
"Ada apa?" Cevin mengulangi pertanyaannya. Jadi semakin cemas karena Balqis tidak juga menjawab.
"Mmm…." kembali Balqis menggigit bibir.
Mukanya yang tadi pucat kini bersemu merah. Ditatapnya Cevin. Hanya sesaat. Lalu ia menunduk, tampak sangat malu.
"Ada apa sih?" tanya Cevin gemas. "Gue udah mau balik nih. Gue tinggal ya?" Lanjut Cevin.
"Yah, jangan dong!" jawab Balqis serta-merta.
"Makanya ngomong. Ada apa?" Lanjut Cevin.
"Gue nggak tau gimana cara bisa pulang," ucap Balqis memelas. Wajahnya semakin bersemu merah. Kening Cevin mengerut rapat.
"Kenapa? Kehabisan ongkos?" Tanya Cevin.
"Bukan." Jawab Balqis.
"Trus kenapa?" Lanjut tanya Cevin.
"Mm… gue tembus," jawab Balqis lirih.
"Tembus apa?" tanya Cevin bodoh.
Namun tak lama kemudian cowok itu mengerti. Selama tiga tahun di Sekolah Menengah Pertama, ia sering mendengar teman-teman sekelasnya yang cewek bertanya pada sesamanya dengan satu kata itu. Dengan intonasi yang juga selalu sama. Harap-harap cemas.
"Ups!? Sorry... Sorry..., Qis." Cevin buru-buru meralat kebodohannya. Kini mukanya jadi ikut bersemu merah. Namun dengan cepat ia menormalkan kembali. "Jadi dari tadi lo bolak-balik ke kamar mandi gara-gara ini? Sama sekali bukan karena sakit?" Lanjut Cevin bertanya.
"Iya." Balqis mengangguk.
"Jadi sekarang gimana? Emang parah banget, ya?" Tanya Cevin.
Sambil menggigit bibir dan menahan napas, Balqis bangkit perlahan. Perlahan pula ia menengok ke belakang bagian roknya. Tanpa sadar, Cevin jadi ikut menahan napas. Dan begitu berhasil mengetahui dengan pasti sebesar apa luberan tamu bulanannya, Balqis langsung lemas. Wajahnya menyiratkan keputusasaan.
"Gimana?" Cevin bertanya tak sabar. Kembali muka Balqis jadi bersemu merah. Sambil menunduk, perlahan cewek itu memutar tubuh. Seketika Cevin terperangah.
"Itu darah semua!?" tanyanya takjub. "Gila! Kok kalian cewek-cewek bisa nggak mati lemes sih, ngeluarin darah segitu banyak?" Kata Cevin.
"Udah deh. Itu nggak penting. Sekarang gimana caranya gue bisa pulang nih?" Ucap Balqis.
Cevin berdecak. Jadi bingung juga.
"Kenapa sih nggak lo antisipasi? Bawa sweter, gitu?" Ucap Cevin.
"Panasnya lagi kayak di gurun gini, mana kepikiran?" Balas Balqis.
"Ck! Tas lo ransel pula," Cevin berdecak.
Keduanya terdiam. Sama-sama kebingungan. Akhirnya Cevin mengambil keputusan nekad. "Ya udah. Mau gimana lagi? Terpaksa kita terobos." Lanjutnya.
Balqis langsung menggeleng kuat-kuat.
"Nggak! Nggak! Gila apa!? Pasti di lapangan depan rame banget deh. Anak-anak pada nongkrong, gitu." Ucap Balqis.
"Trus gimana? Mau nunggu sampe malem baru pulang? Pasti darahnya udah ke mana-mana. Bisa-bisa ntar malah dikira abis kecelakaan."
Cevin meraih tas ransel Bakqis. Dia kendurkan salah satu talinya.
"Coba pake. Bisa nutupin nggak?" Dia ulurkan ransel itu ke Balqis, yang langsung menyampirkannya di bahu. Cewek itu kemudian balik badan.
"Keliatan?" tanya Balqis, harap-harap cemas.
"Hmm…." Cevin menyipitkan mata sesaat. "Pas-pasan banget sih. Tapi mau gimana lagi? Cuma ini satu-satunya solusi. Yuk." Cevin meraih ranselnya sendiri. Melihat Balqis masih ragu, Cevin memegang kedua bahu cewek itu dari belakang, lalu mendorongnya ke luar kelas. "Gue bantu tutupin dari belakang." Lanjut Cevin.
Keduanya berjalan menyusuri koridor yang sudah lengang, dengan formasi seperti anak kecil yang sedang bermain kereta-keretaan.
__ADS_1
"Sorry ya, Vin. Hari ini gue jadi ngerepotin elo," ucap Balqis pelan.
"Elo tuh tiap hari selalu ngerepotin gue, lagi. Bukan cuma hari ini. Atau elo baru sadarnya hari ini, ya?" Balas Cevin.
"Iya, ya?" Balqis seperti tersadar. Lalu ia meringis malu.
"Kelewatan!" Cevin geleng-geleng kepala.
"Maaf deh," ucap Balqis sambil terkekeh geli. Tapi kemudian tawa geli cewek itu menghilang. Tidak mungkinlah dirinya tidak menyadari. Ia justru sangat menyadari betapa sering dirinya merepotkan Cevin, sejak pertengkaran mereka berakhir. Yang tidak ia mengerti dan selalu menjadi pertanyaan adalah Cevin sepertinya sangat mengenal dirinya.
Sebelum Balqis sempat menanyakan, ia keburu merasa nyaman. Nyaman dengan keberadaan Cevin di sebelahnya. Nyaman dengan cara cowok itu memperlakukannya. terlebih, nyaman dengan perlindungan yang diberikan Cevin tiap kali ia mendapat masalah akibat sifat isengnya. Dan pertanyaan itu akhirnya terlupakan.
Koridor yang mereka telusuri telah lengang, ruang-ruang kelas juga sudah kosong. Namun lapangan utama, yang terletak di depan sekolah, masih penuh tebaran siswa. Ruang-ruang sekretariat ekskul yang berjajar di sisi kiri dan kanan lapangan juga ramai oleh para siswa yang ngumpul selepas jam sekolah usai.
Menjelang mendekati lapangan, Cevin melepaskan tangan kanannya dari bahu Balqis dan menyantaikan sikapnya. Jangan sampai ada yang tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Balqis.
"Santai, Qis. Jangan keliatan nervous," bisik Cevin.
Balqis mengangguk. Ia membetulkan letak ranselnya yang menutupi rok bagian belakang. Keduanya mencoba melangkah sesantai dan sewajarnya mungkin. Sayangnya, itu pasti sia-sia.
Di tepi lapangan, Didik duduk di antara segerombolan cowok. Kedua matanya sontak berkilat begitu dilihatnya sang target akhirnya muncul. Ia berdiri, siap menyambut. Ketika Cevin dan Balqis tinggal beberapa langkah di depannya, Didik segera menghadang.
"Mau pulang, ya?" tanya Didik manis.
Dua orang di depannya tidak mengacuhkan.
"Minggir, Dik. Kami mau lewat," ucap Cevin.
"Sayangnya saya tidak bisa membiarkan kalian berdua lewat. Karena ini wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia!" suara Didik berubah lantang. "Dan kalian berdua adalah pengkhianat! Mata-mata! Kaki tangan penjajah!"
Muka Balqis mulai pucat. Ia sadar sekarang, ternyata ini penyebab Didik mendadak aneh di kelas tadi. Cowok ini menghalangi kesempatan Balqis mencari bantuan agar dapat mempermalukannya di depan umum. Tapi Cevin tidak terlalu kaget. Tindakan Didik ini merupakan bukti konkret atas kecurigaannya tadi.
"Bercandanya besok-besok aja deh, Dik. Kami buru-buru banget nih." Ucap Celvin.
"Siapa yang bercanda? Gue nggak bercanda, karena ini masalah serius!" tandas Didik. "Di mana-mana, masalah kedaulatan negara adalah masalah yang sangat serius!" suara Didik tambah lantang lagi.
"Kalian tau nggak!?" seru Didik keras-keras. "Mereka berdua ini mata-mata tentara Dai Nippon. Tapi yang pasti, yang cewek ini nih yang mata-matanya. Yang cowok, kaki tangan doang!"
Para siswa yang berkerumun itu seketika mengerutkan kening. Untuk membuat para penonton itu mengerti, Didik lalu mementaskan drama khas tujuh belas agustusan, yang sewaktu zaman Sekolah Dasar dulu selalu ia dipentaskan bersama teman-teman sebaya di lingkungan Rukun Tetangga. Namun kali ini Didim berakting sendirian.
Seperti peran-perannya dulu, Didik menjadi pejuang Indonesia. Sebelum memulai dramanya, salah seorang teman Didik mengulurkan penggaris panjang, pura-puranya jadi bambu runcing. Sekarang Didim siap berakting.
"Kowe ekstrimis, kan!?" seru Didik keras-keras. Menunjuk-nunjuk Balqis dengan penggaris itu.
"Woi, ekstrimis tuh kalo Belanda!" seorang penonton nyeletuk. "Kalo Jepang, sodara tua Indonesia. Lo nggak pernah nonton film perang Indonesia zaman dulu, ya?"
"Whatever-lah!" Didik mengibaskan tangan. "Ayo, ngaku! Elo mata-mata Dai Nippon, kan? Gue tau, soalnya lo bawa-bawa bendera Jepang!" Begitu Didik bilang "Bendera Jepang", Balqis lansung pucat, tanpa sadar, cewek itu semakin menempelkan ranselnya rapat-rapat ke rok belakangnya, lupa bahwa Cevin selalu berdiri di belakangnya.
Sebagian besar juga jadi tahu, terutama yang cewek-cewek. Sementara cowok-cowok yang nggak ngeh langsung mendapatkan penjelasan. Tak lama, hampir semua siswa yang mengikuti adegan itu memandangi Balqis sambil senyum-senyum. Beberapa bahkan mulai mencoba melihat bagian belakang roknya.
"Hayo, tunjukan benderamu!" seru Didik.
"Tunjukkan...!!! Tunjukkan...!!!"
Dasar orang Indonesia, gampang banget terprovokasi, tak lama terdengar koor kompak dan membahana dari seluruh sisi lapangan.
"Tunjukkan...!!! Tunjukkan...!!! Tunjukkan...!!! Tunjukkan...!!! Tunjukkan...!!! Tunjukkan...!!!"
Habis sudah!
Muka Balqis merah padam. Cewek yang biasanya cuek banget, kebal ledakan dan jago ngeles itu, sekarang tak mampu berkutik. Cevin sampai memeluknya. Menyembunyikan wajah Balqis di dadanya, karena cewek itu sudah hampir menangis.
Cevin benar-benar tak tahu lagi bagaimana cara menyelamatkan Balqis. Mereka terjebak di tengah lapangan sekolah. Menjadi fokus perhatian begitu banyak mata dan kepala.
Di sekeliling mereka berdua, Didik dan teman-temannya, yang sebagian adalah teman-teman sekelas mereka juga, menari-nari seperti Indian menang perang sambil mengacung-acungkan tangan.
__ADS_1
"Yihaaaa!!! Jepang Kalaaaah...!!!"
Didik berteriak-teriak girang, kemudian tertawa terbahak-bahak. Akhirnya dendamnya terbalaskan!
Terprovokasi ulah Didik, Cevin menguraikan pelukannya. Apa boleh buat, di depan begitu banyak mata yang tersebar di penjuru lapangan, juga yang menonton dari koridor-koridor dan jendela-jendela ruangan sekretariat ekskul, cowok itu melepaskan baju seragamnya. Ia memasangkannya di rok balqis, untuk menutupi noda darah di rok belakang cewek itu. Diselipkannya kerah dan lengan kemeja putihnya di pinggang rok Balqis.
Untung Cevin selalu memakai T-shirt putih sebagai dalaman. Coba kalo singlet, wah, badannya yang nggak sekekar The Rock kan bisa bikin malu.
"Nyantai aja, Qis," ucap Cevin pelan. "Kalo gugup gitu, sama sekali nggak sukses. Yang ada malah kita dipermalukan." cowok itu mencoba tertawa, pelan tapi geli, biar Balqis nggak nervous.
Setelah yakin noda darah di bagian rok belakang Balqis sudah tertutupi, Cevin berdiri di hadapan Balqis. Dilihatnya cewek di depannya terus menunduk, dengan wajah masih merona. Cevin kembali tertawa pelan.
"Angkat mukanya dong. Nunduk terus nggak bakalan bikin lo ngilang mendadak dari sini, atau bikin kejadian ini nggak terjadi. Dan sampai nanti
lulus-lulusan, kayaknya kita akan terus diledekin gara-gara ini. Jadi siap-siap aja." Ucap Celvin.
Akhirnya Balqis mengangkat muka. Cevin menangkap kelegaan di wajah cewek itu. Setelah sejenak mengusap lembut lengan Balqis, Cevin balik badan.
"Puas...!?" teriaknya ke seantero lapangan.
Sebagai jawaban, langsung terdengar tepuk tangan bergemuruh dan suitan-suitan nyaring di sana-sini.
"Yeee, Romantis...!!!"
"Asyiiik...!!!"
"Kayak Drama Korea..!!!"
"Cocok, Pasangan Serasi...!!!"
"Jodoh Kayaknya Nih...!!!"
Cevin menanggapi reaksi-reaksi heboh itu dengan senyum, jadi geli juga dia.
"Kalau gitu kami pulang dulu, ya!?" Seru Cevin.
Seisi lapangan serentak menjawab manis, tapi sambil ketawa-ketawa geli.
"Iyaaa...!!!, hati-hati di jalan yaaa...!!!"
Cevin merangkul Balqis dan menggiringnya berjalan menuju gerbang sekolah.
Kepergian dua orang itu dilepas dengan tepuk tangan meriah dan suitan-suitan keras di sana dan sini. Yang cewek-cewek kontan iri setengah mati pada Balqis. Mereka menganggap tu cewek lucky banget. Dan rentetan pujian untuk Cevin langsung terlontar dari bibir mereka.
"Gila, tu cowok gentle banget!"
"Tampangnya lumayan, lagi."
"Baru kelas satu SMA aja udah gitu. Gimana ntar kalo udah kuliah atau udah kerja."
Dan sederet pujian lagi. Tinggal Didik berdiri bingung.
Lho? Lho? Lho? Kok jadi begini?
Di detik-detik terakhir sebelum Balqis benar-benar meninggalkan sekolah, Didik berusaha merebut kembali kemenangannya.
"Balqis, traktir kita-kita dong, elokan dapet bulanan!!!" Didik berteriak dengan volume gila-gilaan. Tapi yang menoleh untuk menjawab teriakan itu adalah Cevin.
"Besok!, sama gue urusannya ya?!" sambung Cevin sambil menunjuk dada.
Berhubung mereka berdua telah menjadi pusat perhatian dan dihujani berjuta pujian pula, kayaknya nggak keren banget kalau pulangnya naik bajaj. Mau tidak mau harus disesuaikan dengan atmosfer yang ada. Terpaksa Cevin menyetop taksi.
Soal argo, terpaksa begitu sampai rumah nanti ia akan todong mamanya, yang kebetulan hari ini cuti kerja. Sudah pasti dirinya bakalan dapat omelan panjang, karena dianggap sudah menghambur-hamburkan uang. Tapi masih mending begitu, dari pada ia membayar dengan uang sakunya sendiri, karena bisa terancam tidak bisa jajan selama satu minggu.
Kembali terdengar suara gemuruh tepuk tangan dan suitan-suitan nyaring saat pasangan itu akan menghilang ke dalam taksi. Didik jadi tambah kesal lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang juga, tidak jadi nongkrong sampai menjelang sore, karena yang terjadi sama sekali tidak seperti yang ia harapkan.
__ADS_1
"Gue balik, ah!" serunya pada teman-temannya. Ia langsung balik badan dan pergi dengan tampang cemberut.