
Begitu bel istirahat berbunyi, cowok-cowok suporter Balqis langsung melejit keluar dari kelas menuju kantin. Cari minum. Mereka berlarian begitu saja. Sementara cewek-cewek teman sekelas berjalan keluar sambil menatap Balqis sesaat. Balqis jadi kesal.
"Apa sih liat-liat? Berantemnya udah kelar, juga!" gerutunya.
Balqis melirik orang di sebelahnya, masih dengan rasa marah. Kemudian dia berdiri dan berjalan ke luar kelas. Ketika melewati Ranti, ditepuknya lengan temannya itu.
"Ke kantin yuk!" Ajak Balqis.
Ranti memasukkan buku-bukunya ke laci, bangkit berdiri, lalu mengejar Balqis. Sambil membereskan buku-bukunya, Cevin mengikuti Balqis dengan pandangan mata. Sementara Toni, begitu kedua cewek itu hilang dibalik tembok kelas sebelah, segera bangkit berdiri dan menghampiri Cevin dengan langkah cepat.
"Sebenernya ada masalah apa sih antara lo sama Balqis?" tanyanya sambil menjatuhkan diri di sebelah Cevin. "Berantem kok sampe kayak gitu."
"Udah, nggak usah tanya-tanya deh." Cevin berdecak malas. "Yuk, ke kantin. Gue laper."
"Balqis juga lagi ke kantin. Bisa-bisa ntar lo berdua berantem lagi di sana." Ucap Toni.
"Ya kalo dia cari gara-gara lagi…," Cevin bangkit berdiri, "Apa boleh buat!"
***
Di depan salah satu meja panjang di kantin, Balqis dan Ranti duduk berhadapan. Masing-masing dengan sepiring gado-gado dan segelas es teh manis.
"Sebenernya lo ada apa sih sama Cevin? Berantem sampe kayak gitu." Ranti membuka percakapan dengan topik yang membuat kekesalan Balqis jadi berkelanjutan.
"Aduuuuuh...!" Balqis mengeluh. "Elo tu ya. Kalau gue tau masalahnya, gue nggak akan teriak-teriak kayak tadi pagi, lagi." Ucap Balqis lagi.
"Masa sih lo nggak tau masalahnya? Kalo ngeliat tadi pagi Cevin marahnya sampe kayak gitu, kayaknya masalahnya serius, Qis." Ucap Ranti.
"Nggak tau, ah." Balqis menggeleng, lalu memerhatikan gado-gado di piringnya. "Tadi kayaknya gue udah bilang sama ibu itu nggak pake tempe deh," katanya, lalu mulai memisahkan potongan-potongan kecil tempe dari gado-gadonya.
"Lo tanya deh, Qis, sama Cevin, apa sih masalahnya?" Ucap Ranti lagi.
"Udah. Tadi pagi itu gue kan tanya, trus jadinya berantem kayak gitu." Jawab Balqis.
"Baik-baik nanyanya." Lanjut Ranti.
"Udah, Rantiiii…!" Balqis menghela napas lalu mengembuskannya kuat-kuat. Ia memandang Ranti, capek dan putus asa. "Tadi pagi itu gue nanyanya udah baik-baik. Kemaren juga gitu. Lo kira gue nanyanya baru tadi trus langsung maen bentak-bentak, gitu? Nggak, lagi. Udah deh, nggak usah dibahas. Bikin gue jadi nggak nafsu nih. Atau gini aja, kalo lo penasaran, lo aja gih yang nanya. Ntar kasih tau gue." Jelas Balqis.
"Nggak mungkin gue yang nanya, lagi." Akhirnya Ranti menyudahi pembicaraan itu dan mulai menyantap gado-gadonya.
"Lagian juga kalo lo mau dapet jawaban, kayaknya nanyanya kudu pake gebukan kasur," kata Balqis sambil mengunyah. Ranti jadi ketawa. Namun tawa itu langsung langsung lenyap begitu dilihatnya Cevin dan Toni memasuki kantin.
"Dia ke sini, Qis. Si Celvin," bisik Ranti, langsung jadi tegang. Tapi Balqis tetap santai dan sama sekali tidak menoleh ke arah pintu kantin.
"Ya iyalah. Mau nggak mau dia ke sini. Nggak mungkin dia ke kantinnya anak kelas dua, apalagi kelas tiga." Balas Balqis.
Begitu melihat Balqis dan Ranti, Toni langsung mengajak Cevin duduk di depan meja panjang yang paling dekat dengan pintu. "Vin, kita duduk sini aja. Lo mau makan apa? Gue pesenin." Ucap Toni.
"Gue mau duduk di situ," tunjuknya dengan dagu ke sebuah meja panjang yang berjarak dua meja dari meja tempat Balqis makan. Dari meja itu, Cevin bisa leluasa memerhatikan Balqis. "Gue somay aja. Nggak pake kentang, ya. Minumnya es teh tawar." Ucap Cevin.
__ADS_1
Toni langsung melesat ke sisi kanan kantin, tempat konter-konter makanan terletak berjajar. Tak lama ia kembali sambil membawa pesanan Cevin dan pesanannya sendiri. Diambilnya tempat di depan Cevin. Tapi begitu ia menyadari ke mana sepasang mata temannya itu tertuju, ia segara berdiri dan pindah posisi.
"Ngapain lo pindah?" tanya Cevin.
"Pencegahan," jawab Toni tandas. "Dari cara lo ngeliatin Balqis, kayaknya kejadian tadi pagi di kelas bakalan terulang di sini," sambungnya.
Cevin tidak membantah. Dalam hati ia justru membenarkan apa yang diucapkan Toni.
"Lo sengaja duduk sini biar bisa ngeliatin dia, kan?" Ucap Toni.
"Iya," Cevin terus terang.
"Kenapa sih? Dia duduk di sebelah lo, kan? Masih kurang?" saking herannya, Toni sampai menatap Cevin dangan kening berkerut rapat.
"Karena dia duduk di sebelah gue, jadi gue nggak bisa ngeliatin. Lain kalo dia duduk di depan gue," Cevin menjawab santai, lalu mulai menyuapkan potongan somay ke mulutnya.
Sementara itu Ranti, yang juga cemas kalau-kalau pertengkaran Cevin vs Balqis bakalan berlanjut di kantin, mengajak Balqis buru-buru kembali ke kelas. Balqis setuju karena tidak bisa makan dengan tenang di bawah tatap tajam Cevin yang sebentar-sebentar terarah padanya.
Tanpa menghabiskan gado-gado di piring masing-masing, keduanya berdiri dan bergegas berjalan ke luar kantin. Di ambang pintu, tanpa sadar Ranti menoleh ke kedua cowok itu. Di saat bersamaan Toni juga tengah menatap mereka. Cowok itu tersenyum tipis, memandang Ranti dengan sorot berterima kasih.
Sesaat Ranti terkesima. Ini pertama kalinya ia melihat Toni dalam ekspresi serius begitu. Nggak norak dan geblek seperti biasanya. Cowok itu jadi kelihatan berbeda. Lain sama sekali. Dengan kikuk dibalasnya senyum itu.
Begitu kedua cewek itu sudah hilang, Toni mengembalikan tatapannya pada Cevin, yang sedang menikmati somaynya dengan santai, tapi jelas tahu bahwa Balqis sudah pergi.
"Gue balik ke bangku gue, ya? Kasian Balqis duduk di belakang gitu. Nggak ada temennya. Pasti bakalan jadi korban iseng anak-anak belakang pula." Ucap Toni.
Mata Toni membulat lebar. Tapi ia tidak juga mengeluarkan suara, saking bingungnya mau ngomong apa.
Cevin jadi tertawa. "spechlees lo, ya?" tanyanya dengan nada geli. Tapi kemudian ia menggeleng kuat dan berkata tegas, jelas tidak ingin dibantah sama sekali. "Jangan! Gue mau dia duduk di sebelah gue."
"Biar bisa berantem terus, gitu?" Tanya Toni.
"Ya!" Cevin tersenyum lebar dan memainkan alisnya sesaat, sambil memandang muka bingung Toni. "Dan elo nggak usah tanya-tanya sebabnya. Nggak bakal gue jawab. Nggak sekarang-sekarang. Soalnya gue nggak bakalan bisa cerita tanpa emosi, tanpa marah-marah. Dan kalo lo tetep maksa gue untuk cerita juga, bisa-bisa abis cerita, gue bisa menyerang si Balqis lebih ganas!" Balas Cevin.
Toni ternganga...!!!
***
Begitu sampai rumah, Cevin langsung masuk kamar dan berdiri di depan tempat tidur Irfan.
"Tadi pagi cewek lo gue marahin, gue bentak-bentak. Sampe gue puas!" Setelah mengatakan itu, Cevin berganti baju.
Disambarnya salah satu komik dari rak koleksi komiknya lalu berjalan di keluar kamar. Sambil tiduran di ruang tamu, Cevin membaca komik itu sampai jatuh tertidur.
Namun malam harinya, setelah mengerjakan Pekerjaan Rumah untuk besok dengan konsentrasi yang cuma setengah, Cevin duduk tercenung di depan meja belajar Irfan. Kalau mau berpikir tanpa menyertakan emosi, dan terus terang mau mengakui, sebenarnya jawabannya jelas.
Hanya puas sesaat...!!!
Hanya melegakan sementara...!!!
__ADS_1
Setelah itu semuanya kembali seperti semula.
Tidak ada yang berubah.
Tetap sedih...!!!
Tetap sesak...!!!
Tetap kosong...!!!
Tetap terasa Irfan sudah tidak ada. Dan tetap kesepian begitu hanya sendirian di kamar begini. Kecuali kalau saat ini juga dikontaknya Balqis lalu kembali dibentak-bentaknya cewek itu seperti tadi pagi.
Dangan mata nanar Cevin menatap sepotong kertas yang dulu ditempelkan Irfan di dinding di depannya. Barisan kalimat itu, tulisan tangan Irfan, masih bisa terbaca, walaupun tampak kabur karena Cevin membaca dengan pikiran menerawang. Kalimat-kalimat tentang Balqis.
Hanya tentang cewek itu...!!!
Sebenarnya ingin sekali dilepasnya kertas itu dari dinding. Tapi tidak tega, kerana kertas itu usaha Irfan selama berbulan-bulan. Karena kertas itu adalah kegembiraannya selama berbulan-bulan juga. Sekaligus kecemasannya. Kegelisahannya. Ketidaksabarannya.
Yang pasti, kertas itu kenangan Cevin dan seluruh isi rumah ini pada bulan-bulan terakhir hidup Irfan. Cuma selembar kertas yang disobek dari buku tulis sekolah, tapi sangat berharga bagi sang kakak saat dia masih hidup. Dan kini sangat berharga untuk orang-orang yang dia tinggalkan.
"Suka banget warna biru," desis Cevin pelan, membaca salah satu poin di kertas itu dalam keadaan setengah sadar.
"Usil banget. Tukang ngisengin orang." Cevin membaca poin di bawahnya.
Poin yang lain…!!!
Kalau ada yang marah-marah karena udah jadi korban keisengannya, Balqis suka njulingin mata. Bikin tuh orang ditambah marah lagi.
Poin yang lain lagi…!!!
Bego olahraga. Nggak ada satu pun olahraga yang dia bisa. Kecuali lari atau kabur. Karena biasanya kalo abis ngisengin orang, dia suka dikejar-kejar.
Poin yang lainnya lagi…!!!
Kalo ngiket rambut nggak pernah rapi. Asal keiket. Tapi dengan rambut yang keiket asal-asalan gitu, berantakan, dia jadi tambah manis. Cakep!
"Masa?" Cevin tertawa mendengus. Tidak yakin dan sama sekali tidak percaya dengan kebenaran kalimat-kalimat itu. Terutama yang terakhir.
Namun tak lama tawanya menghilang. Cowok itu kemudian menghela napas dalam-dalam. Tercenung dalam keterdiaman yang lama.
***
Di saat yang sama, di kamarnya, Balqis juga sedang duduk dalam diam. Tercenung dalam. Tapi untuknya, tidak ada yang perlu di pikirkan tentang Cevin. Sama sekali. Percuma saja, ia nggak akan dapat jawabannya. Yang ada malah jadi emosi lagi kalau ingat kejadian tadi pagi.
Yang sedang dipikirkan Balqis dengan serius saat ini adalah, gimana caranya agar ia bisa nyaman duduk di deretan belakang yang sama sekali nggak ada ceweknya itu. Ditambah sebelahan sama cowok stres yang kayaknya bakalan sakit jiwa beneran. Tapi, sampai matanya meredup, karena kantuk, Balqis tidak juga mendapatkan ide.
Udah deh...!!!
Liat gimana situasinya aja nanti, putusnya kemudian. Ia bangkit berdiri sambil menguap lebar-lebar sambil menuju. Tempat tidurnya, menjatuhkan diri di sana, dan tak lama kemudian ia jatuh terlelap.
__ADS_1