
Dalam keadaan yang mendebarkan itu masih sempat menulis sepucuk surat untuk Nabila. Surat itu diletakkan di atas meja ruang tengah. Pada amplopnya ditulis dengan huruf-huruf besar agar mudah dilihat Nabila. Setelah itu buru-buru dia kabur dengan mengendarai mobil.
Nabila jadi terbangun ketika suara mobil Cevin meninggalkan halaman rumah. Perempuan itu menggeliat sambil menggerak-gerakkan tangannya ke samping. Maksudnya apakah suaminya masih tidur di sampingnya?
Tapi Nabila tidak menyentuh apa-apa selain selimut. Maka dia membalikkan badannya. Dilihat suaminya telah tiada lagi di sampingnya. Nabila terkejut dan buru-buru bangun.
Benarkah Cevin sudah pergi? Kenapa dia pergi tidak membangunkan aku? Padahal biasanya dia pergi setelah jam sembilan. Karena saking penasarannya, Nabila cepat-cepat mengenakan pakaian tidurnya dan melompat turun.
"Mas Cevin!" panggilnya sembari berjalan ke ruang tengah. Barangkali saja suaminya masih duduk di ruang tengah sambil minum kopi. Ternyata Nabila tidak mendapatkan suaminya di situ. Dengan perasaan tak menentu, bingung dan cemas, dia berlari ke garasi. Mobil suaminya telah tiada. Sekarang dia baru yakin kalau yang barusan pergi adalah suaminya.
Nabila segera kembali ke ruang tengah. Sambil menyibakkan rambutnya yang menutupi kening berjalan lesu. Di meja ruang tengah dilihatnya ada sepucuk surat. Maka buru-buru diambilnya. Selembar kertas yang bertuliskan tinta itu dibacanya. Jantung berdebar-debar kencang.
***
Teruntuk : Nabila yang baik.
Menjadi seorang laki-laki yang melanggar janji dan sumpah, adalah perbuatan yang tercela dan memalukan. Padahal aku telah berjanji dan bersumpah tidak akan menyentuh tubuhmu. Apalagi sampai merenggut kesucianmu. Aku mohon beribu-ribu maaf kepadamu, karena keadaanku semalam telah lupa diri. Tak ingat siapa sebenarnya kamu. Sebab dalam pikiranku terlalu cenderung kepada Balqis. Malam itu dirimu seolah-olah Balqis yang selama ini tak pernah hadir dalam kesepianku.
Nabila, aku mohon kepadamu untuk merawat apa saja yang kutinggalkan kepadamu. Baik itu rumah ataupun barang-barang yang ada. Aku pergi karena tak kuasa menanggung rasa malu atas perbuatanku. Aku merasa jadi seorang laki-laki yang tidak dapat memegang janji dan sumpah. Tapi jangan mengecap diriku sebagai laki-laki yang mau memperkosa hak atas kebebasanmu.
Aku mohon jangan...!!!
Karena semuanya itu diluar kesadaranku sampai tega merenggut kesucianmu. Semoga Tuhan mengampuni semua kesalahanku.
Nabila, aku pergi untuk mencari diriku sendiri. Mencari kebahagiaan. Bila Tuhan masih memberikan umur panjang, suatu ketika kita akan bisa berjumpalagi.
Dari : Cevin.
***
Dengan tangan gemetar Nabila melipat surat yang selesai dibacanya itu. Setitik air mata perlahan jatuh di pipinya. Perlahan pula dia duduk di kursi. Masih belum lenyap kejadian semalam yang begitu indah dan berkesan, namun sudah berubah jadi kesedihan. Masih baru tumbuh cinta dan kasih sayang terhadap suaminya, tapi sudah ditinggal pergi. Nasib apakah yang sebenarnya ini.
Kegetiran yang akan menjelma atau hidup cuma menanti seorang suami yang perginya entah ke mana. Lantas sampai kapan suaminya akan kembali?
Lusi kembali masuk ke kamarnya. Pakaian yang dipakai Cevin semalam masih berserakan di atas tempat tidur. Pakaian yang berbau minuman keras. Dengan segenap hati sedih, pakaian itu didekapnya.
Diciuminya...!!!
Terlambatlah aku mencintai suamiku? Kenapa tidak sejak pertama aku mencintai dan menyayanginya? Kenapa pula dulu dia musti kupaksa untuk berjanji dan bersumpah? Oh Tuhan, ampunilah segala dosaku, Selama ini aku telah menyia-nyiakan suamiku.
***
Selama Nabila hidup berumah tangga dengan Cevin tak pernah menjenguk kedua orang tuanya. Selama itu pula dia hanya mengumbar emosi memburu Berry. Dan tidak menghiraukan keadaan suaminya. Tidak memperdulikan apa pun yang diperbuat suaminya. Mereka hanya berbuat menuruti kehendak hatinya masing-masing. Mengejar kesenangan tanpa memikirkan akibatnya. Tapi setelah Cevin pergi, barulah Nabila menyadari semua perbuatannya yang tercela. Sebagai seorang istri tidak pernah memperhatikan suaminya.
Di sore yang cerah itu Nabila sengaja datang ke rumah orang tuanya. Kedatangan perempuan itu menimbulkan pertanyaan bagi mereka. Sebab perempuan itu datang dengan wajah sedih dan murung.
"Kau bertengkar dengan suamimu?" tegur ibunya.
Nabila menggeleng. Tangisnya tak dapat dibendung lagi Ayah dan ibunya jadi bingung melihat Nabila menangis terisak-isak.
"Lantas kenapa?" Ibunya tidak sabar lagi ingin cepat tahu.
"Mas Cevin pergi meninggalkan Nabila," sahutnya serak.
"Mungkin ada urusan ke luar kota?"
Ucap Ibunya.
Nabila menggeleng.
__ADS_1
"Jadi meninggalkanmu karena persoalan apa?" Tanya sang ibu ingin tahu.
"Karena melanggar janji dan sumpahnya."
Balas Nabila.
Ayah dan Ibu Nabila saling berpandangan. Mereka jadi heran.
"Janji dan sumpah apa?"
Tanya Ayahnya.
Nabila diam. Ada perasaan malu untuk mengutarakannya.
"Katakan terus terang, Nabila," desak ayahnya. Nabila masih diam. "Ayo, katakan."
"Setelah Nabila melangsungkan pernikahan, minta kepada mas Cevin agar berjanji. Berjanji tidak akan menyentuh tubuhku atau melakukan hubungan badaniah sebagaimana suami istri lainnya. Dan mas Cevin mau berjanji. Bersumpah tidak akan melakukan hal itu," tutur Nabila tak berani memandang kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Nabila termangu heran.
"Aneh," gumam ayahnya. "Di dalam hukuman perkawinan cara seperti itu adalah dosa. Perkawinan adalah sunnah Ilahi dan kehendak kemanusiaan, kebutuhan rohani dan jasmani. Sunnatullah, falan tadjida lisunnatillahi tabdila. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa segala sesuatu dijadikan Tuhan berpasang-pasangan, begitupun manusia dijadikan Tuhan dari dua jenis, laki-laki dan perempuan," kata ayahnya.
"Tapi pada mulanya Nabila tidak mencintai mas Cevin."
Jawab Nabila.
"Dan sekarang masih begitu?" Tanya sang ibu.
Nabila diam menggigit-gigit jari tangannya. Dia bimbang dan tak bisa mengatakan apa-apa. Namun sikapnya tidak menentang seperti dulu. Sebab di hatinya telah bersemi cinta. Merasa sedih dan kehilangan ditinggalkan suaminya.
"Ketahuilah, bahwa untuk membina rumah tangga bahagia, kedua belah pihak harus menjunjung tinggi hak dan kewajiban masing-masing. Saling hormat-menghormati. Sopan santun. Saling membantu. Saling nasihat menasihati, dapat memberi dan menerima dan tidak maunya menang sendiri Akan tetapi penuh pengertian dan cinta kasih atas ridha Tuhan yang Pengasih dan Penyayang," lanjut ayahnya.
Nabila mengangguk.
"Nabila, kewajiban seorang istri tidak mempersulit dan memberatkan suami, akan tetapi bersikap ridha dan sabar. Istri yang baik ialah yang dapat mengetahui kemauan suami sebelum dikatakannya dan dapat memberi sebelum dimintanya. Berusahalah meringankan dan menenangkan keadaan, jika terlihat tanda-tanda suami dalam kesusahan," tutur Ibunya.
"Nabila merasa bersalah dan dosa, Mah."
Jawab Nabila.
"Jadi sekarang kau sudah menyadari bukan? Cevin itu pantas sekali kau cintai. Pantas untuk menjadi suami yang ideal. Atau barangkali kau masih mau mengharapkan Berry?"
Ucap ayahnya.
Nabila menggeleng.
"Kau sudah pasrah dan berniat ingin menjadi istri Cevin yang baik?"
Lanjut ayahnya lagi.
Nabila mengangguk lagi.
"Tapi bukan lantaran karena Cevin telah menggaulimu secara paksa kan?"
Tanya ibunya.
"Nabila tidak merasa dipaksa."
Jawab Nabila.
__ADS_1
Ayah dan ibu Nabila saling bertukar senyum. Geli juga.
"Baik. Kalau begitu kita sekarang pergi ke orang tua Cevin. Kita musyawarahkan masalah ini," ajak ayahnya.
***
Untuk pertama kalinya Nabila bersama kedua orang tuanya datang ke rumah orang tua Cevin. Pada suatu sore yang kebetulan seluruh keluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka sedang berunding mengenai pesta pernikahan Queena.
Kegembiraan keluarga mendadak jadi terhenti lantaran menerima kedatangan tamu. Tamu itu tak lain adalah Nabila bersama kedua orang tuanya. Dan kedatangan mereka menimbulkan suatu pertanyaan, apalagi Nabila datang tanpa disertai Cevin.
Mereka saling berjabatan tangan, lalu duduk berkumpul di ruang tamu.
"Sudah sebulan lebih kita tidak bertemu. Nampaknya ada sesuatu yang serius ya?," tanya ayahnya Cevin kepada ayah Nabila.
"Soal Cevin dan Nabila."
Jawab Ayahnya Nabila.
"Apakah mereka bertengkar?"
Tanya Ayahnya Cevin.
"Menurut Nabila bertengkar sih tidak," ibu Nabila menimpali sembari senyum-senyum. Sedangkan Nabila tertunduk malu. Enggan bersitatap dengar Queena. Sebab dia pasti sudah tahu apa masalahnya. Ibu Nabila mulai menceritakan masalahnya secara gamblang kepada keluarga Cevin. Dengan nada-nada agak menertawakan mereka saling bertukar pikiran. Sebab hal yang menjadi masalahnya dianggapnya sangat unik dan lucu. Cevin sampai pergi karena melanggar janji dan sumpahnya
Tinggal sekarang giliran Queena yang mulai menceritakan masalah hubungan Cevin dengan Balqis. Semua orang yang ada di ruangan itu jadi termenung memikirkan Balqis. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Cevin sampai sejauh itu melakukan tindakan di luar sepengetahuan mereka.
"Bagaimana untuk mengatasi hal ini?" Ayahnya Cevin meminta pertimbangan kepada yang hadir di ruangan itu.
"Apa ada kemungkinannya Cevin harus beristri dua?" sahut Ibu Nabila yang nampaknya tidak rela anaknya dimadu.
"Kalau menurut sepengetahuan saya, Balqis sejak dulu tetap menolak dijadikan istri oleh mas Cevin," Queena menimpali.
"Jadi bagaimana mengenai nasib bayi yang akan lahir itu?"
Perempuan setengah baya itu menatap Nabila anaknya. Sedang yang ditatap cuma tertunduk. Lalu pandangannya beralih ke suaminya yang seolah-olah meminta pertimbangan.
"Apakah kita tega memisahkan Balqis dengan suaminya yang cacat itu? Kalau kita sampai bertindak begitu, di mana rasa prikemanusiaan kita?" ayah Nabila membuka suara.
"Sekarang masalahnya hanya tergantung pada Balqis. Mau menikah dengan Cevin atau tidak. Di dalam hal ini kita harus bertindak bijaksana."
Jelas Ayahnya Cevin.
"Aku rasa Balqis tetap menolak. Aku kenal betul sifatnya yang tak mudah dipengaruhi dan mempunyai prinsip. Aku sudah sering menemuinya, dan dia mengatakan akan tetap setia kepada suaminya. Masalah bayi yang dikandungnya, merupakan harapan di hari tuanya. Sebab suaminya tak mampu memberikan keturunan," Queena mengutarakan dengan jujur.
"Kalau begitu kita temui dia. Biar semua persoalannya bisa selesai dengan baik," ujar Ibu Cevin.
"Tapi jangan sekarang."
Ucap Ibunya Nabila.
"Tunggu apa lagi? Nanti bisa-bisa persoalannya tambah berlarut-larut."
Jelas ibunya Cevin.
"Sebaiknya kita tunggu sampai bayi dalam kandungannya lahir."
Balas ibunya Nabila lagi.
Suasana jadi hening sesaat karena masing-masing mempertimbangkan cara apa yang terbaik. Jangan sampai merusak kehidupan rumah tangga Cevin dengan Nabila.
__ADS_1