LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 104 : TAMBAH BURUK


__ADS_3

"Nabila jangan marah. Semuanya ini demi kebaikan kita bersama," bujuk Berry sembari berjalan di sisi Nabila yang kesal.


Perempuan itu tidak menyahut.


"Kau membenciku?" tanya Berry.


Perempuan itu terus melangkah cepat. Berry nampak kewalahan juga mengikuti langkah perempuan itu.


"Kau jangan membenciku, sebab aku masih Ingin bersahabat denganmu. Seharusnya kau menyadari tentang segala kekuranganku. Aku tak mampu menandingi suamimu. Dalam banyak hal aku mengakui kalah," tutur Berry dengan gusar.


Nabila menghentikan langkahnya dan menyetop taxi. Taxi yang meluncur berhenti di depan perempuan itu.


"Kau mau ke mana?" tanya Berry tambah gusar.


Nabila tetap tidak menyahut dan langsung naik ke dalam taxi. Pintunya dihempaskan keras sambil memerintah sopirnya: "Jalan Pir!" Sopir itu tancap gas kabur. Berry termangu memandang berlalunya mobil taxi itu. Sambil garuk-garuk kepala dia melangkah pulang ke rumah.


***


Suasana rumah itu sunyi dan sepi. Keadaannya nampak tidak terurus. Tidak seperti rumah-rumah di sekitarnya, lampu-lampunya menyala terang, suasananya tentram dan bahagia. Sedangkan rumah megah itu, lampunya belum menyala dan tiada penghuninya. Sebuah mobil taxi berhenti di depan pagar halaman, lalu turunlah seorang perempuan. Ternyata perempuan itu adalah Nabila.


Dibukanya gembok pintu pagar halaman dengan tanpa semangat. Bermalas-malasan. Setelah itu ganti membuka pintu rumah yang masing-masing membawa sebuah kunci. Nabila satu dan Cevin satu. Sebab mereka merasa tidak mau jadi budak yang lainnya, jika sewaktu


waktu datang tinggal membukanya sendiri tanpa membunyikan beli.


Nabila melemparkan tasnya ke atas meja, lalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Sebenarnya dia takut tinggal seorang diri di rumah yang megah itu. Namun karena terpaksa, paling-paling dia mengurung diri di kamarnya.


Dan malam itu Nabila membanting dirinya di atas tempat tidur. Menangis seorang diri. Menangisi nasibnya yang kian terperuk dalam nestapa. Orang yang diharapkan bisa melepaskan diri dari ketersiksaan batin, malah ingkar janji.


Waktu terus bergeser. Malam kian memuncak dan kesepian tambah mencekam. Nabila masih belum bisa memejamkan mata. Dia sebentar-sebentar membolak balikkan badannya di atas tempat tidur. Terbayang semua kenangan bersama Berry. Tapi kemudian dia berusaha membuang semua bayangannya itu. Untuk apa mengenangnya kalau Berry menghendaki semuanya harus berakhir. Rasa saling mencintai jadi berubah persahabatan. Bukankah itu pertanda bahwa laki-laki itu menghendaki putus cinta?


Nabila meremas gulingnya. Ternyata Berry yang diharapkan adalah laki-laki pengecut. Jadi sia-sia saja selama ini dia membujuk laki-laki itu supaya mempunyai keberanian. Keberanian sebagai laki-laki membawa kabur kekasihnya ke mana saja.


Suara mobil membuyarkan lamunan Nabila. Dia tahu yang baru pulang adalah Cevin. Maka dia pura-pura tertidur pulas. Sebab kebiasaannya setiap pulang laki-laki itu menjenguk ke dalam kamarnya. Kalau sudah dilihatnya Nabila tertidur, dia kembali menutup pintu kamar dan pergi. Tapi malam ini laki-laki itu tidak berbuat begitu. Padahal Nabila menunggunya.


Sesaat kemudian lapat-lapat Nabila mendengar suara orang muntah-muntah. Siapa gerangan yang muntah muntah di larut malam begini? Cevin kah?


Di liputi rasa ingin tahunya Nabila melangkah turun pelan-pelan menuju ke pintu kamarnya. Dengan sedikit membuka pintu kamar dia mengintip ke ruang tengah. Ternyata dilihatnya Cevin terkapar di lantai. Bau minuman keras sampai tercium ke hidungnya.


"Pasti laki-laki itu mabok," pikir Nabila.


Lalu dia kembali ke tempat tidur dengan masa bodoh terhadap suaminya. Dibiarkan laki-laki itu terus terkapar di lantai ruang tengah sampai akhirnya tertidur pulas dengan dikitari cairan muntahannya sendiri.


***


Queena mendorong pintu ruang direktur. Ketika dia masuk di ruang itu meja Cevin masih kosong. Dia hanya menjumpai Vani yang sedang menerima telpon dari relasi perusahaan. Gadis itu melempar senyum dan anggukan kepadanya.


"Akan saya sampaikan kepada pak Cevin," kata Vani lalu menutup pembicaraannya.


"Pak Cevin belum datang?" tanya Queena sambil duduk di kursi.


"Belum." Vani menaruh gagang telpon ke induknya.


Queena memandang jam dinding. Sudah tengah hari begini masih belum datang. Ada apa gerangan yang terjadi? Queena menarik napas berat. Dia membayangkan di mana selama ini Nabila masih menjalin hubungan dengan Berry. Setiap pulang kuliah mereka senantiasa berkencan berdua untuk pergi. Sedih sekali perasaannya bila memikirkan nasib kehidupan kakaknya.


"Sebelum menikah, apakah pak Cevin sering datang ke kantor siang hari?"


Tanya Queena.


"Tidak. Biasanya jam sembilan sudah ada di kantor. Kalau ada urusan di luar kantor, barulah pak Cevin pergi."


Jelas Vani.


Queena termenung lagi. Tapi dia dikejutkan lantaran pintu ruangan itu terbuka. Dia menoleh karena menyangka yang datang adalah Cevin. Ternyata yang berdiri di ambang pintu adalah Ranti.


"Selamat siang, Queena."


Sapa Ranti.


"Selamat siang."


Balas Queena.


"Boss kita belum datang?"


Tanya Ranti.


"Belum. Ada sesuatu yang penting?"


Tanya Queena.


"Cuma ingin tahu apakah boss kita sudah semakin baik kehidupan rumah tangganya?"


Tanya Ranti sembari mengutarakan niatnya.


"Tambah buruk. Kau punya waktu?"


Jawab tanya Queena.


"Untuk siapa?"


Tanya Ranti.


"Untuk menemaniku ngobrol beberapa saat saja." Jelas Queena.


"Tentu."


Jawab Ranti singkat.


"Yuk kita ngobrol di ruangan pertemuan saja."


Ajak Queena.


Ranti mengangguk. Lantas mereka berdua meninggalkan ruang direktur dan masuk ke ruang pertemuan. Ruangan yang biasa digunakan untuk rapat para karyawan. Di situ suasananya sepi dan tenang. Mereka duduk di kursi berhadapan, hanya dibatasi meja panjang. Ranti sebelum memulai ngobrol menyulut rokoknya.


"Apakah kau mengetahui lebih banyak mengenai hubungan Cevin dengan Balqis?" Tanya Queena.


Ranti mengangguk sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Bagaimana perkembangan antara mereka setelah Cevin menikah?"


Tanya Queena.


"Banyak hal-hal yang teramat menyedihkan."


Jawab Ranti.


"Bisakah kau menceritakannya?"


Tanya Queena.


"Tentu. Pertama yang telah kau ketahui bahwa Balqis sudah berhenti bekerja. Padahal tanpa bekerja hidupnya sangat menderita. Suaminya tak bisa berbuat apa-apa karena menderita lumpuh."


Jelas Ranti.


Queena terperangah.


"Dia sudah bersuami?"


Tanya Queena.


"Ya. Sebulan lebih sudah dia hidup tersiksa dan menderita. Dia seorang wanita yang selalu tertutup dan tidak pernah mengeluh. Kekukuhan hatinya adalah cermin seorang wanita yang tidak gampang menyerah dengan nasib. Namun dia lengah lantaran siasatku yang licik," tutur Ranti nampak menyesal.


"Kau membujuknya supaya dia mencintai Cevin lagi?"

__ADS_1


Tanya Queena.


"Tidak."


Jawab Ranti.


"Lantas apa?"


Tanya Queena.


"Kemelut hubungan mereka tak dapat dihindari lagi.


Cevin tetap bersikeras ingin menikahi Balqis, namun perempuan itu juga bersikeras menolak. Akhirnya baru kuketahui bahwa suami Balqis tidak bisa memberikan keturunan karena kecelakaan yang di alaminya sedangkan Balqis terpaksa menikah karena untuk menutupi kehamilannya yang semakin hari terlihat semakin besar dan hal itu tentu kau telah mengetahui kisahnya kan...!" Jelas Ranti. Selama ini perempuan itu tersiksa hidupnya dan hidupnya menderita mencari nafkah untuk membiayai hidup suaminya. Merawat suaminya setiap hari. Perempuan mana yang bisa bertahan dalam hidup yang dilanda kesepian dan penderitaan seperti itu selama-lamanya? Maka aku juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tapi pahitnya dalam keadaan yang demikian, Cevib menikah dengan perempuan lain."


Lanjut Ranti menjelaskan.


Queena tak kuasa lagi menahan tangisnya. Bagaimana pun juga dia merasa bersalah pada perempuan itu. Tapi kenapa Cevin tidak pernah menceritakan apa-apa padanya? Itulah yang membuat Queena kecewa. Sebab dia sama sekali tidak tahu jika sampai saat ini antara Cevin dengan Balqis ada jalinan cinta. Ada darah daging Cevin yang tumbuh di dalam perut perempuan malang itu.


"Maukah kau mengantarkan aku bertemu dengan Balqis?" ujar Queena dengan suara parau.


"Kenapa tidak? Barangkali kau sebagai adiknya bisa meluluhkan kekerasan hati perempuan itu."


Ucap Ranti.


"Mudah-mudahan." Queena mengusap air matanya.


"Sebaiknya sekarang saja kita menemuinya."


Lanjut Queena.


"Tapi di mana kita bisa menemuinya?"


Tanya Ranti.


"Di rumahnya."


Jawab Queena.


"Aku rasa siang hari seperti ini dia tidak ada di rumah."


Jelas Ranti.


"Barangkali kau tahu di mana dia sering pergi?"


Tanya Queena.


"Waaah susah. Paling-paling dia pergi mencari pekerjaan. Sebaiknya nanti sore saja kita ke rumahnya. Tapi biasanya dia pulang malam."


Balas Ranti.


"Kalau begitu nanti malam kujemput kau di rumah."


Lanjut Queena.


"Kurasa itu lebih baik. Aku tunggu kamu nanti malam."


Ucap Ranti setuju.


***


Balqis baru saja pulang mencari pekerjaan. Perempuan itu nampak letih sekali memasuki rumahnya. Sejak pagi hari sampai sore sudah lima perusahaan didatangi dan melamar pekerjaan. Dari kelima perusahaan itu, satu di antaranya mau menerimanya sebagai karyawan. Perusahaan itu bergerak di bidang asuransi. Bagi Balqis bekerja apa pun tidak jadi soal, yang penting menerima gaji untuk membiayai hidup rumah tangganya.


Suara bunyi mesin tik menghiasi suasana rumah yang sepi itu. Balqis melongok dan ternyata suaminya masih sibuk mengetik. Dengan langkah perlahan-lahan didekatinya laki-laki itu.


"Mas Sigit tadi sore sudah mandi?" tanya Balqis lembut.


Laki-laki itu tidak menyahut. Masih meneruskan ketikannya. Balqis menarik napas panjang. Alangkah pedih perasaannya karena tidak sepatah kata pun dijawab suaminya. Tapi dia tetap berusaha baik menghadapi suaminya. Lalu dia duduk di sisi tempat tidur sambil menaruh tasnya. Membuka sepatunya.


Sigit tetap tidak memperdulikan. Terus saja mengetik. Balqis memegang bahu laki-laki, tapi ditempelaknya kasar. Balqis kaget


"Mas Sigit benci sekali sama Balqis ya?" suaranya tetap lembut.


Sigit menghentikan pekerjaannya. Sesaat dia melirik istrinya dengan tatapan dingin. Dan Balqis merasakan tatapan itu adalah sembilu yang menggores hatinya. Seolah-olah jijik terhadap dirinya.


"Balqis memang merasa sebagai seorang istri yang nista. Tapi bukankah Balqis sudah mohon maaf dan pengampunanmu?"


Ucap Balqis.


"Jangan ganggu aku sedang mengetik," ketus Sigit dirasa menyakitkan.


"Tapi aku ingin bicara, Mas. Maaf kalau aku mengganggu."


Ucap Balqis.


"Bicaralah seperlunya."


Lanjut Sigit.


Balqis berdiam sejenak untuk mengumpulkan segenap perasaan. Dia ingin mengatakan rencana yang dianggapnya baik.


"Mas Sigit, sebaiknya kita pindah dari tempat ini dan mencari kontrakan rumah lain yang jauh dari sini," kata Balqis.


"Aku kerasan tinggal di sini. Jangan mencari alasan seperti itu, kalau kau mau pindah ke tempat lain, silakan!"


Jawab Sigit ketus.


"Mas Sigit salah mengerti. Justru Balqis ingin meghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Di tempat yang baru, mungkin hidup kita akan tenang dan tentram."


Balas Balqis.


"Tidak. Kalau kau merasa kurang bebas tinggal di sini, boleh pindah ke mana saja. Aku tidak akan melarang mu. Dan aku tidak akan mengganggumu."


Ucap Sigit.


"Jangan berkata begitu, Mas. Balqis sungguh-sungguh ingin menghindari dari Cevin. Balqis ingin hidup tentram," kata Balqis yang mulai terisak.


"Kau tak perlu munafik. Sebab aku tahu bahwa kau tidak bisa meninggalkan Cevin. Kau mencintainya dan dia pun mencintaimu."


Balas Sigit.


"Akan kubuktikan pada mas Sigit. Akan kubuktikan bahwa Balqis akan pindah dari rumah ini hanya untuk menghindari Cevin."


Tegas Balqis.


"Pergilah sesuka hatimu. Cukup, jangan ganggu aku lagi!"


Ucap Sigit.


Ingin rasanya Balqis menjerit sekuat-kuatnya. Tidak disangka kalau suaminya tetap menilainya serendah itu. Tidak mempercayainya lagi. Lantas Balqis bangkit dan pergi dari kamar itu. Di kursi tamu dia menangis terisak-isak. Menangisi garis hidupnya yang terlampau getir! Rasanya dia ingin cepat meninggalkan siksaan batinnya untuk pergi jauh. Tanpa diketahui tempat tinggalnya, berarti dia merasa terbebas dari kejaran Cevin. Dia ingin hidup sendiri sambil menunggu bayinya lahir.


"Selamat malam, Balqis" Ranti menegurnya.


Balqis terperangah ketika mengangkat kepalanya dan melihat dua orang perempuan sudah berdiri di ambang pintu. Mereka adalah Ranti dan Queena. Balqis tergagap dan buru-buru bangkit menyambutnya.


"Maaf mengganggu," kata Queena.


"Ah, tidak apa-apa. Mari masuk," balas Balqis yang malu-malu sambil mengusap air matanya.


Ranti dan Queena merasa kasihan melihat kesedihan perempuan itu. Sekalipun dihiasi dengan senyum keramahannya, tetap saja kesedihan perempuan itu dirasakan oleh mereka.


"Qis, maukah kau beberapa saat ikut kami pergi? Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan denganmu," kata Queena ramah. Nadanya penuh persahabatan.


Balqis menatap Queena dalam-dalam. Dia mengenal betul Queena sebagai adik kandung Cevin. Maka jawabannya begitu tegas...! "Aku tidak punya waktu."

__ADS_1


"Kami ingin bicara baik-baik padamu," balas Queena lunak.


"Kalian datang kemari pasti karena Cevin, bukan?"


Tanya Balqis.


"Tidak."


Balas Queena.


"Lantas apa kalau tidak?"


Tanya Balqis.


"Karena naluri kewanitaan yang membuat kami datang menemuimu."


Jelas Queena.


"Kalian kasihan terhadapku?"


Tanya Balqis lagi.


"Ya."


Jawab Queena.


"Aku tidak memerlukan belas kasihan orang lain."


Ucap Balqis.


Queena dan Ranti saling berpandangan. Lalu Queena menarik napas dalam-dalam. Seulas senyum persahabatan tercuat di bibirnya. Seolah-olah menghendaki keramahan di dalam pertemuan itu.


"Kalau kau tidak mau kami ajak keluar, bagaimana jika kita bicara di teras saja? Aku harap kau tidak menolak," pinta Queena.


"Baik."


Jawab Balqis.


Mereka bertiga segera mengambil kursi dan duduk di teras rumah. Angin malam yang berhembus membawa aroma bunga sedap malam. Suasana di sekitar tempat itu sepi dan tenang. Di bawah penerangan lampu pijar dua puluh lima watt mereka duduk santai.


"Aku sebagai adik Cevin menyesalkan apa yang telah terjadi."


Ucap Queena membuka percakapan.


"Semua sudah terlanjur dan jangan singgung


singgung lagi soal hubunganku dengan laki-laki itu. Aku sudah melupakannya," ujar Balqis.


"Tapi nasib bayi yang akan lahir, bagaimana?"


Tanya Queena.


"Aku yang akan mengurusnya."


Balas Balqis.


"Itu memang kewajibanmu. Namun selama bayi itu kian besar dalam kandunganmu, apakah kau masih terus bekerja mencari uang? Tentunya setelah bayi itu berusia lima bulan, kau harus istirahat bekerja. Lalu perusahaan mana yang mau menerimamu bekerja, begitu tahu kau dalam keadaan hamil seperti sekarang ini?"


Jelas Queena.


"Itu urusanku, Queena. Apa pun yang terjadi akan kutanggung sendiri."


Jawab Balqis.


"Kalau sampai bayimu mengalami keguguran?"


Tanya Queena.


Balqis terdiam... Sedih... Ucapan itu membuatnya ngeri dan takut kehilangan harapan satu-satunya itu. Bayi yang sangat diharapkan bisa lahir dengan selamat. Bayi yang merupakan pelita dalam hidupnya. Seandainya hal itu sampai terjadi, lebih baik dia ikut mati bersama anaknya saja. Dan kengerian serta rasa takut itu membuat Balqis menangis.


"Ak... aku tidak mengharapkan bayiku mengalami hal itu. Demi Tuhan, jangaan..." rintih Balqis sedih.


Ranti ikut terharu. Dipeluknya pundak Balqis.


"Semua ibu yang baik dan menyayangi anaknya tak ingin mengalami hal itu. Asal kau tahu saja, kedatangan kami menemuimu bukan lantaran Cevin. Melainkan mencari titik temu agar kau bisa dan mau menerima saran


kami. Semua itu untuk kebaikan dirimu juga anakmu yang bakal lahir," tutur Ranti bijaksana.


"Tapi bukan jalan aku harus menikah dengan Cevin," sela Balqis yang terisak.


"Kami tidak bermaksud memaksa, segala keputusan ada di tanganmu. Cuma yang ingin kami utarakan, mengapa kau tidak mau menerima bantuan apa pun dari Ranti atau mungkin dari aku yang berniat menolongmu? Padahal kami tahu kau sangat membutuhkannya," kata Queena sambil memegangi jari tangan Balqis yang dirasa dingin.


Gemetar...!!!


"Karena Ranti adalah sahabat Cevin dan kamu adik kandungnya. Aku tidak mau bantuan apa pun yang masih ada sangkut pautnya dengan laki-laki itu. Bagiku lebih baik menerima bantuan orang yang baru kenal atau kawan lamaku yang sama sekali tidak mengetahui masalahku."


Jelas Balqis.


"Kau benar-benar membenci Cevin?"


Tanya Queena.


"Ya. Dia telah mengambil tindakan yang memalukan. Dia kejam!" Jelas Balqis.


"Tindakan apa yang telah dilakukan terhadapmu?"


Tanya Queena ingin tahu.


Queena jadi ingin tahu.


"Dia mengancam direktur perusahaan di mana aku bekerja dengan alasan menerimaku. Dia akan menuntut ke pengadilan karena menyatakan bahwa aku istrinya. Diceritakan juga aku sedang mengandung anak darah dagingnya. Apakah ini bukan berarti memalukan aku? Sekarang aku jadi pengganguran lagi, mencari pekerjaan ke sana kemari. Sedangkan tanpa bekerja aku tak akan bisa membiayai hidupku. Tak akan bisa memeriksakan kesehatan kandunganku ke dokter," tutur Balqis yang kesal dicampur isak tangisnya.


"Tak kusangka Cevin begitu kejam!" geram Queena yang juga ikut menangis.


"Balqis, mulai sekarang sudilah kiranya kau mau menerima saran dan bantuan kami. Semua terlepas dari


Cevin," ujar Ranti. "Kami yang telah menganggapmu sebagai sahabat turut sedih memikirkanmu."


Lanjutnya.


"Ya, Qis. Kau tidak usah bekerja dan kami akan membantu segala kebutuhanmu."


Ucap Queena.


"Terima kasih. Biarkan aku menempuh dengan cara hidupku sendiri. Dan kemungkinan aku akan pergi dari rumah ini."


Jelas Balqis.


"Pergi dengan suamimu?" Tanya Ranti.


"Tidak. Dia bahkan merelakan aku pergi sesuka hatiku. Dia tak mau mengampuni kesalahanku. Dia sangat membenciku. Aku jadi tak tahan hidup terus-terusan begini. Lebih baik aku hidup sendiri membawa keberuntungan nasib."


Jawab Balqis.


"Sebaiknya kau tinggal di rumah orang tuaku," ujar Ranti. "Sambil menunggu bayimu lahir. Biarkan kami yang membantu biaya hidupmu."


Jelas Ranti.


"Aku tidak mau menggantung hidup kepada orang lain."


Jawab Balqis.


"Jadi bagaimana kami bisa membantumu?"

__ADS_1


__ADS_2