
"Jika kalian ingin benar-benar membantu, cegahlah Cevin agar jangan menggangguku lagi. Entah bagaimana
caranya agar Cevin bisa melupakan aku. Itu saja bantuan yang kuharapkan dari kalian. Dan bagaimana caranya supaya Cevin dapat hidup rukun bersama istrinya."
Jelas Balqis.
Queena memandang dalam-dalam wajah Balqis, kemudian beralih bersitatap dengan Ranti. Lantas kedua perempuan itu saling mengangguk setuju.
"Permintaanmu akan kami laksanakan," ujar Queena.
"Jika itu benar-benar kau laksanakan, kalian akan kuanggap sahabat yang baik."
Balas Balqis.
"Kalau kau sampai pindah dari sini, tolong beri alamat kepada kami. Setiap ada kesempatan kami akan menjengukmu. Dan percayalah kepada kami, tempat tinggalmu tak akan kami beritahu kepada Cevin."
Ucap Queena.
"Baik. Asalkan kalian mau berjanji"
Jawab Balqis.
"Tentu. Kami tidak ingin mengecewakanmu."
Balas Queena kembali.
Setelah itu Ranti dan Queena mohon diri. Balqis saat ini mulai dapat menemukan kawan yang sehati. Mudah-mudahan hati mereka seperti apa yang diucapkan.
Jujur dan tulus hatinya...!!!
***
Uang simpanannya terpaksa digunakan untuk membayar kontrak rumah. Padahal uang itu untuk persediaan bila tiba saatnya bayi dalam kandungan lahir. Uang itu didapat dengan jerih payahnya sewaktu bekerja jadi gadis mode dan membintangi film-film iklan.
Pagi itu Balqis sedang membenahi seluruh pakaiannya dan dipindahkan ke koper. Hari itu juga dia akan pindah ke rumah kontrakan yang baru. Tujuannya untuk menghilangkan jejak dari pencarian Cevin. Dengan tempat tinggal yang baru, tak mungkin Cevin bisa menemuinya lagi.
Sebelum pergi Balqis masih ingin mengajak suaminya. Maka ditemui suaminya yang sedang duduk di kursi roda. Di ruang tengah yang hening.
"Mas Sigit, mari kita tinggalkan tempat ini," ajak Balqis penuh harap.
"Pergilah sendiri," sahutnya dingin.
Balqis jadi sangat kecewa.
"Siapa nanti yang akan merawat dan memperhatikan mas Sigit kalau masih tinggal di sini seorang diri." Kedua mata Balqis mulai berair.
"Aku masih bisa mengurus diriku sendiri."
Jawab Sigit.
"Jadi mas Sigit sudah tidak membutuhkan perawatan dan kasih sayang Balqis lagi?" Tanya Balqis.
"Ya. Sebab kau seorang istri yang tidak setia. Istri yang nista," kecam Sigit.
Balqis tak kuasa menahan tangisnya. Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan suaminya yang cacat itu. Namun kalau dia tetap tinggal di rumah itu, persoalan dengan Cevin tak akan selesai. Laki-laki itu akan datang setiap saat dan mengganggu ketentramannya. Terus mengejarnya sampai dapat. Justru diambilnya jalan itu agar tidak bisa bertemu lagi dengan Cevin. Bisa memutuskan hubungan dengan laki-laki itu. Dan semuanya itu untuk tetap mempertahankan kesetiaannya terhadap suami.
Namun penilaian suaminya lain...!!!
__ADS_1
Malah menganggapnya ingin lari dari suaminya yang cacat dan mencari jalan bisa bebas hidup dengan Cevin.
Biarkan saja...!!!
Biarkan suaminya mempunyai anggapan begitu. Yang penting dia bisa menghindari laki-laki yang selalu memburunya itu. Suatu saat suaminya akan tahu betapa besar pengorbanannya. Lalu dia berlutut di bawah pangkuan suaminya. Sambil menangis diciumnya kedua tangan laki-laki yang duduk di kursi roda itu.
"Maafkanlah semua kesalahan Balqis, Mas. Balqis pergi untuk mencari ketentraman hati. Suatu saat bila Tuhan masih memberiku umur panjang, pasti kita akan bersama lagi," pamit Balqis di sela-sela isak tangisnya yang menyayat.
Sigit cuma menatap langit-langit rumah. Kedua matanya dirasa hangat dan setitik air mata perlahan sekali jatuh di pipinya. Perpisahan itu sebenarnya merobek-robek laki-laki yang menderita cacat ini. Dia akan ditinggalkan istri yang amat dicintainya.
"Jangan membenci Balqis ya, Mas? Bukankah Balqis sudah mengakui semua kesalahannya? Balqis memang nista. Tapi Balqis tetap akan setia pada mas Sigit. Balqis pergi justru ingin menunjukkan betapa besarnya kesetiaan Balqis padamu. Bekalilah kepergian Balqis dengan doamu. Terimalah setiap saat Balqis datang menjengukmu. Merawatmu."
Ucap Balqis sedih.
"Pergilah. Pergilaaaah!" pekik Sigit dengan perasaan hancur lebur.
Balqis mencium lutut laki-laki itu. Air matanya membasahi celana yang dipakai Sigit.
"Balqis mohon diri Mas..." suaranya serak parau. Lalu dia bangkit dan mengambil kopernya. Dengan langkah-langkah berat ditinggalkan suaminya yang tertunduk menitikkan air mata. Sesampainya di ambang pintu langkahnya terhenti, lalu menoleh memandang suaminya yang masih tertunduk. Dan dengan segenap kekuatan perasaan lantas ditinggalkan suaminya itu.
Langkah-langkah Balqis yang limbung menyusuri trotoar. Betapa beratnya hati meninggalkan suaminya terpaksa dilakukan. Dia pergi bukan untuk lari dari suaminya, tapi menghindari Cevin yang senantiasa mendesak untuk menikahinya. Hanya inilah jalan satu-satunya untuk menunjukkan kesetiaannya terhadap suami.
Semua kesalahannya akan ditebus dengan cara tetap setia. Maka di hatinya tidak ada kata selamat tinggal untuk suaminya, namun akan ditunjukkan sampai sejauh mana kesetiaannya.
Dengan naik taxi, Balqis menuju ke rumah kontrakannya yang baru. Rumah itu lebih kecil dibandingkan dengan rumah yang dikontrak bersama suaminya. Meskipun begitu dia akan dapat merasa tenang di situ. Yah, dia berharap memang begitu. Tidak akan diganggu lagi oleh Cevin.
Dan hari selanjutnya dia mulai bekerja di perusahaan asuransi. Pekerjaan yang cukup melelahkan karena harus mendatangi setiap kantor. Menawarkan agar perusahaan itu mau menjadi anggotanya. Pengalaman baru mulai dirasakan olehnya. Demi kelangsungan hidupnya, Balqis tak pernah mengeluh. Pekerjaan itu dijalaninya dengan lapang dada.
***
Queena melarikan mobilnya dengan cepat menuju rumah Cevin. Sesaat dia melihat jam yang ada di dalam mobil. Masih jam sembilan pagi. Mudah-mudahan Cevin belum berangkat ke kantor. Ada hal yang penting untuk disampaikan pada kakaknya itu. Hal mengenai Balqis yang pergi meninggalkan suaminya. Memang sengaja pagi itu Queena ingin menemui Balqis untuk membantu memasukkan pekerjaan di perusahaan miliknya.
Benar-benar kukuh pendiriannya, pikir Queena yang tak habis mengerti tindakan yang dilakukan perempuan itu. Senekad itu menempuh jalan hidup tanpa memikirkan resiko penderitaan.
Mobil Queena telah memasuki halaman rumah Cevin. Perasaannya jadi lega lantaran melihat mobil Cevin masih ada di depan garasi. Tapi dia merasa kurang senang melihat taman di halaman rumah tidak terurus. Keadaan rumah penuh debu dan nampak suram. Dia dapat menebak kalau penghuninya tidak pernah merawatnya. Tidak seperti rumah-rumah di sekitarnya. Rapi, bersih dan tanaman yang tumbuh kelihatan segar menghijau.
Queena melompat turun dari mobil. Dia dapat bergerak bebas karena memakai celana jeans dan berkaos merah. Lalu dia melangkah masuk ke ruang tamu. Alangkah terperangahnya dia. Di kursi panjang Cevin masih tidur pulas. Di lantai banyak muntahan yang baunya minuman keras. Tak salah lagi, pasti semalam Cevin mabok. Maka buru-buru di dekati laki-laki itu dan membangunkannya.
"Bangun! Hee bangun! Hari sudah siang," seru Queena dengan menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya sambil mengedarkan pandangan ke seputar dalam rumah. Sepi sekali, pikir Queena. Ke mana Nabila? Dan Nabila tak lama keluar dari kamar sudah berpakaian rapi. Membawa map yang berisi buku-buku catatan kuliah. Queena jadi bengong menatap perempuan itu.
"Hay Queena," sapa Nabila yang keramahannya nampak dipaksakan.
"Hay juga," balas Queena tak bersemangat. Lalu dia terus membangunkan kakaknya. "Bangun! Ayo bangun!" Cevin menggeliat lagi. Kemudian membuka matanya sambil memijit-mijit pelipisnya. Rasa pusing masih di rasa menyerang kepalanya.
"Berangkat dulu, Queena," pamit Nabila sambil melangkah pergi.
Queena mendengus kecil. Dengusnya agak kesal. Dan diperhatikan Nabila yang berjalan gemulai menuju ke jalan. Lalu menyetop taxi. Taxi itu segera membawa Nabila pergi.
Cevin duduk lesu di kursi itu. Sedangkan Queena menggeleng-gelengkan kepala kesal menatap kakaknya.
"Tidak disangka kakakku yang dulu suka mempermainkan gadis-gadis akhirnya jadi begini nasibnya," ejek Queena.
"Heee kamu ini ngomong apa?"
Balas Cevin.
"Ngomong perbuatanmu yang semakin tidak karuan."
__ADS_1
Balas Queena kesal.
"Kau tahu apa sih?" ketus Cevin tak mau Queena ikut campur persoalannya.
"Tahu persis segala-galanya. Ya tentang Nabila ataupun Balqis."
Ucap Queena.
Cevin terperangah. Lalu ditatapnya Queena dalam-dalam.
"Apa saja yang kau ketahui," tanya Cevin yang tak acuh sambil menyulut rokoknya.
"Nabila yang tak acuh padamu, Balqis yang hamil dan kabur meninggalkan suaminya."
Balas Queena.
Cevin terperanjat. Pantatnya bagai ditusuk oleh jarum.
"Dari mana kau tahu Balqis kabur meninggalkan suaminya?"
Tanya Cevin.
"Barusan aku ke rumahnya."
Balas Queena.
"Kaburnya ke mana?" Tanya Cevin.
"Tidak tahu. Soalnya kau terlalu kejam dan tidak punya prikemanusiaan," kecam Queena tanpa bada basi.
"Heee ngomongmu jangan seenaknya."
Balas Cevin.
"Kau kira aku tidak tahu kalau kau menyuruh Wisnu memecat Balqis dari pekerjaannya? Kau mengatakan bahwa Balqis adalah istrimu. Bahwa Balqis sedang hamil. Dan kau mengancam akan menuntut ke pengadilan kalau Wisnu tidak segera memecatnya. Ya kan?!"
Jelas Queena.
Cevin tertunduk diam. Apa yang dikatakan Queena tak dapat disangkal lagi. Semuanya benar. Maka untuk mengurangi ketegangannya dihisap rokok itu berkali-kali.
"Seharusnya kau tidak bertindak sekejam itu. Karena
Balqis membutuhkan biaya hidup. Membutuhkan uang untuk memeriksakan kandungannya ke dokter. Namun kalau dia sudah tidak bekerja lagi, darimana dia bisa mendapat uang? Sama juga kau membuat hidupnya tambah menderita."
Jelas Queena.
"Cukup Queena, jangan kau teruskan kata-katamu itu," suara Cevin terdengar serak.
"Perempuan semacam Balqis harus dilindungi dan dikasiani. Hidupnya adalah kering dan tandus. Bukan malah memenggal jalan hidupnya. Seharusnya kau menolong hidupnya jangan sampai tak menentu. Maka tidak bisa disalahkan jika dia jadi sangat membencimu."
Lanjut Queena menjelaskan.
"Cukuuuuup!" teriak Cevin jengkel.
Queena mendesah dan berpisah tempat duduk.
"Kau tahu, aku berbuat begitu karena sangat mencintainya. Aku tak ingin dia jadi gadis mode." Ucap Cevin.
__ADS_1
"Lantas kalau sudah begini apa yang akan kau lakukan? Balqis telah pergi tanpa ada seorang pun yang tahu tempat tinggalnya. Suaminya yang ditinggalkan tak ada yang merawatnya lagi Apakah ini tindakanmu tidak membikin orang lain menderita? Dia pergi hanya semata mata ingin menghindari darimu. Dia sangat benci padamu karena kau kejam! Kau egois!"
Kecam Queena kemudian.