LORONG TAK BERUJUNG

LORONG TAK BERUJUNG
BAB 53 : SATU JAM LAGI


__ADS_3

Panas matahari siang ini sebenarnya bisa membuat cucian basah di jemuran kering dalam sekejap. Tapi Sigit mengiyakan saja ajakan Irfan untuk melihat Balqis. Cewek itu sudah diincar Irfan sejak dua bulan lalu. Sayangnya, Balqis masih kelas tiga Sekolah Menengah Pertama, jadi Irfan belum mau pendekatan terlalu mendalam dan Ia menunggu Balqis masuk Sekolah Menengah Atas.


Karena belum bisa pendekatan itulah, selama ini Irfan hanya melihat Balqis dari jauh. Melihat, memperhatikan, mengamati. Kadang Irfan "Mengantar" cewek itu pulang. Mengantar dalam tanda kutip karena Balqis tidak pernah tahu ada cowok yang terkadang ikut naik bus yang ditumpanginya hanya karena ingin melihatnya lebih lama.


Setiap kali habis nongkrong di sekolah Balqis, besoknya pasti Irfan akan bercerita panjang kali lebar. Dan sering banget ceritanya itu nggak penting. Nggak penting untuk orang yang ia paksa untuk mendengarkan. Dalam hal ini, Sigit. Misalnya...!!!


"Balqis itu manis banget, Git. Mirip-mirip artis." Ucap Irfan bangga.


Sigit mengerutkan kening. "Yang mana ya?"


Meskipun petunjuk paling krusial yang bisa menggambarkan betapa manisnya Balqis ternyata tidak diketahui Sigit, itu tidak menghalangi Irfan untuk terus menceritakan cewek gebetannya itu.


"Tu cewek kalo pake baju olahraga, cakep banget, Git. Seksi. Imut!" puji Irfan suatu hari dengan mata berbinar-binar.


"Imut apa seksi?" tanya Sigit.


"Seksinya imut. Bukan seksi menggoda, gitu. Pokoknya manis deh. Sumpah!" Balas Irfan.


"Imut, seksi, apa manis nih? Yang jelas dong informasinya." Canda Sigit.


"Imut! Seksi! Manis!" tandas Irfan.


Info nggak penting lainnya…!!!


"Balqis kalo lagi keringatan, trus rambutnya berantakan, cakeeep banget!"


Lainnya lagi, masih nggak penting juga...!!!


"Kemarin dia olahraga pake biru-biru. Kaus biru sama celana pendek biru. Ternyata cewek kalo pake biru, jadi keliatan cakep ya?"


Tapi pernah juga ada info yang penting. Penting untuk bahan renungan Sigit, bahwa jika suatu saat nanti dirinya jatuh cinta, ada kemungkinan akan jadi gila juga, seperti sahabatnya itu.


Sedangkan isi infonya sendiri sih masih tetap nggak penting.


Namanya Balqis. Kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Pelajaran yang paling disenengin Ilmu Pengetahuan Alam sama Geografi dan Kependudukan. Warna favorit biru. Olahraga favorit nggak ada. Jadi kalo lagi jam olahraga, tuh cewek lebih sering nongkrong-nongkrong atau ngisengin temen-temennya. Gue pernah merhatiin, main basketnya parah banget. Main volinya kacau, dan main bulutangkisnya asal. Satu-satunya olahraga yang dia jago cuma lari. Tu cewek cepet banget larinya. Apa karena dia suka ngisengin orang ya? Jadi kudu bisa lari cepet biar nggak dijitakin rame-rame." Sejenak Irfan berhenti membaca catatannya. Ia tertawa geli.


"Makanan favorit, kalo yang berat siomay sama bakso. Kalo yang enteng bakwan sama tahu isi. Sama kayak gue!" serunya kemudian dengan girang. "Berarti kami jodoh!"


Sigit mendengkus. "Cuma sama-sama seneng bakwan sama tahu isi aja kok jodoh," gerutunya.

__ADS_1


Tapi Irfan tidak peduli. Ia teruskan membaca catatannya.


“Kalo lagi belajar, senangnya sambil dengerin radio. Kalo nggak dengerin radio, dia jadi ngantuk. Genre film yang dia senengin roman komedi. Dia benci banget film horor. Ayah kandungnya bernama Rangga, sudah lama meninggal saat Balqis berusia dua tahun. Lalu ibu kandungnya bernama Cindy, ibunya menikah lagi dengan pria bernama Deska baru setahun yang lalu juga sudah meninggal, kakak angkatnya bernama Farel yang ternyata anak seorang presiden direktur perusahan besar di kota Jakarta, di rumah tinggal bersama mamahnya saja saat ini." Kepala Irfan menyembul dari sisi kertas yang sedang dibacanya, yang selama ini menghalangi mukanya dari pandangan Sigit.


Sigit ternganga. "Gimana caranya lo bisa dapat informasi-informasi itu?" tanyanya takjub.


"Pokoknya gue tau," jawab Irfan pendek.


Banyak lagi info nggak penting tentang Balqis yang selalu disampaikan Irfan kepada Sigit, yang terpaksa terus menyimak atas nama persahabatan.


Masalahnya adalah, saat detik-detik menjelang Balqis tamat Sekolah Menengah Pertama ini, frekuensi pengamatan Irfan semakin tinggi, dan frekuensi berceritanya semakin tinggi lagi. Bahkan Irfan sama sekali tak peduli cerita itu baru saja diceritakannya tadi pagi.


Sigit tahu Irfan merasa punya alasan kuat untuk memaksanya mendengarkan semua cerita tentang Balqis, karena alasan itu pernah dikatakannya.


"Elo belum pernah tahu anaknya sih. Coba kalo lo udah tau, pasti lo ngerti kenapa gue suka banget sama dia dan selalu pengin cerita tentang dia." Jelas Irfan.


"Udah. Lo kan punya foto-fotonya. Biasa aja tuh." Jawab Sigit.


"Kesannya pasti beda kalo lo udah ngeliat langsung." Ucap Irfan ngotot.


Irfan memang menyimpan banyak foto Balqis yang di shoot nya secara diam-diam. Untung foto-foto itu cuma disimpannya di kamar, nggak dibawa-bawa. Karena menurut Sigit, bawa-bawa foto cewek yang kita taksir atau kita incer tapi masih belum ketahuan tu cewek naksir juga apa nggak, cuma berlaku kalo kita ngincer artis. Jadi kalo ternyata ntar di tolak, ya biasa aja. Nggak malu-maluin.


Harapan Sigit terkabul pagi ini. Mendadak Irfan mengajak sahabat sekaligus teman sebangkunya itu menemaninya melihat Balqis.


"Mau!" Sigit langsung menjawab dengan nada seperti akan diajak liburan gratis ke Pantai.


"Semangat amat sih lo?" Irfan jadi agak heran.


"Gue jadi penasaran. Kayak apa sih tu cewek? Soalnya elo ceritanya heboh melulu," Sigit menjawab sambil menyeringai lebar.


Begitu bel pulang berbunyi, mengabaikan panas matahari yang sudah dijelaskan di awal cerita bisa mengeringkan cucian basah dalam sekejap- keduanya segera meninggalkan sekolah. Irfan takut Balqis keburu pulang, karena mereka masih harus naik bus kira-kira lima belas menit untuk sampai di sekolah cewek itu.


Turun dari bus, Irfan langsung mengajak Sigit ke taman yang ada di depan sekolah Balqis. Tidak berapa lama terdengar bunyi bel di susul siswa-siswa berhamburan keluar dari pintu-pintu kelas. Irfan langsung gelisah dengan lehernya terjulur panjang. Sepasang matanya bergerak cepat, mencari-cari.


Tapi, sampai kerumunan cowok-cewek berseragam putih-biru itu berkurang, terus berkurang, dan hingga akhirnya habis sama sekali ditelan microlet, mobil jemputan, mobil pribadi, atau menghilang di ujung-ujung jalan di kiri dan kanan, orang yang mereka tunggu-tunggu tidak kelihatan sama sekali. Muka Irfan yang tadinya cerah langsung mendung pekat.


"Kok dia nggak ada, ya? Jangan-jangan nggak masuk." Suaranya yang penuh semangat, berisik karena nggak berhenti ngoceh, kini mendadak lemah. Jadi begitu kecewa. Begitu sedih, begitu gelisah, begitu muram. Jadi patah semangat. Sebentar-sebentar Irfan menarik napas panjang, bolak-balik mendecakkan lidah, bikin Sigit menahan tawa.


"Ada pelajaran tambahan, Kali? Anak kelas tiga biasanya kan gitu?" hiburnya.

__ADS_1


"Oh, iya, iya." mendung di wajah Irfan seketika tersapu bersih. Wajah itu jadi berseri-seri lagi.


Sigit jadi menyesal sudah melontarkan kalimat itu, karena sampai satu jam kemudian Balqis masih belum juga kelihatan.


Sementara panas matahari yang teriknya bisa bikin kulit gosong itu kegarangannya belum juga berkurang. Namun Irfan tetap segar bugar. Tatapannya masih tertuju lurus-lurus ke bangunan sekolah di depannya. Masih penuh semangat dan harapan bisa melihat cewek gebetannya. Sementara di sebelahnya, Sigit nyaris kering karena bete dan dehidrasi akut.


Akhirnya cowok itu tidak sanggup lagi. "Kita di sini sampai kapan nih? Ntar malem apa besok pagi?"


Irfan menoleh kaget. Langsung di rasakannya aura bete yang melingkupi Sigit sangat berbeda dengan aura cinta yang dirasakannya dari bangunan sekolah di depannya. Irfan menyeringai, merasa bersalah karena telah melupakan orang yang sedari tadi sudah menemaninya.


"Satu jam lagi deh. Kalo sampe satu jam lagi Balqis belum nongol juga, berarti dia emang nggak masuk." Ucap Ifran.


"Satu jam lagi, ya?" Sigit mengerutkan keningnya dalam-dalam. Pura-pura berpikir. "Oke deh. Kayaknya pas." Jawab Sigit.


"Apanya yang pas?" Irfan menatap sahabatnya itu dengan pandangan heran.


"Tingkat ke resahannya," jawab Sigit enteng. Ia mengatakan itu sambil senyum-senyum. Senyum sumir, singkat dan nggak jelas. "Karena satu jam lagi kayaknya gue bakalan sekering gurun-gurun pasir di Afrika. Kalo elo tanya ke orang yang lewat siapa yang mati duluan, gue apa unta-unta itu, pasti nggak ada yang bisa jawab. Malah bisa jadi mereka nyangka yang ada di Afrika sana dengan sini sama-sama mirip unta kepanasan". Lanjut Sigit.


Sejenak Irfan ternganga, lalu tertawa geli.


"Bilang aja haus, gitu. Ribet amat sampe pake ke Afrikap segala." Ucap Irfan.


"Lagian, elo tuh emang nggak tau terima kasih banget, ya? Udah minta ditemenin ngintai gebetan pas panas abis kayak gini, gue dianggurin, lagi. Nggak dijajanin sama sekali. Beliin es apa kek gitu. Biar gue nggak garing. Gue udah dehidrasi banget nih." Ocehan Sigit yang lumayan panjang.


"Iya, iya. Sori, Git." Irfan merogoh saku kemeja sekolahnya. Dikeluarkannya selembar uang dua puluh ribuan lalu diberikannya pada Sigit. "Nih."


Muka Sigit jadi agak cerah. Ia bangkit berdiri dan segera berjalan menuju warung makan. Tak lama ia kembali membawa dua kantong plastik berisi es teh manis dan seplastik gorengan.


Diulurkannya es teh bagian Irfan...!!!


Karena perut sudah terisi dan adanya penangkal ancaman kekeringan, Sigit jadi tenang. Namun sampai batas waktu yang ditentukan Irfan sudah habis, Balqis belum juga kelihatan. Kali ini sepertinya dugaan Irfan benar. Balqis tidak masuk. Jam pulang sekolah sudah lama lewat dan tidak ada lagi siswa yang keluar dari sekolah itu. Muka Irfan langsung mendung lagi. Lebih pekat dari pada tadi.


"Bener kan dia nggak masuk…," desahnya berat.


"Ya udah kalo gitu. Yuk, balik. Udah sore nih." Balas Sigit.


Irfan bangkit berdiri. Dikibas-kibaskannya kaus olahraga yang sejak tadi ia gunakan untuk alas duduk. Irfan mengikuti dengan ogah-ogahan.


"Kenapa tuh anak nggak masuk, ya? Jangan-jangan sakit?" desah Irfan, suaranya begitu sarat dengan kecemasan.

__ADS_1


"Mudah-mudahan aja nggak. Paling dia kecapekan gara-gara belajar diforsir. Yuk, balik." Sigit merangkul bahu Irfan lalu memaksa sahabatnya itu pergi dari situ.


__ADS_2