LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 41 : SEKUNTUM BUNGA


__ADS_3

Ketika Rahmawati memasuki ruangan tamu, terdengarlah suara tawa papahnya serta suara percakapan.


"Papah, mamah!" Rahmawati mendekati orang tuanya.


"Rahma, dari mana?" Tanya papahnya. "Kenapa begini sore baru pulang?" Lanjut papahnya.


"Dari rumah teman!" Jawab Rahnawati.


"Kak Rahma, mari saya kenalkan!" Ucap Dilla tiba-tiba. "Ini adalah teman saya!" Dilla menunjuk pada seorang pemuda yang berwajah cukup ganteng, namun sikapnya sombong serta congkak.


Buru-buru pemuda itu berdiri sambil mengulurkan tangannya.


"Toni Adam!" Ucapnya dengan sikap sombong.


"Rahmawati...!" la juga mengulurkan tangannya, bersalamanlah mereka, dengan cepat Rahmawati menarik kembali tangannya setelah bersalaman, sebab jari tangan Toni Adam yang jail mengutik telapak tangan Rahmawati, spontan wajah Rahmawati berobah merah, langsung ia membalikkan badannya dan masuk ke dalam.


"Toni, sudah berapa lama kau kenal dengan puteri bungsu kami?" Tanya pak Arif Budiman.


"Hampir tiga bulan!" Toni Adam duduk kembali.


"Masih kuliah?" Tanya pak Arif Budiman.


"Tidak!" Jawab Toni Adam, suaranya bernada sombong. "Saya baru pulang dari Thailand!" Lanjut Toni Adam.


"Sekolah di Thailand?" Tanya pak Arif Budiman.


"Ya!" Jawab Toni. "Kini saya telah menyelesaikan masa kuliah!" Lanjutnya.


"Berapa saudara kandungmu?" Tanya pak Arif Budiman lagi.


"Selain orang tua saya masih ada dua orang adik!" Jawabnya. "Adik lelaki berada di thailand dan adik perempuan masih sekolah!" Jelasnya.


"Apakah orang tuamu sehat-sehat saja?" Tanya pak Arif Budiman detail.


"Terimakasih, pak, orang tua saya dalam keadaan sehat walafiat!" Jawab Toni Adam.


"Oh... ya! Bagaimana nanti kita pergi makan malam?" Tanya pak Arif Budiman dengan wajah berseri-seri.


"Maaf, pak!" Jawab Toni Adam. "Saya ingin pergi jalan-jalan dengan Dilla" jawab Toni Adam menolak.


"Oh! Kalian sudah ada janji?" Ucap pak Arif Budiman memastikan.


"Ya, papah!" Dilla mewakili Toni Adam menjawab. "Kami ingin pergi jalan-jalan!"


"Jangan pulang terlalu malam!" Pesan ibunya.


"Tidak terlalu malam mamah!" Ucap Dilla manja.


"Kapan kalian mau pergi jalan-jalan?" Tanya pak Arif Budiman tetap dengan wajah berseri-seri.


"Sebentar lagi!" Jawab Toni Adam.


"Kalau begitu, bagaimana makan dulu di sini?" Lanjut pak Arif Budiman.


"Tidak usah pak!" Jawab Toni. "Kami akan makan di restoran saja!" Balasnya kemudian.


"Toni, seandainya aku ingin kredit di Bank ayahmu, apakah bisa?" Tanya pak Arif Budiman.


"Hal tersebut saya harus berunding dengan ayah saya!" Jawab Toni Adam. "Jika serius, mungkin ayah saya akan mengabulkan." Lanjutnya.


"Memang serius!" Jawab pak Arif Budiman dengan cepat. "Dan alangkah baiknya kau berunding dulu dengan ayahmu." Lanjutnya.


"Baiklah! Jika ada kesempatan, pasti akan berunding dengan ayah saya!" Balas Toni Adam.


"Di samping itu, tolong sampaikan salamku pada ayahmu!" Ucap pak Arif Budiman.


"Akan saya sampaikan!" Ucap Toni Adam.

__ADS_1


Cukup lama mereka ngobrol, kemudian Toni mengajak Dilla pergi jalan-jalan, setelah berpamitan dengan orang tua Dilla, berangkatlah Toni bersama Dilka dengan mobil balapnya. Mobil balap Toni diluncurkan ke arah Night Club, setelah memarkirkan mobil. Sambil bergandengan tangan mereka masuk ke dalam Night Club tersebut. Mereka duduk di sebuah meja bundar sambil memesan minuman keras, namun, Dilla menolak, terpaksa Toni memesan sari buah. Remang-remang sinar lampu Night Club tersebut mengasyikkan setiap tamu. Ada yang sedang berpeluk-pelukan, ada juga yang sedang berciuman, malah di antaranya ada yang saling menggerayang. Bagi Toni dan Dilla sudah biasa menyaksikan adegan-adegan tersebut, mereka tidak kaget lagi.


"Dilla, saya akan pesan bir, boleh?" Tanya Toni Adam.


"Bir?" Tanya Dilla.


"Ya!" Balas Toni.


"Jangan banyak-banyak, nanti saya kuatir kau akan mabuk!" Balas Dilla.


"Tidak! Saya akan pesan dua botol saja!" Toni meletakkan tangannya ke bahu Dilla.


"Ng!" Dilla mengangguk.


Ketika waitress mengantarkan pesanan tadi, segera Toni Adam memesan dua botol bir pada waitress itu. Tak lama kemudian, waitress itu telah kembali lagi sambil membawakan pesanan Toni.


Suara nyanyian yang menggetarkan kalbu menggema seisi ruangan Night Club tersebut, ada yang berdansa dengan dance giri, ada juga yang berdansa dengan patner sendiri. Demikian juga dengan Toni dan Dilla, mereka juga sudah mulai berdansa dan saling berpelukan dengan erat, sehingga tubuh mereka menjadi satu. Kepala Dilla diletakkan di bahu Toni, sedangkan pipi Toni nempel ke pipi Dilla.


"Toni, betulkah kau mencintai saya?" Tanya Dilla.


"Betul!" Toni mempererat pelukan. "Saya pikir, mungkin tidak lama lagi kita akan kawin." Ucap Toni Adam.


"Tapi, saya masih belum lulus Sekolah Menengah Atas." Ucap Dilla.


"Lulus atau tidak, kan tidak menjadi persoalan." Toni berbisik. "Bukankah kita telah saling mencintai?" Lanjutnya.


"Ya!" Dilla mengangguk.


"Kalau demikian, kenapa kau pusingkan soal lulus?" Tanya Toni lagi.


"Saya khawatir papah saya tidak mengabulkan saya kawin sebelum lulus, maka..." Ucap Dilla terputus.


"Maka kau akan melanjutkan sampai lulus?" Toni merenggangkan pelukannya. "Dilla, kau lebih mementingkan sekolah atau mementingkan percintaan kita?" Tanya Toni kasar.


"Percintaan kita!" Balas Dilla.


"Nah! Kalau demikian, sewaktu-waktu orang tua saya ke rumahmu mengajukan lamaran, saya harap kau harus menerima lamaran itu!" Balas Toni Adam.


Toni mempererat pelukannya lagi setelah mendengar jawaban Dilla, musik berhenti, mereka kembali ke tempat duduk semula.


"Dilla, puaskah hatimu?" Toni menuangkan bir ke dalam gelasnya, ia meneguk beberapa kali.


"Puas!" Dilla tersenyum.


"Dilla..." Mendadak tangan Toni diturunkan ke bawah, mulailah tangannya beraksi di paha Dilla, sehingga Dilla menggeliat.


"Toni, geli!" Perlahan suara Dilla namun gemetar.


Semakin berani tangan Toni, kini, entah telah tiba di mana tangannya? Hanya terlihat sekujur badan Dilla gemetaran serta mulutnya mulai mendesis, sedangkan nafas toni memburu.


"Dilla, bagaimana kita ke motel?" Tanya Toni Adam.


"Untuk apa?" Mata Dilla masih setengah terpejam.


"Istirahat!" Jawab Toni singkat.


Dilla mengangguk. Dengan cepat Toni memberi tanda, segera seorang waitress menghampirinya.


"Bonnya...!" Ucap Toni.


"Sebentar Tuan!" Waitress itu pergi sebentar, sejenak kemudian ia balik kembali sembari menyerahkan selembar bon. Toni melihat sebentar, kemudian ia membayar seraya berkata, "Sisanya untukmu!"


"Terimakasih Tuan!" Waitress itu tersenyum manis.


Keluar dari Night Club tersebut, mereka langsung menuju ke tempat parkir. Terdengarlah bunyi mesin mobil menderu. Toni Adam meluncurkan mobil menuju ke arah motel, setelah tiba di motel yang dituju, mereka disambut dengan wajah berseri-seri oleh pelayan motel tersebut dan diantar ke sebuah kamar, sekalian Toni memesan minuman pada pelayan itu. Belum lama mereka berada di dalam kamar, datang pelayan itu sambil mengetok pintu. Toni membukanya, selembar bon serta minuman diserahkan oleh pelayan itu kepada Toni.


"Tunggu sebentar!" Ucap Toni. Ia menaruhkan minuman itu ke atas meja kemudian ia membayar bon kamar. "Ambil saja kembalinya!"

__ADS_1


"Terimakasih, tuan!" Pelayan itu berlalu dengan tersenyum.


Toni mengunci pintu, ia membalikkan badannya dan menuju ke tempat duduk. Dilla sedang menyandarkan punggungnya ke belakang, ia melirik sebentar ke arah Toni Adam dengan mesra.


"Dilla!" Ucap Toni setelah duduk. "Kau senang dengan kamar ini?" Tanyanya.


"Senang!" Jawab Dilla singkat.


"Dilla, saya ingin istirahat sebentar." Langsung Toni bangkit dan ia berbaring ke tempat tidur. "Dilla, kau juga kemari!" Lanjutnya.


"Toni..." Dilla ragu-ragu sebentar, tapi. akhirnya terpaksa ia berdiri serta menuju ke tempat tidur itu.


Dengan cepat Toni Adam menarik tangannya, sehingga badan Dilla terkapar menindih badan Toni. Secepat kilat Toni memeluk badan Dilla serta menciumnya dengan mesra dan bernafsu. Dilla juga memberikan reaksi tersebut, ia juga mencium Toni Adam dengan mesra. Tanpa disadari mereka bergumul dan bergulingan di atas tempat tidur yang empuk cukup lama. Tangan Toni mulai menggerayang ke sekujur tubuh Dilla, sehingga mulut Dilla mengeluarkan suara mendesis. Jari tangan Toni mulai membuka gaun Dilla, hal tersebut mengagetkan hati Dilla.


"Toni kau mau apa?" Tanya Dilla.


"Dilla... saya mencintaimu!" Jawab Toni Adam.


"Saya pasti mengawinimu!" Lanjutnya.


"Maksudmu mau berbuat begitu?" Tercekat hati Dilla.


"Dilla ..." Toni mempererat pelukannya serta tangannya tak henti-hentinya menggerayang serta mengusap sekujur tubuh Dilla, tanpa tersadar hawa nafsu Dilla mulai terbakar, ia telah lupa segala-galanya, perasaannya hanya ingin menikmati, ia merasa haus dan ingin minum supaya hausnya hilang.


Sekuntum bunga yang indah baru berumur delapan belas tahun telah mengering, tiada cahaya dan tiada keistimewaannya lagi karena madunya telah terhisap oleh sang Kumbang.


"Toni!" Dilla sesenggukan serta merapikan gaunnya. "Kau harus bertanggung jawab!" Lanjut Dilla.


"Jangan kuatir sayang!" Jawab Toni. "Beberapa bulan kemudian kita akan mengadakan pesta pernikahan!"


"Saya harap kau tidak menipu saya!" Dilla telah selesai merapikan gaunnya.


"Tidak mungkin saya menipumu!" Toni masih telentang. Kemudian ia bangun dari tempat tidur dan duduk di kursi meubel. "Dilla, apakah kau merasa puas?" Tanya Toni Adam.


"Sakit yang saya rasakan!" Dilla meringis.


"Sakit-sakit nikmat kan?" Toni tersenyum, kemudian ia berdiri dan mengambil celananya.


"Dilla!" Ucapnya setelah mengenakan celananya. "Seandainya kau masih belum merasa puas, kita masih mempunyai kesempatan." Toni duduk kembali.


"Jangan!" Jawab Dilla terkejut, ia duduk di samping Toni.


"Jangan khawatir sayang!" Toni memegang tangan Dilla. "Kita bisa berbuat sekali berarti kita akan berbuat terus." Ucapnya kembali.


"Toni, lebih baik setelah kita menjadi suami istri!" Mata Dilla mulai berkaca-kaca.


"Bukankah tadi kita telah menjadi suami isteri?" Toni Adam menyeringai.


"Perbuatan suami isteri yang belum sah!" Dilla menundukkan kepalanya. "Toni, saya harap kau harus mempertanggung jawabkan


perbuatanmu!" Lanjut Dilla.


"Jangan kuatir sayang!" Toni membelai rambut Dilla. "Saya pasti bertanggung jawab!" Terhibur hati Rani, ia melirik ke arah Toni dengan mesra, segera Toni merangkulnya serta memberikan ciuman mesra kepadanya.


"Toni, mari kita pulang!" Ajak Dilla.


"Kau tidak merasa terlalu cepat?" Tanya Toni. "Sebentar lagi bagaimana?" Ucapnya.


"Apa boleh buat?" Dilla menggelenggelengkan kepalanya.


"Dilla..." Toni menciumnya dengan mesra.


Berselang beberapa saat, mereka baru keluar dari kamar motel tersebut menuju ke tempat parkir. Sebelum Dilla diantar pulang ke rumahnya, mereka singgah dulu di sebuah restoran yang mewah. Setelah mengisi perut, sekalian Toni memesan beberapa macam masakan untuk orang tua Dilla. Mobil balap Toni diluncurkan dengan cepat menuju ke rumah Dilla, mereka disambut dengan girang oleh papah Dilla, apa lagi pak Arif Budiman melihat Toni Adam membawakan beberapa macam masakan untuknya.


"Toni, tidak usah repot-repot!" ucap pak Arif Budiman sambil tertawa.


"Seharusnya sebagai calon menantu begini." Jawab Toni dengan cepat.

__ADS_1


Cukup lama Toni mengobrol lagi dengan pak Arif Budiman, kemudian ia berpamitan. Dilla mengantar nya sampai di pintu pekarangan. Isteri pak Arif Budiman tidak kelihatan, mungkin ia sudah tidur di dalam kamarnya. Sedangkan Rahmawati tetap berada di dalam kamarnya, hatinya masih gusar dikarenakan jari tangan Toni mengutik telapak tangannya ketika mereka bersalaman.


Wajah Farel terbayang terus oleh Rahmawati, ia tersenyum sambil memejamkan matanya, hening di dalam kamar Rahmawati, hanya terdengar suara nafas Rahmawati yang telah tertidur pulas, bibirnya tersungging senyuman manis. Entah apa yang sedang dimimpikannya?


__ADS_2