LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 64 : PERTANYAAN YANG ANEH


__ADS_3

Cevin meletakan buket bunga yang sudah mulai layu itu di meja, persis di depan Balqis. Dengan bingung Balqis menatapnya. Yang pasti, buket bunga itu tadinya bagus. Kemudian mungkin membentur atau terbentur sesuatu atau jatuh, karena beberapa tangkainya patah dan berusaha ditegakkan kembali dengan selotip. Sesaat Cevin menatap Balqis tanpa bicara. Sorot matanya yang pekat dengan kesedihan membuat Balqis tak tega bertanya.


"Gue minta, dengan mohon malahan, please banget, Qis, tolong lo terima buket bunga itu. Dan jangan tanya apa-apa. Nanti kalo gue udah siap, gue akan cerita," ucap Cevin lirih. Balqis mengangguk. Cevin terlihat lega."Yuk, gue anter pulang." Lanjut Cevin.


Keduanya kembali menempuh perjalan yang dibalut keheningan total. Untuk Cevin, perjalanan yang di lalui ini membuatnya emosional. Pergi ke tempat saat-saat terakhir hidup Irfan. Dan Cevin benar-benar tidak sanggup meneruskan. Menjelang taksi berbelok ke ruas jalan tempat Irfan tewas terkapar, cowok itu minta taksi berhenti. Dadanya sakit, dia tidak sanggup lagi menahan.


"Stop di sini sebentar, Pak!" suaranya bergetar.


"Gue turun di sini, Qis. Berani kan, sendirian? Udah deket kok." Ucap Cevin.


Belum sempat Balqis menjawab, Cevin sudah membuka pintu di sebelahnya. Setelah meletakan beberapa lembar uang sebesar jumlah argo berikut tip di kursi depan yang kosong, cowok itu segera turun.


"Lho, kok? Vin…" kalimat Balqis tidak sempat selesai, karena Cevin sudah menutup pintu dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.


Balqis menatap kepergian cowok itu dengan kening berkerut, kemudian membuat sopir taksi melanjutkan perjalanan. Di sisa perjalanan yang tinggal sepuluh menit itu, Balqis tepekur menatap buket bunga cacat dipangkuanya. Bingung. Tidak mengerti.


***


Malamnya Cevin menelpon Sigit.


"Gue tunjukin foto Irfan ke Balqis tadi sore." Ucap Cevin.


"Trus?" Kata Sigit.


"Kayaknya dia nggak inget pernah kenalan." Ucap Cevin lagi.


"Ya wajarlah. Cuma satu kali mereka pernah sama-sama. Udah lama banget pula." Balas Sigit.


"Tapi gue nggak rela. Dia harus tau!" Balas Cevin, di seberang, Sigit menghela napas.


"Trus kalo dia udah tau, lo mau apa? Biar dia merasa bersalah, gitu? Pada hal dia sama sekali nggak salah." Balas Sigit kembali.


Cevin terdiam. "Pokoknya dia harus tau!" ucapnya kemudian.


Final!


***


Ketika kemudian diawasinya Balqis tanpa kentara namun dengan kesiagaan setara sipir penjara, Cevin sadar, ini kemarahan tidak terima dan keinginan untuk menyalahkan cewek itu atas kematian kakaknya.


Balqis harus mengenal Irfan. Tidak bisa tidak! Harus!!!


Sigit berusaha memberikan pengertian bahwa itu sama sekali bukan kesalahan Balqis. Sedikit pun cewek itu tidak bersalah. Tidak ada yang bisa disalahkan atas peristiwa tragis itu. Bahkan pengemudi sedan itu pun tidak bersalah. Namun Cevin tidak mau mendengar. Pembicaraan mereka kemudian berubah menjadi tarik urat sengit.


"Si Balqis itu nggak kenal Irfan, Vin!" Ucap Sigit.


"Irfan sering nongkrongin Sekolah Menengah Pertama nya, kan? Masa tu cewek masih nggak kenal juga? Nggak mungkin! Pasti dia cuma lupa!" Balas Cevin.


"Irfan nongkrongnya di luar, bukan di dalem sekolahkan!" Jelas Sigit.


"Mau di luar atau di dalem, Irfan itu bukan kecoa. Dia orang, manusia. Jadi, nggak mungkin kalo nggak keliatan!" Balas Cevin.


"Elo tau? Di depan sekolahnya Balqis itu ada taman. Banyak orang dagang di situ. Jadi banyak orang nongkrong tiap hari. Mana mungkin tuh cewek merhatiin?" Lanjut Sigit menjelaskan.


"Jumlah orang yang nongkrong di taman itu sebanyak jumlah orang yang lagi demo, nggak? Atau sebanyak suporter bola yang baru pulang nonton pertandingan?" Cevin tetap ngotot.


"Si Balqis itu nggak bisa disalahin, Vin!" bentak Sigit, mulai putus ada menghadapi kekeraskepalaan Cevin.


"Dia salah!" Cevin balas membentak. "Meskipun nggak sadar, nggak sengaja, dia salah!" tandas Cevin. "Udah deh. Nggak usah ikut campur. Yang meninggal bukan kakak lo!" Lanjut Cevin.


"Apa lo bilang!?" Sigit berang. Tapi tak lama kemudian, suara Sigit melunak. Ia sadar saat ini Cevin sedang labil. "Ren, denger ya? Gue sebangku sama kakak lo udah hampir enam taun! Dari hari pertama kami masuk Sekolah Menengah Pertama. Lo sekarang sekamar sendirian. Gue semeja sendirian. Biasa ada orang yang lo ajak berantem. Gue juga begitu. Biasanya ada kepala yang bisa gue jitakin begitu sampe sekolah. Sekarang nggak ada lagi." Kemudian, tanpa sadar Sigit jadi emosional. Suaranya mulai bergetar. "Kalo gue lagi bete di kelas, pengin cabut, biasanya ada orang yang mati-matian ngotot ke guru. Bilang kalo gue sebenernya lagi sakit parah, dam menurut petunjuk dokter, meskipun di sekolah kudu tetep sering-sering istirahat. Lebih sering istirahat lebih bagus. Ada orang yang mati-matian belagak nggak tau di mana gue nongkrong kalo lagi cabut. Sekarang tu orang sudah nggak ada lagi, Vin. Jadi bukan cuma elo yang sedih. Gue juga sedih. Gue juga ngerasa ditinggal. Malah gue ngerasa bersalah, karena gue yang ngedukung perburuan kakak lo. Ngikutin setiap perkembangannya. Dengerin semua ceritanya." Rentetan kalimat panjang Sigit itu tanpa sadar telah membuat Cevin terbungkam.


Saat Sigit menarik napas. Panjang dan dalam. Kemudian ia melanjutkan dengan nada berat…

__ADS_1


"Balik ke masalah Balqis. Oke kalo lo tetep ngotot, mau dia tau soal kakak lo. Tapi nggak perlu sampe dia harus tau semuanya," sesaat Sigit terdiam. "Kasian."


***


Setelah pembicaraan dengan Sigit lewat telepon itu, Cevin duduk tepekur di depan meja belajar Irfan. Dipandanginya secarik kertas yang ditempelkan Irfan berbulan-bulan yang lalu di dinding di depannya.


Di kertas itu, bersebelahan dengan kertas berisi ke 16 formula tense bahasa Inggris, semua data tentang Balqis tertulis lengkap.


Nama, Tempat tinggal lahir, nama orang tua, golongan darah, alamat rumah, hobi, warna favorit, pelajaran favorit, makanan dan minuman favorit, acara teve favorit, lagu dan group band favorit, sampai binatang peliharaan favorit. Paragraf-paragraf seterusnya berisi tentang data-data Balqis yang lebih spesifik lagi. Uraian karakternya panjang dan rinci. Usil, jail, periang, gampang ketawa, bawel dan lain-lain. Uraian fisik Balqis juga tercatat lengkap. Tinggi badan sedang, kulit langsat, rambut hitam agak bergelombang. Punya poni. Mata bulat, bola matanya berwarna cokelat tua. Kalau ketawa sepasang mata itu berbinar-binar dan membentuk sudut yang memperlihatkan dengan jelas karakter usil dan iseng pemiliknya.


Cevin kemudian menarik salah satu laci meja, tempat Irfan menyimpan setumpuk foto Balqis yang di shoot dari kejauhan. Karena sasaran bidik tidak menyadari, seluruh pose cewek itu terlihat natural... Alami.


Cevin menutup kembali laci itu dengan empasan keras. Kedua rahangnya mengatup rapat. Kesepuluh jarinya bertaut kuat. Kedua mata Cevin meredup. Kembali ditatapnya tulisan tangan Irfan tentang Balqis. Perlahan kelopak matanya menutup. Beberapa saat ia tetap dalam posisi itu. Duduk diam dengan kedua mata terpejam dan rahang terkatup. Dadanya turun-naik dengan cepat.


Sudahlah!


Sudahlah!


Sudahlah!


Itu takdir! Nasib! Garis hidup! Suratan! Dan hak Tuhan, yang sama sekali tidak boleh dipertanyakan!


Ada begitu banyak kata untuk peristiwa itu. Untuk cara Irfan meninggalkan keluarga dan semua temannya. Namun tetap, kemarahan Cevin tidak berkurang.


Tidak bisa keluar!


Tidak bisa hilang!


Tidak bisa dilupakan!


Kemarahan ini… tidak bisa dienyahkan...!!!


Tidak ada cara lain. Satu-satunya cara, Balqis harus menerima kemarahan ini. Mau cewek itu tidak mengerti atau bahkan tidak tahu, Cevin tidak peduli...!


***


Keesokan paginya, untuk pertama kalinya sejak kematian Irfan, Cevin berangkat ke sekolah dengan perasaan ringan karena ada seseorang yang bisa dijadikannya sebagai sasaran untuk melampiaskan semua kesesakan.


Cowok itu sama sekali tidak menyadari bahwa tindakannya menyalahkan Balqis dan mengharuskan cewek itu mempertanggung jawabkan perbuatannya sebenarnya adalah caranya untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Karena Cevin sebenarnya membutuhkan sandaran untuk mengatasi rasa kehilangan itu. Sesuatu atau seseorang, yang akan mengingatkannya pada sang kakak. Atau bahkan bagian dari sang kakak.


Dan Balqis memenuhi keduanya...!!!


Begitu sampai kelas, Cevin langsung menghampiri Balqis dan duduk di depannya.


"Lo tau nggak kalo kakak gue itu satu-satunya saudara cowok yang gue punya!?" tanyanya, dengan intonasi yang langsung terasa getas.


"Mmm…. iya," Balqis menjawab dengan jeda cukup lama. "Lo udah pernah cerita, waktu gue ke rumah lo itu." Balas Balqis.


"Bagus kalo udah tau," tandas Cevin. Kemudian cowok itu berdiri dan pergi begitu saja. Meninggalkan Balqis terbengong-bengong sendirian. Namun cewek itu segera memaklumi. Cevin baru saja kehilangan kakaknya. Jadi kesimpulan Balqis untuk keanehan Reinald tadi… tu cowok masih sedih.


Besoknya terjadi lagi. Begitu datang, Cevin langsung menghampiri Balqis dan menjulangkan tubuh di depannya.


"Buket bunga yang waktu itu gue kasih, masih lo simpen?" tanyanya, dengan intonasi suara persis seperti kemarin... Genas... Tajam.


Sambil mengerut kening, Balqis mengangguk. "Masih."


"Bagus! Awas kalo sampe gue denger lo berani buang tu buket bunga!" Ucap Cevin.


Setelah melontarkan ancaman itu, Cevin langsung pergi. Kerutan di kening Balqis semakin rapat. Dengan bingung terus dipandanginya Cevin sampai cowok itu duduk di bangkunya. Balqis memang masih menyimpan buket bunga itu, walaupun sekarang sudah layu dan mengering, hanya karena satu alasan, aneh!


Dan hari ini keanehan itu terbukti. Sudah lebih dari seminggu yang lalu ia terima buket bunga itu, sekarang ia ditanya buket bunga itu masih ada atau nggak. Aneh banget, kan?


Kesimpulan Balqis atas keanehan Cevin di hari kedua ini, pasti tu cowok nggak sempet sarapan dan sekarang udah terlalu mepet buat turun ke kantin. Jadi sekarang si Cevin itu lagi kelaperan, makanya jadi emosi membabi buta gitu.

__ADS_1


Besoknya, Cevin baru menghampiri Balqis saat istirahat kedua, karena baru saat itulah Balqis benar-benar sedang sendirian. Begitu melihat Cevin datang menghampiri dengan ekspresi dingin, Balqis langsung tahu bakalan mendapat pertanyaan aneh lagi.


"Kalo lo diperhatiin orang, meskipun diem-diem, meskipun tu orang berbaur diantara kerumunan, kira-kira lo akan merasa, nggak?" Ucap Cevin.


Bener, kan? Balqis langsung kesal. "Ng… nggak deh kayaknya." pertanyaan itu juga dijawabnya dengan sopan, meskipun sambil menahan dongkol.


"Kalo tu orang merhatiinya hampir setiap hari?" kejar Cevin.


"Ooh, kalo tiap hari sih pasti akan terasa, lah. Meskipun sedikit." Balas Balqis.


"Pasti terasa, ya? Meskipun sedikit." Cevin menegaskan jawaban Balqis. "Oke!" ia mengangguk. Lalu seperti kemarin-kemarin, ia pergi begitu saja.


Karena kelas mereka baru saja belajar matematika selama empat jam pelajaran, full tanpa jeda, dicekoki rumus-rumus dan angka-angka, Balqis mengambil keputusan bahwa… Cevin mabok! Dan itu juga berarti, tu cowok IQ nya dibawah rata-rata alias kurang cerdas. Karena baru belajar matematika 2 x 45 menit aja langsung ngaco.


Besoknya Cevin kembali mendatangi Balqis. Dengan pertanyaan aneh yang lain lagi. Begitu juga besoknya dan besoknya. Sampai pada akhirnya, hari ini, Balqis kehabisan stok kesabarannya. Pertanyaan Cevin dinilainya sudah kelewatan. Bukan cuma makin aneh, tapi juga mulai menganggu banget.


"Lo udah punya cowok?" Cevin mengajukan pertanyaan yang sangat sensitif itu, tetap dengan tampang dingin.


"Hah!?" Balqis ternganga. Mata bulatnya yang memandang Cevin terbelalak maksimal.


"Belom," jawabnya kemudian dengan polos, saking kagetnya.


"Bagus!" Cevin mengangguk puas. "Lo jangan punya cowok dulu ya. Dari pada ntar tu cowok gue gamparin!" Ucap Cevin.


Kemudian seperti biasa, Cevin pergi begitu saja. Balqis mengikuti kepergiannya dengan mata yang perlahan mulai menyipit... Marah!


Begitu sampai di rumah, Balqis buru-buru ganti baju kemudian makan siang. Selesai makan siang, cewek itu mengurung diri di kamar. Mamahnya, Cindy memperhatikan keanehan anaknya itu dengan heran, namun memilih untuk tidak mengusik, karena biasanya nanti Balqis akan bercerita dengan sendirinya.


Di kamarnya, Balqis tidur telentang di tempat tidur. Kedua matanya menerawang menatap langit-langit. Ia sibuk berpikir bagaimana cara membalas keanehan Cevin.


Ia sama sekali tidak tertarik memikirkan penyebab keanehan cowok itu. Jangan-jangan memang Cevin orangnya aneh. Kalaupun tadinya bukan orang aneh terus sekarang jadi aneh, itu sama sekali bukan urusannya.


Karena tidak juga menemukan ide, akhirnya Balqis menemui mamahnya dan menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.


"Yah, dia masih sedih mungkin. Kakaknya kan baru meninggal." Kata mamahnya Balqis yang tidak lain adalah Cindy.


"Trus apa hubungannya sama aku?" Tanya Balqis.


"Mamah juga bingung. Kamu tanya dia dong. Tapi tanyanya pelan-pelan. Baik-baik. Kalo perlu kamu ajak makan. Trakir dia di mana, gitu." Ucap Cindy pada anaknya Balqis.


"Iiiih, rugi banget! Mamah kok tumben sih sarannya nggak oke banget?" Balas Balqis.


"Lho, nggak oke gimana? Justru karena kamu nggak tau masalahnya, makanya kamu tanya dia baik-baik. Perlakukan dia baik-baik juga. Siapa tau kamu nggak sengaja udah bikin salah sama dia. Bisa aja, kan?" Ucap Cindy.


"Aku salah apa sama dia, Mah? Jadi temen selekas juga belum ada sebulan." Balas Balqis.


"Makanya tanya baik-naik. Ngeyel! Nggak ada ruginya ngalah sedikit. Lagi pula pasti ada alasan kuat kenapa dia, siapa namanya tadi? Cevin? Aneh begitu." Ucap Cindy.


Balqis terdiam. Tapi tampak jelas ia tidak setuju saran mamahnya itu. Kalau harus menanyakan akar permasalahannya ke Cevin, ia setuju. Tapi sambil neraktir? No way! Bisa nahan diri untuk nggak menganiaya tu cowok aja udah bagus banget.


Besoknya Balqis bersiap-siap menunggu kedatangan Cevin. Cewek itu duduk di bangkunya tegak-tegak. Sebelum Cevin sempat marah-marah nanti, ia akan marah-marah duluan. Enak aja, tiap hari dapet omelan. Salahnya apa nggak dikasih tau. Apalagi masalahnya. Gelap! Kalo abis diomelin trus ditraktir atau dikasih duit sih nggak apa-apa, gerutu Balqis dalam hati.


Balqis tidak perlu menunggu terlalu lama. Dua menit kemudian Cevin muncul di ambang pintu kelas. Balqis langsung bersiap-siap. Namun ternyata Cevin langsung melangkah ke bangkunya sendiri. Jangankan menghampiri Balqis, menoleh ke arah cewek itu pun tidak.


Lho? Balqis menatap heran. Bingung terhadap ketidakbiasaan Cevin itu. Tapi ia tetap menunggunya. Paling-paling nanti jam istirahat pertama atau kedua. Balqis menunggu penuh keyakinan.


Tapi ternyata Cevin tetap tidak menemuinya. Sampai bel pulang berbunyi, Balqis masih menunggu, masih belum kehilangan semangat untuk ganti marah-marah. Tapi kemudian dilihatnya Cevin berjalan ke luar kelas bersama cowok-cowok yang duduk di deretan bangku paling belakang. Lagi-lagi tanpa menoleh sedikit pun.


Kurang ajar! desis Balqis berang. Giliran gue siap perang, dia malah mundur!


Sebenarnya Cevin bukan mundur. Ia hanya kehabisan stok intimidasi. Lagi pula yang terpenting baginya adalah Balqis nggak punya cowok. Jangan sampai punya cowok.


Jadi, selama dilihatnya cewek itu masih sendirian, Cevin memutuskan tidak perlu marah-marah atau bersikap galak setiap hari.

__ADS_1


__ADS_2