LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 114 : KAMAR PERSALINAN


__ADS_3

Agaknya saran Nabila menjadi buah pikiran Balqis. Bagaimana pun malunya. Bagaimana pun hinanya dia harus menemui paman dan bibinya. Kedua orang itu sudah banyak menanam kebaikan padanya. Semua kenangan masa lalu jadi terbayang di pelupuk matanya. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, paman dan bibinya yang mengurus dan membiayai. Dan bagaimanakah keadaannya sekarang? Apakah pamannya sudah mendapat pekerjaan baru yang lebih baik? Hati Balqis tambah sedih. Gara-gara pernikahan dengan Sigit hidup keluarga pamannya jadi sengsara. Dikeluarkan dari pekerjaan oleh ayah Sigit. Dan selama ini mereka juga pasti memikirkan nasib yang kualami. Aku tak pernah mengirim berita apa pun kepada mereka.


Lalu Cevin, dimanakah kau sekarang? Balqis memikirkan kekasihnya itu. Tapi tak lama, karena Sigit juga terlintas di benaknya.


"Untuk itu mulai dari sekarang nyonya harus banyak gerak jalan. Karena hal itu akan mempermudah kelahiran bayi nyonya," tutur dokter.


"Ya ... ya," sahut Balqis tergagap. Kedua bayangan laki-laki di benaknya segera lenyap.


"Lusa datang kemari lagi. Saya buatkan resep dan beli obatnya di apotik."


"Baik, dokter." Jawab Balqis.


Sekeluarnya dari kamar periksa kepala pimpinan asuransi tempat Balqis bekerja tersebut menyambutnya dengan senyuman. Resep yang diberi dokter langsung dibiayai oleh pimpinannya dan membeli obat di apotik. Setelah itu Balqis minta diantar menjumpai suaminya.


Rumah itu nampak sepi. Pintunya tertutup rapat. Ketika Balqis turun dari mobil nampak heran. Sebab rumah itu sepertinya tidak berpenghuni. Semua jendelanya tertutup. Hal itu membuat perasaan Balqis resah. Apa yang telah terjadi selama ini? Selama Balqis tidak menjenguk suaminya. Pintu rumah itu diketuk berulangkah oleh Balqis namun tidak terdengar jawaban. Tidak dibuka oleh siapa pun dari dalam.


"Barangkali suamimu pergi," kata pimpinan asuransi itu.


"Tidak mungkin. Dia tak bisa pergi seorang diri. Dan selama bertahun-tahun hanya mengurung diri di rumah."


Balas Balqis.


"Kenapa begitu?"


"Sebab suamiku tak dapat berjalan. Dia lumpuh," kata Balqis dengan raut wajah sedih. Kepala pimpinan asuransi tempat Balqis bekerja itu jadi terharu.


Seorang laki-laki setengah baya datang menghampiri.


"Selamat sore nyonya," sapa laki-laki itu.


Balqis agak tersentak, lalu menoleh ke laki-laki itu Edison. Laki-laki itu tetangga di sebelah rumah ini.


"Sudah dua hari yang lalu nak Sigit pergi. Dia meninggalkan surat untuk nyonya," kata Edison menyerahkan amplop yang isinya sepucuk surat. Balqis menerima dengan tangan gemetar.


"Mas Sigit pergi seorang diri?"


Tanya Balqis.


"Saya tidak tahu."


Jawab Edison.


"Lantas siapa yang menitipkan surat kepada bapak?"


Tanya Balqis lagi.


"Seorang perempuan muda."


Jawab Edison.


"Perempuan muda?" gumam Balqis berusaha menebak siapa gerangan perempuan muda itu? Tapi cuma desah napas yang menjadi jawabannya.


Desah napasnya sendiri. Dia tak dapat memastikan siapa perempuan itu.


"Jadi bagaimana, Qis?" tanya bapak pimpinannya itu. "Kau tahu perempuan itu? Kalau misalnya kau tahu, kita cari dia sampai ketemu."


Balqis menggeleng.


"Kita pulang saja."


"Baik."


"Terima kasih, Pak," kata Balqis kepada Edison.


Lantas mereka pergi dari tempat itu.


***


Udara yang dihirup bagi membakar para-parunya. Sinar matahari yang bersinar terik seperti membakar dirinya. Namun sebaliknya dia merasakan senang tinggal di antara para karyawan yang tengah bekerja di proyek.


Cevin menganggap hidupnya yang sekarang lebih tentram. Setiap hari sibuk di proyek perumahan yang dipimpinnya. Di kota Bandar Lampung dia tinggal di perumahan karyawan. Bagi karyawan lainnya merasa dituntut kerja lebih rajin dan giat. Disamping Vani menjadi kian sibuk mendampingi pimpinannya itu.


Sebenarnya itu cuma pelarian. Ya, cuma pelarian dari kedua orang perempuan. Dia ingin mencari ketentraman baru bagi hidupnya. Kendati setiap mau tidur bayangan Balqis dan Nabila merejah pikirannya. Paling-paling sebagai pelariannya, dia minta ditemani Veni pergi ke Night club. Atau ke tempat-tempat hiburan lainnya.


Kontaknya hanya dengan bapak kepala pimpinan asuransi itu. Setiap hari dia menelpon untuk menanyakan kesehatan Balqis. Yang selalu ditanyakan hanya mengenai kapan bayi dalam kandungan perempuan itu akan lahir.


Dan pada suatu siang, Cevin bersama Veni nampak duduk berdua di bawah atap seng bangunan semi permanen. Mengawasi pegawai proyek yang bekerja di bawah teriknya matahari.


"Sampai berapa lama lagi pak Cevin tinggal di rumah karyawan itu?" tanya Vani.


"Sampai proyek ini selesai."


Jawab Cevin.


Vani termangu. Sebab paling lama proyek perumahan ini diperkirakan selesai enam bulan lagi. Selama itukah Cevin tinggal di sini?


"Pak Cevin akan betah tinggal di sini?"


Tanya Vani.


"Kenapa tidak?"


Jawab Cevin balik bertanya.


"Lantas bagaimana dengan Nabila?"


Tanya Vani.


"Ah!" Cevin mendesah.


"Masih belum akur?"


Tanya Vani.


"Nggak tau."


Balas Cevin.


"Waaaah urusannya kok jadi begitu?"


Tanya Vani.


"Nggak tau."


Balas Cevin.


"Kalau dia sampai nyusul ke mari?"


Tanya Vani.


"Dia tidak mungkin tahu aku di sini. Kalau sampai tahu paling-paling kau yang memberi tahu, tapi ingat, jangan sekali-kali memberi tahu aku di sini melalui telpon."


Jelas Cevin.


"Termasuk Balqis?"

__ADS_1


Tanya Vani.


"Ya."


Jawabnya lagi.


Vani tersenyum sembari melirik Cevin.


"Padahal hampir seluruh karyawan yang rumahnya di luar kota, setiap minggu mereka musti pulang untuk menjenguk istri atau pacarnya. Mereka tak tahan akan kesepian di sini. Apakah pak Cevib bisa tahan terus menerus tinggal di sini?"


Tanya Vani.


Cevin memandang truk yang baru menurunkan pasir. Deruman buldoser yang sejak tadi menggaruk tanah terasa mengurangi pendengarannya.


"Jadi yang kau maksudkan masalah pokoknya soal perempuan? Sebenarnya tidak sulit bagiku. Dengan uang aku bisa melampiaskan segala kesepianku. Sekali waktu bisa mencari tempat peristirahatan yang nyaman. Dan di sini aku punya seorang perempuan yang setia."


Jawab Cevin.


"Siapa?"


Tanya Vani.


"Kamu!"


Lanjut Cevin.


Vani tersenyum.


"Kebanyakan laki-laki itu pilih enaknya sendiri," ujar Vani sembari tertawa kecil.


"Kenapa kamu bilang begitu?"


Tanya Cevin.


"Bisa berbuat seenaknya di luar rumah."


Balas Vani.


Sekarang ganti Cevin yang tertawa.


"Asal kau tahu saja, perempuan-perempuan yang ada di hatiku cuma mementingkan diri sendiri. Mereka tak mau mengerti apa yang kumaui. Barangkali cuma kau yang selama ini mau mengerti diriku. Bukan begitu, Van?" Jelas Cevin.


"Tapi pak Cevin belum tahu Vani yang sekarang, kan?"


Tanya Vani.


"Vani yang sekarang kenapa?"


Tanya Cevin balik.


"Bulan depan Vani akan bertunangan."


Jawab Vani.


Cevin terperanjat.


"Bertunangan? Dengan siapa kamu bertunangan?" tanya Cevin terbata-bata. Nampak gusar.


"Purwanto. Dia baru kemarin diwisuda menjadi insinyur."


Jelas Vani.


Cevin jadi termenung. Ada rasa kecewa di hatinya. Untuk membuang rasa kecewanya diambil sebutir batu kerikil, lalu dilemparkan ke tengah proyek. Salah satu pekerja proyek kaget lantaran nyaris kena lemparan batu itu. Cevin jadi kepingin tertawa, sebab pekerja itu termangu heran.


"Sudah lama kenal pemuda itu?"


Tanya Cevin.


Jawab Vani.


"Kenapa langsung buru-buru bertunangan?"


Tanya Cevin lagi.


"Sebab pak Cevin sudah menikah."


Jawab Vani.


Cevin termangu memandang Vani.


"Apa hubungannya dengan pernikahanku?"


Tanya Cevin.


"Dulu Vani masih setia menanti pak Cevin?"


Balas Vani.


Terbengong Cevin mendengar ucapan gadis itu.


"Sudah terlambat. Aku tidak menyangka jadi begini."


Balas Cevin.


"Ya, memang sudah terlambat. Tapi kalau sekedar hiburan Vani punya banyak kenalan gadis-gadis cantik."


Jelas Vani.


Cevin menghembuskan napas panjang. Entah penyesalan, entah keluhan. Udara yang dihirup menjadi berubah pengap.


***


Perubahan yang dratis makin terjadi pada Cevin. Dia tak ingin lagi jadi laki-laki yang merenungi nasibnya terus menerus. Dia melakukan apa saja yang dapat menyenangkan dirinya. Setiap malam pergi ke night club atau ke tempat pelacuran. Di tempat pelacuran dia sudah punya langganan tetap.


Berbicara mengenai langganan tetap Cevin memang boleh juga. Usianya masih sembilan belas tahun. Belum lama menjadi penghuni komplek pelacuran itu. Kira-kira baru dua minggu. Parasnya cantik, tubuhnya masih padat dan berisi. Namanya Ika Agustina. Hampir setiap malam Cevin mengunjungi Ika.


Dan sore itu Cevin sudah menunggu di kamar perempuan itu.


"Sorry ya. Agak lama menunggunya?" tanya gadis itu sembari membetulkan roknya. Bau sabun yang harum menusuk hidung Cevin. Perempuan itu baru saja selesai mandi.


"Ah, tidak apa-apa."


Balas Cevin.


"Supaya bersih dan harum, ya kan Mas Cevin?"


Tanya Ika meminta persetujuan.


"He'eh."


Balas Cevin singkat.


Ika merangkul bahu Cevin dan mengecup pipinya.


"Agaknya di luar banyak tamu yang menunggumu." Ucap Cevin.

__ADS_1


"Biarin. Setiap sore begini aku tidak mau terima tamu, sebab takut mengecewakan mas Cevin. Soalnya mas Cevin kalau datang ke mari sore begini. Kecuali jam tujuh malam ke atas mas Cevin tidak datang, barulah Ika mau menerima tamu." Jelas Ika.


Cevin memandang perempuan muda itu. Matanya redup, hidungnya mancung. Bibirnya yang tanpa dipoles lipstick merah delima. Tipis, kalau tersenyum manis sekali. Ika merebahkan tubuh Cevin ke atas tempat tidur. Lantas mereka berciuman. Tangan Cevin membuka retsleting rok gadis itu. Tangan Ika juga membuka kancing-kancing baju Cevin. Mereka bergelut saling menindih.


"Kamu mau tinggal sama aku di perumahan proyek?" tanya Cevin sembari mengelus-elus punggung Ika.


Punggung yang putih dan mulus. Kulitnya halus.


"Mau saja. Tapi Ika takut dimarahi pacar mas Cevin."


Balas Ika.


"Aku tidak punya pacar."


Balas Cevin.


"Ah, masak?"


Ucap Ika.


"Nggak percaya?"


Tanya Cevin.


"Nggak." Ucap Ika.


"Ya sudah."


jawab Cevin.


Cevin mencium bibir perempuan itu lagi.


Ciumannya tambah hangat. Cicak yang ada di atap kamar itu saling mengejar. Nampaknya kedua cicak itu berlainan jenis. Lantas saling menggigit, bercumbu dan sesaat saja mereka saling bertindih. Kalau cicak itu cuma sesaat saja, tapi Cevin dengan Ika terus saja berlangsung. Malah semakin hot.


Agaknya Cevin menemui banyak kelainan dalam pelayanan Ika. Nyaris menyerupai kehangatan dan kepuasan yang diperoleh dari Balqis. Dan dari sore sampai beli peringatan jam tutup tempat pelacuran, barulah Cevin pulang.


***


Sementara itu Balqis tengah menggeliat-geliat lantaran perutnya kejang dan sakit. Di tengah malam seperti ini dia ingin minta tolong kepada siapa? Cairan putih terus merembes membasahi dasternya. Apakah ini pertanda bayi dalam kandungannya akan lahir?


Dengan bersusah payah Balqis turun dari tempat tidur. Melangkah satu-satu sambil memegangi perutnya yang kian dirasa sakit. Aku harus ke rumah sakit, tekad Balqis. Tekadnya itu membuat berani mengetuk pintu rumah tetangganya.


"Pak! Pak Karni! Tolonglah saya," teriak Balqis namun terdengar lemah. Tak lama kemudian pintu terbuka dan nampak seorang perempuan tua. Perempuan itu tak sampai hati melihat Balqis yang menahan sakit. Dan pak Karni pun muncul.


"Ada apa, nyonya?" tanya pak Karni.


"Barangkali dia mau melahirkan bayinya, Pak." istrinya menimpali.


"Tol... tolong antarkan saya ke rumah sakit, Pak. Tolonglah saya Bu," rintih Balqis yang tubuhnya dibasahi keringat dingin. Bibirnya gemetar. Pak Karni bersama istrinya segera menolong Balqis. Dengan naik beca mereka menuju ke rumah sakit. Balqis dipapah oleh pak Karni dan istrinya ketika turun dari beca. Seorang suster yang malam itu bertugas merawat pasien ikut membantu. Balqis yang akhirnya tak kuat berjalan lagi. Dua orang suster lainnya segera mengambil tempat tidur dorong, lalu Balqis dibaringkan di situ. Sebelum Balqis dibawa masuk ke kamar bersalin, terlebih dahulu bicara minta tolong kepada pak Karni untuk menghubungi Nabila.


Seluruh tembok kamar itu putih bersih. Tapi yang membatasi tempat tidur satu dengan tempat tidur lainnya juga putih. Suster itu memindahkan Balqis dari tempat tidur dorong ke tempat tidur bersalin. Malam itu kamar bersalin kosong. Tidak ada seorang pun yang akan melahirkan bayinya. Balqis merasa ngeri juga.


Tak lama kemudian seorang dokter memasuki kamar itu. Langsung memeriksa kandungan Balqis.


"Siapkan alat-alatnya. Sebentar lagi bayinya akan lahir," ujar dokter itu.


Balqis memejamkan matanya. Betapa sedih hatinya pada saat-saat seperti ini. Saat-saat yang kritis ini tak seorang pun yang dicintainya ada di sisinya. Suaminya pergi entah ke mana. Cevin pergi entah ke mana. Padahal bayi yang akan dilahirkan itu darah dagingnya. Maka Balqis tak dapat menahan tangisnya. Dia pasrahkan apa pun yang terjadi kepada Tuhan.


Ternyata usaha dokter untuk menolong bayi dalam kandungan Balqis belum berhasil.


"Agaknya belum saatnya bayinya lahir. Perutnya mengendur lagi," kata dokter itu. Lalu diambilnya jarum suntikan.


"Nyonya istirahat dulu ya?" Dokter itu berkata sambil menyuntik paha Balqis.


Perempuan yang berbaring itu hanya menangis sambil merintih.


"Jaga dia terus," perintah dokter.


Dua orang suster itu mengangguk.


Kelopak mata Balqis dirasakan makin berat. Dan pikiran yang berkecamuk dalam benaknya berangsur-angsur hilang. Kemudian dia tak ingat apa-apa lagi. Perempuan itu tertidur pulas.


Di koridor rumah sakit yang sepi dan sunyi itu ada suara langkah-langkah bersepatu. Suaranya berdetak cepat. Ternyata yang baru muncul di balik dinding koridor itu adalah Nabila dan Ranti. Mereka buru-buru menuju ke kamar bersalin. Di persimpangan koridor mereka berpapasan dengan dokter yang baru selesai memeriksa Balqis.


"Selamat malam, dokter," sapa Nabila.


"Malam. Ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah ada pasien yang bernama Balqis?" Tanya Nabila.


"Ya. Anda berdua siapa?"


"Kami familinya. Bagaimana keadaannya dokter?"


Tanya Nabila.


"Perlu banyak istirahat."


"Apakah bayinya sudah lahir?"


Tanya Ranti juga.


"Belum."


"Boleh saya menunggunya?"


Tanya Ranti kembali.


"Silakan. Di mana suaminya?"


"Ng... suaminya sedang bertugas ke luar kota."


Balas Nabila.


Dokter itu manggut-manggut. Nabila dan Ranti menunggu di ruang tunggu. Suasananya sepi sekali.


"Apa yang kita lakukan untuk Balqis?" tanya Nabila.


Ranti termenung berpikir.


"Sigit pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa. Sedangkan Cevin juga begitu," keluh Nabila.


"Kasian," Ranti rasanya ingin menangis. Tak sampai hati melihat nasib Balqis yang tidak berketentuan.


"Sampai saat ini kau belum tahu di mana Cevin berada?" Nabila menggeleng.


"Bagaimana kalau kita tanyakan kepada Vani. Barangkali dia tahu."


Ucap Ranti.


"Vani?" Nabila berfikir sejenak. "Selama ini Vani tidak pernah menerima telpon dari Cevin."


Jawab Nabila.


"Ah, aku jadi bingung. Bagaimanapun juga kita harus memperjuangkan nasib Balqis. Besok kita temui kedua orang tua Sigit meskipun apa yang akan terjadi. Lalu menemui paman dan bibinya. Okey?"

__ADS_1


Jelas Ranti.


Nabila mengangguk...!!!


__ADS_2