LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 93 : BERTEMU NABILA


__ADS_3

Pagi itu di Bandara Raden Intan, Branti, Bandar Lampung, nampak seorang


pernuda tampan berdiri di peron dengan mata menyapu ke sekeliling bandara. Sepertinya pemuda tampan berambut gelombang agak gondrong itu, tengah mencari seseorang.


Dia tengah memang, berusaha untuk mencari seseorang yang tiba di Bandar Lampung dari Jakarta pagi ini. Orang yang dicarinya, tiada lain seorang gadis yang oleh kedua orang tuanya, gadis itu hendak dijodohkan dengannya.


Sebenarnya Cevin, nama pemuda tampan itu sangat malas sekali menjemput gadis yang bernama Nabila yang belum diketahui seperti apa orangnya. Dan kedua, dia juga malas karena sebenarnya dia lebih menyintai Balqis, kekasihnya yang sudah dipacari dan bahkan digauli selama tiga tahun lebih dibandingkan pada Nabila, yang belum dia kenal. Hanya karena dia tidak ingin mengecewakan mamahnya saja, sehingga membuat Balqis akhirnya mau pagi-pagi datang ke Bandara Raden Intan, Branti, Bandar Lampung untuk menjemput anak dari teman mamahnya, semasa mamahnya dan mamah Nabila masih sama-sama duduk di bangku sekolah lanjutan pertama.


Dari pengeras suara, terdengar operator memberitahukan pada para penjemput dengan bahasa


Indonesia dan bahasa Inggris, kalau pesawat Garuda


penerbangan Jakarta-Bandar Lampung sebentar lagi akan mendarat.


Cevin menarik napas dalam-dalam...!!!


Entah mengapa, tiba-tiba hatinya agak berdebar. Dia merasakan ada ketegangan yang tengah dirasakannya. Pikirannya pun tak menentu. Sebentar melayang, pada Balqis, kekasihnya.


Tentunya Rosana tengah menunggunya di kampus.


Oh, bagaimana jadinya nanti? Jika mamahnya tetap memaksakan kehendaknya agar dia mau menikah dengan Nabila? Lalu bagaimana dengan Balqis? Padahal dia sudah berjanji pada Balqis dan Cindy, mamahnya Balqis, kalau dia akan bersungguh-sungguh dengan Rosana. Tentunya mereka akan kecewa sekali, kalau sampai dia mengingkari janji.


Lelaki muda itu masih gelisah. Haruskah dia pulang saja, lalu membiarkan Nabila kebingungan sendiri mencari alamat rumahnya? Atau langsung ke Jakarta dimana keluarganya berada? Rasanya tidak berperi kemanusiaan, membiarkan orang yang belum tahu keadaan Bandar Lampung seorang diri mencari alamat rumahnya. Salah-salah Nabila akan mendapatkan kesulitan.


Lamunan Cevin seketika buyar, ketika telinganya mendengar suara mesin pesawat mendekat. Dari jarak sekitar satu kilo meter, pesawat itu mendarat. Kemudian bergerak secara perlahan dengan dibimbing seorang instuktur atau juru parkir.


Lalu berhenti...!!!


Mata Celvin tanpa kedip memperhatikan pesawat Garuda yang baru saja berhenti. Tidak lama kemudian, pintu pesawat pun terbuka. Dari dalam pesawat, turun para penumpangnya. Namun sebanyak itu, belum ada yang dikenali oleh Cevin. Semuanya orang asing baginya.


Bahkan sampai penumpang terakhir turun, seorang wanita berambut sebatas bahu bergelombang agak pirang. Berhidung bangir dan berwajah molek seperti boneka.


Wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahunan itu melangkah sambil menyapukan pandangan matanya, ke sekeliling bandara. Seakan wanita muda dan jelita itu tengah berusaha mencari orang yang. menjemput atau yang dikenalnya. Namun sejauh itu, belum juga dia menemukan orang yang dikenalnya ada di sekitar peron.


Wanita muda dan cantik itu menghentikan langkahnya. Menarik napas dalam-dalam, sambil menyeka keringat. Udara di Bandar Lampung, tidak seperti ketika dia berada di Jakarta. Di sini suhu udara sangat panas. Sehingga kulitnya yang kuning langsat dan halus, terasa tersengat sinar mentari yang agak panas.


"Huh...," gadis cantik itu mengeluh sambil menghempaskan napasnya panjang-panjang. Kemudian kembali melangkah ke peron, mengambil barang-barang yang dia bawa. Kemudian wanita cantik itu pun melangkah meninggalkan peron, berusaha mencari taksi. Ketika wanita muda dan cantik itu baru saja keluar dari Bandara.


Cevin mendekati wanita itu dan menyapanya dengan ramah.


"Nabila...?" tanya Cevin.


"Oh ya. siapa nama Anda...?"


Balas wanita cantik itu yang bernama Nabila.


"Cevin..."


Balas Cevin memperkenalkan diri.


"Cevin...?" ulang wanita jelita itu dengan mata semakin lekat menatap wajah tampan Cevin dan mulutnya yang mungil, agak terbuka.


"Saya diutus oleh orang tua saya untuk menjemput seorang teman, anak teman papah dan mamah saya."


Jelas Cevin.


"Siapa namanya...?" tanya gadis indo cantik jelita itu sambil memandang ke wajah pemuda tampan yang berdiri di depannya.


"Nabila..."


Jawab Cevin.


"Nabila...?" ulang gadis itu dengan kening mengerut.


Matanya yang indah namun tajam, masih memandang lekat ke wajah tampan lelaki muda di hadapannya.


"Ya." Jawab Cevin singkat.


"Nabila siapa...?"


Tanya gadis itu lagi.


"Nabila Fellia...". Lanjut Cevin.


"Itu namaku," jawab Nabila.


"Anda...?".


Tanya Cevin.


"Ya, aku Nabila Fellia. Kenapa Anda mencari saya?"


Tanya Nabila Fellia kemudian. Matanya yang indah dengan bulu mata lentik, masih memandang lekat ke wajah tampan Cevin.


"Ah, sungguh kebetulan sekali. Seperti yang tadi saya katakan, saya disuruh mamah saya untuk menjemputmu."


Jelas Cevin mengulangi.


"Siapa nama mamah Anda...?"


Tanya Nabila Fellia lagi ingin memastikan.


"Selly."


Jawab Cevin singkat.


"Tante Selly..."


Ucap Nabila Fellia.


"Ya. Mamahku memang dipanggil Mamah Selly atau tante Selly..."


Balas Cevin.


"Jadi kau Cevin yang diceritakan Tante Selly?"


Ucap Nabila Fellia.


"Ya," jawab Cevin sambil mengulurkan tangannya kedepan dengan bibir tersenyum. Nabila Fellia pun menyambuti uluran tangan itu dengan bibir turut tersenyum. Kemudian keduanya saling berjabatan tangan. Bibir mereka sama-sama tersenyum.


"Anda cantik sekali, membuat saya tidak mengenal Anda...," puji Cevin.


"Ah, kau terlalu memuji, Cevin," jawab Nabila Fellia sambil tersipu-sipu. Berdesir hatinya, mendapatkan pujian dari pemuda setampan dan sebaik Cevin. Apalagi setelah dia tahu, lelaki tampan itu calon suaminya. Lelaki yang sudah ditunangkan oleh kedua orang mereka untuk dijadikan suaminya.


"Tetapi sungguh, kau memang cantik sekali."


Cevin mengulangi kata-kata pujiannya.


"Jangan berlebihan memuji. Nanti jatuh cinta..."


Balas Nabila Fellia tersenyum.


Cevin tertawa, diiringi oleh tawa merdu Nabila.


Sehingga pagi itu, terasa semakin indah oleh hiasan tawa mereka.


"Anda bisa saja... Oh ya, mari kubantu membawakan koper Anda."


Ucap Cevin.


"Terimakasih."


Balas Nabila Fellia.


Cevin pun mengambil alih, membawa kopor Nabila. Mengajak gadis cantik itu ke mobilnya yang tidak berada jauh dari tempat dimana Nabila berada.


"Mobilmu...?"


Tanya Nabila.


"Bukan."


Jawab Cevin.


"Lalu mobil siapa...?" tanya Nabila.


"Mobil papahku."


Balas Cevin.


"Ah. kau..." Kata Nabila melanjutkan dengan tersenyum.


"Silakan masuk," ajak Cevin sambil membukakan pintu depan mobilnya. Setelah memasukkan kopor bawaan Nabila di bagasi.


"Terimakasih." Nabila pun menurut masuk. Setelah menutup kembali pintu depan mobilnya, Cevin pun melangkah ke pintu mobil di sampingnya. Kemudian masuk dan duduk di belakang stir mobil. Tidak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan tempat parkir bandara.


"Kemana kita...?" tanya Cevin.


"Menurutmu, sebaiknya kemana..." balik Nabila bertanya sambil memandang ke wajah Cevin yang tampan dan duduk di samping, mengemudi mobil.


"Kalau perintah mamahku, Mamah ingin kau ke rumah. Bagaimana...?" Cevin menengok ke arah Nabila seakan meminta pendapat gadis cantik itu.

__ADS_1


"Terserah kau saja," jawab Nabila, menyetujui akan rencana Cevin untuk mengajaknya langsung ke rumah lelaki itu. "Kau yang mengemudikan mobil, jadi kau yang berhak menentukan kemana kita."


Lanjut Nabila lagi.


"Baik kalau begitu..."


Jawab Cevin.


Cevin pun terus menjalankan mobilnya, menuju ke arah rumahnya, untuk mengantar gadis cantik itu menemui kedua orang tuanya. Kini hati pemuda itu jadi tak menentu. Dia sama sekali tak menyangka, kalau gadis yang bernama Nabila Fellia ternyata cantik. Ah padahal selama ini dia sudah sering menolak saran mamahnya untuk menerima Nabila sebagai istrinya. Bahkan selama ini, dia lebih membanggakan Balqis sebagai gadis yang paling cantik. Tapi setelah melihat Nabila, hatinya jadi bimbang. Cintanya pada Balqis sepertinya agak luntur. Tetapi bagaimana dengan tanggung jawabnya? Dia telah merenggut kegadisan Balqis, bahkan gadis itu sedang dalam keadaan hamil.


"Cevin..."


Suara Nabila terdengar.


Cevin tersentak, sadar dari lamunannya. "Eh, ya..." Jawab Cevin.


"Kau nampak melamun...?"


Tanya Nabila.


"Ah, tidak."


Balas Cevin menutupi kenyataan yang sebenarnya.


Nabila tersenyum. Matanya yang indah dan tajam, masih memandang lekat ke wajah tampan di sampingnya. Dalam hati gadis itu, mengakui kalau Cevin memang tampan. Pantas kalau mamah dan papahnya setuju, jika dia menjadi pendamping pemuda itu. Tak tahunya memang Cevin tampan. Tapi mungkin pemuda itu sudah memiliki kekasih. Dan itu tentu merupakan halangan baginya, untuk bisa menjadi pendamping Cevin.


"Apa yang kau. lamunkan, Vin?" mata Nabila masih menatap lekat ke wajah tampan Cevin. "Kau bisa mengatakan tidak melamun, namun wajahmu menunjukkan kalau kau tadi melamun."


Lanjut Nabila.


"Aku melamunkan kau..."


Jawab Cevin.


"Aku...?"


Balas Nabila sedikit terkejut.


"Ya."


Jawab Cevin.


"Kenapa dengan aku...?" Tanya Nabila.


"Kau cantik, Nidia."


Jawab Cevin.


"Ah, itu terus yang kau katakan."


Kata Nabila tersenyum.


"Kenyataannya memang kau cantik."


Balas Cevin.


"Tetapi lebih cantik pacarmu bukan?"


Ucap Nabila kemudian.


"Dari mana kau tahu aku punya pacar?"


Tanya Cevin.


"Kira-kira saja... Karena cowok seusiamu, kukira sudah punya kekasih. Bukan begitu, Cevin...?" bibir Nabila merekah, manis. Matanya yang indah, masih memandang lekat ke wajah tampan pemuda di sampingnya.


Cevin tak menyahut. Dia malah kembali diam.


"Kau melamun lagi, Cevin...?!"


Ucap Nabila.


"Hm..." Suara Cevin menjawab pertanyaan Nabila singkat.


"Kenapa denganmu...?"


Tanya Nabila ingin tahu.


"Tidak apa-apa."


Balas Cevin.


"Kau merasa kecewa denganku?" Tanya Nabila.


"Lalu kenapa...?"


Kembali Nabila bertanya.


"Justru aku malah bingung."


Jawab Cevin.


"Bingung kenapa...?" desak Nabila, ingin mengetahui penyebab kebingungan Cevin. Meski dalam hati gadis


indo itu sudah menerka apa yang menyebabkan Cevin bingung, namun sebagai wanita Nabila tak mungkin memberitahu perasaan hatinya pada lelaki itu walau pun dia lama di Jakarta, namun dia tetap saja keturunan orang timur yang masih memegang budaya ketimuran.


"Ya bingung setelah melihat kau."


Jawab Cevin.


"Memangnya kenapa denganku...?" tanya Nabila sambil melirikkan matanya yang indah ke arah Cevin,


yang semakin membuat dada Cevin berdebar keras.


"Kau cantik," lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulut Cevin. Seakan tak ada kalimat lain untuk mengutarakan isi hatinya. Semua itu membuat Nabila hanya tersenyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Kok tersenyum...?" Tanya Cevin.


"Kau lucu..."


Balas Nabila.


"Lucu kenapa?"


Lanjut tanya Cevin.


"Sudah berapa kali kau hanya ngomong: Kau cantik. Bukankah itu lucu...?" Balas Nabila.


"Kenyataannya kau memang cantik."


Ucap Cevin.


"Ah, jangan merayu."


Ucap Nabila.


"Aku tidak merayu."


Balas Cevin.


Nabila terdiam dengan bibir masih tersenyum. Matanya yang indah dan tajam, sesaat memandang ke depan. Menikmati pemandangan sekeliling jalan. Dimana gedung-gedung tinggi menjulang.


"Ternyata Bandar Lampung tak kalah dengan Jakarta," pikir


Nabila berusaha mengalihkan pikirannya pada Cevin dengan menikmati pemandangan sepanjang jalan yang dilewati.


"Dimana kalian tinggal, Vin?"


Tanya Nabila.


"Perumahan Bukit Barisan."


Ucap Cevin


"Masih jauh...?"


Tanya Nabila.


"Lumayan, sekitar lima belas menit lagi."


Balas Cevin.


Nabila manggut-manggut. Untuk beberapa saat keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Namun sepertinya apa yang tengah dipikirkan oleh mereka sama. Keduanya sama-sama memikirkan tentang pribadi orang yang ada di sampingnya. Cevin tengah memikirkan akan kecantikan Nabila. Begitu juga Nabila, dia tengah memikirkan Cevin. Cevin yang tampan dan simpatik. Ah, betapa dia tidak kecewa dijodohkan dengan pemuda itu.


Mobil akhirnya berhenti, di halaman sebuah rumah mewah. Dari dalam, keluar kedua orang tua Cevin dan adiknya, Queena. Mama Cevin dengan senyum manis, menyambut kedatangan calon menantunya.


"Hallo sayang," sambut Selly sambil membuka kedua tangannya, kemudian memeluk tubuh Nabila. "Ayo masuk... Beginilah rumah Tante, Nabila." Selly melanjutkan.


"Ah Tante, rumahnya bagus begini?" sahut Nabila dengan bibir tersenyum, kemudian menurut masuk dalam di bimbing Selly. Di belakang, mengiringi papanya Cevin, dan Queena yang senantiasa menggoda kakaknya.


"Bagaimana, Mas?" Tanya Queena pada kakaknya.

__ADS_1


"Apanya...?" Balas tanya balik Cevin pada adiknya itu.


"Penilaian Mas."


Ucap Queena.


"Tentang apa...?"


Tanya Cevin.


"Mbak Nabila." Ucap Queena.


"Ah, kamu..."


Balas Cevin.


"Cakep ya, Mas?"


Lanjut Queena.


"He-eh."


Balas Cevin.


"Cakepan mana dengan Mbak Balqis?"


Tanya Queena kembali.


Cevin tak menyahut. Diakuinya, memang lebih cantik Nabila. Tetapi dia sudah terlanjur berhubungan dengan Balqis. Bahkan gadis teman sekuliahnya itu, kini dalam keadaan hamil. Membutuhkan tanggung jawab darinya. Itu yang memusingkan Cevin. Dengan kedatangan Nabila yang cantik, hatinya jadi terbagi. Ditambah lagi keluarganya


nampaknya lebih setuju jika dia menikah dengan Nabila, ketimbang dengan Balqis.


"Kalau cari cewek begitu dong, Mas. Pendidikan oke. Wajah oke...!!! Pokoknya semuanya oke...!!!" seloroh Queena sambil mengacungkan jempol, memuji keberadaan Nabila yang memang dalam pandangannya sempurna.


Mereka akhirnya masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sementara Selly masih mengantar Nabila melihat-lihat keadaan rumah mewah itu. Sepertinya wanita setengah baya itu, hendak menunjukkan secara detail keadaan rumahnya pada calon menantunya.


"Tante, dengar-dengar Cevin sudah punya kekasih...?" Tanya Nabila.


"Ya, begitulah. Tetapi kau tak perlu khawatir. Kalau Tante tidak setuju, mau apa...?" jawab wanita setengah baya itu sambil menghempaskan napasnya panjang-panjang.


"Cantik...?"


Tanya Nabila.


"Ah, kampungan."


Balas Selly.


"Nampaknya Cevin mencintainya, Tante." Ucap Nabila.


"Kau tak perlu khawatir. Kalau Tante sudah ngomong A, maka tak ada yang bisa mengubah menjadi B. Tante tak setuju jika anak Tante harus menjadi suami gadis kampungan itu. Itu sebabnya Tante ingin kau segera kembali. Nanti Tante menghubungi ke Jakarta, agar papah, dan mamahmu datang. Kita harus secepatnya membicarakan masalah perkawinan kalian."


Jelas Selly.


"Tapi. bukankah Cevin masih kuliah, Tante."


Ucap Nabila.


"Ah, itu tak jadi masalah bukan?" jawab Selly dengan bibir tersenyum, menunjukkan keyakinannya kalau dia bisa menyelesaikan masalah yang ada.


"Saya terserah Tante," akhirnya Nabila. Ia menyerahkan keputusannya pada Selly.


"Ayo kita teruskan. Akan Tante tunjukkan, dimana kamar kalian nanti," ajak wanita setengah baya itu, sambil membimbing calon menantunya. Keduanya terus melangkah, melihat-lihat keadaan rumah mewah itu. Baru setelah dirasa cukup karena semua tempat yang ada di rumah itu telah dilihat oleh Nabila, keduanya kembali ke ruang depan dimana papahnya Cevin dan kedua anaknya masih berada tengah duduk-duduk.


"Bagaimana, Nabila?" tanya papahnya Cevin. "Om berharap kau akan betah di rumah ini."


Ucap Efendi.


"Terimakasih, Om. Nabila akan betah sekali, jika Om dan Cevin serta Queena mau menerima Nabila di sini," jawab Nabila berdiplomatis, menunjukkan kalau dia bukan gadis sembarangan. Tetapi gadis yang memiliki intelektualitas tinggi.


"Kenapa tidak..? Bagi kami, Nabila sudah seperti keluarga sendiri. Dan Om berharap nak Nabila mau menganggap rumah ini tak ubahnya rumah nak Nabila sendiri," jawab papahnya Cevin dengan senyum ramah.


Keceriaan mewarnai wajah mereka. Hanya Cevin yang kelihatannya agak dipaksakan dalam tersenyum. Karena saat itu pikirannya sedang tak menentu. Ya, semenjak kedatangan Nabila, seketika pikirannya yang semula bulat untuk tetap mencintai Balqis, seketika terbelah. Hanya karena dia merasa kasihan pada Balqis saja, yang membuatnya berusaha untuk tetap ingat pada gadis itu.


"Cevin...," tegur mamahnya, menyentakkan Cevin dari lamunannya.


"Ya, Ma."


Jawab Cevin.


"Hari ini kau tidak usah kuliah."


Ucap Mamahnya.


"Tapi, Ma."


Balas Cevin.


"Sudah, Mamah bilang kau tak usah masuk kuliah dulu. Ajak Nabila keliling kota dan ketempat-tempat rekreasi," perintah mamahnya dengan tegas. Tak mau tahu apa alasan yang akan diberikan oleh anaknya. Hal itu membuat Cevin mengeluh lirih. Dia sebenarnya ingin menolak kehendak mamahnya. Namun dia tak berani.


"Kau mau kan, Vin...?" Tanya Selly.


"Ya, Ma."


Jawab Cevin.


"Nanti setelah makan siang, ajak Nabila jalan-jalan."


Lanjut mamahnya lagi.


"Baik, Ma."


Cevin hanya bisa mengiyakan kamuan mamahnya itu.


"Pah, tolong hubungi ke papah dan mamahnya Nabila di


Jakarta. Beritahu kalau Nabila ada di sini," pinta Selly pada suaminya, Efendi.


"Kau sendiri kenapa, Mah?"


Ucap Efendi.


"Lebih pantas Papah."


Balik Selly pada suaminya.


"Ya sudah."


Ucap Efendi akhirnya.


"Queena..."


Ucap Selly pada anaknya yang bungsu tersebut.


"Ya, Ma."


Balas Queena.


"Kau juga jangan kemana-mana."


Kata Selly.


"Memangnya kenapa, Mah...? Queena kan kuliah, Mah...,"


Jawab Queena sambil merungut Queena berusaha menolak keputusan mamahnya, dari dulu, menurutnya mamahnya terlalu memaksakan kehendak.


"Hari ini tidak usah masuk dulu."


Sekali lagi Selly mengulangi perkataannya.


"Mau ngapain sih, Ma." Tanya Queena.


"Pokoknya jangan kemana-mana. Temani Mbak Nabila dulu. Kau mengerti...?" tegas Selly dengan mata melotot tajam, membuat anaknya seketika menunduk.


"Iya, Mah," lirih Queena menyahut. Semua tak ada yang membantah. Di rumah itu, Selly tak ubahnya seorang ratu yang absolut. Sehingga keputusannya, tak boleh diganggu gugat.


"Nah Nabila, nanti setelah makan kau akan diantar Cevin jalan-jalan keliling Bandar Lampung...," kata Selly. "Tak perlu sungkan-sungkan, karena kau sebentar lagi akan menjadi istri Cevin."


Ucap Selly.


"Iya Tante..."


Jawab Nabila.


"Cevin..."


Kata Selly mengarah ke Cevin.


"Ya Mah..." Cevin menjawab.


"Ajak Nabika ke kamarnya. Karena Nabila untuk beberapa hari, akan menginap di sini."

__ADS_1


Jelas Selly.


"Baik, Mah. Ayo Nabila...," ajak Cevin yang segera dituruti oleh Nabila dengan senang. Karena dia memang menyukai calon suaminya yang tampan dan simpatik.


__ADS_2