LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 31 : SEMUANYA SUDAH BERLALU


__ADS_3

Malamnya Cindy tak dapat memicingkan matanya walau sekejap pun. Sejak tadi di dalam kamarnya ia hanya membolak-balikkan badannya dengan gelisah. Entah mengapa pertemuan yang terjadi sore tadi terbayang kembali dalam ingatannya. Dalam hatinya Cindy. memaki dirinya sendiri yang tak bisa melupakan bayang wajah Fadly begitu saja pada hal Cindy tahu kalau Fadly bukan siapa-siapa buat dirinya, hanya sebatas mantan kekasih adiknya Zahra namun entah mengapa sesuatu hal menjadi berbeda di dalam hatinya. Seolah-olah menjadi beban yang memberatkan dirinya akan sebuah rasa bersalah terhadap adiknya Zahra. Makin berusaha dilupakan, makin kuat bayang wajah lelaki itu berseliweran di depan matanya. Dan Cindy tak dapat menahan khayalannya yang melayang begitu saja. Ah Fadly, sudah sekian tahun kita tak berjumpa ternyata Tuhan mempertemukan kita kembali tanpa sengaja? Apa artinya ini?


Tak dapat dipungkiri Cindy pertemuannya tadi


sore dengan mantan kekasih adiknya yang telah lama tak ada kabar beritanya, membekas kuat dalam ingatan yang ditinggalkan, kembali menimbulkan getar lain di hatinya dalam suasana yang jelas berbeda. Fadly yang tampan dan punya sinar mata seteduh telaga itu kini bukan saja terlihat dewasa dan matang, namun ia juga dapat merasakan betapa gagah dan dalamnya daya tarik yang memancar di wajah lelaki itu.


Lamunan Cindy pun terus mengembara. Tak


pernah dapat dilupakannya saat pertama ia melihat dan berkenalan dengan Fadly yang merupakan tetangganya, awalnya mereka Cindy, Zahra dan Fadly adalah sahabat masa kecil lalu berlanjut timbul getaran yang unik di hati Cindy akan kebersamaan terhadap Fadly, akan tetapi karena adiknya Zahra telah mengutarakan maksud hati terlebih dahulu kepada Cindy bahwa Zahra sangat suka dan mencintai Fadly dengan terpaksa dan suka cita perlahan-lahan di hapusnya semua mimpinya bersama lelaki yang di sangat disukai adiknya tersebut.


Sejak pertama bertemu Cindy sudah merasa ada daya tarik lain yang memancar, dari lelaki itu yang


akhirnya membuatnya mau tak mau tak dapat lagi menahan dirinya untuk tidak jatuh cinta. Dan ternyata perasaan itu bukan cuma dialami olehnya saja. Fadly pun sebenarnya sama dengan Cindy, mempunyai perasaan sejak pertama kali melihat dan berkenalan dengannya. Lalu dua hati yang sedang jatuh cinta akan tetapi sebelum memutuskan untuk menjalin tali kasih, Cindy harus menghapus segalanya demi kebahagiaan adiknya Zahra karena mencintai lelaki yang sama. Dalam mimpi dan harapan semu, Cindy berpikir betapa bahagianya hati kala itu jika mempunyai kekasih seganteng dan sebaik Fadly.


Walaupun Fadly hanyalah lulusan SMP dan ia tak


dapat meneruskan sekolahnya ke tingkat SMU


karena terbentur faktor biaya, namun Cindy tak


merasakan itu sebagai beban. Malah ia bangga dengan Fadly yang telah mempunyai


penghasilan tetap dan dapat menopang biaya hidup keluarganya dengan penghasilannya itu.


Hubungan yang di harapkan tidak menjadi manis itu mungkin akan terus berlanjut kalau saja Cindy terlebih dahulu mengutarakan perasaannya kepada adiknya Zahra akan tetapi cerita ingin berkisah lain dan menentang kisah-kisah mereka.


Akhirnya Zahra pun menjadi kekasih Fadly dan hal ini hanya Cindy yang tahu, untuk membicarakan kepada orang tuanya tentu Zahra belum mempunyai keberanian. Apa lagi Cindy sebagai kakak belum mempunyai kekasih apa lagi ada niat untuk menikah. Karena udah sejak lama memang ayah dan ibu Cindy dan Zahra mendambakan mempunyai menantu yang bisa mengangkat ekonomi keluarga mereka. Hingga alangkah kecewanya mereka saat mengetahui siapa yang dipilih putrinya itu untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Fadly, yang cuma anak seorang janda miskin dan mempunyai tanggungan yang tidak sedikit. Bagaimana mungkin lelaki itu dapat membahagiakan hidup putrinya kalau untuk menghidupi keluarganya saja ia harus membanting tulang?


Keputusan kedua orangtuanya yang tidak menyetujui hubungan Zahra dengan Fadly memang cukup menyakitkan hati Zahra. Namun bukan Zahra namanya kalau ia tak mempunyai pendirian kuat dan dengan diam-diam tetap melanjutkan hubungannya dengan Fadly.


Hingga akhirnya sesuatu yang mengejutkan


dan kali ini begitu terasa memukulnya terjadi.


Tanpa sepengetahuan Zahra, ayahnya menerima


lamaran Pak Ruslan yang memang sejak lama


mengincarnya dan menginginkan Zahra untuk


diperistri, sedangkan secara kebetulan tidak mungkin mengincar Cindy di karenakan Cindy sudah menaruh hati kepada Rangga dengan berbagai kisah dan pengorbanan Rangga yang tidak mungkin di pungkiri oleh orang tua Cindy sendiri.


Zahra yang panik pun segera mengajak Fadly


untuk kawin lari agar terhindar dari malapetaka itu. Namun ketidaksediaan Fadly menuruti keinginan Zahra itu dengan alasan bahwa ia tak tega meninggalkan ibu dan adiknya serta melepaskan tanggungjawabnya begitu saja, sungguh membuat Zahra sakit hati. Lalu tanpa sepengetahuan siapa pun Zahra melakukan hal yang di luar perkiraan mereka semua.


Hingga akhirnya takdir menghendakinya jadi


begini. Begitu ia kembali bertemu dengan laki-laki


yang telah pernah berhasil mengisi relung hatinya dan mengobati rasa sakit pada masa lalunya, namun dengan cepat Tuhan telah memanggilnya.


Kini, di atas ranjangnya, Cindy merenungi dan


menangisi perjalanan nasib yang menimpanya. Mengapa Tuhan seakan tak memperkenankan ia


'berlama-lama' dengan lelaki yang dicintainya?


Pertemuan yang kembali terjadi dengan


kekasih lamanya yang sesungguhnya tak pernah


diputuskan itu kembali menguasai pikirannya.


Adakah maksud Tuhan di balik pertemuan ini? Kalau tidak, mengapa Tuhan mempertemukan mereka di saat ia telah kembali sendiri? Mungkinkah Tuhan akan kembali mempertautkan cintanya dengan Fadly?


Pertanyaan demi pertanyaan yang muncul


dari dasarmatinya kembali membuat dada Cindy


berdebar. Tak dapat dipungkiri olehnya betapa


masih ada sisa-sisa cinta yang tertinggal dalam


hatinya pada Fadly. Dan saat pandang mata mereka bertemu sore tadi, Elsa dapat merasakan betapa masih ada benih-benih rindu yang terpancar dari balik sorot mata teduh Fadly. Ah, Fadly, adakah perasaan kita serupa? Tanya hatinya galau.


Begitu matanya terpejam, bibir Cindy pun terulas senyum karena dalam mimpinya kembali ia


bertemu lelaki yang pernah menjadi cinta


pertamanya dulu...!!!


***


Bukan main senangnya Cindy ketika suatu


malam tanpa disangka-sangka Fadly datang ke

__ADS_1


rumahnya. Sudah beberapa hari ini memang ia


amat mengharapkan lelaki itu mau datang ke


rumahnya. Pernah pula dipikirinya, apakah kertas


alamat yang ditulis Fadly hilang, hingga ia tak jadi


datang ke rumahnya?


Namun kini harapannya menjadi kenyataan.


Dengan wajah berseri-seri dipersilakannya lelaki


yang datang tanpa kendaraan itu masuk.


"Tidak sulit kan mencari rumahku?" tanya Cindy


ceria begitu mereka sudah duduk di ruang tamu.


"He-eh," Fadly mengangguk.


Cindy tersenyum cerah mendengar jawaban


itu. Saking gembiranya dengan kedatangan Fadly,


tak lupa ia juga membuatkan kopi untuk lelaki itu.


"Sudah lama kamu jualan di Pasar Baru, Dly?" tanya Cindy membuka percakapan.


"Yah, kurang lebih baru setengah tahun ini." Jawab Fadly ringan.


"Pantas saja. Dulu-dulu aku sering main ke sana, tapi tidak pernah melihatmu." Cindy manggut-manggut. Memang, sejak suaminya meninggal baru itulah dia mengunjungi pertokoan Tanah Abang. Itu pun karena ia punya maksud untuk membelikan pakaian anak-anaknya.


"Kerja di desa begitu-begitu saja, Cin. Maka itu


kuberanikan diri merantau kemari. Kali saja


penghidupanku jadi berubah," ujar Fadly lagi


dengan senyum hambar.


"Kalau memang sudah memutuskan untuk


tinggal di sini, harus pantang menyerah, Dly.


Majulah terus kalau ingin berhasil. Namanya aja


sahut Cindy bernada menasehati.


Cukup lama juga mereka berbincang-bincang, sampai akhirnya Fadly celingukan seperti mencari-cari.


"Kenapa, Dly?" tanya Cindy menangkap keheranan di wajah tamunya.


"Anak-anak sudah tidur?" Fadly balik bertanya.


"Ya," Cindy mengangguk. "Mereka memang tidak biasa tidur malam. Sebelum jam delapan


mereka sudah naik ke tempat tidur." Jelas Cindy.


Fadly melirik arlojinya sejenak, lalu kembali


berkata, "Sudah cukup malam. Kok suamimu belum pulang juga sih?" Tanya Fadly kemudian.


Cindy cuma tersenyum kecut mendengar


pertanyaan itu. Dihempaskannya napas berat


sebelum akhirnya menjawab.


"Oh, rupanya kau mencari suamiku toh," angguknya kemudian. "Tidak, Dly, yang kau cari


tidak akan pernah lagi pulang ke rumah..." Jawab Cindy lirih.


"Maksudmu?" tanya Fadly tak paham.


"Dia sudah meninggal, Dly. Setahun yang lalu." Jelas Cindy.


"Hah? Jadi...?" Fadly terkesima.


"Aku sudah menjanda sekarang. Dengan dua


anak-anak yang menjadi tanggunganku," jelas Cindy dengan lidah keluh.


Beberapa saat Fadly termangu mendengar


keterangan yang tidak pernah disangkanya itu. Jadi dugaannya yang mengira Cindy telah hidup

__ADS_1


berbahagia dengan Rangga suaminya, yang tentu saja amat menyayangi dan mencintainya keliru besar. Telah setahun Ini justru Cindy harus menanggung beban berat dan rasa sepinya ditinggal suaminya tercinta.


"Kenapa, Dly? Kok jadi bengong?" pertanyaan Cindy kembali menyadarkan ketermanguan lelaki itu yang segera membetulkan letak duduknya dan mengubah kembali parasnya yang sempat kaget.


"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Cindy lagi. "Aku yakin, pasti kamu juga sudah mempunyai


anak-anak yang manis dan istrimu tentu cantik


sekali," kata Cindy menebak-nebak.


"Aku...?" Kembali Fadly terlengak mendengar


ucapan itu. "Kau mau tahu tentang aku?" Lanjut Fadly.


"Kenapa tidak?" Cindy mengerjabkan mata


indahnya.


Sejenak Fadly menarik napasnya sebelum


berkata, "Tebakanmu benar, Cin. Aku memang sudah menikah, tapi Tuhan belum mempercayai kami untuk mengasuh anak. Pada hal aku sudah amat mengharapkan hadirnya bayi mungil setelah menanti selama dua tahun." Jelas Fadly melanjutkan.


Sungguh, Cindy amat tertegun mendengar


pengakuan itu. Semula dia hanya mencoba


menebak-nebak apakah Fadly sudah menikah atau belum. Dan jawaban yang diberikan lelaki itu entah mengapa seolah membuatnya patah semangat. Tak dapat dipungkirinya kalau sebenarnya dalam hatinya yang paling dalam ia mengharapkan Fadly menjawab kalau dirinya belum menikah setelah di tinggal oleh Zahra adiknya.


"Jadi, sampai sekarang kamu belum mempunyai momongan, Dly?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Lewat pertanyaan itu ia bermaksud hendak menegaskan hatinya bahwa tak ada lagi yang dapat diucapkan dari lelaki yang kini berada di hadapannya. Namun jawaban yang kembali diterimanya dan Fadly sungguh membuatnya kembali berdebar.


"Itulah yang membuatku malas berada di rumah, Cin. Bahkan hanya karena itu pula sering terjadi pertengkaran di antara aku dan istriku. Istriku selalu menyalahkanku, sementara aku pun menganggap istriku tak becus melahirkan anak," raut wajah Fadly terlihat begitu muram.


Diremasnya-rambutnya dengan ekspresi setengah putus asa.


"Kamu harus sabar, Dly. Mungkin belum


saatnya kau mendapatkan apa yang menjadi


impianmu itu," Cindy ikut prihatin, walau hatinya


merintih.


"Sabar? Mungkin betul apa katamu itu Tapi,


bagaimana aku bisa sabar kalau istriku malah bersikap dingin dan ketus padaku? Bagaimana aku bisa sabar kalau dia tak lagi menyambutku dengan hangat setiap aku pulang bekerja? Lama-lama aku jadi enggan pulang ke rumah," ucapan itu terasa begitu mengiris-iris hati Cindy.


Ah, Fadly, kasihan sekali kamu.


"Kalau keadaannya begini terus menerus, mungkin rumah tangga kami akan segera berakhir. Tinggal kutunggu satu kata darinya saja, yaitu cerai! Setelah itu biarlah akan kuambil jalan sendiri-sendiri," ujar Fadly lagi dengan hati lara.


"Jangan, Fadly!" selanya tiba-tiba.


Dipandangnya wajah lelaki yang tampak tengah berduka itu dalam-dalam.


"Kenapa?" Hardi balas memandangnya.


"Jangan sampai kalian berpisah. Peliharalah rumah tanggamu baik-baik. Percayalah, suatu saat nanti pasti Tuhan akan mengaruniakan padamu apa yang kau harap-harapkan." Jelas Cindy lirih.


"Mungkinkah itu, Cin?" tanyanya parau. "Kau tahu, tak ada yang dapat dipertahankan lagi pada


rumah tanggaku. Apalagi kini... aku telah menemukan kembali mutiaraku yang hilang


dulu. Setelah kisah cinta kita terputus karena Zahra, akhirnya Zahra pergi untuk selama-lamanya lalu engkau pun telah menikah dengan Rangga pula, akhirnya terpisah jua. Apakah ini sebuah pertanda Cin?" Lanjut Fadly.


Apa maksudmu, Fadly?" Cindy terperangah.


Debar di hatinya makin menjadi-jadi mendengar kalimat yang didengarnya barusan.


"Tuhan sudah mempertemukan kita kembali setelah sekian tahun tak berjumpa Tidakkah kau mengerti apa maksudnya?" Fadly balik bertanya.


"Aku.., aku tak paham apa maksudmu," Cindy tergagap.


"Kau belum paham mengapa Tuhan mempertemukan kita kembali dalam keadaan seperti ini? Dan di mana kau telah menjanda karena ditinggal mati suamimu, sementara aku merana dengan kepergian Zahra, lalu karena tak dapat lagi mempertahankan keutuhan dan kebahagiaan rumah tanggaku Tidakkah kau pikir secara tak langsung Tuhan telah mempertemukan kita kembali untuk... menjodohkan kita?" Lanjut Fadly.


Begitu dalam tatap mata teduh itu menghujam batinnya. Cindy merasa jantungnya terlepas. Mulanya memang dia mengharapkan Fadly belum menikah dan kembali menjadi miliknya kembali seperti dulu. Namun demi mendengar pengakuan lelaki itu tadi kalau ia telah menikah dan kini rumah tangganya terancam retak, pelan-pelan hati Cindy mulai membeku. Dan respeknya tiba-tiba saja menghilang saat Fadly mengungkapkan keyakinannya kalau Tuhan telah mempertemukan mereka kembali karena mereka memang berjodoh.


"Tidak, Dly," kepala Cindy menggeleng setelah beberapa menit ia berusaha menenangkan hatinya dan berpikir secara realistis. Mana mungkin dia hidup bahagia di atas penderitaan orang lain?


Alangkah sedih dan laranya istri Fadly bila mengetahui suaminya bermain api lagi dengan cinta pertamanya dan mantan kekasih adiknya. Belum lagi bila ia bersedia dinikahi Fadly, yang sudah tentu pasti lelaki itu akan menceraikan istrinya.


"Tidak kenapa, Cin?" Fadly menatapnya galau.


Ditenangkan hatinya yang tiba-tiba terasa rusuh melihat gelengan kepala wanita muda itu.


"Aku tidak mau hidup bahagia di atas


penderitaan orang lain," ucap Cindy tegas. "Aku tidak ingin kau menceraikan istrimu hanya karena aku." Lanjut Cindy.

__ADS_1


"Tapi Cin, sudah tak ada lagi yang dapat dipertahankan dalam rumah tanggaku," kilah Fadly kemudian. "Lagi pula, apa salahnya kalau kita bersatu kembali dalam keadaan yang kurasa sama-sama pas buat kita?" Ucap Fadly.


"Jangan terlalu yakin dengan pikiranmu bahwa Tuhan kembali mempertemukan kita untuk dipersatukan kembali. Semuanya telah berlalu, Dly. Lupakan tentang masa lalu yang pernah ada di antara kita. Kita kan bukan anak muda lagi." Cindy mencoba bersikap dewasa.


__ADS_2