
Fadly melayangkan pandangannya ke arah pohon tinggi yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Suasana yang tidak begitu tenang, malah nyaris gelap membuat pohon itu bagaikan sebuah bayangan raksasa yang sedang mencari mangsa. Apalagi saat angin mempermainkan daun-daunnya yang rimbun, meniupnya ke kanan dan ke kiri semakin tampak sangat mencekam.
Dan Fadly pun menarik napasnya melihat itu. Haruskah ia mengikuti saran Zahra kekasihnya itu untuk kawin lari?
Haruskah ia meninggalkan ibunya yang sudah menjanda dengan tiga adiknya yang masih kecil?
Kalau ya, siapa yang akan membantu keluarganya mencari nafkah?
Sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu, otomatis beban keluarga pun jatuh di pundaknya, la harus bekerja setiap harinya untuk mendapatkan uang dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Ibunya yang sudah tua pun tidak mau tinggal diam melihat putra sulungnya bekerja membanting tulang untuk biaya hidup mereka sehari-hari, maka ia pun ikut membantu dengan berjualan nasi uduk, goreng pisang dan bubur ayam setiap paginya di depan rumahnya.
Dan saat ini Zahra, gadis yang sangat-sangat dicintainya mengajaknya untuk kawin lari, itu kan bukannya sama saja dengan menyuruhnya melepaskan tanggung jawabnya terhadap ibu dan adik-adiknya. Ah, tegakah ia melakukan hal itu?
"Bagaimana, Dly?" pertanyaan Zahra kembali mengusik lamunannya. Dilihatnya betapa gadis itu menatapnya penuh harap yang sangat besar.
"Rasanya... aku tak berani, Ra," desis Fadly lirih kemudian, hampir tak terdengar.
Dibuangnya pandangannya ke arah lain agar ia tak melihat kalau gadis itu memandangnya dengan sangat kecewa.
"Fadly!" teriak Zahra. gadis itu terperangah mendengar jawaban yang sungguh tidak di duganya itu. "Kamu... kamu sudah tak mencintaiku lagi?" lanjut Zahra dengan nada yang penuh kekecewaan.
"Bukan masalah itu, Ra," ucap Fadly kemudian dengan suara yang tercekat di tenggorokan. "Aku tidak tega kalau sampai meninggalkan keluargaku. Kamu tahu kan, selama ini aku yang menjadi tulang punggung bagi kehidupan keluarga kami? Bahkan hasil kerjaku saja tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya lainnya, sampai ibuku pun ikut membantu mencari uang. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka?" ucap Fadly menjelaskan.
Seketika itu juga bibir Zahra terkatup dan terasa keluh mendengar alasan yang diberikan Fadly kekasihnya itu padanya.
__ADS_1
Kalimat itu sebenarnya memang tidak berlebihan karena benar adanya selama ini Fadly lah yang bekerja membanting tulang untuk kehidupan keluarganya, bagaimana mungkin ia tega meninggalkan keluarganya begitu saja?
Tapi, tidakkah Fadly memikirkan kesulitannya saat ini?
Tidakkah Fadly memikirkan betapa kalutnya perasaannya saat ini?
Apakah ada hal lain yang dapat memberikan jalan keluar hingga ia terbebas dari perkawinan paksa itu?
"Aku mengerti dengan keadaan keluargamu, Dly," sahut Zahra kemudian setelah beberapa saat terdiam. "Selama ini kamulah yang menjadi harapan dan tumpuan mereka. Tapi, tidakkah kau kasihan padaku? Relakah kau melepaskanku ke
pelukan lelaki lain yang sesungguhnya tak kucintai? Kalau saja kau tahu, betapa cintaku hanya untukmu seorang, Dly. Betapa kaulah yang telah mencuri cinta pertamaku dan membuatku beranggapan hanya kaulah satu-satunya laki-laki yang pantas menjadi suamiku." ucap Zahra mulai terasa lirih dan serat dari nada suaranya dan butiran air mata menggenang di kedua kelopak matanya yang indah.
"Zahra," teriak Fadly, cowo' itu segera memeluknya erat-erat. Betapa tersentuh hatinya mendengar pengakuan yang penuh kejujuran dari gadis yang dicintainya barusan. Diciumnya rambut harum Zahra. "Maafkan aku, Ra. Maafkan aku. Aku mengerti kalau kau mencintaiku dengan setulus hati. Tapi, aku benar-benar tak dapat mengambil keputusan saat sekarang ini, Ra." jelas Fadly menjelaskan segala ke tidak mungkinan akan dirinya.
"Ucapanmu mencerminkan bahwa kau tidak mau peduli pada kesusahanku. Kau lebih mementingkan keluargamu dari pada aku," cetus Zahra dengan nada yang sinis.
"Zahra!" tukas Fadly cepat. Tak menyangka kalau kekasihnya akan menuduh seperti itu padanya, "Jangan kau berkata begitu! Mengertilah akan keadaanku,..." balas Fadly.
"Sudahlah," gadis itu menepiskan tangannya. "Aku tahu hatimu sekarang. Kau lebih mementingkan dan mendahului keluargamu ketimbang aku. Tidak layak rasanya aku mengharapkanmu." lanjut Zahra.
"Jangan bicara begitu, Zahra," Fadly mulai panik. "Biar kupikirkan matang-matang dulu apa yang harus kita perbuat nanti." jawab Fadly kemudian.
"Waktuku tidak banyak, Fadly. Sebaiknya putuskanlah sekarang apakah kau menyetujui usulku atau tidak," ucap Zahra dengan tegas.
__ADS_1
"Beri aku waktu untuk berpikir, Zahra. Aku tak dapat memutuskan secepat ini," sahut Fadly memelas.
Zahra menggigit bibirnya. Rasanya punah sudah harapannya untuk terus bersandar pada Fadly. Kelihatannya cowo' itu lebih cenderung memilih keluarga ketimbang dirinya.
"Rasanya tak ada lagi yang dapat kuharapkan darimu, Dly," ujarnya kemudian lemah. Ditahannya air mata agar jangan sampai jatuh di pipinya. "Aku tahu, kamu lebih berat meninggalkan Ibu dan adikmu..." ucapan Zahra terputus-putus karena menahan kesedihannya
"Sabarlah, Ra, aku akan membantumu mencarikan jalan keluar yang terbaik," ujar Fadly lagi berusaha meyakinkan.
"Tidak perlu, Dly," Zahra menggelengkan kepalanya. "Aku tak ingin merepotkan dirimu. Biarlah kucari jalanku sendiri. Selamat tinggal." tanpa berkata apa-apa lagi Zahra pun segera berlari meninggalkan Fadly yang sempat terperangah melihat sikapnya.
"Zahra, tunggu," pekiknya. Tapi terlambat. Zahra sudah semakin jauh dan bergegas naik ke sebuah kendaran umum yang kebetulan berhenti di dekatnya.
Cowo' itu cuma bisa termangu dengan hati kalut. Kenyataan yang diterimanya itu benar-benar memusingkan pikirannya. Dalam hatinya yang paling dalam ia amat menyayangi dan mencintai gadis itu, namun dia juga tak dapat meninggalkan keluarganya begitu saja. Dalam keheningan kembali Fadly menghempaskan napasnya yang terasa berat.
Dua hari kemudian kembali terdengar kabar yang cukup menyentakkan hatinya. Zahra telah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya, jenazanya di temukan terapung di sungai dengan sayatan benda tajam di bagian lengan bawah tangan kirinya.
Dari jauh Fadly cuma dapat melihat betapa orang tua gadis itu terpukul menerima kenyataan kalau anaknya Zahra, cewe' polos nan lugu dengan keadaannya saat ini.
Karena sebelumnya gadis itu memang tak pernah mengungkapkan akan pergi ke mana dan seperti apa?. Sungguh Fadly tak menyangka kalau Zahra akan senekat itu.
Begitu kuatnya pendirian gadis itu, hingga ia berani melakukan hal yang di larang oleh agama mana pun di karenakan hanya sebuah keinginan dari kedua orang tuanya yang di penuhi ambisi belaka. Zahra meninggalkan dunia ini untuk mempertahankan niatnya yang tak sudi dijodohkan dengan laki-laki yang tak dicintainya. Dan Fadly pun harus menerima kenyataan yang terjadi kemudian.
Sejak kejadian itu, Cindy dan Rangga suaminya meninggalkan kampung halamannya mengadu nasib di Jakarta karena duka yang sangat dalam. Cindy dan Rangga pun tidak berkabar ke siapa pun, mereka pergi seperti raib ditelan bumi.
__ADS_1
Dan itu terjadi sampai bertahun-tahun lamanya...!!!