LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 54 : PUTIH ABU-ABU


__ADS_3

Karena kemarin tidak berhasil melihat Balqis, siang nanti Irfan berniat kembali lagi ke sekolah cewek itu.


"Gue takut dia sakit," katanya. Bukan suaranya aja yang cemas, ekspresi wajahnya juga.


Seakan-akan mereka sudah saling kenal dan akrab pula. Sigit jadi menahan seringai geli yang sudah hampir tercetak di bibirnya.


"Biarin ajalah. Sakit juga ada orang tuanya ini." Ucap Sigit.


"Emang kalo ada orang tuanya, trus gue nggak boleh khawatir, gitu?" Tanya Irfan.


"Khawatir juga percuma. Orang kerjaan lo selama ini cuma ngeliatin doang." Balas Sigit.


Irfan jadi meringis...!!!


"Iya sih. Tapi bolehkan gue nguatirin dia? Ntar ikut lagi nggak, Git?" Tanya Irfan melanjutkan.


"Ikut deh. Jadi penasaran." Ucap Sigit.


Namun sesaat menjelang bel pulang berbunyi, mendadak turun hujan lebat.


"Jadi nggak, Fan? Ujan nih," bisik Sigit, sambil tetap menyalin materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ke buku catatannya.


"Jadi dong!" tandas Irfan juga sambil berbisik.


Dan begitu bel pulang berbunyi, beberapa gelintir siswa nekat menerobos lebatnya hujan, termasuk Irfan dan Sigit. Keduanya berlari cepat menuju halte tidak jauh dari sekolah. Tapi ternyata hujan lebat tidak turun terlalu lama. Ketika mereka turun di halte dekat sekolah Balqis, hujan benar-benar sudah berhenti. Menyisakan udara sejuk dan bau tanah basah.


Keduanya bergegas menuju taman di seberang sekolah Balqis. Belum lama keduanya berdua di depan pagar taman, terdengar bunyi bel dari gedung sekolah Balqis. Tak lama pintu-pintu kelas terbuka dan siswa-siswi berseragam putih-biru berhamburan keluar dari sana.


Kerumunan siswa itu kemudian terhenti di trotoar depan sekolah. Hujan lebat tadi hanya sebentar, tapi cukup membuat sisi jalan di depan sekolah Balqis tergenang air.


Sebagian anak memilih jalan memutar, menghindari genangan. Sementara sebagian lagi memilih menyusuri genangan itu dengan perlahan dan hati-hati, di tempat yang paling dangkal.


Tiba-tiba orang yang mereka tunggu-tunggu sejak kemarin muncul. Menyeruak di antara kerumunan. Irfan terpana. Sesaat ia cuma bisa menatap Balqis lurus-lurus, tanpa bicara.


Rambut Balqis yang sedikit melewati bahu diikat ekor kuda. Ikatan yang asal-asalan sehingga beberapa helai rambut terjun di pelipis dan tengkuknya. Wajahnya juga seperti yang sering dilihat Irfan. Sedang tersenyum lebar atau tertawa.


"Itu anaknya!" seru Irfan tertahan. Ditepuknya lengan Sigit.


"Mana?" Sigit langsung celingukan mencari-cari.


"Yang rambutnya dikuncir berantakan itu?" Jawab Irfan.


"Iya. Gimana? Manis, kan?" Lanjut tanya Irfan.


"Iya, manis," Irfan terpaksa mengakui.


"Iya, kan?" sepasang mata Irfan yang terus menatap Balqis semakin berbinar.


"Tapi beda ya, sama yang di foto-foto? Berarti dia nggak fotogenik." Ucap Sigit.


"Ah, nggak penting!" tandas Irfan. "Gue malah lebih seneng pose-pose yang natural gitu. Nggak dibikin-bikin, nggak pake dandan-dandan dulu. Foto cewek-cewek yang pada di close up itu tuh, sama aslinya bisa beda jauh banget, tau! Menipu!" sambil bicara Irfan buru-buru mengeluarkan kamera digital dari dalam tas.


"Ambil foto lagi?" Sigit menatapnya heran. "Bukannya sudah satu amplop cokelat? Penuh, lagi!"


"Ekspresi yang ini belum ada," jawab Irfan sambil menempatkan sasaran bidik ke dalam frame.


Sigit geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Irfan menekan tombol kecil pada kamera digitalnya dua kali, kemudian dengan puas memandangi hasilnya. Dimasukkannya kembali kamera itu ke tas, dan perhatiannya segera kembali pada Balqis.


"Tapi kayaknya tuh anak bandel, ya?" celetuk Sigit.


"Iya, emang." Irfan terkekeh geli. "Nggak bandel sih. Cuma seneng ngisengin orang. Kayaknya gue udah pernah cerita deh." Lanjut Irfan.


Baru saja kalimat Irfan selesai, Balqis yang tadi berjalan tenang sambil mengobrol dan tertawa-tawa bersama teman-temannya, dengan gerakan tiba-tiba dan tak terduga, melompat ke genangan air hujan di depan trotoar sekolah.


Seketika terdengar jeritan-jeritan keras, bersamaan dengan air kotor bewarna kecoklatan yang memercik ke segala arah. Mendarat di baju seragam, rok, sweater, tas dan semua benda yang berada tepat dijalur cipratannya.


"Balqis, ini baju masih mau gue pake sekali lagi besok, tau!"


"Balqis! Gue bisa di omelin mamah nih!"


"Balqis, ini seragam baru beli!"


Namun, jeritan-jeritan marah teman-temannya itu malah membuat Balqis tertawa geli, suaranya keras pula. Melihat itu Irfan jadi tertawa terbahak-bahak. Ia memandang Balqis dan ulah nakalnya dengan sorot yang semakin jelas memperlihatkan perasaannya.


"Lucu banget kan tu anak?" katanya pada Sigit di sela tawa.


"Iseng banget, kali!" Sigit geleng-geleng kepala.


Tapi akhirnya dia juga tidak bisa menahan tawa saat kemarahan teman-teman Balqis malah membuat keisengan Balqis semakin menjadi-jadi.


Masih di atas genangan air kotor yang tadi dicipratkannya ke arah teman-temannya, Balqis kemudian berjoget-joget dalam berbagai macam gaya. Teman-temannya semakin kesal dan akhirnya berusaha menangkapnya.


"Kita tangkep tuh si Balqis, trus suruh dia yang nyuci. Enak aja!" seru salah seorang anak. Balqis langsung menghentikan pertunjukan jogetnya dan melarikan diri.


"Kejar! Kejar si Balqis...!"


Balqis lari pontang-panting, tapi tetap sambil tertawa-tawa geli. Dibelakangnya, teman-temannya segera mengejar. Sambil tetap ribut menjerit-jerit.


"Yuk, Git!" Tiba-tiba Irfan menepuk bahu Sigit, kemudian berlari cepat, berusaha menjejeri Balqis yang berlari di sisi seberang jalan.


Sigit sesaat terlongo, tapi kemudian segera mengejar. Dengan mudah Irfan menyusul dan berada di depan Balqis. Ketika jalan itu menikung, Irfan berlari menyeberang. Dibelakangnya, Sigit berlari mengikuti sambil terbingung-bingung. Begitu sampai di seberang jalan, Irfan menghentikan larinya. Dengan napas terengah dia berdiri menunggu. Jantungnya berdetak keras. Bukan saja karena habis berlari, tapi juga karena satu tindakan yang sebentar lagi akan dia lakukan.


Tak lama Balqis muncul di tikungan. Dan begitu cewek itu melintas di depannya ….


"Balqis...!"


Balqis menghentikan larinya dengan kaget.


Dipandangnya Irfan dengan heran.


"Ngumpet di balik pohon, cepet!" Irfan menunjuk salah satu pohon peneduh jalan di belakangnya. Balqis tidak bergerak. Ditatapnya cowok berseragam Sekolah Menengah Atas di depannya itu dengan heran, aneh, bingung, dan curiga. Balqis tak tahu Irfan sedang setengah mati menekan rasa gugupnya.


"Elo tadi isengnya kelewatan banget. Temen-temen elo kayaknya marah beneran. Kalo sampe ketangkep, elo bisa…," Irfan menyeringai lucu. "Dilelepin di kubangan air kotor yang elo cipratin tadi deh kayaknya." Lanjut Irfan.


Suara teman-temannya yang terus menjeritkan namanya membuat Balqis tidak bisa lama-lama berpikir.


"Cepet!" desak Irfan. "Nanti keburu mereka nongol!" Lanjutnya.


Setelah menengok ke arah tikungan di belakangnya dan sadar teman-temannya sebentar lagi muncul, akhirnya Balqis menuruti saran Irfan. Ia bersembunyi di balik pohon yang tadi ditunjuk Irfan. Sigit yang tiba belakangan batal menyatakan keherannya karena penjelasannya sudah ada di depan mata.


"Bantuin gue nutupin dia, Git!" seru Irfan begitu sahabatnya itu muncul. Tanpa bertanya lagi, Sigit langsung menurut.


Dengan posisi berdiri yang tidak begitu kentara kalau sedang menyembunyikan Balqis, Irfan dan Sigit berdiri mengapit pohon tersebut. Di balik pohon, Balqis meringkuk dalam-dalam sambil tertawa geli.

__ADS_1


"Kalo ngumpet jangan ketawa," tegur Irfan pelan. "Percuma dilindungin." Lanjutnya.


"Iya. Iya. Maaf." Balqis berusaha menghentikan tawanya.


"Begitu nanti temen-temen elo sudah lewat, siap-siap lari balik ke arah semula, ya. Elo kan pulangnya naik bus, harus ke halte." Jelas Irfan.


"Oke!" jawab Balqis dan ia tertawa-tawa geli lagi.


"Jangan ketawa!" desis Irfan.


"Iya. Maaf. Nggak tahan sih." Cewek itu menutup mulut dengan telapak tangan. Sigit menyaksikan peristiwa itu dengan senyum.


Tak lama teman-teman Balqis muncul, masih dengan seruan-seruan kesal dan marah.


"Itu, anaknya lari ke sana!" tunjuk Irfan ke ujung jalan di sebelah kanan.


"Terima kasih, Kak!" cewek-cewek itu mengucapkan terima kasih nyaris bersamaan, kemudian berlari ke arah yang di tunjuk Irfan.


Setelah menunggu beberapa detik, Irfan memberikan komando, "Balqis, buruan lari!"


Diapit Irfan dan Sigit di kiri dan kanan, Balqis berlari ke arah semula. Mereka berlari secepat dan sehening mungkin. Tapi cewek itu tidak berhasil menahan tawanya. Ditengah napas yang tersengal-sengal, ia tertawa geli.


Sampai di halte, baru ketiganya berhenti berlari. Balqis membungkukkan tubuh, antara kehabisan tenaga karena berlari cepat dan sakit perut karena terus tertawa. Setelah napasnya kembali normal, cewek itu menegakkan kembali tubuhnya. Ditatapnya dua cowok asing yang telah menolongnya.


"Makasih, ya." katanya, dengan senyum geli yang siap berubah jadi tawa. Irfan dan Sigit mengangguk hampir bersamaan.


"Kok kalian tau nama saya Balqis?" Tanya Balqis kemudian.


"Ya taulah. Jeritan temen-temen kamu kenceng kayak gitu," jawab Irfan, membuat tawa Balqis kembali berderai.


"Tapi sebenarnya kalo hari ini selamat juga percuma. Pasti besok gue bonyok dijitakin rame-rame," katanya, membuat Irfan dan Sigit ikut tertawa. "Oke deh. Makasih banget ya. Gue duluan, soalnya busnya udah dateng." Balqis menunjuk bus yang rutenya melewati rumahnya, yang sedang menuju halte tempat mereka berdiri.


"Oke." irfan mengangguk.


"Eh, iya. Nama kamu siapa?" Balqis bertanya, Irfan langsung salah tingkah.


"Ng…. Irfan," ucapnya, dengan suara mendadak pelan.


"Siapa?" Ucap Balqis.


"Irfan...!" Sigit yang mengulangi.


"Oh…!" Balqis mengangguk. "Kalo kamu?" sepasang matanya lalu menatap Sigit.


"Sigit...!" Jawab Sigit.


"Oke deh, Irfan, Sigit. Duluan ya. Sekali lagi, tanks banget. Daaah." Balqis melambaikan tangan lalu menghampiri pintu depan bus. Tawa gelinya kembali muncul. Kedua cowok itu membalas lambaiannya, jadi tidak bisa menahan senyum geli juga.


Irfan melepas kepergian Balqis dengan senyum dan tatap sayang. Ditunggunya sampai bus itu benar-banar hilang di ujung jalan, baru diajaknya Sigit menyeberang, menunggu bus mereka sendiri di halte seberang.


"Kayaknya lo sekarang udah bisa pendekatan maksimal deh ma tuh cewek, Fan!" Ucap Sigit.


"Nggak ah. Dia masih Sekolah Menengah Pertama. Lagian dia udah mau ujian kelulusan. Kasihan. Nanti gue bisa ganggu konsentrasi belajarnya." Ucap Irfan penuh pengertian.


"Nunggu dia Sekolah Menengah Atas masih lama, lagi. Masih beberapa bulan lagi." Ucap Sigit.


"Nggak apa-apa. Daripada macarin anak Sekolah Menengah Pertama. Masih di bawah umur. Mending gue tunggu dia sampe pake putih abu-abu!" Lanjut Irfan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2