
Cevin tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah, sebuah lapangan rumput yang sepi dan senyap. Itu semua membuat Cevin kebingungan bercampur tegang. Dia tak tahu, bagaimana tahu-tahu dia berada di tengah sebuah lapangan rumput yang sekelilingnya dikelilingi pepohonan besar dan lebat?
Dan anehnya, hanya di lapangan itu saja yang agak terang. Sementara di sekelilingnya, suasananya sangat gelap mencekam.
Ditambah lagi dengan suara angin yang bergesek dengan dedaunan, semakin membuat suasana di sekitar tempat itu kian terasa mencekam. Sampai-sampai bulu kuduk Cevin meremang berdiri, merasakan ketegangan yang mencekam jiwa.
Cevin masih belum mengerti, dimana dia sekarang. Dan kenapa tahu-tahu dia berada di tempat menyeramkan seperti itu, ketika dari arah kegelapan, seorang wanita cantik dengan senyum merekah di bibirnya, melangkah mendekat ke arahnya. Membuat Cevin semakin bertambah terperangah. Matanya yang semula memandang tegang ke sekelilingnya, seketika pandangannya tertumpu pada sosok elok tersebut. Lelaki muda dan tampan itu, kian terpesona oleh kecantikan wanita itu, yang kini masih melangkah ke arahnya dan belum diketahui darimana datangnya.
Wanita cantik jelita tersenyum, namun di wajahnya menggambarkan kemurungan itu nampak misterius, sulit untuk diartikan. Apa senyumnya itu pertanda dia bahagia bertemu dengan Cevin? Atau justru sebaliknya, wanita cantik itu sedih atas pertemuannya dengan Cevin?
Herman tak tahu, apa makna senyum wanita cantik yang tahu-tahu hadir di depannya. Yang datang dari tempat yang sangat gelap dan sulit untuk ditembus oleh pandangan mata Cevin.
"Cevin...," desis wanita cantik itu memanggil namanya, membuat Cevin terperangah sekaligus tersentak kaget. Dia heran, dari mana wanita cantik bergaun serba, putih dengan rambut dibiarkan terurai itu mengenal namanya? Pada hal dia sama sekali tak pernah bertemu dengan wanita cantik itu. Apalagi mengenalnya. Lalu dari mana wanita cantik itu mengenal namanya?
Wanita cantik itu masih memandang lekat ke wajah Cevin. Kakinya yang indah, melangkah gemulai mendekati Cevin yang masih berdiri mematung, dengan mata masih memandang lekat ke wajah cantik di hadapannya. Pandangannya masih menunjukkan kalau dia belum memahami, dari mana wanita cantik itu tahu kalau namanya Cevin. Karena dia merasa belum pernah bertemu apa lagi mengenal wanita cantik itu.
"Lupakah kau kepadaku, Vin?"
Ucap wanita itu.
"Siapa Anda, non...?" balik Cevin bertanya dengan suara agak tersendat. Matanya masih memandang lekat ke wajah cantik wanita itu, yang masih melangkah mendekat ke arahnya dengan bibir terhias ulasan senyum. Senyum yang sangat misterius dan sulit diartikan.
"Darimana Anda tahu nama saya...?"
Tanya Cevin heran.
Wanita cantik itu masih tersenyum. Dia semakin mendekat ke arah Cevin yang masih mematung dengan wajah menggambarkan keheranan. Heran dengan kejadian yang kini tengah dialaminya. Kejadian yang aneh, sebagai mana kemunculan wanita cantik itu yang entah dari mana datangnya.
Mungkin wanita cantik itu datang dari hutan lebat yang mengelilingi lapangan rumput dimana Cevin berada? Cevin tak tahu. Sebagai mana dia juga tak mengerti, kenapa dia tahu-tahu berada di tengah lapangan rumput yang sepi yang di kelilingi oleh hutan lebat dan menyeramkan.
"Aku telah lama mengenalmu, Vin..." Ucap wanita cantik itu lagi.
Telah lama?
Gumam Cevin dalam hati dengan kening mengerut.
Aneh. Bagaimana mungkin?
Bertemu saja mereka baru sekarang.
Kenapa wanita cantik itu mengatakan telah lama mengenalnya?
Kapan dan dimana mereka pernah bertemu?
"Ah, Anda jangan berseloroh..."
Dari mulut Cevin terucap.
Wanita cantik itu lagi-lagi tersenyum. Matanya masih memandang lekat ke wajah Cevin. Tatapannya yang tajam, bagaikan sebuah mata pedang yang menusuk ke dalam lubuk hati Cevin. Dan lelaki muda itu tersentak.
Dia tiba-tiba seperti pernah melihat tatapan mata tajam wanita itu. Tapi dimana dan kapan?
Cevin berusaha mengingatnya, namun sulit. Dia tak juga bisa mengingat di mana dan kapan dia pernah melihat wanita cantik itu.
"Aku tak berseloroh," jawab wanita cantik itu dengan mata masih memandang lekat ke wajah Cevin, seakan dia berusaha meyakinkan lelaki muda dan tampan itu, kalau apa yang di katakannya memang benar. Dia tidak mereka-reka.
"Aku mengenalmu. Bahkan sangat mengenal dirimu..."
Balas wanita cantik itu.
Cevin semakin terperangah mendengar penuturan wanita cantik itu. Rasa heran semakin membelit jiwanya, yang bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita Cantik itu.
"Sangat mengenalku...?" ulang Cevin tanpa sadar dengan mata menatap ke wajah cantik wanita itu. Seakan ingin meyakinkan dirinya, benarkah apa yang di katakan wanita cantik itu?
"Ya."
Jawab wanita cantik itu.
"Siapa Anda sebenarnya?"
Tanya Cevin heran.
"Aku selama ini dekat denganmu, Vin."
Jawab wanita cantik itu.
"Dekat denganku?"
Cevin menjawab heran.
"Ya,"
Balas wanita cantik itu.
"Aku tak mengerti, siapa Anda sebenarnya."
Cevin terlihat semakin bingung.
"Kau mungkin lupa padaku."
Wanita cantik itu mulai mengingatkan Cevin.
"Demi Tuhan, aku tak mengenal Anda."
Balas Cevin.
Membelalak lebar mata wanita cantik itu, mendengar" Cevin menyebut nama Tuhan. Tubuhnya bahkan bergetar hebat. Seakan ada guncangan dasyat yang melanda jiwanya, saat Cevin mengucap nama Sang Pencipta alam semesta ini dan isinya. Termasuk mereka berdua yang juga merupakan ciptaan-Nya. Ada rasa takut yang mencekam jiwa wanita cantik itu, ketika mendengar asma Tuhan.
"Kenapa, nona...?"
Tanya Cevin.
"Tidak... tidak apa-apa."
Balas wanita cantik itu.
"Anda nampak gugup," terka Cevin.
"Ah, tidak: Oh ya, maukah Anda menemaniku?" Lanjut wanita cantik itu dengan perkataannya.
"Kemana?" Tanya Cevin. "Dimana rumah Anda?"
Lanjut Cevin.
"Di seberang hutan itu," jawab wanita cantik itu sambil menunjuk ke arah pepohonan yang lebat dan gelap mencekam. Membuat Cevin mengerutkan kening.
Tergetar hatinya setiap kali melihat suasana di sekelilingnya yang gelap gulita. Tapi pantaskah seorang lelaki menunjukkan rasa takutnya saat seorang wanita memintanya untuk mengantar? Betapa memalukan sekali. Pikir Cevin dalam hati.
"Bagaimana, apa Anda bersedia mengantar saya?"
Ucap dan tanya wanita cantik itu.
"Anda mau pulang?"
Balas Cevin.
"Ya."
__ADS_1
Jawabnya.
"Lalu darimana Anda tadi?" tanya Cevin.
"Aku tersesat ketika hendak pulang dari main kerumah teman yang ada di Timur hutan itu." Kembali wanita cantik itu menujuk ke arah hutan lebat yang mengelilingi tanah lapang di mana mereka berada.
"Tolonglah saya. Siapa lagi yang akan mengantar saya, kalau bukan Anda...?" rengek wanita cantik itu, terus berusaha membujuk agar Cevin mau mengantarnya.
"Baiklah. Mari...," akhirnya Cevin yang merasa kasihan pada wanita cantik itu, tanpa memikirkan kembali keanehan yang dialaminya menurut mau mengantarkan wanita itu ke rumahnya.
"Terimakasih atas kesediaan Anda." kata wanita cantik misterius itu dengan bibir kembali mengurai senyum.
"Lupakanlah."
Balas Cevin.
Keduanya melangkah, meninggalkan tempat semula menuju ke arah Selatan dimana hutan gelap dengan pepohonannya yang rimbun dan lebat membentang. Tidak berapa lama kemudian, keduanya sampai di perbatasan hutan. Ada rasa ngeri terlihat di mata Cevin, saat melihat keadaan hutan di depannya yang sangat gelap gulita. Namun dia berusaha untuk menutupinya dengan senyum, saat wanita cantik itu melirik ke arahnya.
"Anda takut...?"
Tanya wanita cantik itu.
"Tidak," jawab Cevin tegas.
"Syukurlah, tak percuma saya meminta antar Anda."
Balas wanita cantik itu kembali.
Keduanya terus melangkah. Namun kejadian aneh tiba-tiba terjadi pada Cevin. Ketika kakinya sudah masuk ke dalam hutan sekitar lima meter, seketika dia merasakan suasana sekelilingnya berubah. Matanya tak bisa melihat apa-apa lagi. Gelap gulita. Tidak lama kemudian, dia melihat cahaya terang benderang menyilaukan dengan puluhan sinar warna-warni. Tak ubahnya di tempat itu, ada ratuhan bintang.
"Nona... Nona...!" seru Cevin berusaha memanggil wanita cantik yang tadi jalan bersamanya. Namun tak ada suara yang menyahuti. Membuat Cevin semakin bertambah kebingungan. Kepalanya terasa semakin bertambah penih. Lalu kembali suasana di sekelilingnya menjadi gelap. Dan akhirnya, Cevin tak ingat apa-apa lagi.
Entah berapa lama Cevin pingsan. Ketika dia membuka matanya kembali, tahu-tahu tubuhnya sudah di ikat di palang kayu membentuk salib. Kedua tangannya di bentangkan dengan pergelangan tangan terikat Begitu juga kedua kakinya. Sementara di sekelilingnya, api menyala.
Mulanya api itu menyala kecil, namun semakin lama api tersebut semakin bertambah besar. Bagaikan hendak membakar tubuhnya.
"Dimana aku...?! Akh...!" Cevin menjerit-jerit kepanasan.
Dia berusaha untuk melepaskan diri dari api yang siap membakar sekujur rubuhnya. Namun ikatan pada tangan dan kakinya, sulit untuk dibuka.
"Lepaskan aku... Lepaskan aku...!" teriak Cevin sambil terus berusaha melepaskan diri dari ikatan di tangan dan kakinya. Namun tetap saja dia tak mampu. Sementara api yang mengelilinginya, semakin lama semakin membesar dan siap melalap sekujur tubuhnya. Tolong...! Lepaskan aku...!" Teriak Cevin.
Tubuh Cevin yang terpanggang, terus menggeliat
geliat dengan diikuti teriakkan-teriakkan menyayat. Namun tak seorang pun yang berusaha untuk menolongnya.
Sementara itu, dari balik api sesosok wanita cantik dengan lenggang bagaikan tak terpengaruh oleh panasnya api yang menyala-nyala, menerobos masuk menghampiri Cevin yang masih berteriak-teriak kepanasan.
"Ini belum seberapa panasanya, Cevin."
Dengan menahan rasa sakit, perlahan Cevin membuka matanya. Betapa marahnya dia, saat melihat siapa yang datang. Sekaligus dia juga merasa heran, bagaimana wanita cantik yang kini datang bersama seoran bayi dalam gendongannya itu bisa masuk ke lingkaran api dan mendekati dirinya tanpa merasakan panasnya api tersebut? Juga bayi dalam gendongan wanita cantik itu, seakan tidak merasakan kepanasan. Rasanya tidak masuk di akal. Tapi itulah yang di lihat Cevin. Kalau begitu, siapa wanita cantik ini? Pikir Cevin.
"Siapa kau sebenarnya...? Apa maksudmu dengan mengikat tangan dan kakiku seperti ini, dan memanggang tubuhku begini rupa...?" tanya Cevin dengan mata memandang tajam ke wanita cantik yang berdiri di depannya masih dengan senyum manis yang penuh misteri. "Apa salahku sehingga kau menyiksaku sedemikian rupa...?! Bukankah aku tak pernah berbuat jahat kepadamu. Bahkan aku telah berbuat baik kepadamu? Dengan mau mengantarmu pulang?"
Ucap Cevin.
"Aku jiwa yang lara, Cevin... Aku tidak menyiksamu, Cevin. Aku hanya ingin mengujimu. Untuk membuktikan kesetiaanmu padaku. Aku kekasihmu..." Jelas wanita cantik itu kembali.
"Kekasihku...?"
Balas Cevin.
"Ya. Tidakkah kau ingat siapa aku...?"
Ucapnya kembali.
Dengan masih berusaha menahan rasa sakit dan panas, Cevin terus berusaha mengingat-ingat siapa wanita cantik itu, yang mengaku kekasihnya. Tapi pikirannya yang tidak dalam keadaan tenang, tak mampu mengingatnya. Dan memang dia belum pernah merasa mempunyai kekasih lain, selain Balqis.
Balas Cevin.
Wanita cantik yang menggendong bayi di tangannya itu tersenyum mendengar jawaban Cevin.
"Aku Balqis..."
Jawab wanita cantik itu.
"Tidak... tidak mungkin..."
Ucap Cevin tidak percaya.
"Aku Balqis, Cevin. Dan ini anakmu... anak kita, Cevin." Jawab wanita cantik itu.
"Bukan! Jangan tipu aku, karena aku tak percaya padamu. Kau Iblis...!" maki Cevin dengan kesal, karena wanita cantik itu tidak mengerti balas budi. Ditolong, malah kini menyandera dan menyiksanya.
"Siapapun aku menurutmu, tak mengapa. Yang penting, kau harus denganku. Harus... harus, Cevin. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku, Vin...!" wanita cantik itu tertawa. Suara tawanya meringkik, membuat bulu kuduk Cevin meremang berdiri. Kemudian dengan masih tertawa cekikikan, wanita cantik itu melangkah meninggalkan Cevin. Dengan enak sekali tanpa mengalami kebakaran di tubuhnya, wanita cantik itu menembus api yang semakin membesar dan memanas. Sehingga membuat Herman kian bertambah kepanasan.
"Akh ukh... Lepaskan aku...! Panas... panas... Tolong,..!" teriak Cevin sambil terus berusaha melepaskan diri dari siksaan itu. Tubuhnya menggeliat-geliat. Tangan dan kakinya terus berusaha melepaskan ikatan tersebut.
Hampir saja Cevin mati hangus terbakar, kalau saja dia tidak ditolong dengan suara gedoran di pintu kamarnya.
"Cevin... Cevin..!"
Cevin beranjak bangun, kemudian duduk di tepi tempat tidur. Matanya memandang ke arah jam di dinding kamarnya. Jam sudah menunjukkan angka enam lewat lima belas menit. Oh, ternyata sudah pagi. Dengan menghela napas dalam-dalam, Cevin beringsut bangun dari tempat tidurnya. Disisirnya rambut dengan jari-jari kedua tangannya. Kemudian dia melangkah ke arah pintu, dimana suara mamahnya terdengar memanggil.
"Vin... Cevin..."
Teriak Selly dari balik pintu bagian luar kamar Cevin.
"Ya, Mah?" Ucap Cevin membalas panggilan mamahnya itu.
"Kenapa kau...?"
Tanya Selly.
"Tidak apa-apa, Mah. Hanya mimpi..."
Jawab Cevin.
"Hari sudah pagi. Bukankah kau akan menjemput Nabila?"
Tanya Selly pada anaknya itu.
"Cevin agak sakit, Mah."
Balas Cevin menjawab.
"Alasan lagi... Jangan beralasan. Cepat bangun dan mandi. Kemudian segera ke Bandara. Jangan kecewakan Nabila, Vin."
Ucap Selly memaksa.
"Huh, Mamah. Queena saja kenapa sih...?" Ucap Cevin.
"E-eh... Kau ini kenapa sih? Kau belum melihat Nabila. Mamah yakin, kalau kau sudah melihatnya, kau pasti tak akan menyesal. Ayo keluar dan mandi. Papah dan adikmu sudah menunggu untuk sarapan pagi."
Jelas Selly tetap dengan nada memaksa.
Cevin akhirnya membuka pintu. Dengan wajah kusut dia melangkah meninggalkan kamarnya. Mamahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, menyaksikan tingkah laku anaknya. Meski agak membangkang dan nakal, namun akhirnya Cevin menuruti apa yang dianjurkan.
__ADS_1
Dan itulah yang membuat wanita setengah baya itu bangga. Kemudian dengan diikuti helaan napas dan senyum simpul di bibirnya, wanita setengah baya itu pun melangkah meninggalkan pintu kamar anaknya, menuju ke meja makan di mana suami dan anak perempuannya berada dan tengah menunggu untuk sarapan pagi bersama.
"Mana Cevin, Mah?" tanya Pak Efendi, suaminya, papahnya Cevin dan Queena ketika istrinya datang.
"Sedang mandi."
Balas Selly.
"Dia mau menjemput Nabila?"
Tanya pak Efendi lagi.
"Mau, Pah."
Jawab Selly.
Tidak lama kemudian Cevin datang ke ruang makan dimana kedua orang tua dan adiknya sudah menunggu. Dengan wajah dingin dan mulut membisu, Cevin duduk di kursi yang masih kosong.
Justru penampilannya yang murung itu, membuat kedua orang tua dan adiknya jadi memperhatikan ke arahnya dengan kening mengerut. Tak mengerti, apa yang membuat Cevin merungut begitu.
"Kenapa sih Mah, wajah mas Cevin cemberut begitu?" tanya Queena sambil memperhatikan wajah kakaknya. Seakan gadis berusia dua puluh dua tahun yang kini duduk di bangku kuliah semester enam itu, ingin mengetahui masalah apa yang tengah dihadapi oleh kakaknya.
"Mana Mamah tahu... Tanya saja sama kakakmu."
Jawab Selly.
"Kenapa, Mas?" Tanya Queena.
"Tanya saja sama Mamah," jawab Cevin membalikkan masalahnya pada mamahnya, yang semakin membuat papah dan adiknya kebingungan dan bertanya tanya, ada apa sebenarnya.
"Kok jadi lempar-lemparan masalah," gumam Pak Efendi menengahi. "Ada apa sih? Kita ini keluarga. Kalau ada masalah, hendaknya diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Ayo Cevin, katakan sama Papah, ada apa sebenarnya?"
Ucap Efendi melanjutkan.
"Cevin malas jemput Nabila. Tapi Mamah memaksa.
Cevin kan sudah dewasa, Pah. Lagi pula, sekarang bukan jaman purba lagi. Beri dong Cevin kebebasan untuk memilih," tutur Cevin mengadukan masalahnya.
"Papah dan Mamah tidak melarangmu memilih pilihanmu sendiri. Tetapi apa yang kau harapkan dari Balqis, gadismu itu...? tanya mamahnya menyela.
"Tapi, Pa..."
Balas Cevin.
"Tapi apa...?" tanya pak Efendi. Cevin tidak langsung menjawab. Dia terdiam menunduk, seakan akan kebimbangan terpancar dari wajahnya. Bimbang akan masalah yang hendak dia katakan. Apakah dia harus mengatakan hal yang sebenarnya? Bahkan Balqis sudah hamil?
"Kenapa? Mengapa kau diam? Katakanlah, ada apa sebenarnya, Cevin...?" tanya papahnya mendesak, dengan mata memandang ke wajah anaknya. Ingin mengetahui masalah yang sedang ada dalam pikiran anaknya dan kini menjadi perdebatan antara anak dan istrinya.
"Balqis hamil,. Pah."
Ucap Cevin lirih.
"Kau yang melakukannya?" tanya Pak Efendi sambil memandang ke wajah anaknya, meminta jawaban dari anaknya secara jujur.
Cevin dengan menundukkan kepala, mengangguk.
"Apa?! Jadi...," suara mamahnya Cevin terputus.
Kini hanya matanya saja yang masih lekat memandang tajam ke arah anaknya yang masih diam sambil menundukkan kepala.
"Tidak, Cevin! Mamah tidak setuju kau menikah dengannya. Bagaimana juga, kau harus menikah dengan Nabila."
Ucap Selly.
"Tapi, Ma..."
Balas Cevin.
Cevin hendak menyela, ketika dengan cepat papahnya menengahi.
"Begini saja, Vin. Papah mengerti akan keinginanmu. Tentunya kau ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Balqis. Namun bagaimana juga, kau harus mempertimbangkan kembali nama baik dan hubungan baik papah serta mamahmu dengan Om dan Tante Sutikno. Jadi lebih baik kita ambil jalan tengahnya saja, agar semuanya berjalan baik," kata Pak Efendi bijaksana.
"Kau, tetaplah bertanggung jawab atas, perbuatan yang telah kau lakukan pada Balqis. Kau nikahi Balqis, namun dengan syarat setelah bayi yang dikandungnya lahir, ceraikan Balqis. Kemudian kau nikahi Nabila. Papah mau menanggung anakmu sampai dia besar dan berhasil. Sebab anak yang dikandung oleh Balqis, bagaimana pun merupakan cucu Papah. Bahkan, kelak anakmu akan mendapatkan seperlima dari kekayaan Papah. Dengan kata lain, anakmu dari Balqis mempunyai saham di perusahaan papah saat ini."
Jelas Pak Efendi.
"Itu tidak mungkin, Pah," sela istrinya tak setuju.
"Apa yang tidak mungkin? Kita toh bisa memberi alasan pada Mas dan Mbak Sutikno kalau pernikahan di undur setahun sambil menunggu anak kita tamat, Mah." Pak Efendi masih tetap menunjukkan kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.
Namun kelihatan istrinya tak setuju dengan jalan tengah yang diambil suaminya. Selly ingin anaknya meninggalkan Balqis saja dan menikah dengan Nabila.
"Pokoknya Mamah tak setuju. Titik...!" tegas mamahnya Cevin tetap pada pendiriannya. Dan tak seorang pun dari keluarga itu yang membantah. Semua terdiam. Tak ada yang membantah atau memprotes keputusan mamahnya Cevin. Suasana seketika berubah menjadi kaku. Bisu dan...!!!
Dan suasana pagi itu juga, seketika menjadi hambar. Nafsu makan seketika hilang. Cevin langsung bangun dari duduknya, kemudian berlalu meninggalkan ruang makan di mana kedua orang tuanya dan adiknya hanya bisa terdiam membiarkannya pergi.
"Seharusnya mamah tidak terlalu kaku terhadapnya, Mah," kata pak Efendi berusaha meyakinkan istrinya, kalau Cevin sudah dewasa, bukan anak kecil. Kalau sudah selayaknya Cevin dibebaskan menentukan pilihannya sendiri. "Dia sudah dewasa. Bukan anak-anak lagi. Sudah sepantasnya dia diberi kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri..."
Ucap Pak Efendi.
"Ala... papah tahu apa? Apa papah tahu siapa Balqis itu?"
Tanya Selly.
"Memangnya siapa Balqis?"
Tanya Efendi.
"Dia anak orang miskin. Apa papah tidak tahu rencananya? Dan juga rencana mamahnya dengan menjadikan Balqis sebagai tumbalnya...!" tegas mamahnya Cevin masih bersikeras dengan sikapnya, kalau dia tetap tidak setuju jika Cevin menikah dengan Balqis.
"Memang apa rencana mereka?"
Tanya Efendi.
"Mereka terutama mamahnya, ingin menguasai harta kekayaan kita, Pah..."
Balas Selly.
"Jangan menuduh sembarangan, Mah." Balas Efendi.
"Aku tidak menuduh. Tapi itu bukti, Pah... Sudah tahu dari pertama kali aku tidak setuju Cevin berhubungan dengan gadis itu. Eh, dasar ganjen, gadis itu tetap nekad menjalin hubungan dengan Cevin. Bahkan dengan sengaja menyeret anak kita ke dalam jebakannya. Huh, mereka kira dengan kehamilan Balqis, Cevin akan begitu saja dapat mereka kuasai! Tidak, Pah... Nabila akan datang. Dan Cevin harus menikah dengan Nabila," tegas mamahnya Cevin dengan wajah bersungut-sungut.
"Tapi bagaimana pertanggung jawaban anak kita pada Balqis, Mah...? Gadis itu hamil oleh anak kita..."
Balas Efendi.
"Perduli amat dengan gadis centil itu. Dia sendiri yang menyodorkan dirinya. Cevin tak salah. Seharusnya, gadis itu tahu diri dong,.."
Ucap Selly masih dengan pendiriannya yang tidak menjadikan sebuah solusi untuk permasalahan yang di hadapi Cevin tersebut.
Efendi hanya bisa menarik napas dalam-dalam mendengar ucapan istrinya.. Rasanya dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu anaknya. Di rumah itu, istrinya jauh lebih berkuasa dibandingkan dirinya. Memang semua salahnya. Kenapa dulu dia senantiasa mengalah pada istrinya. Harta kekayaan yang mereka miliki, memang warisan dari orang tua istrinya. Namun sebagai seorang lelaki, tidak seharusnya Efendi bersikap lemah dan senantiasa mengalah. Kini semua sudah terlanjur, tidak mungkin dibenahi dari awal lagi. Ibarat nasi, sudah menjadi bubur. Tak bisa dijadikan beras lagi.
"Terserah mamah... Aku mau berangkat ke kantor." Jawab Efendi.
"Calon menantu kita mau datang, Pah. Sebaiknya kau tak perlu ke kantor. Toh kantor dan perusahaan itu milik kita sendiri sekarang," kata mamahnya Cevin melarang suaminya pergi.
Efendi hanya bisa menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1
Sebenarnya dia ingin membantah kemauan istrinya. Namun dia tak sanggup. Dan kembali, dia harus menuruti kemauan istrinya.
Meski hatinya kesal, namun akhirnya Cevin pun menurut pergi ke bandara untuk menjemput Nabila.