LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 66 : PERTENGKARAN TERBUKA


__ADS_3

Tidak ada kesempatan bagi Balqis kembali ke bangkunya, karena Toni bercokol di sana seakan cowok itu bagian dari bangku itu sendiri. Sepertinya dia sedang mempersiapkan rohnya jadi penunggu tetap bangku itu, kalau nanti mendadak mati. Toni sama sekali tidak pergi!


Dua kali jam istirahat, Cevin yang membelikan Toni makanan. Setelah mengenyangkan perutnya sendiri di kantin, cowok itu kembali ke kelas dengan membawa pesanan mantan teman sebangkunya itu.


Hal yang sama juga dilakukan Balqis. Jam istirahat pertama ia tetap nongkrong di kelas, berharap Toni akan beranjak ke kantin. Tapi cowok itu tidak bergerak sedikit pun. Untuk meredam perut laparnya, Balqis titip somay pada Ranti, plus air mineral.


Di jam istirahat kedua, menyadari Toni tidak akan meninggalkan bangku barunya, akhirnya Balqis keluar kelas menuju kantin.


"Makan tu bangku!" desisnya ketika melewati Toni, cowok itu tertawa geli.


Sampai kantin, Balqis memesan semangkuk es campur lalu mencari tempat kosong. Ia tidak ingin bergabung dengan siapa pun karena sedang malas bicara. Tapi baru saja ia akan duduk, terdengar panggilan Ranti. Mantan teman sebangkunya itu sedang menyantap bakso. Sendiri.


"Lo makan sendirian?" tanya Balqis sambil meletakan mangkuk es campurnya di depan Ranti.


"Iyalah!" Ranti menjawab kesal. "Lo kira gue mau bilang apa kalo ditanya-tanya soal Toni? Sarap tu cowok. Kok bisa mendadak ada kejadian begini sih, Qis?" Tanya Ranti.


"Aduh, nggak tau deh, Ran. Gue juga bingung. Ya gara-gara si Cevin aneh gitu, makanya gue tunggu dia di bangkunya tadi pagi. Cuma mau minta penjelasan. Eh, jadi duduk sebangku." Jelas Balqis. "Nggak bisa balik lagi?"


"Lo liat sendiri, si Toni nggak ninggalin bangku gue sama sekali. Kalau dia mau ke toilet, pas jam pelajaran, kan ada guru. Jadi Nggak mungkin gue serobot lagi tuh bangku." Balas Balqis.


"Iya sih…!" Ranti mengangguk. "Besok lo dateng pagi-pagi aja." Lanjut Ranti.


"Gue juga udah mikir gitu." Balqis mengaduk es campurnya. "Makan tuh bakso. Keburu dingin."


Keduanya lalu terdiam. Menikmati bakso dan es campur tanpa mengeluarkan suara lagi.


***


Siang itu dua manusia pulang ke rumah masing-masing dalam kebingungan yang sama. Kok bisa ya, mereka tiba-tiba jadi teman sebangku? Teman sebangku yang ke depannya bakalan kisruh. Bakalan runyam. Dan dipastikan bakalan bikin emosi.


Turun dari bus, Balqis berjalan menuju rumahnya dalam keadaan setengah sadar. Ia sama sekali tak menyangka tindakannya menduduki bangku Cevin, supaya keanehan cowok itu yang bikin kesal cepat mendapatkan penjelasan, malah berakibat mereka jadi duduk sebangku begini. Dan ternyata, selain aneh, Cevin juga galak banget.


Balqis menarik napas lalu mengembuskannya kuat-kuat. Terpaksa besok ia datang ke sekolah pagi-pagi banget untuk merebut kembali bangkunya dari Toni. Cuma itu satu-satunya cara agar cukup hari ini dirinya sebangku dengan Cevin.


Cukup hari ini.. !!!


Di saat yang sama, ditempat berbeda, begitu turun dari bus Cevin berjalan ke rumah dalam kondisi setengah sadar. Tiba-tiba saja ia sebangku dengan Balqis, cewek yang sangat ingin ia maki-maki sampai rasa sesak di dadanya berkurang. Atau kalau itu telalu kejam, akan digantinya dengan memeluk cewek itu sampai semua tulang-tulangnya patah.


Yang jelas, Balqis harus tetap jomblo sampai ia mengizinkan cewek itu punya pacar. Untuk satu hal ini Cevin merasa perlu mengatakannya secara lisan, dengan kata-kata tang jelas dan gamblang, agar tidak alasan bagi Balqis untuk berlagak tidak paham.


Cevin tidak mau menunggu. Ia langsung menegaskan soal itu tadi, di hari mendadak Balqis jadii teman sebangkunya.


"Inget ya, Balqis. Lo jangan berani-berani punya cowok tanpa izin gue!" Ucap Cevin.


Balqis kontan ternganga. "Bokap gue, yang ngasih gue duit jajan aja nggak ngelarang kok." Ucap Balqis.


"Itu urusan bokap lo. Yang jelas gue ngelarang!" Balas Cevin.

__ADS_1


Waaaah, sakit jiwa nih orang! desis Balqis dalam hati. Tapi ia berusaha tidak membantah lagi. Bukan karena takut, tapi kalau ia tetap ngotot protes, dijamin mereka berdua akan saling teriak dan saling bentak. Males banget belom-belom udah punya musuh.


Besoknya, Balqis tiba di sekolah pagi sekali, untuk merebut bangkunya kembali. Tapi ternyata ada yang datang lebih pagi lagi. Di bangku barunya, Toni menyambut kedatangan Balqis dengan senyum geli yang segera berubah jadi tawa terkekeh. Balqis tercengang mendapati kenyataan itu. Dihampirinya Toni dengan langkah-langkah cepat.


"Elo nginep ya? Masa jam segini udah sampe sekolah?" tanya Balqis.


"Nah elo juga, jam segini udah sampe sekolah," balas Toni.


"Elo pasti disuruh Cevin datang pagi-pagi. Iya, kan?" Balas Balqis.


"Nggak. Gue sendiri yang mau." Jawab Toni.


"Bohong!" Jawab Balqis.


"Iya. Gue udah tau lo hari ini pasti bakalan dateng pagi-pagi. Makanya gue dateng pagi-pagi juga."


Kalimat itu membuat Balqis jadi cemberut. Toni ketawa geli melihatnya.


"Kan elo sendiri yang kemaren sukarela pindah ke belakang? Berarti ini udah bukan bangku lo lagi, Qis." Ucap Toni asal.


"Siapa bilang? Cevin aja tuh yang maksa." Balas Balqis.


"Ya kalo gitu kita tunggu Cevin aja. Nanti kita tanya dia, boleh nggak lo balik ke bangku lo lagi. Kalo gue sih mau aja pindah ke belakang lagi, asal Ranti pindah juga." Balas Toni.


"Itu mah sama aja, lagi. Tetep aja judulnya gue semeja sama Cevin. Kenapa sih mesti nunggu tuh orang dateng? Lo takut dimarahin ya?" Balas Balqis.


"Bukan. Itu sih nggak masalah. Gue takut dipeluk trus dicium! Hiiiyyy!" ucap Toni dengan ekspresi sungguh-sungguh. Kembali ia ketawa geli ketika dilihatnya Balqis makin cemberut. Cewek itu sudah akan menjatuhkan diri ke bangku Ranti, tapi Toni buru-buru menghalangi dengan meletakan kedua telapak tanganya di sana. "Eh! Eh! Ini bangkunya yayang gue." Ucap Toni.


"Gue mau nungguin Ranti," Balqis beralasan.


"Ya nunggunya di bangku lo sendiri dong sana. Jangan di sini, ntar kalo udah duduk, jangan-jangan lo nggak mau pindah lagi." Balas Toni nggak mau kalah.


"Reseh!" desis Balqis.


Gagal...!!!


Balqis berjalan ke bangku barunya tanpa semangat. Percuma gue bangun sebelum subuh! gerutunya dongkol. Cevin ternyata juga punya pikiran yang sama.


Toni memengikuti langkah Balqis dengan tatapan dan senyum geli. Ia tidak tahu ada masalah apa antara Cevin dan Balqis. Cevin tidak mau bercerita banyak. Cevin cuma bilang, ada masalah yang harus dikelarin sama si Balqis. Yang pasti, Toni memang melihat Cevin benar-benar marah sama Balqis.


Tak lama Cevin datang. Cowok itu berjalan masuk kelas sambil menatap Toni sekilas. Dari seringai geli Toni yang menyambutnya, Cevin tahu dugaannya kemarin benar. Tapi tidak perlu melihat tanda yang diberikan Toni pun jawabannya sudah terpampang jelas.


Di bangku barunya, Balqis duduk tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tampangnya marah. Begitu Cevin muncul di pintu kelas, Balqis sudah langsung menatapnya tajam-tajam, dan terus mengikuti langkah cowok itu. Begitu Cevin tiba di samping meja, Balqis langsung menyambutnya dengan pertanyaan.


"Lo pasti nyuruh Toni dateng pagi-pagi, kan? Supaya gue nggak bisa balik ke bangku gue. Iya, kan?" Tanya Balqis.


Cevin tidak langsung menjawab. Dengan tenang ia memasukan dulu ranselnya ke laci. Kemudian cowok itu duduk di bangkunya, di sebelah Balqis, baru kemudian ia menoleh. Ditatapnya Balqis tepat di manik mata.

__ADS_1


"Iya!" Cevin menjawab tandas. "Kenapa? Mau protes?" tantangnya kemudian.


Tampang marah Balqis seketika berkurang. Cevin mengubah posisi duduknya jadi benar-benar menghadap Balqis.


"Gue kasih tau rencana gue, ya. Gue udah minta Toni dateng pagi-pagi sampe hari sabtu nanti. Setelah itu terserah dia. Jadi lo baru bisa balik ke bangku lo lagi hari senin. Tapi itu pun lo bisa duduk di sana lagi paling-paling cuma selama gue belom dateng. Begitu gue udah dateng, lo akan gue seret balik ke sini…." Balas Cevin.


Ekspresi marah di muka Balqis sekarang benar-benar hilang. Berganti dengan ketercengangan. Tadinya Cevin mau menyudahi kalimatnya, tapi ekspresi Balqis membuatnya ingin meneruskan.


"Lo pasti mau tanya kenapa. Iya, kan?" Bakqis mengangguk. Saking tercengangnya, ia sampai lupa dengan niatnya mau marah-marah. Cevin tersenyum tipis.


"Pertama, lo akan menganggu usaha pendekatan temen gue. Itu juga bakalan bikin gue marah, Qis. Kedua, lo yang dateng ke sini. Jadi lo nggak bisa pergi seenaknya!" Ucap Cevin.


Setelah menyelesaikan kalimatnya dan puas karena Balqis tidak bisa membantah, baru Cevin mengubah posisi duduknya. Balqis bukan saja tidak bisa membantah, tidak bisa bicara lagi malah. Karena itu, selama beberapa saat cewek itu hanya mampu memandang Cevin yang mulai sibuk mengeluarkan alat tulis dan buku-buku untuk jam pelajaran pertama. Tapi ketika ketercengangannya sudah hilang, Balqis tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Kenapa sih lo suka marah-marah?" Tanya Balqis.


Cevin tidak menjawab. Sibuk memeriksa kembali Pekerjaan Rumah biologi yang baru dikerjaannya subuh-subuh tadi. Balqis menunggu beberapa saat. Ketika Cevin tidak juga menjawab, ia ulangi pertanyaannya.


"Hei! Halo? Halo! Kenapa sih lo suka marah-marah?" Ucap Balqis.


Baru Cevin menoleh dan sorot matanya langsung tidak menyenangkan.


"Gue lagi ngecek Pekerjaan Rumah nih, Qis. Jangan ganggu. Ntar gue marah." Balas Cevin.


"Ya itu maksud gue. Kenapa lo doyan banget marah sih? Duit jajan lo dikit, ya? Atau lo sebenernya anak pungut, jadi di rumah teraniaya. Disuruh kerja melulu. Soalnya gue masih inget, lo bilang muka kakak sama adik lo mirip. Muka lo doang yang beda. Jadi bisa aja lo ini sebenernya anak pungut. Jadinya teraniaya, dalam tanda kutip lho. Kurang kasih sayang gitu. Dan kerena di rumah lo nggak berani protes, jadi lo marah-marahnya ke gue. Iya, kan? Pasti begitu!" Balqis menyerocos panjang dan diakhiri dengan mengambil kesimpulan.


Cevin meletakan bolpoinnya dengan geram.


"Pagi-Pagi udah bikin fitnah!" Ia menoleh sambil mendesis. Mulai marah. "Kalo tiba-tiba gue marah-marah, mending lo terima. Dengerin aja. Nggak usah nanya macem-macem. Apalagi balik marah-marah!" Ucap Cevin.


"Kok gitu? Enak aja. Mana bisa begitu?" Balas Balqis.


"Supaya gue nggak tambah marah, tau!" bentak Cevin. Belum-belum sudah marah-marah.


Wah!? Balqis tercengang.


"Yang namanya marah atau kesel, pasti ada alasannya, tau! Ntar lo keselnya sama orang lain, trus gue yang kena, lagi!" Ucap Balqis.


"Nggak. Kalo gue marah-marah, udah pasti itu gara-gara elo. Jadi mending terima aja. Jangan tanya-tanya lagi. Jadi gue nggak tambah marah!" Balas Cevin.


Balqis dan Cevin tidak menyadari bahwa sebentar lagi bel masuk berbunyi dan semua penghuni kelas sudah menempati bangku masing-masing, jadi seisi kelas menyaksikan pertengkaran mereka.


Dan pertengkaran terbuka itu jelas merupakan tontonan menarik sebelum dua jam pelajaran biologi disusul dua jam pelajaran kimia yang bisa bikin rambut ngejagrik.


Balqis sibuk melotot dan setengah mati berusaha agar kejengkelannya tidak meledak. Sementara itu Cevin juga sibuk menahan diri agar kemarahan dan kebenciannya pada Balqis yang sudah dalam bentuk lahar, mendidih, dan merah, tidak menggelegak keluar.


Mereka baru berhenti bersitegang setelah menyadari suasana kelas yang hening. Senyap. Keduanya lalu menatap berkeliling dan mendapati semua mata sedang tertuju lurus-lurus ke arah mereka berdua. Penuh perhatian dan ketertarikan.

__ADS_1


"Apa liat-liaaaat!?" seru Cevin. "Seneng ya liat orang berantem?" Lanjutnya.


Seruan Cevin itu membuat semua teman sekelasnya, terutama yang cowok, menyeringai lebar. Sementara yang cewek-cewek memberikan beragam reaksi. Ada yang tertawa kecil, ada yang senyum-senyum, tapi ada juga yang geleng-geleng kepala dengan ekspresi yang seolah mengatakan, "Nggak tau malu banget sih berantem di kelas!"


__ADS_2