih, pak!" Farel meninggalkan ruangan direktur dengan hati girang dan lega, kemudian ia kembali ke ruangan kepala bagian personalia.


"Maaf, pak, saya mengganggu sebentar." Ucap Farel.


"Duduk!" Kepala bagian personalia tersenyum. "Selamat, saudara telah diterima."


"Bapak sudah tahu?" Terbelalak mata Farel.


"Ya!" Kepala bagian personalia menunjuk ke arah telpon.


"Oh!" Farel tersenyum.


"Mulai besok sebelum jam delapan, saudara sudah harus berada di sini dan besok aku akan memberi petunjuk padamu." Jelas bapak itu.


"Terimakasih! Pak!" Jawab Farel.


"Tugas saudara ialah mengantarkan dokumen-dokumen dari suatu bagian ke bagian yang lain." Kepala bagian personalia menjelaskan.


"Di sini adalah kantor pusat dan bercabang ke seluruh Nusantara. Export Import, memborong bangunan, pabrik textil, pabrik cat serta lain-lainnya, semua berada di sini. Dari lantai dasar sampai lantai atas semua adalah milik presiden direktur." Jelasnya.


"Artinya gedung ini adalah milik presiden direktur?" Ucap Farel.


"Ya!" Jawab kepala bagian personalia.


"Presiden direktur kita sangat kaya, beliau adalah tokoh terkemuka di masyarakat, sering menyumbang ini dan itu, terutama lembaga anak yatim piatu." Jelas bapak bagian personalia itu dengan sejelas-jelasnya pada Farel.


Farel meleletkan lidahnya, ia tidak sangka presiden direkturnya demikian kaya. Kalau begini, papahnya Rahmawati mana mungkin menandingi presiden direkturnya, pikir Farel di dalam hati. Demikian juga dengan orang tua pacar Dilla, kekayaan orang tua pacar Dilla mana bisa menandingi kekayaan presiden direkturnya.


"Apakah beliau sering di sini?" Tanya Farel.


"Jarang!" Jawab kepala bagian personalia. "Sebab beliau amat sibuk!"


Di samping menjelaskan seluk beluk presiden direktur, Farel juga diberi petunjuk mengenai tugasnya esok, kemudian ia dipersilahkan pulang dulu oleh kepala bagian personalia. Tiba di rumah, ternyata pintu rumah dikunci, dengan tidak sabaran Farel mengetok pintu, tak lama kemudian pintu terbuka dan Rahmawati menyambutnya dengan bibir menyungging senyuman. Secepat kilat Farel memeluk Rahmawati serta mencium keningnya, kemudian ia menarik tangan Rahmawati sembari menari-nari seperti anak kecil, malah mulutnya juga mengeluarkan suara nyanyian yang bernada campur aduk, setelah itu ia melepaskan tangannya dan berjingkrakan sendirian. Rahmawati menatapnya dengan mata terbelalak dan berdiri mematung saking kesima. Eh! Apakah Farel kesurupan jin? Tanyanya di dalam hati.


"Farel! Kau kenapa?" Tanya Rahmawati khawatir.


Farel tidak menggubris pertanyaan Rahmawati, malah suara nyanyiannya bertambah keras dan sepasang tangannya diangkat ke atas serta digoyang-goyangkan menurut irama suara nyanyiannya, pantat serta pinggulnya juga tergoyang-goyang tak henti-hentinya.


"Farel...!" Pekik Rahmawati.


Farel tetap tidak mendengar suara pekikan Rahmawati, malah irama nyanyiannya telah diganti dengan irama nyanyian slow, langkah kakinya diayunkan ke depan dan ditarik ke belakang dengan gerakan lemas tangannya juga mengambil sikap sedang berdansa.


"Farel...!" Rahmawati menahan suara tangisnya, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Farel saking asyik sehingga tidak mendengar suara Rahmawati yang menahan isak tangisnya. Dari irama slow diganti lagi dengan irama Bali, sehingga kepala Farel tergoyang-goyang dan matanya mendelik-delik, tangan dan kakinya dipentang lebar-lebar, kemudian sebelah kakinya ditekuk dan jari tangannya digerakkan dengan lemas. Matanya tetap mendelik dan bola matanya melirik ke kiri sebentar dan ke kanan sebentar.


Hal tersebut lebih-lebih mengagetkan hati Rahmawati, sehingga pecahlah suara tangisnya yang keras. Spontan Farel terkejut dan ia berhenti menari Bali dengan posisi kaki dan tangannya masih terpentang lebar-lebar.


"Farel..." Rahmawati memeluknya. "Kau kenapa?" Suaranya terisak-isak dan sambil menurunkan tangan Farel yang masih terpentang.


"Rahma, kenapa kau menangis?" Farel mengelus rambut Rahmawati.


"Barusan kenapa kau seperti orang gila?" Ucap Rahmawati terlihat khawatir.


"Saya seperti orang gila?" Mendadak Farel tertawa terbahak-bahak, kemudian ia menepuk-nepuk bahu Rahmawati sambil mengajaknya duduk.


"Farel, sebetulnya apa yang terjadi? Sehingga kau seperti orang kesurupan." Tanya Rahmawati.


"Memang saya sedang kesurupan." Farel menyengir. "Saya kesurupan pekerjaan!"


"Farel. kalau belum mendapat pekerjaan, jangan terlalu dipikirkan, nanti kalau syarafmu terganggu, saya bagaimana?" Ucap Rahmawati.


"Rahma, saya telah mendapatkan pekerjaan!" Balas Farel tersenyum.


"Apa? Kau sudah mendapat pekerjaan?" Rahmawati kurang percaya.


"Benar!" Wajah Farel berseri-seri.

__ADS_1


Langsung Rahmawati menyeka air matanya dengan tangan dan mendadak ia berdiri sambil berjoget gaya penyanyi dangdut ibukota.


"Rahma, kau kenapa?" Kaget hati Farel, ia melongo dengan mata terbelalak. "Rahma" Buru-buru ia bangun dan menghampiri Rahma yang sedang berjoget. "Rahma... kau kenapa?"


Mendadak Farel memeluknya erat-erat.


"Rahma ..." Hampir menangis Farel menyaksikan tingkah laku Rahmawati.


"Farel, saya... saking girang!" Perlahan suara Rahmawati di dalam pelukan Farel.


"Girang sih boleh, tapi jangan kayak orang gila!" Balas Farel.


"Tadi kau lebih-lebih!" Rahmawati tersenyum manis.


"Tadi saya... Ya, ya! Saya juga kayak orang gila!" Farel tertawa sambil melepaskan pelukannya.


Kemudian mereka duduk kembali.


"Farel, betulkah kau sudah mendapat pekerjaan?" Tanya Rahmawati.


"Betul! Besok saya sudah mulai kerja!" Jawab Farel.


"Di kantor apa dan bagian apa?" Tanya Rahmawati.


Segera Farel memberitahukan pada Rahmawati. cerah wajah Rahmawati di saat itu, ia menatap Farel dengan mesra.


"Sementara bekerja sebagai pesuruh kantor juga tidak apa-apa, di belakang hari kau juga bakal dipindahkan ke bagian yang sesuai dengan kepintaranmu." Balas Rahmawati senang.


"Saya tidak mempunyai kepintaran apa-apa!" Ucap Farel dengan kulit muka memerah.


"Bukankah kau akan kuliah Akunting?" Ucap Rahmawati.


"Ya!" Jawab Farel. "Tapi kita harus mengetahui dulu berapa gaji saya, baru bisa diatur." Ucap Farel.


"Kalau demikian, sebulan kemudian baru kau masuk kuliah Akunting. Bagaimana?" Tawar Rahmawati.


"Oh ya! Tadi tantemu bersama Amanda kemari!" Jelas Rahmawati.


"Mereka kemari?" Tanya Farel.


"Ya! Tantemu membawakan ayam goreng untuk kita!" Balas Rahmawati.


"Ayam goreng?" Ucap Farel.


"Ya!" Jawab Rahmawati.


"Kebetulan!" Ucap Farel. "Memang saya sedang lapar." Kemudian ia bertanya: "Adakah tante memesan apa-apa?"


"Tidak!" Ucap Rahmawati. "Saya akan sediakan nasi serta ayam goreng yang dibawakan oleh tante." Lanjut Rahmawati.


Rahmawati bangkit dari tempat duduk dan menuju ke belakang. Farel menyandarkan punggungnya ke belakang, tak lama kemudian, Rahmawati keluar lagi seraya berkata, "Farel, sudah siap, mari kita makan!"


Mereka menuju ke belakang, dengan lahap Farel menyikat ayam goreng itu, tersenyum Rahmawati menyaksikan hal itu. Selesai makan, mereka kembali ke ruangan tamu dan duduk dengan santai. Farel mengambil selembar surat kabar dan dilipatkan, kemudian ia mengipas-ngipas ke badan nya dengan surat kabar itu.


"Puas hari ini!" Ucapnya. "Pekerjaan dapat dan makan dengan ayam goreng!" Farel tertawa girang.


"Hanya terlalu rakus kelihatannya." Rahmawati tersenyum geli.


"Maklum, sudah lama tidak makan ayam goreng!" Farel menyengir. "Oh ya! Rahma, saya ingin istirahat dulu sebentar, soalnya badan saya pada pegal." Ucap Farel.


"Bagaimana saya uruti sebentar?" Ucap Rahmawati.


"Nnnng! Boleh juga!" Jawab Farel.


Farel berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya, diikuti oleh Rahnawati. Farel membuka baju serta kaos dalamnya, kemudian ia tengkurap di lantai yang bertikar. Jari-jari Rahmawati yang lemas segera memijitnya.


"Masih merasa pegal?" Tanya Rahmawati.


"Begitu kena jari tanganmu, pegal langsung menghilang!" Farel tertawa kecil.


"Kalau begitu, bukannya pegal hanya ingin dipijit!" Wajah Rahmawati berobah merah. "Sudah mulai genit ya?"


"Siapa bilang saya mulai genit?" Bantah Farel.


"Saya!" Ucap Rahmawati.


"Tapi saya tidak merasa genit!" Ucap Farel memperdengarkan suara tawanya. "Wajar kan? Kau memijiti badan saya?"


"Kalau saya tidak mau?" Balas Rahmawati.


"Tegakah hatimu melihat saya kepegalan?" Balas Farel. Mendadak Rahmawati mencubit lengan Farel, sehingga Farek menjerit kesakitan.

__ADS_1


"Biar tahu rasa!" Ucap Rahmawati sambil berlalu dari kamar Farel sembari tersenyum. Ia ke tempat cucian piring untuk mencuci piring, setelah mencuci piring, langsung ia mengambil pakaian kotor Farel dan masuk ke dalam kamar mandi, perlahan-lahan ia mencuci pakaian Farel sambil tersenyum-senyum. Farel telah tertidur nyanyak dan memperdengarkan suara dengkurnya. Bibirnya kelihatan sedang tersenyum.


__ADS_2